Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Agustus 2023 | 17.40 WIB

KLHK Sebut Risiko Pencemaran Udara di Jawa Tinggi, Tidak Hanya di Jakarta

Deretan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, tampak diselimuti kabut, Selasa (11/10/22). Polusi udara Jakarta pada Selasa (11/10), dalam kategori tanda warna merah. Berdasarkan data Real-time Air Quality Index (AQI), Konsentrasi PM2.5 di udara - Image

Deretan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, tampak diselimuti kabut, Selasa (11/10/22). Polusi udara Jakarta pada Selasa (11/10), dalam kategori tanda warna merah. Berdasarkan data Real-time Air Quality Index (AQI), Konsentrasi PM2.5 di udara

JawaPos.com - Risiko terjadinya pencemaran udara yang tinggi tidak hanya ada di kawasan Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga wilayah Jawa secara keseluruhan. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sigit Reliantoro mengungkapkan, untuk mengatasi persoalan pencemaran udara, setidaknya ada 12 rekomendasi yang diajukan.

Studi dilakukan untuk seluruh wilayah Indonesia, namun dengan fokus di Jawa. Sebab, dari simulasi, wilayah Jawa mempunyai risiko paling tinggi pencemaran udaranya.

’’Yang banyak direkomendasikan dan potensinya bagus untuk mengatasi persoalan pencemaran udara adalah regulasi dan kebijakan di transportasi. Kemudian, mengawasi industri dengan alat-alat pengontrol emisi yang lebih baik, juga mendorong efisiensi energi,’’ papar Sigit.

Upaya instan dalam menangani pencemaran udara yang terjadi saat ini, kata Sigit, hanya hujan. Sebab, hujan dapat membilas udara-udara yang kotor. ’’Tapi, persoalannya saat ini di Jakarta dan sekitarnya, termasuk Jawa umumnya, itu sudah tidak ada awan hujannya,’’ katanya.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Ditjen PPKL Luckmi Purwandari menambahkan, wilayah Jawa memiliki potensi pencemaran udara yang lebih tinggi ketimbang daerah lain lantaran jumlah penduduknya lebih banyak. Namun, kualitas udara tidak hanya ditentukan sumber pencemaran, tapi juga dipengaruhi banyak faktor lain.

’’Sumber pencemaran itu ada juga yang bisa dikendalikan, dan ada yang tidak bisa dikendalikan,’’ ucapnya.

Yang tidak bisa dikendalikan, antara lain, arah dan kecepatan angin, musim, serta topografi dan landscape. ’’Kalau yang bisa dikendalikan itu aktivitas manusia, baik dari transportasi maupun kegiatan industri rumah tangga dan sebagainya,’’ jelas Luckmi.

Menurut dia, kualitas udara di setiap wilayah di Indonesia dilakukan pemantauan. Namun, kualitas di setiap daerah dipengaruhi banyak faktor sehingga kualitasnya dapat selalu berubah. ’’Misalnya di Pontianak, kualitas udaranya lagi merah karena dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan,’’ terangnya.

Khusus perburukan kualitas udara di kawasan Jakarta, menurut Sigit Reliantoro, pola pencemaran udara yang terjadi bersifat lokal. Tidak ada sumber emisi yang masuk dari wilayah lain. Termasuk di PLTU Suralaya di Cilegon, Banten. (gih/c18/fal)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore