Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Oktober 2026 | 17.11 WIB

6 Cara Kepribadian Dapat Memengaruhi Kamu dalam Mendengarkan Musik Menurut Psikologi

seseorang yang mendengarkan musik sesuai kepribadian. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa seseorang bisa sangat menikmati musik jazz yang tenang, sementara orang lain justru merasa lebih bersemangat ketika mendengarkan rock, metal, hip-hop, atau musik elektronik? Bahkan dalam satu kelompok pertemanan, selera musik setiap orang bisa sangat berbeda.


Musik memang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita mendengarkannya ketika bekerja, belajar, berolahraga, berkendara, bersantai, bahkan ketika sedang mengalami patah hati. Namun, pilihan musik yang kita dengarkan ternyata tidak selalu muncul secara acak.

Dalam psikologi, kepribadian merupakan salah satu faktor yang dapat berkaitan dengan preferensi musik dan cara seseorang menggunakan musik dalam kehidupannya. Musik bukan hanya sesuatu yang kita dengarkan untuk hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, mengatur suasana hati, membangun identitas, hingga membantu kita memahami emosi.

Salah satu kerangka kepribadian yang banyak digunakan dalam psikologi adalah Big Five Personality, yang terdiri dari keterbukaan terhadap pengalaman (openness), kehati-hatian atau keteraturan (conscientiousness), ekstraversi (extraversion), keramahan (agreeableness), dan neurotisisme atau kecenderungan mengalami emosi negatif (neuroticism).

Lalu, bagaimana sebenarnya kepribadian dapat memengaruhi cara kita mendengarkan musik?

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (17/10), terdapat enam cara yang menarik untuk dipahami.

1. Kepribadian Memengaruhi Genre Musik yang Kamu Sukai

Cara paling mudah melihat hubungan antara kepribadian dan musik adalah melalui genre yang sering kita pilih.

Setiap genre menawarkan karakteristik emosional dan musikal yang berbeda. Musik pop mungkin terasa mudah dinikmati karena melodinya familiar dan strukturnya relatif mudah diikuti. Musik klasik dapat memberikan pengalaman yang lebih kompleks bagi sebagian pendengarnya. Sementara itu, rock, metal, hip-hop, jazz, elektronik, atau musik eksperimental menawarkan karakteristik suara yang berbeda pula.

Dalam penelitian psikologi musik, preferensi terhadap genre tertentu sering ditemukan memiliki hubungan dengan karakteristik kepribadian tertentu. Misalnya, orang dengan tingkat openness to experience yang tinggi cenderung lebih terbuka terhadap musik yang kompleks, tidak biasa, atau memiliki karakter eksperimental.

Seseorang yang memiliki keterbukaan tinggi mungkin menikmati berbagai macam genre tanpa merasa harus membatasi diri pada satu kategori. Hari ini ia bisa mendengarkan musik klasik, besok jazz, kemudian berpindah ke rock progresif atau musik elektronik.

Sebaliknya, orang yang lebih menyukai keteraturan dan familiaritas mungkin merasa lebih nyaman dengan musik yang sudah dikenalnya.

Namun, hal ini bukan berarti seseorang dengan kepribadian tertentu pasti menyukai genre tertentu.

Kepribadian hanya salah satu faktor. Lingkungan keluarga, budaya, teman, pengalaman hidup, usia, media sosial, komunitas, serta pengalaman emosional juga dapat membentuk selera musik seseorang.

Jadi, ketika kamu mengatakan, "Aku suka musik ini karena memang cocok denganku," bisa saja ada hubungan antara musik tersebut dengan karakter psikologismu—tetapi hubungan itu tidak sesederhana satu kepribadian = satu genre.

2. Kepribadian Memengaruhi Alasan Kamu Mendengarkan Musik

Dua orang dapat mendengarkan lagu yang sama, tetapi memiliki alasan yang sangat berbeda.

Orang pertama mungkin mendengarkan musik untuk bersantai. Orang kedua mendengarkannya untuk meningkatkan energi ketika berolahraga. Orang ketiga menggunakannya untuk mengingat seseorang dari masa lalu.

Dengan kata lain, musik tidak hanya dipilih berdasarkan apa yang terdengar menyenangkan, tetapi juga berdasarkan apa yang ingin kita dapatkan dari musik tersebut.

Dalam psikologi, musik sering dipandang sebagai salah satu alat yang digunakan manusia untuk mengatur kondisi psikologisnya. Kita dapat menggunakan musik untuk mengubah suasana hati, mempertahankan suasana hati tertentu, menenangkan diri, meningkatkan energi, atau menemani aktivitas tertentu.

Kepribadian dapat memengaruhi kebutuhan tersebut.

Seseorang yang ekstrover, misalnya, mungkin lebih sering menggunakan musik untuk meningkatkan energi atau menemani aktivitas sosial. Musik yang energik dapat membantu menciptakan suasana yang sesuai ketika berkumpul dengan teman atau melakukan aktivitas yang membutuhkan semangat.

Sementara itu, seseorang yang lebih introver mungkin lebih sering menikmati musik dalam situasi yang tenang dan personal. Musik dapat menjadi bagian dari waktu sendirian, seperti ketika membaca, berpikir, bekerja, atau sekadar beristirahat.

Tetapi sekali lagi, introver bukan berarti selalu menyukai musik pelan, dan ekstrover bukan berarti selalu menyukai musik keras.

Yang lebih penting adalah fungsi musik bagi orang tersebut.

Musik dapat menjadi semacam "alat psikologis" yang membantu seseorang menciptakan kondisi mental yang diinginkan.

3. Kepribadian Memengaruhi Cara Kamu Menggunakan Musik untuk Mengatur Emosi

Pernahkah kamu sengaja memutar lagu sedih ketika sedang sedih?

Sekilas, hal tersebut mungkin terdengar aneh. Jika sedang sedih, bukankah seharusnya kita mendengarkan lagu yang ceria?

Ternyata tidak selalu.

Banyak orang justru mencari musik yang sesuai dengan perasaan mereka. Ketika sedang sedih, seseorang mungkin memilih lagu dengan lirik atau suasana yang melankolis karena merasa musik tersebut "mengerti" apa yang sedang ia rasakan.

Musik kemudian berfungsi sebagai bentuk regulasi emosi.

Dalam kondisi tertentu, mendengarkan lagu yang sesuai dengan emosi dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Musik dapat memberikan validasi terhadap perasaan yang sedang dialami.

Kepribadian dapat memengaruhi bagaimana seseorang melakukan proses tersebut.

Orang yang memiliki kecenderungan reflektif dan terbuka terhadap pengalaman emosional mungkin lebih menikmati musik yang kompleks atau emosional. Mereka dapat memperhatikan lirik, nuansa suara, perubahan melodi, dan pengalaman emosional yang muncul ketika mendengarkan sebuah lagu.

Sementara itu, orang lain mungkin menggunakan musik dengan cara yang berbeda: bukan untuk merasakan emosinya lebih dalam, melainkan untuk mengalihkan perhatian dari emosi tersebut.

Misalnya, seseorang yang sedang stres memilih musik yang energik agar pikirannya tidak terus terfokus pada masalah.

Dengan demikian, musik dapat digunakan dengan dua cara yang tampak berlawanan: mendekati emosi atau menjauh sejenak dari emosi.

Keduanya dapat menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan musik yang normal.

4. Kepribadian Memengaruhi Seberapa Dalam Kamu Terhubung dengan Musik

Pernah ada lagu yang membuatmu merinding?

Atau mungkin ada lagu tertentu yang langsung mengingatkanmu pada seseorang, sebuah tempat, atau sebuah periode dalam hidup?

Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa hubungan seseorang dengan musik tidak selalu bersifat sederhana.

Bagi sebagian orang, musik hanyalah suara yang menyenangkan untuk didengar. Namun bagi orang lain, musik dapat memiliki makna pribadi yang sangat kuat.

