
Salah satu potongan adegan film Pengabdi Setan
JawaPos.com – Obsesi sang sutradara Joko Anwar akhirnya terwujud setelah film impiannya, Pengabdi Setan, selesai digarap. Film yang populer pada 1980an itu, membuatnya kepincut untuk membuat film itu lagi dengan sentuhan kekinian. Joko sadar, untuk membuat film remake dengan rentang waktu puluhan tahun, membutuhkan sentuhan yang berbeda.
Tugas Joko justru lebih berat saat membangun suasana dan karakter setiap pemain dalam film Pengabdi Setan kali ini. Di zaman modern, lanjutnya, masyarakat pecinta film horor membutuhkan sentuhan yang berbeda.
“Ketika sutradara me-remake film, enggak bisa plek-plekan mirip dengan adegan yang sudah dibuat. Lalu film horor dengan bola mata putih keluar, itu enggak cukup. Penonton saat ini perlu yang lebih dari itu,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (21/9).
Karena itu Joko banyak belajar dari sutradara sebelumnya pembuat film Pengabdi Setan, Sisworo Gautama Putra. Salah satunya dengan banyak mempelajari teknik-teknik pengambilan gambar di film sebelumnya.
“Intensitas Pak Sisworo kan banyak menggunakan wide shot misalnya. Saya pun banyak menggunakan itu di film ini. Karena kalau terlalu cut-cut juga, penonton belum dapat pengkhayatan karakternya, nanti malah langsung ganti,” jelas Joko.
Bukan hanya itu, paling utama menurutnya adalah dengan membangun setiap karakter pemainnya. Penonton pasti akan merasa jenuh jika karakter yang tampil tidak bisa melakoni perannya dengan sempurna.
“Saya percaya film apapun termasuk film horor kalau karakternya enggak menarik, maka orang enggak akan tertarik. Kalau ada adegan intens dari awal sampai akhir lalu bisa ajak penonton untuk tahu banget, maka film itu menarik,” tuturnya.
Di dalam film horor, kata dia, penonton akan sangat suka jika pemainnya dalam bahaya. Karena itu tugas Joko adalah terus membangun intensitas karakter dan suasana seram film itu tetap terjaga hingga akhir.
“Penonton itu akan khawatir kalau karakternya dalam bahaya. Bagaimana caranya karakter harus terjaga intensitasnya,” tegasnya,
Hal lain yang paling dijaga oleh Joko Anwar adalah penghayatan setiap pemain dalam film itu. Karena itu, Joko mempunyai trik jitu untuk membuat karakter menjiwai setiap adegan.
“Caranya yaitu kami syutingnya urut ya. Dari adegan satu hingga adegan terakhir. Jadi kronologis yang urut, akan membuat setiap pemain menjiwai dan menghayati peran. Tak seperti syuting film lain yang mungkin loncat-loncat syuting adegannya,” tutur Joko.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
