alexametrics

Bukan Gambit Ratu

Oleh ANTON KURNIA
27 Desember 2020, 15:44:42 WIB

Drama seri The Queen’s Gambit yang diproduksi Netflix mencatat fenomena. Serial ini baru tayang pada 23 Oktober 2020, tetapi hingga kini telah ditonton oleh setidaknya 62 juta pelanggan siaran televisi berbayar itu di berbagai belahan dunia.

FILM tentang catur yang dibuat berdasar novel Walter Tevis terbitan 37 tahun lalu itu bahkan membuat novel aslinya kembali dicetak ulang dan laku keras di pasaran hingga menembus daftar buku laris The New York Times.

Film itu juga membuat gairah terhadap permainan catur meningkat di seluruh dunia. Pencarian di mesin pencari Google untuk ’’cara bermain catur’’ mencapai angka tertinggi dalam sembilan tahun terakhir. Penjualan ’’alat bermain catur’’ di situs penjualan eBay meningkat 250 persen. Pertambahan jumlah pemain baru di situs permainan catur daring chess.com pun melesat hingga lima kali lipat.

The Queen’s Gambit mengisahkan perjuangan perempuan pecatur Beth Harmon (diperankan Anya Taylor-Joy) di dunia yang dikuasai lelaki dengan latar belakang Perang Dingin antara Amerika Serikat (Blok Barat) dan Uni Soviet (Blok Timur) pada 1960-an. Puncaknya adalah kemenangan Beth atas Vasily Borgov –juara dunia dari Uni Soviet– melalui pertarungan sengit dengan menggunakan pembukaan Gambit Menteri. Dalam strategi yang dikenal sejak abad ke-15 ini, sebuah bidak di sisi menteri sengaja dikorbankan demi mendapatkan keuntungan strategis yang berujung pada kemenangan.

Catur adalah permainan adu strategi di antara dua orang yang dimainkan pada sebuah papan yang tersusun dari 64 kotak hitam-putih berselang-seling dalam petak 8 kali 8 yang terbagi sama rata. Permainan catur berasal dari India sebelum abad ketujuh Masehi. Asalnya bernama chaturanga dalam bahasa Sanskerta yang berarti ’’empat pasukan’’. Ini merujuk pada jenis bala tentara yang digunakan di India saat itu, yakni kereta perang, tentara bergajah, tentara berkuda, dan pasukan infanteri. Kata ’’catur’’ yang berarti ’’empat’’ kelak diserap oleh bahasa Kawi (Jawa kuno).

Permainan ini lalu dibawa ke Persia lewat hubungan perdagangan dan di sana disebut chatrang (yang kemudian diadopsi oleh bahasa Arab) seperti terekam dalam buku Madayan i Chatrang (Kitab Catur) dari abad ketujuh. Kata mat dalam istilah checkmate atau skakmat berasal dari istilah Persia ’’shah-mat’’ atau ’’raja mati’’. Istilah itu terus dipakai hingga kini.

Permainan catur lalu merambah Jazirah Arab dan cukup populer saat imperium Islam mencapai kejayaannya. Pada masa itu sejumlah intelektual terkemuka menulis buku tentang catur, termasuk filsuf Persia Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Razi atau yang dikenal dengan nama Latin Rhazes (854–925). Dia menulis Latif fi Shatranj (Bergembira dengan Catur). Ar-Razi juga dikenal sebagai salah satu master catur terkemuka pada masa itu. Dia berhasil mengalahkan Al-Adli Ar-Rumi yang disebut-sebut sebagai pemain catur terkuat pada abad kesembilan di hadapan Khalifah Al-Mutawakkil di Baghdad –ibu kota kekhalifahan Islam saat itu– pada 847.

Catur kemudian diperkenalkan dan berkembang luas di daratan Eropa pada abad kesembilan melalui Andalusia setelah terjadi penaklukan oleh Dinasti Umayyah. Diperkirakan buah-buah catur mendapat bentuknya yang seperti sekarang sejak abad ke-15 di Spanyol. Adapun peraturan catur modern baru disepakati dan diberlakukan sejak abad ke-19.

Kini catur yang dianggap salah satu permainan tertua di dunia diakui sebagai cabang olahraga dan dipertandingkan secara internasional. Juara dunia catur pertama yang diakui secara umum adalah Wilhelm Steinitz (saat itu warga imperium Austro-Hungaria) yang menggondol gelar tersebut pada 1886 saat berusia 50 tahun. Juara dunia catur saat ini adalah ’’si bocah ajaib’’ Magnus Carlsen dari Norwegia yang dinobatkan pada 2013 di usia 23 tahun setelah menundukkan juara dunia sebelumnya, Vishwanatan Anand dari India.

Ada perbedaan penamaan buah catur di berbagai negara dan bahasa. Dalam bahasa Inggris catur disebut chess. Buah catur terdiri atas king (raja), queen (ratu), bishop (uskup), knight (kesatria), rook (benteng), dan pawn (prajurit). Sementara itu, dalam bahasa Arab, catur disebut shatranj. Nama yang digunakan adalah malik (raja), wazir (menteri), fiil (gajah), hishan (kuda), Rukh (benteng), dan bidaq (prajurit).

Catur sampai ke Nusantara melalui para penjelajah dari Eropa ratusan tahun silam. Adapun istilah resmi penamaan buah catur dalam bahasa Indonesia adalah raja, menteri, gajah, kuda, benteng, dan bidak yang lebih mirip dengan istilah dalam bahasa Arab ketimbang bahasa Inggris. Dalam bahasa percakapan informal, menteri kerap disebut patih dan gajah disebut kuncung karena bentuk buah caturnya yang seperti kuncung meski sebenarnya itu topi uskup.

Dengan demikian, dalam bahasa Indonesia, Queen’s Gambit disebut sebagai Gambit Menteri atau Pembukaan Menteri, bukan Gambit Ratu. Sebab, dalam permainan catur di sini tidak ada ratu. Ini menarik karena secara tersirat menyingkap watak bahasa Indonesia yang maskulin dan patriarkis. Jika dalam bahasa Inggris permainan catur berpusat pada ratu yang bebas bergerak, dalam bahasa Indonesia peran ratu justru ditiadakan. Ratu tak ikut serta dalam percaturan adu kuasa. Yang berwenang memimpin pasukan dalam menyerang musuh dan melindungi raja adalah menteri yang serbabisa dan (lazimnya) lelaki.

Secara tersirat, ini juga mencerminkan cara pandang (bangsa) kita bahwa (percaturan) politik adalah urusan (melulu) lelaki. Tempat perempuan hanyalah di ranah domestik –di luar papan percaturan; semacam konsep Dharma Wanita ala Orde Baru. Itu tentu saja pandangan kuno yang harus dilawan, seperti yang dilakukan dengan gemilang oleh Beth Harmon dalam The Queen’s Gambit. (*)


ANTON KURNIA, Penulis dan mantan pecatur

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra


Close Ads