Seseorang mungkin menghubungkan sebuah lagu dengan pengalaman ketika masih sekolah. Lagu lain mungkin mengingatkannya pada hubungan yang pernah dimiliki. Bahkan sebuah melodi sederhana dapat membawa kembali ingatan tertentu.

Kepribadian dapat berperan dalam seberapa kuat seseorang mencari dan menikmati pengalaman tersebut.

Orang dengan tingkat openness yang tinggi, misalnya, cenderung lebih tertarik pada pengalaman yang kaya, kompleks, dan penuh makna. Mereka mungkin tidak hanya bertanya, "Apakah lagu ini enak?" tetapi juga, "Apa yang sebenarnya ingin disampaikan lagu ini?"

Mereka dapat memperhatikan lirik, simbolisme, atmosfer, cerita, serta emosi yang dibangun oleh musik.

Inilah alasan mengapa satu lagu bisa memiliki arti yang sangat berbeda bagi dua orang.

Musiknya sama, tetapi pengalaman psikologis pendengarnya berbeda.

5. Kepribadian Memengaruhi Seberapa Sering Kamu Mencari Musik Baru

Pernahkah kamu merasa bosan jika mendengarkan playlist yang sama berulang-ulang?

Atau justru sebaliknya, kamu memiliki beberapa lagu favorit yang bisa diputar berkali-kali tanpa merasa bosan?

Perbedaan ini juga dapat dikaitkan dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan seseorang terhadap kebaruan.

Orang yang memiliki tingkat keterbukaan terhadap pengalaman yang tinggi cenderung lebih tertarik mengeksplorasi hal-hal baru. Dalam konteks musik, hal tersebut dapat muncul dalam bentuk keinginan mencoba artis baru, genre baru, bahasa baru, atau gaya musik yang sebelumnya belum pernah didengarkan.

Bagi mereka, menemukan musik baru bisa menjadi sebuah petualangan.

Algoritma layanan streaming musik bahkan dapat memperkuat kebiasaan ini. Ketika seseorang terus mencari musik baru, platform dapat memberikan rekomendasi yang semakin luas sehingga terbentuk siklus eksplorasi.

Di sisi lain, seseorang yang lebih menyukai familiaritas mungkin mendapatkan kenyamanan dari lagu-lagu yang sudah dikenalnya.

Ada alasan psikologis mengapa lagu yang familiar sering terasa nyaman. Kita sudah mengenal melodinya, memahami pola ritmenya, dan mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Prediktabilitas tersebut dapat membuat pengalaman mendengarkan terasa aman dan menyenangkan.

Karena itu, jangan heran jika ada orang yang memiliki playlist berisi ratusan lagu tetapi tetap kembali ke 10 lagu favorit yang sama.

Bukan berarti ia tidak memiliki selera musik yang luas. Bisa jadi ia memang mendapatkan kenyamanan psikologis dari sesuatu yang sudah familiar.

6. Kepribadian Memengaruhi Musik sebagai Bagian dari Identitas Diri

Musik bukan hanya sesuatu yang kita dengarkan.

Bagi banyak orang, musik juga menjadi bagian dari siapa diri mereka.

Coba perhatikan bagaimana seseorang memperkenalkan dirinya melalui musik.

"Aku anaknya suka indie."

"Aku suka metal."

"Aku penggemar K-pop."

"Aku lebih suka musik klasik."

Pernyataan tersebut tidak sekadar memberi tahu orang lain tentang lagu yang disukai. Dalam banyak kasus, pilihan musik juga menjadi cara untuk menunjukkan identitas, nilai, komunitas, dan gaya hidup.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk membangun identitas dan merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu. Musik dapat menjadi salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Ketika seseorang merasa memiliki kesamaan selera musik dengan orang lain, hubungan sosial dapat menjadi lebih mudah terbentuk.

Misalnya, dua orang yang baru bertemu mungkin langsung memiliki topik pembicaraan ketika mengetahui bahwa mereka sama-sama menyukai seorang musisi.

Komunitas penggemar juga dapat terbentuk karena adanya kesamaan preferensi musik.

Dalam konteks ini, kepribadian dapat memengaruhi bagaimana seseorang menggunakan musik untuk mengekspresikan dirinya.

Ada orang yang menjadikan musik sebagai bagian besar dari identitasnya. Ia mengikuti perkembangan artis, menghadiri konser, mengoleksi album, berdiskusi di komunitas, dan menjadikan musik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ada pula orang yang menikmati musik secara lebih pribadi tanpa merasa perlu mengidentifikasikan dirinya dengan genre atau komunitas tertentu.

Keduanya sama-sama valid.

Musik Tidak Bisa Menentukan Kepribadian Seseorang Secara Mutlak

Setelah mengetahui enam hubungan tersebut, penting untuk memahami satu hal: selera musik bukan tes kepribadian yang bisa menentukan siapa seseorang secara pasti.

Jika seseorang menyukai metal, bukan berarti ia agresif.

Jika seseorang menyukai musik klasik, bukan berarti ia pasti sangat pintar.

Jika seseorang menyukai lagu-lagu sedih, bukan berarti ia sedang mengalami masalah psikologis.

Dan jika seseorang menyukai musik pop, bukan berarti kepribadiannya sederhana.

Hubungan antara musik dan kepribadian jauh lebih kompleks.

Preferensi musik dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pengalaman pribadi, budaya, keluarga, teman, lingkungan sosial, paparan media, kenangan, usia, dan kondisi emosional.

Bahkan selera musik seseorang dapat berubah seiring waktu.

Lagu yang dulu tidak disukai mungkin tiba-tiba terasa menarik beberapa tahun kemudian. Genre yang dulu dianggap membosankan bisa menjadi favorit setelah seseorang mendapatkan pengalaman baru.

Karena itu, lebih tepat melihat musik sebagai salah satu jendela untuk memahami seseorang, bukan sebagai alat untuk memberikan label.

Mengapa Musik Bisa Terasa Begitu Personal?

Pada akhirnya, hubungan manusia dengan musik menjadi menarik karena musik bekerja pada banyak lapisan sekaligus.

Ada lapisan suara: melodi, harmoni, ritme, tempo, dan timbre.

Ada lapisan emosi: bahagia, sedih, tenang, marah, nostalgia, atau bersemangat.

Ada lapisan kognitif: ingatan, perhatian, imajinasi, dan interpretasi.

Dan ada lapisan sosial: identitas, kelompok, budaya, serta hubungan dengan orang lain.

Kepribadian kemudian berinteraksi dengan semua lapisan tersebut.

Itulah sebabnya pengalaman mendengarkan musik tidak pernah benar-benar sama antara satu orang dan orang lainnya.

Satu lagu mungkin hanya menjadi suara latar bagi seseorang. Bagi orang lain, lagu yang sama mungkin menjadi soundtrack dari sebuah fase penting dalam hidupnya.

Kesimpulan

Kepribadian dapat memengaruhi cara kita mendengarkan musik dalam berbagai cara. Mulai dari genre yang kita pilih, alasan kita memutar musik, cara kita mengatur emosi, kedalaman hubungan emosional dengan lagu, keinginan mencari pengalaman musik baru, hingga cara musik menjadi bagian dari identitas diri.

Namun, hubungan tersebut bukanlah aturan yang kaku.

Tidak ada satu genre musik yang secara otomatis menunjukkan satu jenis kepribadian. Manusia terlalu kompleks untuk dijelaskan hanya melalui playlist.

Justru di situlah menariknya musik.

Playlist seseorang mungkin tidak dapat menceritakan seluruh kepribadiannya, tetapi dapat memberikan sedikit gambaran mengenai apa yang ia sukai, apa yang ia rasakan, pengalaman apa yang ia ingat, dan bagaimana ia ingin menjalani momen tertentu.

Jadi, lain kali ketika kamu membuka aplikasi musik dan memilih lagu favoritmu, coba tanyakan kepada diri sendiri:

"Mengapa aku memilih lagu ini sekarang?"

Jawabannya mungkin lebih banyak bercerita tentang dirimu daripada yang kamu sadari.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore