
Tzuyang suarakan dampak perundungan siber di sidang Majelis Nasional Korea Selatan. (Instagram/@tzuyang70)
JawaPos.com - YouTuber terkenal asal Korea Selatan, Tzuyang (nama asli Park Jung Won), menjadi sorotan publik setelah tampil sebagai saksi dalam sidang dengar pendapat Majelis Nasional yang membahas isu perundungan siber (cyber-bullying).
Melansir laman Allkpop, dalam kesempatan tersebut, ia membagikan pengalaman pribadinya menjadi korban intimidasi dan pemerasan oleh YouTuber cyber wrecker, atau pembuat konten yang memperoleh keuntungan dengan menyebarkan isu palsu dan kontroversial di dunia maya.
Tzuyang, yang memiliki lebih dari 12,5 juta pelanggan di YouTube, hadir sebagai saksi dalam sidang yang digelar oleh Komite Ilmu Pengetahuan, ICT, Penyiaran, dan Komunikasi Majelis Nasional (SIBCC).
Ia datang bersama kuasa hukumnya atas undangan anggota parlemen dari Partai People Power, Kim Jang Gyeom, untuk memberikan kesaksian langsung mengenai dampak nyata dari kejahatan siber terhadap individu.
Dalam kesaksiannya, Tzuyang menggambarkan secara emosional bagaimana dirinya selama bertahun-tahun menjadi korban ancaman dan pemerasan dari pihak-pihak yang menggunakan platform YouTube untuk menyebarkan kebohongan tentang dirinya.
“Saya merasa begitu takut dan tidak berdaya. Saya bahkan tidak tahu harus berbuat apa,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia menjelaskan bahwa rasa takut tersebut semakin besar karena adanya ancaman balasan kedua (secondary retaliation) jika ia berani melapor atau melawan para pelaku.
Lebih lanjut, Tzuyang menyalahkan lemahnya tindakan YouTube terhadap video-video berisi fitnah dan informasi palsu.
Ia menyoroti bahwa kecepatan penyebaran video jahat sangat tinggi, dengan ratusan ribu penonton hanya dalam satu hari, namun proses penghapusan video sangat lambat, bahkan bisa memakan waktu lebih dari seminggu.
“Ada kalanya video tidak dihapus sama sekali,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa keterlambatan itu sangat merugikan korban karena kesalahpahaman publik yang sudah terlanjur tersebar sulit diperbaiki, meskipun konten akhirnya dihapus.
Selain itu, Tzuyang juga menyinggung biaya hukum yang sangat besar untuk melawan para pelaku, yang menurutnya menjadi salah satu hambatan terbesar dalam memperjuangkan keadilan.
“Saya mungkin masih bisa menanggung biaya hukum karena memiliki penghasilan dari siaran, tapi bagaimana dengan warga biasa, pegawai, atau pelajar? Mereka harus mengeluarkan uang untuk litigasi dan bahkan mungkin perlu perawatan medis akibat tekanan mental,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti ketakutan akan stigma sosial dan balasan dari para pelaku sebagai beban psikologis yang berat.
"Saya sempat benar-benar tidak bisa melakukan apa pun karena takut. Sekarang saya hanya bisa bertahan berkat dukungan dari orang-orang di sekitar saya,” ujarnya jujur.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022