Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01.43 WIB

6 Alasan Mengapa “Like” di Media Sosial Terasa Lebih Berdampak Saat Kamu Mengalami Depresi

seseorang yang mendapat likes di media sosial / foto: Magnific/luis_molinero

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu mengunggah sesuatu di media sosial, lalu tanpa sadar terus membuka aplikasi untuk melihat berapa banyak orang yang menyukai postinganmu?

Awalnya mungkin hanya ingin tahu.

Lima menit kemudian, kamu mengecek lagi.

Kemudian muncul 10 likes. Kamu merasa sedikit lega.

Lalu kamu melihat postingan orang lain yang mendapatkan ratusan likes. Perasaan lega tadi perlahan menghilang.

Dan ketika postinganmu ternyata tidak mendapatkan respons sebanyak yang kamu harapkan, muncul pikiran seperti:

“Apa aku memang tidak menarik?”
“Kenapa tidak ada yang peduli?”
“Apa orang-orang sebenarnya tidak menyukaiku?”
“Kenapa postinganku selalu kalah dibanding orang lain?”

Bagi sebagian orang, jumlah likes hanyalah angka kecil yang tidak terlalu berarti. Namun ketika seseorang sedang mengalami depresi, angka tersebut bisa terasa jauh lebih personal dan emosional.

Mengapa?

Secara psikologis, depresi dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri, memproses informasi sosial, dan merespons penghargaan. Karena itu, sebuah bentuk validasi yang sebenarnya sederhana—seperti likes, komentar, atau jumlah views—dapat memperoleh makna yang jauh lebih besar.

Bahkan, penelitian terbaru terhadap jutaan unggahan media sosial menemukan bahwa individu dengan gejala depresi cenderung lebih kuat “terpengaruh” oleh likes sebagai bentuk penguatan perilaku. Artinya, likes dapat lebih kuat mendorong seseorang untuk kembali melakukan perilaku tertentu di media sosial.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (16/10), terdapat enam alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

1. Likes Bisa Menjadi Pengganti Validasi Diri

Salah satu hal yang dapat berubah ketika seseorang mengalami depresi adalah cara ia memandang dirinya sendiri.

Depresi sering berkaitan dengan evaluasi diri yang negatif. Seseorang mungkin merasa tidak cukup baik, tidak menarik, tidak produktif, tidak disukai, atau bahkan merasa dirinya tidak memiliki banyak nilai.

Dalam kondisi seperti itu, penilaian dari luar dapat menjadi sangat penting.

Likes kemudian tidak lagi sekadar berarti:

“Ada 50 orang yang menekan tombol suka.”

Otak dapat menafsirkannya menjadi:

“Berarti aku masih diterima.”

Sebaliknya, ketika jumlah likes sedikit, pikiran dapat bergerak ke arah:

“Berarti aku tidak penting.”

Padahal, kedua kesimpulan tersebut belum tentu benar.

Jumlah likes tidak dapat mengukur nilai seseorang. Namun ketika harga diri sedang rapuh, angka tersebut dapat terasa seperti sebuah indikator objektif mengenai seberapa berharga diri kita.

Penelitian mengenai media sosial dan kesehatan mental menunjukkan bahwa self-esteem atau harga diri merupakan salah satu mekanisme penting yang berkaitan dengan hubungan antara penggunaan media sosial dan gejala depresi. Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan media sosial dan pola interaksi di dalamnya dapat berkaitan dengan perubahan dalam self-esteem, meskipun hubungan tersebut tidak sederhana dan tidak selalu bersifat sebab-akibat.

Inilah salah satu alasan mengapa likes bisa terasa jauh lebih penting ketika seseorang sedang berada dalam kondisi emosional yang rapuh.

Ketika kamu sedang baik-baik saja, 20 likes mungkin hanya berarti 20 likes.

Ketika harga dirimu sedang jatuh, 20 likes bisa terasa seperti sebuah “bukti” bahwa kamu masih layak diperhatikan.

Masalahnya, validasi dari media sosial bersifat tidak stabil.

Hari ini kamu mendapatkan 200 likes.

Besok hanya 30.

Kalau harga diri bergantung pada angka tersebut, kondisi emosional pun dapat ikut naik-turun mengikuti angka di layar.

2. Depresi Dapat Membuat Otak Lebih Peka Terhadap Tanda-Tanda Penolakan

Ada perbedaan antara menerima informasi sosial dan memberikan makna terhadap informasi tersebut.

