Cerobong industri sedang mengeluarkan emisi.
JawaPos.com – Untuk mengetahui istilah Bursa Karbon dan Kredit Karbon, kita harus memahami perjalanan dunia global dalam menangani krisis iklim.
Bursa Karbon dan Kredit Karbon merupakan gagasan dan skema dalam menahan laju krisis iklim yang semakin cepat pasca revolusi industri sejak abad ke-18.
Bibit gagasan Bursa Karbon dan Kredit Karbon lahir ketika Protokol Kyoto 1997 diadakan, forum awal dimana krisis iklim diakui sebagai masalah global yang harus ditangani dengan serius.
Baca Juga: Dukung Pemerintah Tanggulangi Krisis Iklim, Tingkatkan Efisiensi Energi 30 persen pada 2025
Sebelum Protokol Kyoto, jumlah polusi atau emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri perusahaan tidak pernah diperhitungkan.
Semua negara dan industri memiliki hak cuma-cuma untuk menghasilkan emisi ke atmosfer, tanpa harga kompensasi.
Barulah setelah itu, negara-negara yang ikut serta menandatangani Protokol Kyoto mengharuskan industrinya membatasi emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan.
Negara-negara atau industri perusahaan yang melewati ambang batas diberikan dua pilihan, mengurangi emisinya dengan beralih menggunakan teknologi ramah lingkungan, atau membayar biaya kompensasi emisi.
Pembayaran kompensasi emisi tersebut dilakukan dengan skema, industri yang emisinya melewati ambang batas membeli jatah emisi perusahaan yang berhasil menekan jumlah emisinya.
Contohnya, jika perusahaan A telah membeli jatah hak emisi Perusahaan B yang tidak dipakai, maka Perusahaan A mendapatkan sertifikat atau Unit Karbon, sehingga perusahaan A bisa menjalankan kembali industrinya dan mengeluarkan emisi.
Baca Juga: Para Ahli Menyerukan Moratorium Global terhadap Upaya Geoengineer (Rekayasa Kebumian) Iklim Bumi
Izin emisi dalam bentuk sertifikat itulah yang dinamai kredit karbon. Dengan kata lain, kredit karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang industri miliki.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
