
Ilustrasi
JawaPos.com- Berat bayi lahir rendah (BBLR) dan sesak napas menjadi penyebab utama kematian bayi. Selama Januari hingga 26 Oktober, tercatat sudah 93 bayi di Gresik yang meninggal karena dua kondisi tersebut.
Menurut Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik, angka kematian itu lebih tinggi daripada periode 2016. Yaitu, 71 kasus. ”Sebagian karena asfiksia (sesak napas, Red). Tapi, yang terbanyak memang karena BBLR,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik dr Ummi Khoiroh.
Bagaimana penyebab itu muncul? Ummi menjelaskan, banyak kasus BBLR yang ditemukan pada orang tua yang menikah dini. Contohnya, dalam Oktober ini saja, ada 1.300 pasangan yang menikah. Nah, 70 persennya berusia di bawah 20 tahun. Mereka sebenarnya belum siap secara psikologis untuk menjadi orang tua. Dari sisi hormonal, ibu hamil mengalami perubahan hormon yang drastis pada tiga bulan pertama kehamilan.
Fenomena maraknya pernikahan dini itu perlu diantisipasi. Dinkes telah mengerahkan kader kesehatan remaja (KKR) di sekolah. Para kader dibekali pengetahuan untuk memberikan konseling dan edukasi kepada teman sebaya. ”Contohnya, kasus hamil di luar nikah. Itu paling banyak melatarbelakangi pernikahan dini,” kata Ummi.
Banyak pula kasus BBLR yang ditemukan pada ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronik (KEK). Menurut survei dinkes, ibu hamil yang KEK rata-rata adalah perempuan pekerja pabrik. ”Pekerja pabrik cenderung punya pola makan kurang teratur,” ucapnya.
Untuk kasus asfiksia, penyebabnya ialah faktor genetik. Selama hamil, ibu kekurangan asam folat sehingga pembentukan organ kurang sempurna. Paru-parunya terganggu. Dampaknya, sering sesak napas, bahkan sampai meninggal. Yang sering terjadi, kondisi itu disertai dengan BBLR.
Dinkes sudah berkoordinasi dengan serikat pekerja. Meski harus bekerja sif, perempuan hamil seharusnya memperhatikan asupan nutrisinya. Sebab, pola makan ibu hamil memengaruhi perkembangan janin di kandungan.
Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut mengakui, kasus kematian bayi meningkat drastis pada 2017. Dinkes semakin waspada. Para bidan diminta semakin intensif memantau kondisi ibu hamil di wilayah kerja masing-masing secara berkala. Dengan demikian, kasus kematian bayi bisa dicegah.
Kepala Dinkes Gresik dr Nurul Dholam menuturkan, pihaknya membentuk tim khusus untuk memantau kondisi ibu hamil. Sebab, kematian bayi tidak bisa lepas dari faktor sang ibu.
Nurul mengungkapkan, meski telah dibentuk tim khusus, bidan desa tetap bertanggung jawab atas kondisi ibu hamil di wilayah kerjanya. Pemantauan secara berkala harus tetap dilakukan. ”Angka kematian bayi (AKB) harus ditekan,” jelasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
