alexametrics

Jangan Lupa Bahagia

Oleh Eka Kurniawan
25 Oktober 2020, 18:37:24 WIB

”Jangan lupa bahagia” jelas lebih terasa mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Terutama karena kita tahu, kesedihan bukanlah sesuatu yang direncanakan. Ia bisa datang kapan saja.

THE Discomfort of Evening, novel debut penulis Belanda Marieke Lucas Rijneveld yang tahun ini memperoleh penghargaan The International Booker Prize, dibuka dengan lanskap yang tampak membahagiakan: sebuah rumah penuh kedamaian di peternakan, keluarga yang saleh, menjelang Natal.

”Keluarga yang saleh”, kita tahu, sering kali menjadi gambaran keluarga yang ideal. Ia dibayangkan jauh dari segala yang jahat dan kotor. Di novel ini bahkan sampai titik di mana tak ada saluran TV komersial. Hanya TV Netherland 1, 2, atau 3 yang tak ada ”orang telanjang”. Keluarga saleh adalah keluarga yang terlindungi dari noda dunia.

Tapi, dunia yang terlindung pun memiliki akhir: kematian. Andai kematian merupakan pusat dari kosmologi kesalehan, sebab perbuatan baik dan ibadah sering kali merupakan bekal untuk kehidupan yang akan datang, kematian tetaplah kematian. Ia memberikan rasa tak nyaman bagi yang hidup.

”Meskipun mereka menceritakan hal-hal baik mengenai abangku, kematian tetaplah terasa menjijikkan…” kata Jas, sang narator, di hadapan peti mati Matthies, abangnya.

Seketika, keluarga itu mulai diliputi kesedihan, juga keputusasaan. Ironisnya, orang sering semakin mendekat kepada agama, kepada Tuhan, ketika malapetaka datang menghampiri, mencari perlindungan dan penghiburan. Pada saat yang sama, bisa pula membuat orang semakin menjauh, merasa tak memperoleh perlindungan maupun penghiburan.

Si ibu mulai tak lagi makan bersama sekaligus tak banyak makan seperti sebelumnya. Tubuhnya mulai kurus. Mereka memang masih pergi ke gereja, tapi hanya agar ”tetangga tahu kamu datang dan meskipun apa yang terjadi, kami masih percaya kepada-Nya.”

Obbe, salah satu anak di keluarga itu, mulai mempertanyakan apa itu kematian dan bermain-main dengan kematian: ia memasukkan seekor hamster ke dalam gelas berair, menutup gelas itu dengan telapak tangannya. Di depan matanya, hamster itu melonjak ke segala sisi, mata membelalak, sebelum mati.

Marieke Lucas Rijneveld, seorang penulis bergender non-binari, perlahan (dan sedikit menyayat-nyayat) mengisahkan tentang peta kesedihan, dikontraskan dengan kehidupan keluarga yang demikian taat pada nilai-nilai agama.

Tapi, bahkan dalam kemuramannya, novel ini menawarkan percik-percik humor meskipun sejenis humor kelam. Ketika anak-anak itu mandi kelewat lama, misalnya, sang ayah akan menakut-nakuti bahwa kulit mereka akan mengelupas dan ia terpaksa menjemurnya seperti menjemur kulit kelinci.

Baca juga:

Ketika Jay berpikir untuk pergi dari rumah, tanah pertanian dan desa itu, saudarinya memakai baju ayah mereka dan berpura-pura menjadi seorang gentleman dari kota yang akan menyelamatkan gadis desa. Ia mencium Jay, melesakkan lidah ke dalam mulutnya, membuat Jay kemudian berpikir, ”Aku seorang pedofil.”

”Bukan. Pedofil harusnya lelaki, tua, dan beruban. Kau perempuan, sepertiku,” kata Hanna, saudarinya, yang langsung disergap Jay dengan kelegaan, ”Terima kasih, Tuhan.”

Dengan bahasa yang sering blak-blakan, novel ini memang memiliki kualitas untuk mengganggu kenyamanan kita. Kutipan-kutipan biblikal yang bertebaran di sana sini terasa seperti ejekan pada sikap kesalehan yang macam burung beo, alih-alih konfirmasi pada berbagai tindakan dan perkataan.

Ditambah dengan deskripsi yang tanpa tedeng aling-aling: bagaimana sabun batangan mencoba melancarkan saluran belakang si anak yang beberapa hari tak bisa buang air besar, misalnya. Atau bagaimana ketika si tokoh berpikir kotoran di perut merupakan miliknya, tapi sekali keluar, menjadi milik dunia.

Kesusastraan Belanda bisa jadi kurang populer di Indonesia, terlepas dari hubungan sejarah yang mempertautkan kedua bangsa. Bagi saya pribadi, novel ini merupakan sejenis usaha perkenalan kembali, yang tak pernah betul-betul akrab.

Kembali ke urusan kematian, melalui novel ini Marieke Lucas Rijneveld mengajukan satu pertanyaan tersirat, apa lawan dari kematian? Kelahiran! Dan kelahiran manusia, sebagaimana hewan-hewan, datang melalui sesuatu yang sering kali justru tabu dibicarakan: seks.

Ia mendekatkan seseorang untuk menjadi pendosa.

Semakin jauh dari hari kematian abang mereka, kenangan kematiannya tak juga pudar, tapi malah menimbulkan imajinasi liar, gelap, dan mengganggu. Bocah-bocah ini memperoleh penghiburan kecil dari pengalaman-pengalaman yang tampak menantang.

Dari urusan payudara gadis yang hanya tumbuh jika dilihat bocah lelaki hingga sepuluh detik sampai percobaan meletakkan kaleng minuman soda ke kemaluan anak gadis. Mereka tahu tengah melintasi daerah berbahaya, sejenis wilayah gelap di seberang sana, tapi tak bisa menghindar darinya.

”Sakit?” tanya sang narator ke saudarinya selepas ia mengalami pengalaman seksual pertama dengan kaleng minuman. ”Tidak. Enak, kok.”

Di ruang keluarga yang saleh, mereka tahu harus menyembunyikan pengalaman seperti itu. Mungkin itu pula makna kenapa Jay terus membayangkan ibunya menyembunyikan orang Yahudi di gudang bawah tanah dari kejaran Nazi.

Bahwa kehidupan harus sedikit disembunyikan dari sang ajal. (*)


EKA KURNIAWAN, penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads