Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Agustus 2023 | 02.10 WIB

Film Barbie Gagal di Korea Selatan karena Masyarakat Takut Dicap Feminis

Chung Sung-Jun. (Getty Images) - Image

Chung Sung-Jun. (Getty Images)

JawaPos.com - Korea Selatan merupakan salah satu negara maju yang ada di Asia, dikenal sebagai salah satu pendobrak teknologi dan industri hiburan. Tapi dibalik itu semua masih banyak pekerjaan yang harus ditangani Korea Selatan, salah satunya adalah anti feminis.
 
Meskipun film Barbie terus meraih kesuksesan box office di seluruh dunia, namun performa film ini di Korea Selatan kurang memuaskan. Para kritikus dan aktivis menyebutkan keengganan mereka untuk menonton film asing bertema feminis.
 
Dikutip dari The Guardian (2/8), Barbie menjual lebih dari 460.000 tiket pada tanggal 19 Juli 2023 saat film ini diputar di layar lokal, menurut Dewan Film Korea. Namun pada akhir pekan, pembukaan film ini hanya mendapatkan 8 persen dari total pendapatan box office dan hanya 3,9 persen di pekan kedua.
 
 
Sebagai perbandingan, film Mission: Impossible - Dead Reckoning Part One telah berhasil menjual lebih dari 3,6 juta tiket sejak dirilis pada 12 Juli 2023. Film lainnya, Elemental telah terjual lebih dari 5,8 juta tiket dan menjadikannya film 
asing tersukses tahun ini di Korea Selatan, setelah dibuka pada tanggal 14 Juni 2023.
 
Aktivis hak perempuan Korea Selatan, Haein Shim mengatakan bahwa tema dari film ini membuat para penonton bioskop tidak tertarik. "Saya rasa Barbie tidak diragukan lagi menyoroti fakta bahwa film yang berpusat pada perempuan dengan humor feminis masih dianggap sebagai subjek yang tabu."
 
Para wanita mungkin ragu untuk menonton film Barbie karena ketakutannya akan dicap sebagai feminis di Korea Selatan.
 
"Kata 'feminisme' telah menjadi kata yang dianggap kasar bagi banyak orang di Korea, dan orang-orang tidak mau mengakui. Sementara para feminis merasa tidak nyaman menghadapi patriarki yang telah mengakar kuat di masyarakat selama ini," katanya.
 
Wanita sering kali menghadapi tekanan di lingkungan masyarakat, mereka diminta untuk melepaskan karir setelah melahirkan. Kejahatan seksual terhadap perempuan merajalela, dalam sistem peradilan pidana yang sering kali memberikan hukuman ringan kepada para pelaku.
 
 
Yoon Suk Yeol yang kini menjabat sebagai presiden Korea Selatan, menolak feminis secara terbuka ketika ia mencalonkan diri. Dia sebelumnya mengatakan bahwa feminisme adalah penyebab rendahnya angka kelahiran di negara tersebut. Sang presiden juga menyatakan bahwa Korea Selatan tidak memiliki diskriminasi gender struktural.
 
Kritikus film Youn Sung-Eun mengatakan bahwa pada prinsipnya masyarakat Korea Selatan mungkin setuju dengan kesetaraan gender. Tetapi ada beberapa kelompok dalam masyarakat konservatif yang sangat menentang apa yang mereka anggap sebagai, feminisme radikal.
 
"Dalam konteks ini, pendidikan kesetaraan gender yang disampaikan Greta Gerwig (sutradara film Barbie) tidak terlalu menarik," ujar Youn dan beberapa alasan mengenai hal yang mungkin menjadi penyebab kurang berhasilnya film ini, karena film Barbie dimaksudkan sebagai film yang menghibur. Namun ketika menampilkan tema sensitif seperti itu, secara mencolok mungkin tidak akan bersinkronisasi dengan baik.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, feminisme di Korea Selatan telah berubah dan mendapatkan citra negatif yang diasosiasikan dengan perilaku radikal. Sebuah persepsi yang telah mendapatkan daya tarik di komunitas online populer yang didominasi oleh pria, dan sekarang menyebar di masyarakat yang lebih luas.
 
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore