Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Oktober 2026 | 21.23 WIB

Jika Kamu Ingin Mempraktikkan Mindfulness di Hari-Hari Menjelang Pernikahan, Lakukan 7 Cara Ini

seseorang yang mindfulness menjelang pernikahan / foto: Magnific/user25451090

 

JawaPos.com - Hari-hari menjelang pernikahan sering kali terasa seperti campuran berbagai emosi.

Ada rasa bahagia karena sebentar lagi memasuki kehidupan baru. Ada rasa tidak sabar bertemu keluarga dan orang-orang terdekat. Namun, di saat yang sama, mungkin muncul kecemasan, kelelahan, pikiran yang terus berputar, bahkan pertanyaan-pertanyaan kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

“Apakah semuanya akan berjalan lancar?”

“Bagaimana kalau ada yang tidak sesuai rencana?”

“Apakah aku sudah benar-benar siap?”

“Bagaimana kehidupan setelah menikah nanti?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah dalam hubungan atau keputusan untuk menikah. Dalam situasi besar dan penuh perubahan seperti pernikahan, pikiran memang cenderung bekerja lebih aktif.

Justru karena itulah, mindfulness dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu menjaga keseimbangan mental di masa-masa tersebut.

Mindfulness bukan berarti harus duduk bermeditasi selama berjam-jam atau memaksa diri untuk selalu merasa tenang. Dalam psikologi, mindfulness secara sederhana dapat dipahami sebagai kemampuan untuk memberikan perhatian pada pengalaman yang sedang terjadi saat ini dengan kesadaran dan sikap yang tidak menghakimi.

Dengan kata lain, mindfulness mengajak kita untuk benar-benar hadir.

Bukan terus hidup di dalam kekhawatiran tentang hari esok. Bukan pula terus mengulang kejadian masa lalu di dalam kepala.

Menjelang pernikahan, kemampuan untuk hadir seperti ini justru menjadi penting. Sebab, di tengah kesibukan memilih vendor, mengurus keluarga, menyiapkan acara, dan memikirkan kehidupan setelah menikah, seseorang bisa saja lupa menikmati prosesnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (12/10), jika kamu ingin mempraktikkan mindfulness di hari-hari menjelang pernikahan, berikut tujuh cara yang dapat dicoba.

1. Berhenti sejenak dan sadari apa yang sedang kamu rasakan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika sedang mempersiapkan pernikahan adalah merasa harus selalu baik-baik saja.

Karena ini adalah momen bahagia, seseorang mungkin merasa tidak seharusnya merasa cemas, lelah, marah, atau sedih.

Padahal, perasaan yang muncul tidak selalu mengikuti apa yang kita harapkan.

Kamu bisa sangat mencintai pasangan sekaligus merasa gugup menghadapi pernikahan.

Kamu bisa merasa bahagia sekaligus lelah.

Kamu bisa bersyukur sekaligus takut menghadapi perubahan hidup.

Semua perasaan tersebut dapat hadir bersamaan.

Mindfulness mengajarkan kita untuk tidak buru-buru melawan pengalaman emosional yang sedang terjadi. Cobalah berhenti beberapa menit dan bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan sekarang?”

Tidak perlu langsung mencari solusi.

Jika jawabannya adalah “aku cemas”, cukup akui bahwa kamu sedang cemas.

Jika jawabannya “aku capek”, akui bahwa tubuh dan pikiranmu sedang membutuhkan istirahat.

Jika ternyata kamu merasa sedih tanpa alasan yang jelas, tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri.

Kamu bisa mengatakan dalam hati:

“Aku sedang merasa cemas, dan tidak apa-apa untuk merasakan kecemasan ini.”

Kalimat sederhana seperti itu dapat membantu menciptakan jarak antara dirimu dan emosi yang sedang muncul.

Kamu bukanlah kecemasanmu.

Kamu adalah orang yang sedang mengalami kecemasan.

Perbedaan ini terlihat kecil, tetapi dapat membantu seseorang melihat emosinya dengan lebih objektif.

2. Kurangi kebiasaan hidup terlalu jauh di masa depan

Menjelang pernikahan, pikiran sangat mudah melompat ke masa depan.

Kamu mungkin mulai membayangkan bagaimana prosesi pernikahan berlangsung, bagaimana keluarga akan bereaksi, apakah tamu datang tepat waktu, apakah dekorasi sesuai harapan, sampai bagaimana kehidupan rumah tangga setelah acara selesai.

