alexametrics

Hari Ini Kita Bicara Sejarah dan Pansos

Oleh EKA KURNIAWAN
27 September 2020, 09:16:09 WIB

Pernah ada tetangga lama yang sepanjang pengetahuan saya, rumahnya terus direnovasi. Jendela diganti, pagar dibuat lebih tinggi atau malah dibongkar, dapur diperluas, paviliun dibangun.

BELAKANGAN ada yang kasih tahu, konon itu merupakan sejenis syarat untuk kekayaan yang dimilikinya. Ia melakukan perjanjian terlarang dengan sejenis makhluk halus. Ya, ia memang kaya, meskipun saya juga tak tahu persis apa benar itu pesugihan.

Pernah juga mendengar, dongeng maupun dari novel horor, tentang orang-orang yang juga menginginkan sesuatu melalui kekuatan gaib. Selain kekayaan, orang kadang menginginkan juga jodoh, pangkat, karir, paras rupawan, maupun kekuatan kanuragan.

Cuma-cuma? Tentu tidak. Kita tahu dalam kisah-kisah sejenis itu, ada yang namanya ’’tumbal’’ sebagai pengganti. Tak hanya dipaksa merenovasi rumah seumur hidup, tapi sering kali lebih mengerikan. Kehilangan anak tersayang, misalnya.

Pada dasarnya, keinginan-keinginan tersebut tidaklah aneh. Bahkan, bisa dibilang itu sangat manusiawi. Kita bisa jadi memiliki setidaknya salah satu dari keinginan-keinginan itu. Kita semua ingin memperbaiki hidup masing-masing.

Baca juga: Siap, Bang Jago!

Yang kurang ganteng, pengin lebih kinclong. Yang karirnya mandek, pengin melejit bagai roket. Yang serba kekurangan, ingin kaya dan bahkan hidup di lingkaran yang glamor. Yang sakit-sakitan, tentu ingin sembuh.

Kalaupun tak berurusan dengan dedemit atau dukun, orang bisa juga melakukan segala hal untuk meraih keinginannya. Ada yang menghalalkan segala cara bikin jejaring. Ada yang korupsi. Ada yang menipu. Tak jarang yang membegal.

Semua itu tak ada bedanya dengan orang-orang yang diledek anak-anak kekinian sebagai kaum ’’pansos’’, alias panjat sosial. Benar, tak ada yang salah dengan kehendak memperbaiki status sosial (lebih tinggi atau lebih baik), bukan?

Jika hasrat dan kehendak semacam itu menjadi cibiran atau ledekan, kita tahu, itu ditujukan terutama karena keinginan-keinginan tersebut sering kali melampaui kemampuan meraihnya, sehingga menghalalkan segala cara.

Terlebih jika keinginan itu meminta tumbal. Betul, bahkan makhluk gaib mengerti benar pepatah ’’tak ada makan siang gratis’’. Apalagi jika tumbal tersebut merugikan orang lain atau masyarakat umum.

Tak perlu tanya siapa tumbal dari tukang begal, karena korbannya jelas menderita. Koruptor? Jelas, mereka menjadi kaya dengan menumbalkan hak-hak masyarakat umum yang kehilangan dana publik untuk melayani mereka.

Yang lebih menarik, urusan keinginan-keinginan memperbaiki hidup maupun hasrat panjat sosial tak melulu berlaku bagi manusia orang per orang. Itu juga bisa berlaku bagi kelompok masyarakat, bahkan hingga tingkat negara-bangsa.

Seorang pengawal bisa berharap naik pangkat menjadi akuwu, kemudian jadi raja. Apa yang bisa dilakukannya? Selain mengawini putri raja, ada cara lain: membunuh akuwu dan mengumumkan wilayahnya sebagai kerajaan. Ken Arok melakukannya.

Begitu juga sebuah negeri yang terjajah dan menderita di bawah kekuasaan negeri lain, tentu ingin membebaskan negeri dan anak bangsanya. Untuk semua itu, mereka bisa memberontak, mengumumkan perang, melancarkan revolusi.

Banyak bangsa yang melakukan itu. Indonesia memerdekakan diri dari penjajahan Belanda. Rakyat Prancis melancarkan revolusi untuk meruntuhkan monarki. Fidel Castro dan kawan-kawannya memberontak dan merebut kekuasaan di Kuba.

Kalau antarbangsa bisa saling meledek macam warga media sosial, barangkali Belanda akan menyebut Indonesia sebagai pansos. Monarki Inggris atau Spanyol akan menyebut jelata Prancis sebagai pansos. Amerika memaki Castro juga sebagai pansos.

Memang aneh jika kita belajar sejarah dengan cara pandang seperti itu. Tapi, bagi saya, toh memang tak ada bedanya. Belajar sejarah adalah mengetahui bahwa dunia dan manusia berubah. Ada yang menggerakkan perubahan tersebut, dan ada akibat-akibatnya.

Itu terjadi di berbagai jenis sejarah lain. Sejarah filsafat mengajari kita bahwa Aristoteles menginginkan cara melihat dunia dengan lebih baik dari Plato. Sejarah sastra memperlihatkan bahwa Chairil Anwar mengharapkan ekspresi puitik yang lebih segar dari Amir Hamzah.

Baca juga: Sepakat dan Tidak Sepakat

Pada dasarnya ada hal yang sama, yang bisa kita lakukan, ketika kita mendengar obrolan atau dongeng tentang pesugihan dengan saat kita mempelajari sejarah. Demikian juga ketika kita meledek teman yang berusaha keras naik kelas secara sosial.

Kita tahu, dunia terus bergerak. Manusia maupun kelompok, orang per orang maupun bangsa, menginginkan perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan tak selalu datang dengan cara yang diharapkan, dan kadang harus dilakukan dengan tangan berlepotan darah.

Belajar sejarah memang seharusnya tak melulu soal mengetahui siapa dan kapan sesuatu terjadi. Tapi, terutama mengetahui kenapa dan apa akibat itu terjadi. Persis seperti membaca novel horor, kenapa dan apa akibatnya jika orang menjual jiwanya ke dedemit?

Belajar sejarah seharusnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelajaran membaca. Dan pelajaran membaca seharusnya membawa kita kepada sikap kritis dan analitis.

Sekarang mari kita bicara tentang sejarah hari ini. Siapa yang sedang pansos? Siapa yang sedang sikut sana-sini ingin berkuasa, dari level wali kota hingga presiden? Bersekutu dengan dedemit macam apa? Jangan-jangan kita tumbalnya? Amit-amit, kan? (*)

*) EKA KURNIAWAN, Penulis dan novelis, nominator The Man Booker International Prize 2016

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads