
Poster film Marshall (2017) (Dok.IMDb)
JawaPos.com - Seorang pengacara harus cakap dalam banyak hal. Tidak hanya mengetahui benar undang-undang dan hukum yang ada, tapi juga komunikasi interpersonal yang baik. Terutama ketika mereka membela seseorang yang melakukan kejahatan, atau dituduh sebagai pelaku kejahatan.
Dilansir dari Totally Legal, pengacara pembela dalam kasus pidana akan menjadi representatif klien yang ia bela. Ia juga harus dapat memberikan nasehat-nasehat kepada kliennya selama proses persidangan berlangsung hingga selesai, dan mungkin setelahnya pula.
Pengacara pembela juga harus menyelidiki kasus yang ia dan kliennya hadapi. Mungkin bahkan harus lebih teliti daripada polisi-polisi yang terlibat.
Pada akhirnya, seorang pengacara pembela harus bisa memberikan argumentasi yang akurat dan kuat agar juri atau hakim dapat meringankan hingga membebaskan kliennya dari hukuman.
Namun, karena pekerjaannya, seorang pengacara akan membuat banyak musuh. Apalagi kalau para pengacara itu adalah seseorang dari kelompok minoritas pada masa segregasi.
Dalam film Marshall (2017), kita akan menyaksikan bagaimana Thurgood Marshall (Chadwick Boseman), hakim kulit hitam pertama di Mahkamah Agung Amerika Serikat, menghadapi salah satu kasus pertamanya pada tahun 1940.
Joseph Spell (Sterling K. Brown) dituduh telah memperkosa istri dari bosnya, Nyonya Eleanor Strubing (Kate Hudson).
Sebagai pengacara kulit berwarna terbaik National Association for the Advancement of Colored People (NAACP), Thurgood dikirim untuk menjadi pengacara Joseph. Terutama karena dipercaya bahwa Joseph bukanlah pelakunya.
Bersama Thurgood, Sam Friedman (Josh Gad), seorang pengacara asuransi di Bridgeport akan menjadi rekannya. Terutama karena Thurgood bukanlah pengacara setempat, sehingga ia tidak memiliki kuasa untuk bekerja sebagai pengacara disana.
Tidak kalah kuat, pasangan Strubing pun juga mempekerjakan seorang pengacara yang sangat berpengaruh, Lorin Willis (Dan Stevens). Bahkan hakim persidangan adalah teman dekat orang tua Lorin.
Hakim Carl Foster (James Cromwell), terpengaruh oleh status para pengacara, memperbolehkan Thurgood untuk merepresentasikan kliennya. Akan tetapi, ia tidak diperbolehkan untuk bersuara sehingga semua tugasnya akan diwakilkan oleh Sam.
Selama proses persidangan dan penyelidikan, Thurgood dan Sam menemukan banyak sekali hal janggal yang tidak disebutkan di persidangan. Mereka juga menemukan fakta bahwa semua orang di kasus ini telah berbohong.
Dalam film ini kita dapat menyaksikan betapa kejam dan jahatnya rasisme yang dihadapi oleh orang-orang kulit berwarna oleh kulit putih. Sampai-sampai aparat keamanan sendiri pun dapat disuap.
Karena setting waktu kasus terjadi pada tahun 1940an, pada saat yang sama Sam, yang juga seorang Yahudi, juga ikut merasakan tekanan dari rasisme walaupun ia sendiri masih berkulit putih.
Di film ini kita juga dapat melihat bagaimana sistem proses persidangan di Amerika Serikat berjalan. Terutama persidangan pidana.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022