Merencanakan sesuatu tentu penting.

Namun, terlalu lama tinggal di dalam berbagai kemungkinan masa depan dapat membuat pikiran semakin lelah.

Mindfulness mengajak kita kembali kepada pertanyaan sederhana:

“Apa yang sedang terjadi sekarang?”

Misalnya, ketika sedang sarapan bersama pasangan, cobalah benar-benar menikmati sarapan tersebut.

Rasakan makanan yang dimakan.

Perhatikan percakapan.

Dengarkan suara pasangan.

Sadari suasana di sekitar.

Jangan sambil terus memeriksa daftar tugas pernikahan di kepala.

Begitu pula ketika sedang berjalan bersama pasangan. Cobalah sesekali meletakkan ponsel dan menikmati perjalanan tersebut tanpa menjadikannya kesempatan untuk membahas semua persoalan pernikahan.

Pernikahan memang akan datang.

Tetapi hari-hari sebelum pernikahan juga merupakan bagian dari perjalanan yang tidak akan terulang dengan cara yang sama.

Jangan sampai seseorang terlalu sibuk mempersiapkan satu hari besar sampai lupa menjalani hari-hari kecil yang mengantarkannya ke sana.

3. Gunakan teknik pernapasan ketika pikiran mulai penuh

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh juga dapat ikut bereaksi.

Napas bisa menjadi lebih cepat. Bahu terasa tegang. Jantung berdebar. Pikiran terasa sulit berhenti.

Dalam situasi seperti itu, latihan pernapasan sederhana dapat digunakan sebagai cara untuk mengembalikan perhatian pada tubuh dan saat ini.

Kamu tidak harus melakukan teknik yang rumit.

Cobalah duduk dengan nyaman.

Tarik napas secara perlahan.

Kemudian hembuskan dengan tenang.

Perhatikan sensasi udara ketika masuk dan keluar.

Jika pikiran tiba-tiba melompat pada daftar pekerjaan, jangan memarahi diri sendiri.

Cukup sadari:

“Pikiranku sedang memikirkan banyak hal.”

Kemudian perlahan kembali memperhatikan napas.

Latihan ini bisa dilakukan selama beberapa menit sebelum tidur, sebelum bertemu keluarga, setelah menerima pesan yang membuat stres, atau ketika kamu merasa terlalu banyak hal yang harus dipikirkan sekaligus.

Tujuannya bukan menghilangkan semua pikiran.

Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada pikiran dan tubuh untuk berhenti sejenak dari mode “harus menyelesaikan semuanya”.

4. Jangan mencoba mengendalikan semua hal

Ini mungkin menjadi salah satu praktik mindfulness yang paling sulit dilakukan menjelang pernikahan.

Sebab, ketika sebuah acara besar sudah direncanakan berbulan-bulan, sangat wajar jika seseorang ingin semuanya berjalan sempurna.

Namun, semakin besar keinginan untuk mengontrol semua hal, semakin mudah seseorang merasa tertekan ketika sesuatu berjalan sedikit berbeda dari rencana.

Tamu mungkin datang terlambat.

Cuaca mungkin tidak sesuai perkiraan.

Ada vendor yang mengalami kendala.

Ada anggota keluarga yang memiliki pendapat berbeda.

Ada hal kecil yang tidak sesuai dengan gambaran di kepala.

Mindfulness bukan berarti kita tidak perlu melakukan persiapan.

Sebaliknya, kita tetap melakukan apa yang memang bisa dikendalikan.

Tetapi setelah melakukan bagian kita, kita juga perlu belajar melepaskan bagian yang berada di luar kendali.

Cobalah membagi situasi menjadi dua pertanyaan:

“Apa yang bisa aku lakukan?”

dan

“Apa yang harus aku terima karena memang berada di luar kendaliku?”

Misalnya, kamu bisa memastikan komunikasi dengan vendor sudah jelas. Kamu bisa mengecek kembali jadwal. Kamu bisa mempersiapkan kebutuhan penting.

Tetapi kamu tidak bisa mengendalikan bagaimana setiap tamu akan bersikap.

Kamu juga tidak bisa memastikan setiap detik acara berjalan sempurna.

Dan mungkin, memang tidak perlu sempurna.

Pernikahan bukan pertunjukan yang harus berjalan tanpa satu pun kesalahan.

Yang lebih penting adalah makna dari peristiwa tersebut dan orang-orang yang menjalaninya.

5. Luangkan waktu tanpa membicarakan pernikahan

Menjelang pernikahan, pasangan bisa saja menghabiskan sebagian besar waktu bersama untuk membicarakan pernikahan.

“Sudah transfer vendor?”

“Undangan siapa yang belum?”

“Besok harus ketemu keluarga.”

“Dekorasinya bagaimana?”

“Acara setelah menikah nanti bagaimana?”

Semua itu penting.

Namun, hubungan tidak seharusnya hanya berisi pembicaraan mengenai persiapan pernikahan.

Cobalah menyediakan waktu tertentu ketika kalian sepakat untuk tidak membicarakan pernikahan sama sekali.

Pergi makan bersama.

Menonton film.

Berjalan sore.

Minum kopi.

Bercerita tentang hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan acara pernikahan.

Atau sekadar duduk bersama tanpa melakukan banyak hal.

Praktik seperti ini sebenarnya membantu mengingatkan bahwa sebelum menjadi pasangan yang sedang mempersiapkan sebuah acara besar, kalian adalah dua orang yang sedang membangun hubungan.

Pernikahan adalah satu peristiwa.

Hubungan kalian jauh lebih panjang daripada satu hari acara.

Karena itu, jangan sampai persiapan pernikahan mengambil seluruh ruang dalam hubungan.

6. Latih rasa syukur terhadap hal-hal kecil

Ketika terlalu fokus pada apa yang belum selesai, otak dapat menjadi lebih mudah memperhatikan masalah daripada hal-hal yang sudah berjalan baik.

Daftar pekerjaan yang belum selesai terlihat semakin panjang.

Satu kesalahan kecil terasa lebih besar daripada puluhan hal yang sebenarnya sudah berhasil diselesaikan.

Mindfulness dapat dipadukan dengan latihan rasa syukur sederhana.

Tidak perlu membuat daftar yang terlalu panjang.

Setiap malam, coba pikirkan tiga hal kecil yang kamu syukuri hari itu.

Misalnya:

“Aku bersyukur hari ini bisa berbicara dari hati ke hati dengan pasangan.”

“Aku bersyukur orang tuaku mendukung keputusan kami.”

“Aku bersyukur hari ini sempat tidur cukup.”

“Aku bersyukur ada teman yang membantu.”

“Aku bersyukur masih bisa menikmati secangkir kopi dengan tenang.”

“Aku bersyukur perjalanan menuju pernikahan ini tidak harus aku jalani sendirian.”

Latihan tersebut bukan berarti memaksa diri untuk melihat segala sesuatu secara positif.

Rasa syukur bukan berarti mengabaikan masalah.

Sebaliknya, kita belajar memberikan perhatian yang seimbang: menyadari apa yang sulit, tetapi juga tidak melupakan apa yang baik.

7. Hadir sepenuhnya bersama orang yang kamu cintai

Mungkin ini adalah praktik mindfulness yang paling sederhana sekaligus paling bermakna.

Di hari-hari menjelang pernikahan, cobalah benar-benar hadir bersama orang-orang yang penting bagimu.

Ketika pasangan berbicara, dengarkan tanpa buru-buru memikirkan jawaban.

Ketika orang tua memberikan nasihat, dengarkan apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan.

Ketika teman datang membantu, rasakan bahwa kamu sedang ditemani.

Ketika seseorang memberikan pelukan, jangan langsung melepaskannya sambil kembali memikirkan daftar pekerjaan.

Hadir sepenuhnya berarti memberikan perhatian pada momen tersebut.

Karena ada kemungkinan, beberapa momen sederhana yang sekarang terasa biasa justru akan menjadi kenangan yang paling kamu rindukan di kemudian hari.

Bukan hanya foto pernikahan yang akan diingat.

Bisa jadi yang paling melekat justru percakapan singkat dengan ibu di dapur, candaan dengan pasangan sebelum tidur, pesan dari sahabat, atau makan malam sederhana beberapa hari sebelum hari besar.

Mindfulness membantu kita menyadari bahwa kehidupan tidak hanya terdiri dari momen-momen besar.

Sering kali, kehidupan justru berlangsung di antara momen-momen besar tersebut.

