
Ahli Ekonomi Kesehatan dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH, dalam konferensi pers, Kongres Indonesian Health Economic Association (InaHEA) ke-5.
JawaPos.com - Dalam beberapa pekan terakhir, kasus positif Covid-19 di Indonesia sering menembus rekor angka tertinggi. Paling tinggi terjadi pada Kamis (9/7) dengan angka 2.657 kasus baru akibat pertambahan klaster Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Jawa Barat. Hingga Jumat (10/7) sudah 72.347 orang terinfeksi Covid-19. Apakah kondisi ini sudah mengkhawatirkan?
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof Hasbullah Thabrany menjelaskan angka kematian di Indonesia berada di angka 5 persen. Sayangnya angka itu tak dilihat sebagai risiko ancaman.
"Sudah 72 ribuan yang positif dan spesimen yang diuji sudah 1 jutaan. Itu belum 1 persen yang dites dari penduduk Indonesia. Jadi yang terdeteksi baru 72 ribuan dikali 1 persen, masih kecil sekali, nol koma sekian. Maka masyarakat masih memandang biasa saja," tukas Prof Hasbullah kepada JawaPos.com, Jumat (10/7).
Prof Hasbullah menilai banyak pejabat negara atau pemerintah juga belum memahami atau menjadi contoh dalam menerapkan protokol kesehatan. Prof Hasbullah memprediksi sesungguhnya angka kasus Covid-19 yang sebenarnya bisa jadi sudah 200 ribu di tanah air jika sudah 10 juta spesimen yang diuji.
"Coba saja, 1 juta spesimen diuji ada 72 ribuan positif. Bisa jadi ini sudah 200 ribuan jika 10 juta dites. Ini yang terlihat kan fenomena gunung es yang terlihat di puncaknya saja," tegasnya.
Dia mencontohkan Tiongkok dan AS sudah melakukan pengujian yang sangat masif hingga puluhan juta. Jika dilihat per daerah di Indonesia, menurutnya angka kasus Positivity Rate atau kasus positif di tanah air sebetulnya dijuarai oleh Jakarta.
"Bukan Jawa Timur yang tertinggi tapi Jakarta. Sebab dibanding dengan jumlah penduduk, Jakarta lebih kecil dari Jatim. Jakarta 10 juta penduduk, Jatim 40 juta. Tetap Jakarta paling tinggi. Sama halnya, jika sebut negara tertinggi di Asean ya Singapura. Sebab kasusnya banyak dan penduduknya sedikit. Begitu juga Sulawesi Selatan, lebih tinggi dari Jawa Timur," paparnya.
"Di setiap negara pasti ibu kota rata-rata menjadi pusat (episentrum) dengan kasus terbanyak sebab kepadatan penduduknya tinggi dan mobilitasnya tinggi," katanya.
Tak Patuh Protokol Kesehatan
Dengan potret seperti itu, Prof Hasbullah menyesalkan banyak masyarakat tak mematuhi protokol kesehatan. Misalnya tidak memakai masker dengan benar. "Yang tak pakai masker itu, yang tak nonton TV, tak baca koran, hanya nonton sinetron," tukasnya.
"Asumsi kedua, perilaku masyarakat kita banyak sekali yang risk taker dalam konotasi negatif. Terserah saja bagaimana besok, kok tenang-tenang saja. Memang saya amati seperti memakai helm, hanya asal pakai masker tetapi tak menjiwai," tutupnya.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Menlu Iran Ungkap Dugaan Kebocoran Intelijen di Jantung Kekuasaan, Serangan yang Tewaskan Khamenei Dinilai Sudah Diketahui Musuh
Hotman Paris Sampaikan Permintaan Maaf usai Diduga Hina Wartawan "Lu punya otak enggak sih?"
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Polisi Periksa Saksi dan CCTV, Ungkap Dugaan Penculikan Atlet Golf Putri Indonesia Jesslyn Wijaya
