
Photo
JawaPos.com - Keluarga Siti Nurjanah menjadi satu dari sekian ribu warga yang mengungsi keluar dari Wamena. Mereka merupakan saksi hidup dari kerusuhan yang menyebabkan puluhan nyawa hilang di kerusuhan yang terjadi pada Senin (23/9) lalu.
Seperti diberitakan CeposOnline.com (Jawa Pos Group), Siti menceritakan saat kerusuhan berlangsung. Saat itu, dia bersama keluarganya sedang berada di dapur. Dia mengisahkan, kejadian itu terjadi sangat cepat sehingga tak ada satupun orang yang mengetahui kalau kalau ada rencana aksi yang melibatkan ribuan warga lokal di Wamena pada hari itu.
Seperti biasa sejak pagi ia sudah menyiapkan jualannya di dapur. Namun, tidak seperti biasanya, suasana di luar rumahnya itu tiba tiba sangat ramai. Sesaat kemudian terlihat di beberapa bagian sisi rumah sudah terbakar. Saat itu, massa yang datang sangat banyak dan semuanya terlihat sangat marah.
Sisa-sisa mobil yang hangus terbakar di kawasan siaga, Hom Hom, Wamena, Papua, Rabu (2/10/19). Sebanyak 32 orang dikabarkan tewas pasca kejadian pembakaran dan pembunuhan 23 September 2019. (HENDRA EKA/JAWA POS)
Sisa-sisa bangunan dan mobil yang hangus terbakar di kawasan siaga, Hom Hom, Wamena, Papua, Rabu (2/10/19). Sebanyak 32 orang dikabarkan tewas pasca kejadian pembakaran dan pembunuhan 23 September 2019. FOTO: HENDRA EKA/ JAWA POS
Tak hanya membakar tempat tinggal dan tempat usahanya, Siti dan keluarga hampir saja kehilangan nyawa. Belum sempat menyelesaikan pekerjaanya, ia mendengar suara keributan dan terikan di luar warung tempatnya berdagang. Ternyata, warga sudah mengepung rumah dan membakar rumah dari berbagai arah. Tidak ada kesempatan untuk mencari perlindungan saat itu. Sekelompok orang yang datang itu melakukan aksi anarkis dengan brutal dan membabibuta.
Saat itu, rumah sudah dalam kondisi terbakar, hanya saja belum merambat bagian interior. Massa pun berusaha meransek masuk kedalam rumah untuk menghabisi siapapun yang ada didalam rumah. Ia mengaku, tak ada perlawanan atau usaha untuk menghindar. Ia dan suami serta anaknya yang masih berusia sekitar 2 tahun itu pasrah.
Photo
Sisa-sisa mobil yang hangus terbakar di kawasan siaga, Hom Hom, Wamena, Papua, Rabu (2/10/19). Sebanyak 32 orang dikabarkan tewas pasca kejadian pembakaran dan pembunuhan 23 September 2019. FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS
“Saya dihajar pakai balok, di kepala bagian belakang sampai luka besar, ditendang, dipukul. Saya tidak berdaya. Mereka juga menganiaya suami saya, tapi saat hendak membunuh anak saya, suami saya hanya bilang kasihan itu anak saya, dia masih kecil, kemudian segerombolan orang ini pergi meninggalkan kami,” jelasnya.
Setelah dianiaya, perempuan yang kini berusia kepala tiga ini sempat pusing dan pingsan. Sebelum api menjalar seisi rumah dengan sisa tenaga yang ada mereka berusaha keluar rumah agar tidak ikut terpanggang. Lanjut dia, lolosnya satu keluarga dari maut itu, tidak terlepas dari peran seorang ibu orang asli Papua yang kebetulan letak rumahnya berada di belakang tempat mereka tinggal.
Dia tidak mengetahui secara pasti nama dari Mama OAP itu. Karena saat ditolong mereka dalam keadaan trauma berat, dan diselimuti rasa takut. Oleh Mama OAP itu, mereka langsung dimasukkan ke dalam kandang babi. Kurang lebih selama empat jam mereka bertahan dalam kandang babi sampai bantuan anggota Polri tiba.
“Kami mau pulang, saya tidak mau kembali lagi, saya takut. Saya berharap agar kami segera dipulangkan, itu saja,” ujarnya pilu.
Peristiwa ini telah meninggalkan luka mendalam bagi keluarga mereka. Harta benda yang sudah dikumpulkan sang suami bertahun-tahun lamanya kini hilang dilalap api. Tak ada satupun harta benda yang bisa diselamatkan dalam peristiwa itu, sepeda motor sebagai sandaran hidup mereka juga ludes dibakar. Semua perabot dalam rumah juga habis terbakar.
“Kami semua hanya luput dengan pakaian dibadan dan hp masih terselamatkan,” jelasnya.
Kisahnya ini membuat keluarganya trauma berat. Ia bahkan bersumpah untuk tidak lagi kembali ke Wamena Papua dan berharap segera dipulangkan ke kampung halamannya di Pati Jawa Tengah. “Saya baru 20 hari disini, ikut suami yang ngojek di Wamena,” jelasnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