Mindfulness Bukan Berarti Harus Selalu Tenang

Ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Mempraktikkan mindfulness bukan berarti kamu tidak boleh merasa takut, gugup, marah, sedih, atau kewalahan.

Mindfulness bukanlah usaha untuk membuat diri selalu tenang.

Justru, mindfulness membantu kita menyadari apa yang sedang terjadi tanpa langsung bereaksi secara impulsif terhadapnya.

Kamu mungkin tetap merasa gugup menjelang pernikahan.

Kamu mungkin masih memiliki banyak pertanyaan.

Kamu mungkin masih sesekali overthinking.

Itu bukan berarti praktik mindfulness gagal.

Yang berubah adalah cara kamu berhubungan dengan pikiran dan perasaan tersebut.

Alih-alih:

“Aku tidak boleh merasa cemas.”

kamu belajar mengatakan:

“Aku sedang merasa cemas. Mari lihat apa yang sebenarnya membuatku khawatir.”

Alih-alih:

“Semuanya harus sempurna.”

kamu bisa berkata:

“Aku akan melakukan yang terbaik, tetapi tidak semua hal bisa aku kendalikan.”

Alih-alih:

“Aku harus menikmati setiap detik sebelum menikah.”

kamu bisa berkata:

“Aku akan mencoba hadir di momen ini, apa pun yang sedang aku rasakan.”

Perubahan cara memandang pengalaman inilah yang menjadi bagian penting dari mindfulness.

Buat Ritual Mindfulness Sederhana Menjelang Pernikahan

Jika kamu ingin mempraktikkannya secara lebih konsisten, tidak perlu membuat rutinitas yang rumit.

Cukup buat ritual kecil selama 5–10 menit setiap hari.

Misalnya, pada pagi hari:

Duduk dengan nyaman.

Tarik napas perlahan.

Perhatikan kondisi tubuh.

Sadari emosi yang muncul.

Perhatikan pikiran tanpa harus mengikuti semuanya.

Tentukan satu hal yang ingin kamu nikmati hari itu.

Ingatkan diri bahwa tidak semua hal harus sempurna.

Pada malam hari, kamu bisa melakukan refleksi singkat:

Apa yang terjadi hari ini?

Apa yang kurasakan?

Apa yang membuatku bersyukur?

Apa yang bisa kulepaskan malam ini?

Pertanyaan terakhir mungkin menjadi yang paling penting.

Sebab, tidak semua masalah harus diselesaikan sebelum tidur.

Tidak semua pesan harus langsung dibalas.

Tidak semua keputusan harus dibuat malam ini.

Ada hal-hal yang boleh menunggu sampai besok.

Pada Akhirnya, Pernikahan Bukan Sekadar Hari Besar

Persiapan pernikahan sering membuat kita berpikir bahwa semuanya berpusat pada satu hari.

Hari ketika janji diucapkan.

Hari ketika keluarga berkumpul.

Hari ketika foto-foto diambil.

Hari ketika pesta diselenggarakan.

Padahal, pernikahan bukan hanya tentang hari tersebut.

Pernikahan adalah perjalanan panjang yang dimulai sebelum hari acara dan terus berlangsung jauh setelahnya.

Karena itu, mungkin salah satu hadiah terbaik yang bisa kamu berikan kepada dirimu sendiri sebelum menikah adalah kemampuan untuk berhenti sejenak.

Tarik napas.

Lihat pasanganmu.

Lihat orang-orang yang mendukungmu.

Sadari perjalanan yang sudah kalian lalui.

Dan izinkan dirimu menikmati prosesnya.

Tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk merasa bahagia.

Tidak perlu menunggu semua kecemasan menghilang untuk merasa siap.

Dan tidak perlu mengendalikan seluruh masa depan untuk bisa menikmati hari ini.

Jika beberapa hari menjelang pernikahan terasa melelahkan, ingatlah bahwa kamu tidak harus menjalani semuanya dengan sempurna.

Kamu hanya perlu hadir.

Satu napas.

Satu percakapan.

Satu hari.

Satu momen pada satu waktu.

Karena pada akhirnya, mungkin bukan hanya bagaimana sempurnanya pernikahan itu berlangsung yang akan paling berarti, melainkan bagaimana kamu hadir di dalamnya—dengan kesadaran, kasih sayang, dan hati yang benar-benar berada di sana.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore