
BTS. (Soompi)
JawaPos.com - K-pop atau Korean Pop menjadi populer sebagai genre musik abad ke-21 secara global. Berasal dari Korea Selatan, K-pop memadukan pengaruh dari berbagai genre musik. Mulai dari pop, rock, hip-hop, R&B, hingga dance. Memanfaatkan padupadan itu, K-pop dapat memuaskan selera penikmat musik.
Menurut LA Film School saat ini terdapat grup-grup besar K-Pop, seperti Girls’ Generation yang menghadirkan lagu pop murni; BLACKPINK yang memasukkan rap ala Nicki Minaj; hingga F.T. ISLAND yang mengusung gaya emo alternatif.
Meski terkesan lintas genre, K-pop tetaplah genre yang berakar kuat pada budaya Korea. Lagu-lagunya terinspirasi musik Korea dengan lirik dominan berbahasa Korea yang sesekali disisipi bahasa Inggris.
Dilansir Teen Vogue, kemunculan “K-pop sejati” dapat ditelusuri sejak era sebelum 1990-an. Titik baliknya, bermula dari debut grup legendaris Seo Taiji and Boys. Sebelum mereka, musik populer Korea masih banyak dipengaruhi budaya Amerika dan Jepang.
Setelah pemerintah Korea Selatan melonggarkan aturan perjalanan warga pada 1988, musisi pun lebih mudah mengeksplorasi musik asing. Seo Taiji and Boys menjadi pionir dengan memadukan pop Barat, hip hop, dan new jack swing, sambil tetap menggunakan lirik berbahasa Korea. Perpaduan ini bukan hanya segar, tapi juga melawan norma budaya saat itu.
Keberhasilan Seo Taiji and Boys membuka jalan lahirnya industri “idol culture” yang hingga kini menjadi tulang punggung K-pop. Idol dilatih ketat oleh agensi. Mulai dari terkait vokal, koreografi, dan citra diri. Semua itu dilatih sejak remaja. Bagi yang dianggap terbaik akhirnya debut.
Baca Juga: EJAE “K-Pop Demon Hunters” Ungkap Impian Berkolaborasi dengan LISA BLACKPINK hingga Doja Cat
Setelah era Seo Taiji, gelombang idol mulai muncul pada akhir 1990-an. Tiga raksasa industri musik Korea lahir, yaitu SM Entertainment, YG Entertainment, dan JYP Entertainment. Dari SM lahir boyband H.O.T. pada 1996. Boyband itu sukses memikat publik lewat anggotanya yang karismatik. Mulai dari gaya busana penuh warna dan musik enerjik.
Fenomena ini berlanjut ke akhir 1990-an dan awal 2000-an, melahirkan grup seperti Fin.K.L. dan Shinhwa. Formula idol makin disempurnakan, dari koreografi, busana, hingga strategi promosi yang agresif. Setiap elemen dipelajari dengan cermat untuk menemukan pola yang paling disukai penggemar.
Tak hanya boyband, penyanyi solo seperti BoA juga menorehkan sejarah. Dijuluki “Ratu K-pop,” BoA memulai debutnya di bawah SM Entertainment pada 2000 setelah dua tahun masa pelatihan. Sejak itu, ia merilis puluhan album dan sukses besar di Asia. Gelombang ini juga melahirkan girl group ikonik seperti Girls’ Generation yang viral lewat lagu “Gee” pada 2009.
Puncak globalisasi K-pop banyak dikaitkan dengan kesuksesan BTS. Grup beranggotakan tujuh orang ini menorehkan sejarah dengan album Love Yourself: Tear, yang debut di peringkat satu Billboard 200 pada Mei 2018. Album Love Yourself: Answer, yang dirilis kemudian di tahun yang sama juga menduduki posisi teratas.
Tidak hanya sukses di tangga lagu, BTS juga masuk daftar “25 Most Influential People on the Internet” versi TIME pada 2018. Pencapaian ini menunjukkan pengaruh luar biasa mereka, sekaligus menandai babak baru globalisasi K-pop yang mampu bersaing di pasar musik dunia.
Menurut Steezy, K-pop memiliki empat komponen penting yang membuatnya unik dan menarik secara visual. Pertama, adanya perubahan formasi saat menari, di mana para anggota mengubah pola gerakan atau posisi, seperti membentuk garis atau lingkaran untuk menciptakan dinamika visual.
Kedua, koreografi grup yang menuntut seluruh anggota melakukan gerakan tari yang sama secara serentak, sehingga menghasilkan tampilan sinkron yang memukau. Ketiga, ketepatan gerakan yang menjadi ciri khas K-pop, karena setiap anggota harus menampilkan gerakan yang presisi dan seragam pada saat yang bersamaan.
