alexametrics

Janji Tahu Bulat Digoreng Dadakan

Oleh EKA KURNIAWAN
11 Oktober 2020, 15:48:57 WIB

Kalau ada orang yang pantas untuk diundang ke istana dan memberikan nasihat filosofis maupun gagasan-gagasan segar, yang saya pikirkan bukanlah budayawan, artis, atau pesohor media sosial. Saya mengusulkan abang penjual tahu bulat digoreng dadakan.

MEMBUAT tahu bulat di tengah rezim tahu kotak yang berkuasa berabad-abad tentu saja merupakan gagasan dan tindakan revolusioner. Tentu penggemar tahu kotak garis keras akan menentang. Tak apa. Anggap saja mereka generasi lawas malas gerak.

Tahu bulat juga sejenis anggukan kepada ilmu pengetahuan, bagaikan para filsuf Yunani Kuno yang menemukan bahwa bumi tidak datar, tapi bulat. Dengan ketebalan yang sama dari semua sisi, tahu bulat memberikan kematangan yang juga merata.

Bukankah itu yang dibutuhkan para pemimpin? Sebuah gagasan segar ketika dihadapkan pada situasi jumud, apalagi krisis, tapi tak semena-mena didasarkan semau-mau diri. Ketika jatuh, tahu bulat juga mengerti bagaimana menggelinding.

Gagasan berkeliling dari kampung ke kampung dan dari perumahan ke perumahan memang bukanlah gagasan baru. Penjual ketoprak, bakso, pecel, dan siomay sudah melakukannya. Begitu pula penjual roti, susu, dan bakpao.

Mereka pada dasarnya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, tapi sangat jarang dikerjakan, oleh para pejabat dan tuan-puan pelayan rakyat. Yakni, alih-alih duduk di kantor menunggu, bergerak mendatangi rakyat dari pintu ke pintu.

Tok-tok-tok. Ini pelayan rakyat, siapa yang membutuhkan pelayanan? Tidak saja murah, tapi juga cuma-cuma. Rakyat butuh apa? Jaminan kesehatan gratis? Silakan. Pendidikan gratis? Ting-tong, ada. Modal mobil pikap atau gerobak, rakyat terlayani.

Tidak ada hal yang baru juga dengan menyajikan makanan langsung dalam keadaan panas. Penjual bakpao, bakso, siomay, juga bajigur dan wedang jahe senantiasa membawa kompor dengan api menyala ke mana-mana.

Kita bisa sok bijak di sini. Segila-gilanya kita memuja perubahan, inovasi, dan gagasan-gagasan segar, akan selalu ada hal baik dari yang sudah ada sebelumnya untuk terus dipakai. Seperti di zaman digital, kita masih memakai huruf-huruf yang sudah ada sejak sebelum mesin cetak diciptakan.

Dulu, ketika saya masih kecil dan tinggal di desa yang jarak ke jalan raya terdekat memerlukan satu jam perjalanan jalan kaki, hanya ada satu penjual keliling. Ia penjual bajigur dan berkeliling kampung di malam hari, selepas pukul sembilan.

Ingatan saya pada si penjual bajigur ini agak horor. Bagaimana tidak, ia berjalan di kegelapan kampung yang belum terjamah listrik, berteman hanya dengan lampu gantung. Keberadaannya hanya ditandai dengan pukulan kecil ke pikulannya. Bagaimana jika ia bukan penjual bajigur betulan? Bagaimana jika ia bertemu sosok bukan manusia?

Cerita seram penjual makanan di malam hari mungkin juga semakin dibentuk oleh bayangan saya setelah menonton film Suzanna. Yang menonton film Sundel Bolong mungkin ingat tentang pesanan 200 tusuk kepada tukang sate dan daging serta kuah soto meluncur keluar dari lubang di punggungnya.

Pelayanan publik sudah lama dipenuhi kisah horor, dalam arti tidak menyenangkan. Saya pernah tidak punya kartu tanda penduduk selama lebih dari satu tahun karena birokrasi yang melebihi ruwetnya novel-novel Franz Kafka.

Abang tahu bulat tak hanya mengajari kita tentang kerja yang benar-benar kerja, sebagaimana kebanyakan wirausahawan kelas jelata. Si abang juga mengajarkan bagaimana melayani dengan riang, membuat gembira semua orang.

Dengan lagu yang kadang dinyanyikan melalui mikrofon, kadang diputar dari rekaman, bahkan orang yang tak membeli pun terhibur. Tak jarang saya mendengar anak kecil menyanyikan lagu ’’tahu bulat digoreng dadakan’’ dan para pekerja kerah biru di kantor-kantor mengutipnya sebagai lelucon menyenangkan.

Tapi, menurut saya, kualitas paling utama dari abang tahu bulat adalah janjinya. Janji yang diteriakkannya atau dinyanyikannya sederhana, tak muluk-muluk, tapi ia menepatinya dengan tepat.

Ia bilang ’’tahu bulat’’, ya, kita memperoleh tahu bulat. ’’Digoreng dadakan’’, kita bisa melihatnya langsung di bak pikapnya bagaimana tahu digoreng dengan minyak mendidih di wajan. ’’Lima ratusan’’, itulah harganya, kadang malah memperoleh bonus.

Para pemimpin dan tuan-puan pelayan rakyat tidak menjual tahu bulat. Yang bisa mereka jual hanyalah janji. Sialnya, kita membayar di muka dan janjinya entah kapan ditepati. Ketika janji tak juga kunjung ditepati, kita hanya disuruh membeli janji yang lain, di pemilihan umum berikutnya.

Abang tahu bulat digoreng dadakan mungkin tak akan disebut sebagai filsuf, tidak juga ada yang menyebutnya sebagai ahli pemasaran, atau genius pencipta kopi iklan, tapi ia bisa mengajari kita banyak hal. Juga mengajari para pelayan rakyat tentang martabat memenuhi janji.

Meskipun begitu, mendadak saya khawatir bahwa para pemimpin sebetulnya sudah belajar dari abang tahu bulat. Mereka belajar bagaimana menggoreng dadakan berbagai aturan dan kebijakan untuk memuaskan segelintir pemesan yang siap dengan uang. (*)


*) EKA KURNIAWAN, penulis dan novelis,nomine The Man Booker International Prize 2016

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads