
BERINTEGRITAS: Pelajar SD di tengah seremoni Hardiknas pada Kamis (2/5). Semakin dini nilai integritas disemai, semakin cepat praktik baik terwujud.
PENANAMAN nilai integritas atau antikorupsi tidak cukup hanya melalui pembelajaran materi di kelas. Praktik secara nyata lebih penting. Itu akan membuat para siswa maupun mahasiswa terbiasa mewujudkan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamat pendidikan Totok Amin Soefijanto mengatakan bahwa dunia pendidikan masih diwarnai banyak perilaku koruptif. ’’Kita masih banyak menemui praktik pungli, guru yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas, Kepsek tidak menjalankan tugas dengan baik. Banyak sekali perilaku yang tidak menunjukkan integritas. Itu adalah warning bagi kita semua,’’ ujarnya kepada Jawa Pos, Jumat (3/5).
Totok merupakan salah satu sosok yang menggagas mata kuliah antikorupsi di Universitas Paramadina pada 2008 lalu. Dalam silabus disebutkan, perkuliahan antikorupsi berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses belajar-mengajar yang kritis terhadap nilai-nilai antikorupsi.
’’Kami ingin memberikan pemahaman bahwa korupsi itu adalah extraordinary crime yang memiliki konsekuensi besar terhadap masyarakat,” urainya.
Dilemanya, lanjut Totok, konsep moral, etika, dan nilai bukanlah mata pelajaran. Etika, moral, dan nilai adalah sesuatu yang harus dipraktikkan. Sehingga, perlu ada teladan untuk melakukan berbagai hal dengan moral dan etika.
Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Zainuddin Maliki mengkritik survei yang dilakukan KPK. ’’Kalau digeneralisasi, hasilnya seperti itu. Survei tidak bisa melihat realitas yang individual atau partikular,” paparnya.
Walaupun skor SPI pendidikan masih rendah, bukan berarti pendidikan di Indonesia tidak menghasilkan manusia yang baik. Sebenarnya, lembaga pendidikan masih banyak melahirkan manusia yang unggul dari sisi karakter. Tapi, survei tidak bisa memotret hal itu.
Yang menjadi persoalan, kata Zainuddin, sosok-sosok baik yang dicetak oleh pendidikan yang baik itu tidak bisa muncul di ruang publik. Mereka sulit menjadi pemimpin karena akses ke ruang publik dipenuhi dengan praktik transaksional dan pragmatisme.
’’Kami harap orang-orang yang baik bisa mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin. Jadi, sistem di ruang publik harus diperbaiki,” ungkapnya. (dee/lum/c6/hep)
---
KEBIASAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN INTEGRITAS*
*) Temuan KPK dalam SPI Pendidikan 2023
Sumber: Komisi Pemberantasan Korupsi

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
