JawaPos.com - Indonesia bukan hanya kaya akan budaya dan seni, tetapi juga melahirkan banyak musisi luar biasa. Salah satu yang paling mencolok adalah para gitaris yang mengukir sejarah lewat senar dan melodi.
Mereka bukan sekadar jago teknik, tapi juga punya ciri khas yang tak bisa disamai gitaris lain. Dilansir dari laman YouTube IPM, inilah lima pendekar gitar paling ikonik yang punya gaya permainan tak lekang waktu.
Setiap nama di daftar ini bukan hanya dikenal karena skill, tapi juga karena karakter kuat yang melekat pada permainan mereka. Suara gitar mereka mudah dikenali meski tanpa visual. Itulah definisi dari sebuah keikonomikan sejati.
1. Eet Sjahranie – Sang Penyihir Senar dari Era 90-an
Gitaris legendaris yang satu ini dikenal lewat permainan cepat, presisi, dan teknik luar biasa. Di era 90-an, Eet tampil mencolok dengan gaya yang enerjik dan gitar model Stratocaster yang jadi ciri khasnya.
Tapi menurut IPM, keunikan Eet tidak terletak pada jenis gitarnya, melainkan di tangannya. Ia bisa menghasilkan suara khas dari merek dan model gitar apa pun yang dimainkan, benar-benar seperti menyihir senar gitar.
Gayanya merangkum pengaruh besar dari band seperti AC/DC hingga Led Zeppelin, namun tetap punya karakter sendiri. Ia juga mengikuti perkembangan zaman dengan teknik drag yang ia terapkan di beberapa hits Edane seperti “Ikuti” dan “Living Dead.”
2. Andra Ramadhan – Sang Perfeksionis Berselimut Emosi
Dikenal dengan ketelitian ekstrem saat tampil di panggung, permainan Andra nyaris tanpa cela. Baik bersama Dewa 19 maupun Andra & The Backbone, ia selalu tampil rapi dengan presisi tinggi.
IPM menyebutkan bahwa sayatan gitarnya membawa emosi mendalam, menjadikannya nyawa dalam lagu-lagu Dewa 19. Ia bukan hanya peka zaman, tapi mampu beradaptasi dari era rock 90-an hingga nuansa modern yang lebih kekinian.
Gaya mainnya disebut memadukan Brian May dan Joe Satriani dalam satu karakter. Lagu “Pupus” adalah salah satu contoh terbaik di mana interlude gitarnya mampu membuat banyak gitaris merasa tertantang untuk menyamai emosinya.
3. Dewa Budjana – Sang Petualang Nada
Gitaris GIGI ini memiliki keunikan dalam pemilihan nada-nada tak biasa, seperti gitaris jazz yang nyasar ke band rock. Tapi justru itulah kekuatannya, membawa warna musik yang membuat GIGI sulit dibandingkan dengan band mana pun.
Meski harus menyederhanakan permainan di band demi kepentingan komersial, Budjana tetap melampiaskan idealismenya lewat album solo gitar. Ia bahkan berhasil menggandeng musisi dunia seperti Simon Phillips dan John Frusciante dalam proyek-proyeknya.
Di mata IPM, Budjana adalah salah satu gitaris Indonesia yang paling terpandang secara internasional. Salah satu permainan terbaiknya bisa dinikmati di lagu “Selamat Tidur Sayang” dari album 3/4 GIGI.
4. Pay Burman – Sang Penjelajah Era dan Efek
Dikenal dengan tremolo yang khas dan permainan yang peka zaman, Pay adalah kekuatan penting di balik warna suara Slank dan BIP. Sejak era Slank album 1 sampai 5, ia menyumbangkan isian gitar yang sesuai zaman, namun tetap punya gaya pribadi.
Uniknya, IPM menilai Pay sebagai gitaris yang “mendahului zaman,” contohnya adalah efek “wangi” di lagu “Anjing.” Bunyi eksperimental itu membuat banyak gitaris amatir Indonesia kebingungan menirunya pada masanya.
Pay juga tampil di album Guitar Clinic bersama gitaris internasional, menandakan pengakuan atas skill dan eksplorasi bunyi yang ia miliki. Lagu “Kalah” adalah salah satu karya dengan interlude gitar yang paling dikenang dari dirinya.
5. Eross Candra – Simplicity is Power
Gitaris Sheila On 7 ini mungkin tidak bermain serumit Budjana atau secepat Eet, tapi justru kekuatannya ada di kesederhanaan. Suara gitarnya mudah dikenali bahkan tanpa melihat siapa yang memainkannya.
Di awal karier, Eross menggunakan berbagai gitar seperti Gibson dan Epiphone, tapi kini lebih dikenal dengan gaya Telecaster-nya. IPM menyebut Eross sebagai gitaris pertama Indonesia yang berhasil menyederhanakan efek pedal, cukup dengan crunch tone yang ikonik.
Riff dan interlude ciptaannya di lagu-lagu Sheila On 7 seperti “Seberapa Pantas” dan “Melompat Lebih Tinggi” adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa jadi senjata paling mematikan. Tak heran ia menjadi satu-satunya gitaris Indonesia yang punya seri Signature dari Fender.
Lima nama ini menunjukkan bahwa menjadi ikonik bukan hanya soal teknis, tapi soal karakter, konsistensi, dan kreativitas. Masing-masing dari mereka membuktikan bahwa gitar bisa bicara, menangis, bahkan mengguncang panggung tanpa kata.
Jadi, siapa gitaris favoritmu dari kelima pendekar ini? Atau mungkin kamu punya jagoan lain yang tak kalah ikonik?