Misalnya, seseorang tidak memberikan like pada postinganmu.

Secara objektif, terdapat banyak kemungkinan:

dia belum melihat postinganmu,

dia sedang sibuk,

algoritma tidak menampilkan postinganmu,

dia melihat tetapi lupa memberikan like,

atau memang dia tidak terlalu tertarik dengan kontennya.

Namun ketika seseorang sedang mengalami depresi, pikirannya dapat lebih mudah mengambil interpretasi yang negatif.

“Dia tidak like” dapat berubah menjadi:

“Dia tidak suka aku.”

Kemudian:

“Mungkin tidak ada yang benar-benar menyukaiku.”

Lalu:

“Mungkin aku memang tidak disukai siapa pun.”

Satu peristiwa kecil berkembang menjadi kesimpulan yang sangat besar.

Pola seperti ini berkaitan dengan kecenderungan kognitif negatif yang sering ditemukan dalam depresi. Informasi yang ambigu dapat lebih mudah ditafsirkan melalui kerangka negatif tentang diri sendiri.

Karena itu, likes dan komentar menjadi menarik secara psikologis.

Mereka merupakan sinyal sosial yang sangat mudah dihitung.

Ada angka.

Ada notifikasi.

Ada perbandingan.

Ada respons.

Ketika pikiran sedang mencari bukti tentang apakah dirinya diterima atau ditolak, media sosial menyediakan banyak sekali “data” yang dapat diperiksa.

Masalahnya, data tersebut sangat mudah disalahartikan.

Tidak mendapatkan likes bukan berarti ditolak.

Mendapatkan banyak likes juga bukan berarti seseorang benar-benar mengenal, memahami, atau menghargai dirimu secara mendalam.

Namun ketika sedang depresi, perbedaan tersebut bisa sulit dirasakan.

3. Likes Memberikan “Hadiah” yang Cepat di Saat Banyak Hal Lain Terasa Hambar

Salah satu karakteristik depresi yang sering dibicarakan dalam psikologi adalah berkurangnya kemampuan merasakan kesenangan atau ketertarikan terhadap hal-hal yang sebelumnya menyenangkan.

Kondisi ini sering disebut anhedonia.

Bayangkan seseorang yang biasanya mendapatkan kepuasan dari:

bertemu teman,

bermain,

bekerja,

berolahraga,

melakukan hobi,

mencapai sesuatu,

atau menikmati aktivitas sehari-hari.

Saat mengalami depresi, aktivitas-aktivitas tersebut mungkin tidak lagi memberikan perasaan positif sebesar sebelumnya.

Dalam keadaan seperti itu, sebuah notifikasi kecil dapat menjadi sangat menonjol.

“Seseorang menyukai postinganku.”

Itu adalah bentuk umpan balik sosial yang sangat cepat.

Tidak perlu menunggu berjam-jam.

Tidak perlu menyelesaikan pekerjaan.

Tidak perlu mencapai tujuan besar.

Satu notifikasi muncul, dan seseorang mendapatkan sinyal bahwa dirinya diperhatikan.

Menariknya, penelitian terbaru tahun 2026 menemukan hubungan yang cukup spesifik: orang dengan diagnosis depresi atau tingkat gejala depresi yang lebih tinggi cenderung menunjukkan penguatan perilaku yang lebih kuat terhadap likes di Twitter/X. Penelitian tersebut menganalisis lebih dari 17 juta postingan dari 7.736 pengguna dalam tiga dataset.

Temuan tersebut menarik karena menunjukkan sesuatu yang agak berbeda dari anggapan sederhana bahwa depresi selalu membuat seseorang “tidak responsif terhadap hadiah”.

Dalam kehidupan nyata, bentuk penghargaan sosial tertentu—seperti likes—justru dapat memiliki daya penguatan yang lebih besar pada sebagian orang dengan gejala depresi.

Dengan kata lain, ketika kehidupan sehari-hari terasa kosong, tidak berarti semua bentuk penghargaan kehilangan arti.

Justru penghargaan tertentu yang cepat, sederhana, dan mudah diperoleh dapat menjadi sangat menonjol.

Inilah yang dapat membuat seseorang semakin sering mengecek media sosial:

Posting → menunggu likes → mendapatkan likes → merasa sedikit lebih baik → ingin mengulanginya.

Namun ketika likes tidak datang, efek sebaliknya bisa muncul:

Posting → menunggu → tidak mendapatkan respons → kecewa → mengecek lagi → semakin cemas atau sedih.

4. Likes Memudahkan Kita Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Masalah media sosial bukan hanya tentang berapa banyak likes yang kita dapatkan.

Masalah lainnya adalah kita dapat langsung melihat berapa banyak likes yang didapat orang lain.

Misalnya:

Kamu mendapatkan 30 likes.

Lalu kamu melihat seseorang mendapatkan 1.500 likes.

Secara objektif, tidak ada yang salah dengan 30 likes.

Tetapi otak manusia tidak selalu mengevaluasi angka secara terisolasi.

Kita sering menggunakan orang lain sebagai titik pembanding.

Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai social comparison atau perbandingan sosial.

Media sosial membuat proses ini menjadi sangat mudah.

Kita dapat melihat:

siapa yang lebih populer,

siapa yang lebih sering bepergian,

siapa yang terlihat lebih bahagia,

siapa yang memiliki lebih banyak teman,

siapa yang mendapatkan lebih banyak komentar,

siapa yang lebih sukses,

dan siapa yang memperoleh lebih banyak perhatian.

Penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sosial di media sosial, terutama upward social comparison—membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul—berkaitan dengan evaluasi diri dan suasana hati yang lebih negatif. Orang dengan self-esteem rendah juga tampak lebih rentan terhadap dampak tersebut.

Meta-analisis mengenai hubungan media sosial dan depresi juga menemukan bahwa perbandingan sosial memiliki hubungan yang lebih kuat dengan depresi dibandingkan sekadar durasi penggunaan media sosial.

Ini penting.

Karena mungkin masalahnya bukan sekadar:

“Aku terlalu lama bermain media sosial.”

Melainkan:

“Selama menggunakan media sosial, aku terus-menerus menilai diriku berdasarkan kehidupan orang lain.”

Likes memperkuat proses tersebut karena memberikan angka yang terlihat objektif.

Seseorang bukan hanya terlihat “populer”.

Ia memiliki 10.000 likes.

Kamu bukan hanya merasa “kurang diperhatikan”.

Postinganmu memiliki 17 likes.

Angka membuat perbandingan terasa lebih nyata, meskipun angka tersebut sebenarnya tidak mampu menggambarkan nilai seseorang secara utuh.

5. Likes Dapat Menjadi Siklus Validasi yang Sulit Dihentikan

Ada perbedaan antara menikmati validasi dan membutuhkan validasi.

Mendapatkan likes dan merasa senang adalah hal yang normal.

Manusia memang memiliki kebutuhan sosial. Kita ingin diterima, dihargai, dan merasa terhubung dengan orang lain.

Masalah muncul ketika validasi eksternal menjadi salah satu sumber utama untuk menentukan bagaimana kita merasa terhadap diri sendiri.

Siklusnya bisa terlihat seperti ini:

Merasa tidak cukup baik → mengunggah sesuatu → menunggu respons → mendapatkan likes → merasa lebih baik → perasaan positif menurun → mencari likes lagi.

Dalam psikologi perilaku, pola semacam ini dapat dipahami melalui konsep reinforcement.

Sebuah perilaku menjadi lebih mungkin diulangi ketika perilaku tersebut diikuti oleh konsekuensi yang dianggap menyenangkan atau bernilai.

Penelitian tahun 2026 tentang likes dan depresi secara khusus menemukan bahwa gejala depresi berkaitan dengan kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami penguatan dari likes dalam perilaku posting.

Artinya, bagi sebagian orang, likes dapat menjadi semacam sinyal:

“Lakukan lagi. Tadi kamu mendapatkan respons.”

Ini bukan berarti seseorang “lemah” atau “candu perhatian”.

Otak manusia memang belajar dari konsekuensi.

Yang membuatnya lebih rumit adalah ketidakpastian.

Kadang postingan mendapatkan banyak likes.

Kadang sedikit.

Kadang sebuah foto yang menurut kita biasa justru mendapatkan respons besar.

Ketidakpastian semacam itu dapat membuat seseorang semakin sering mengecek.

“Sudah berapa?”

“Siapa yang like?”

“Kenapa dia tidak like?”

“Apakah jumlahnya bertambah?”

Akhirnya, aktivitas yang awalnya hanya beberapa detik berubah menjadi kebiasaan memeriksa notifikasi berulang kali.

6. Saat Depresi, Likes Bisa Terasa Seperti Bukti Bahwa Kita Masih Terhubung dengan Orang Lain

Alasan terakhir mungkin yang paling manusiawi.

Manusia membutuhkan koneksi.

Ketika seseorang mengalami depresi, ia dapat menarik diri dari lingkungan sosial. Menghubungi teman terasa melelahkan. Bertemu orang lain terasa berat. Bahkan membalas pesan sederhana dapat membutuhkan energi yang besar.

Dalam kondisi seperti itu, media sosial bisa menjadi salah satu bentuk koneksi yang paling mudah dijangkau.

Satu like dapat terasa seperti:

“Ada seseorang di luar sana yang melihatku.”

Satu komentar dapat terasa seperti:

“Ada seseorang yang masih memikirkan aku.”

Satu pesan dapat terasa seperti:

“Aku tidak sepenuhnya sendirian.”

Dan ini bukan berarti semua pengalaman media sosial bersifat buruk.

Sebuah systematic review menemukan bahwa interaksi positif, dukungan sosial, dan rasa terhubung secara sosial di media sosial dapat berkaitan dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah. Sebaliknya, interaksi negatif dan perbandingan sosial berkaitan dengan hasil psikologis yang lebih buruk.

Jadi, media sosial bukan sekadar “baik” atau “buruk”.

Kualitas interaksi jauh lebih penting daripada sekadar keberadaan media sosial itu sendiri.

Likes juga tidak selalu berarti sesuatu yang dangkal.

Kadang sebuah like memang merupakan bentuk kecil dari:

“Aku melihatmu.”

Dan bagi seseorang yang sedang merasa tidak terlihat, hal kecil tersebut bisa terasa sangat berarti.

Namun ada perbedaan besar antara merasa terhubung melalui media sosial dan menjadikan angka likes sebagai ukuran utama nilai diri.

Jadi, Apakah Terlalu Peduli pada Likes Berarti Kamu Mengalami Depresi?

Tidak.

Ini penting untuk ditegaskan.

Seseorang yang senang mendapatkan banyak likes tidak otomatis mengalami depresi.

Begitu pula seseorang yang kecewa karena postingannya sepi tidak otomatis memiliki masalah kesehatan mental.

Penelitian mengenai media sosial dan depresi juga menunjukkan hubungan yang kompleks. Ada hubungan antara penggunaan media sosial, self-esteem, perbandingan sosial, dan gejala depresi, tetapi hubungan tersebut tidak berarti bahwa media sosial selalu menyebabkan depresi.

Yang perlu diperhatikan adalah pola dan intensitasnya.

Misalnya:

Apakah suasana hatimu sangat bergantung pada jumlah likes?

Apakah kamu terus-menerus mengecek notifikasi?

Apakah sedikit likes membuatmu merasa tidak berharga?

Apakah kamu sering membandingkan jumlah likes dengan orang lain?

Apakah kamu merasa harus membuat postingan agar mendapatkan validasi?

Apakah kamu menghapus postingan karena responsnya tidak sesuai harapan?

Apakah media sosial justru membuatmu semakin merasa sendirian?

Apakah kamu merasa tidak berharga bahkan ketika mendapatkan respons positif?

Jika beberapa hal tersebut terjadi secara konsisten, mungkin masalah sebenarnya bukan angka likes.

Mungkin ada kebutuhan emosional yang sedang berusaha dipenuhi melalui angka tersebut.

Likes Bukan Ukuran Nilai Dirimu

Ada satu hal penting yang sering dilupakan ketika berbicara tentang media sosial:

Algoritma tidak dirancang untuk mengukur nilai manusia.

Jumlah likes dipengaruhi oleh banyak hal:

waktu posting,

algoritma,

jumlah followers,

jenis konten,

kebiasaan audiens,

tren,

engagement sebelumnya,

bahkan keberuntungan.

Seseorang bisa sangat dicintai tetapi mendapatkan sedikit likes.

Seseorang bisa mendapatkan ribuan likes tetapi tetap merasa kesepian.

Seseorang bisa terlihat sangat bahagia di Instagram tetapi sedang mengalami masalah besar yang tidak pernah ia tampilkan.

Karena itu, angka di layar tidak boleh digunakan sebagai alat untuk menghitung harga diri.

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa self-esteem dapat berperan sebagai faktor yang mengubah seberapa kuat likes berkaitan dengan penggunaan media sosial yang bermasalah. Individu dengan self-esteem lebih tinggi dalam salah satu penelitian tampak lebih terlindungi dari dampak likes terhadap penggunaan Instagram yang bermasalah.

Dengan kata lain, semakin kuat sumber penghargaan dari dalam diri, semakin kecil kemungkinan kita harus meminta media sosial untuk terus-menerus mengatakan:

“Kamu cukup.”

Bagaimana Mengurangi Ketergantungan Emosional pada Likes?

Tujuannya bukan harus menghapus semua media sosial.

Bagi sebagian orang, media sosial justru menyediakan hiburan, informasi, komunitas, dan dukungan sosial.

Yang lebih penting adalah mengubah hubungan kita dengan media sosial.

1. Perhatikan apa yang kamu rasakan sebelum membuka aplikasi

Tanyakan:

“Aku membuka Instagram karena ingin bersenang-senang atau karena sedang merasa tidak berharga?”

Jika jawabannya yang kedua, mungkin yang kamu cari sebenarnya bukan media sosial.

Kamu mungkin sedang mencari reassurance atau kepastian bahwa kamu masih diterima.

2. Jangan langsung menganggap sedikit likes sebagai penolakan

Cobalah memisahkan fakta dari interpretasi.

Fakta:
“Postinganku mendapatkan 15 likes.”

Interpretasi:
“Tidak ada yang menyukaiku.”

Keduanya bukan hal yang sama.

3. Kurangi kebiasaan mengecek secara otomatis

Tidak harus langsung menghapus aplikasi.

Cobalah mengurangi frekuensi membuka aplikasi hanya untuk melihat notifikasi.

Semakin sering kita melakukan pemeriksaan otomatis, semakin kuat kebiasaan tersebut.

4. Perbanyak sumber penghargaan di dunia nyata

Cari aktivitas yang memberikan rasa kompeten, terhubung, atau bermakna tanpa membutuhkan angka.

Misalnya:

berbicara dengan teman,

berjalan kaki,

berolahraga,

mengerjakan proyek pribadi,

belajar sesuatu,

melakukan hobi,

membantu orang lain,

atau sekadar menghabiskan waktu bersama orang yang membuatmu merasa aman.

Tujuannya adalah memiliki lebih dari satu sumber rasa berharga.

5. Ingat bahwa koneksi lebih penting daripada engagement

Satu percakapan yang benar-benar bermakna bisa lebih berharga daripada ratusan likes.

Likes memberi sinyal sosial.

Tetapi hubungan yang nyata memberikan konteks, empati, dan kedekatan.

Pada Akhirnya, Yang Kamu Cari Mungkin Bukan Likes

Ketika seseorang sedang depresi, sebuah like bisa terasa jauh lebih besar daripada sekadar tombol berbentuk hati.

Ia bisa terasa seperti pengakuan.

Penerimaan.

Perhatian.

Bukti bahwa seseorang masih melihat kita.

Itulah sebabnya kehilangan atau mendapatkan likes dapat menghasilkan emosi yang sangat kuat.

Namun penting untuk mengingat:

likes bukanlah ukuran objektif tentang seberapa berharga dirimu.

Penelitian terbaru memang menemukan bahwa orang dengan gejala depresi dapat lebih kuat mengalami penguatan dari likes, sementara penelitian lain menunjukkan peran penting self-esteem dan perbandingan sosial dalam hubungan antara media sosial dan kesehatan mental.

Tetapi angka di layar tetap hanya angka.

Nilai dirimu tidak bertambah ketika sebuah postingan mendapatkan 1.000 likes.

Dan nilaimu tidak berkurang ketika postingan itu hanya mendapatkan 10 likes.

Jika kamu sedang mengalami depresi dan merasa bahwa penilaian terhadap dirimu sangat bergantung pada perhatian di media sosial, itu bukan sesuatu yang harus kamu hadapi sendirian. Berbicara dengan psikolog, psikiater, konselor, atau orang yang kamu percaya dapat membantu memahami mengapa kebutuhan akan validasi tersebut terasa begitu kuat.

Karena pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Berapa banyak orang yang menyukai postinganku?”

Melainkan:

“Apakah aku masih bisa menghargai diriku ketika tidak ada seorang pun yang menekan tombol like?”***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore