seseorang yang nyaman dimanapun berada / foto: Magnific/lookstudio
Kamu mungkin sedang berada di lingkungan kerja, acara keluarga, kampus, komunitas, pesta, atau sekadar duduk bersama beberapa orang yang baru kamu kenal. Tidak ada yang benar-benar mengusirmu. Tidak ada yang secara terang-terangan membuatmu tidak nyaman. Namun, ada sesuatu dalam dirimu yang terus berkata:
"Aku harus bersikap seperti apa?"
"Aku harus mengatakan apa?"
"Bagaimana kalau mereka menganggapku aneh?"
"Bagaimana kalau aku salah bicara?"
Perasaan seperti ini sebenarnya jauh lebih umum daripada yang kita kira.
Banyak orang mengira bahwa merasa nyaman di berbagai lingkungan adalah bakat alami. Mereka melihat seseorang yang mudah berbicara dengan orang asing, bisa bercanda dengan siapa saja, dan tampak tenang dalam situasi sosial, lalu menyimpulkan bahwa orang tersebut memang "pandai bergaul".
Padahal, kenyamanan sosial bukan semata-mata soal kepribadian.
Sebagian besar merupakan keterampilan yang bisa dipelajari.
Dalam psikologi, kemampuan berkomunikasi bukan hanya tentang seberapa banyak kata yang bisa kamu ucapkan. Komunikasi berkaitan dengan bagaimana kamu memahami orang lain, membaca situasi, mengelola emosi, mengekspresikan diri, mendengarkan, dan membangun rasa aman dalam interaksi.
Menariknya, semakin baik keterampilan komunikasi seseorang, semakin kecil kemungkinan ia merasa harus "berpura-pura" menjadi orang lain agar diterima.
Ia tidak harus selalu menjadi orang paling lucu.
Tidak harus selalu punya sesuatu yang menarik untuk dikatakan.
Tidak harus membuat semua orang menyukainya.
Ia cukup tahu bagaimana hadir, merespons, dan berhubungan dengan orang lain secara sehat.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), jika kamu ingin merasa lebih nyaman di mana pun kamu berada, berikut 6 keterampilan komunikasi penting yang layak kamu pelajari.
1. Belajar Mendengarkan Tanpa Sibuk Menyiapkan Jawaban
Salah satu kesalahan terbesar dalam komunikasi adalah kita sering terlihat seperti mendengarkan, padahal sebenarnya kita sedang menunggu giliran untuk berbicara.
Seseorang sedang bercerita tentang pekerjaannya.
Kita sudah memikirkan pengalaman kita sendiri.
Seseorang sedang mengeluh tentang harinya.
Kita sudah menyiapkan nasihat.
Seseorang sedang menceritakan sesuatu yang membuatnya bahagia.
Kita langsung membandingkannya dengan pengalaman kita.
Akibatnya, percakapan terasa seperti pertandingan untuk menentukan siapa yang memiliki cerita paling menarik.
Padahal, manusia pada dasarnya ingin merasa didengar.
Kemampuan mendengarkan secara aktif adalah salah satu keterampilan sosial paling penting karena membuat orang merasa dihargai dan dipahami.
Mendengarkan bukan berarti diam
Mendengarkan secara aktif berarti benar-benar memperhatikan apa yang disampaikan orang lain, termasuk kata-kata, nada suara, ekspresi, dan konteks emosionalnya.
Misalnya seseorang berkata:
"Aku akhir-akhir ini capek banget dengan pekerjaan."
Respons yang kurang efektif:
"Aku juga. Minggu lalu aku malah kerja sampai malam terus."
Respons yang lebih baik:
"Kedengarannya pekerjaanmu memang sedang cukup berat. Bagian mana yang paling bikin kamu capek?"
Perbedaannya sederhana.
Pada respons pertama, pusat pembicaraan segera kembali kepada diri kita.
Pada respons kedua, kita memberikan ruang kepada orang tersebut untuk melanjutkan ceritanya.
Gunakan pertanyaan lanjutan
Salah satu cara termudah untuk menunjukkan bahwa kamu benar-benar mendengarkan adalah mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang baru saja dikatakan.
Contohnya:
"Terus setelah itu bagaimana?"
"Apa yang membuatmu memutuskan seperti itu?"
"Bagian mana yang paling sulit?"
"Kamu sendiri sebenarnya berharap apa dari situasi itu?"
Pertanyaan seperti ini membuat percakapan mengalir tanpa kamu harus menjadi orang yang terus-menerus mencari topik baru.
Dan ini penting:
Kamu tidak perlu selalu menjadi orang yang menarik. Belajarlah menjadi orang yang membuat orang lain merasa menarik ketika berbicara denganmu.
Itulah salah satu rahasia komunikasi yang sering tidak disadari.
2. Belajar Berbicara dengan Jelas Tanpa Takut Dinilai
Banyak orang sebenarnya tahu apa yang ingin mereka katakan, tetapi kesulitan mengungkapkannya.
Mereka terlalu banyak berpikir.
"Apakah kalimatku terdengar bodoh?"
"Apakah mereka akan setuju?"
"Apakah aku terdengar terlalu percaya diri?"
"Bagaimana kalau mereka salah paham?"
Akibatnya, mereka menyensor diri sendiri sebelum sempat berbicara.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa membuat seseorang semakin tidak percaya diri dalam situasi sosial.
Padahal, komunikasi yang baik tidak berarti setiap kalimatmu harus sempurna.
Kamu hanya perlu belajar menyampaikan pikiran secara jelas, sederhana, dan sesuai konteks.
Jangan berusaha terdengar pintar
Salah satu jebakan komunikasi adalah keinginan untuk terlihat pintar.
Kita menggunakan kata-kata yang terlalu rumit.
Menjelaskan sesuatu terlalu panjang.
Memberikan terlalu banyak alasan.
Padahal, komunikasi yang efektif biasanya justru sederhana.
Misalnya daripada mengatakan:
"Saya sebenarnya memiliki beberapa pertimbangan yang membuat saya belum bisa memberikan keputusan final terkait hal tersebut."
Kamu bisa mengatakan:
"Aku masih perlu mempertimbangkannya sebelum memutuskan."
Lebih pendek.
Lebih jelas.
Lebih mudah dipahami.
Gunakan struktur sederhana
Jika kamu kesulitan menjelaskan sesuatu, coba gunakan pola:
Apa yang terjadi → bagaimana perasaanmu → apa yang kamu inginkan.
Contoh:
"Kemarin kita sudah sepakat menyelesaikan tugas hari ini. Ketika bagian itu belum selesai, aku jadi khawatir pekerjaan kita terlambat. Bisa kita selesaikan bagian ini malam ini?"
Kamu tidak menyerang.
Kamu tidak menyalahkan.
Kamu tidak menyembunyikan kebutuhanmu.
Kamu hanya menjelaskan situasi dan menyampaikan apa yang kamu perlukan.
Inilah bentuk komunikasi yang lebih asertif.
3. Belajar Mengatakan "Tidak" Tanpa Merasa Bersalah
Ada orang yang merasa nyaman di mana pun bukan karena semua orang menyukainya, tetapi karena ia tahu bahwa dirinya memiliki batas.
Kemampuan mengatakan "tidak" adalah salah satu bentuk komunikasi yang sangat penting.
Sayangnya, banyak orang takut mengatakannya.
Mereka khawatir dianggap egois.
Takut mengecewakan.
Takut hubungan berubah.
Takut tidak lagi disukai.
Akhirnya mereka mengatakan "iya" ketika sebenarnya ingin mengatakan "tidak".
Dan setiap "iya" yang dipaksakan sering kali menghasilkan kelelahan, frustrasi, bahkan kemarahan yang dipendam.
Menolak tidak sama dengan menjadi jahat
Kamu bisa menghargai seseorang tanpa selalu memenuhi permintaannya.
Kamu bisa mencintai keluarga tanpa selalu tersedia.
Kamu bisa menjadi teman yang baik tanpa harus selalu membantu.
Kamu bisa menjadi rekan kerja yang kooperatif tanpa menerima semua pekerjaan tambahan.
Misalnya:
"Terima kasih sudah mengajakku, tapi kali ini aku tidak bisa ikut."
Atau:
"Aku belum bisa mengambil tugas tambahan karena pekerjaanku sendiri masih harus diselesaikan."
Atau:
"Aku mengerti kamu membutuhkan bantuan, tetapi kali ini aku tidak bisa membantu."
Tidak perlu memberikan penjelasan panjang.
Tidak perlu membuat cerita agar penolakanmu terlihat masuk akal.
Tidak perlu meminta maaf berkali-kali.
Mengapa kita merasa bersalah?
Karena sebagian dari kita terbiasa menghubungkan penerimaan orang lain dengan perilaku kita.
Kita berpikir:
"Kalau aku menolak, dia mungkin kecewa. Kalau dia kecewa, mungkin dia tidak menyukaiku lagi."
Tetapi orang dewasa yang sehat perlu belajar menerima satu kenyataan:
Mengecewakan seseorang tidak selalu berarti kamu melakukan sesuatu yang salah.
Kadang-kadang orang lain memang tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari kita.
Dan itu tidak otomatis menjadikan kita orang buruk.
Ketika kamu mampu mengatakan "tidak" dengan tenang, kamu justru akan lebih nyaman berada di berbagai lingkungan karena kamu tidak terus-menerus takut kehilangan penerimaan orang lain.
4. Belajar Membaca Emosi dan Bahasa Tubuh
Komunikasi bukan hanya tentang kata-kata.
Seseorang bisa berkata:
"Aku baik-baik saja."
Tetapi ekspresinya menunjukkan kelelahan.
Nada suaranya terdengar berbeda.
Ia menghindari kontak mata.
Jawabannya pendek-pendek.
Di sinilah kemampuan membaca konteks emosional menjadi penting.
Dalam psikologi, kemampuan memahami keadaan emosional orang lain sering dikaitkan dengan empati dan kecerdasan emosional.
Kamu tidak harus menjadi pembaca pikiran.
Kamu hanya perlu lebih peka terhadap tanda-tanda sosial.
Perhatikan perubahan, bukan hanya gestur tunggal
Jangan langsung menyimpulkan seseorang marah hanya karena ia menyilangkan tangan.
Bahasa tubuh harus dibaca dalam konteks.
Yang lebih penting adalah perubahan perilaku.
Biasanya dia banyak bicara, tetapi sekarang diam.
Biasanya dia membalas pesan dengan cepat, tetapi sekarang jawabannya sangat singkat.
Biasanya dia terlihat santai, tetapi sekarang tampak tegang.
Perubahan seperti itu bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang berbeda.
Jangan langsung membuat asumsi
Jika seseorang terlihat diam, jangan langsung berpikir:
"Dia pasti tidak suka aku."
Bisa saja dia lelah.
Bisa saja sedang memikirkan sesuatu.
Bisa saja sedang mengalami masalah pribadi.
Daripada membuat kesimpulan sendiri, lebih baik gunakan komunikasi langsung.
Misalnya:
"Kamu kelihatan agak diam hari ini. Semuanya baik-baik saja?"
Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan perhatian tanpa memaksa.
Dan yang paling penting, jangan menggunakan kemampuan membaca emosi untuk menghakimi.
Gunakan untuk memahami, bukan mengontrol.
5. Belajar Mengelola Konflik Tanpa Langsung Menyerang atau Menghindar
Konflik adalah bagian dari kehidupan.
Kamu tidak mungkin cocok dengan semua orang.
Akan ada teman yang salah memahami perkataanmu.
Akan ada rekan kerja yang memiliki pendapat berbeda.
Akan ada pasangan yang memiliki kebutuhan berbeda.
Akan ada anggota keluarga yang membuatmu kecewa.
Yang membedakan hubungan sehat dan tidak sehat bukan apakah konflik terjadi.
Melainkan bagaimana konflik tersebut ditangani.
Ada dua respons ekstrem yang sering terjadi.
Pertama, menyerang.
"Kamu memang selalu seperti ini."
"Kamu tidak pernah peduli."
"Semua salahmu."
Kedua, menghindar.
Diam.
Menghilang.
Tidak membicarakannya.
Berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Keduanya bisa memperburuk masalah.
Gunakan komunikasi yang berfokus pada masalah
Daripada mengatakan:
"Kamu tidak menghargai aku."
Cobalah:
"Ketika kamu membatalkan rencana tanpa memberi tahu sebelumnya, aku merasa tidak dihargai. Ke depannya, aku berharap kamu bisa memberitahuku lebih awal."
Perhatikan perbedaannya.
Kamu tidak menyerang karakter seseorang.
Kamu menjelaskan perilaku tertentu, dampaknya terhadapmu, dan apa yang kamu harapkan.
Pola sederhana yang bisa digunakan:
Ketika X terjadi → aku merasa Y → aku berharap Z.
Contoh:
"Ketika pembicaraan kita terputus karena kamu bermain ponsel, aku merasa tidak didengarkan. Aku berharap kalau kita sedang membicarakan hal penting, kita bisa fokus beberapa menit."
Komunikasi seperti ini tidak menjamin orang lain akan selalu setuju.
Namun, ini memberi peluang lebih besar bagi percakapan untuk tetap konstruktif.
Ingat satu hal penting
Tujuan komunikasi dalam konflik bukan selalu memenangkan argumen.
Terkadang tujuannya adalah memahami perbedaan, menemukan solusi, atau menentukan batas yang sehat.
Tidak semua konflik harus berakhir dengan seseorang menang dan seseorang kalah.
6. Belajar Nyaman dengan Keheningan dan Tidak Takut Menjadi Diri Sendiri
Ini mungkin keterampilan komunikasi yang paling sulit.
Kemampuan untuk tidak selalu merasa harus mengatakan sesuatu.
Banyak orang merasa gugup ketika percakapan berhenti.
Lalu mereka buru-buru mencari topik.
Bercanda secara berlebihan.
Mengeluarkan komentar yang sebenarnya tidak perlu.
Atau berbicara terus karena takut terlihat membosankan.
Padahal, keheningan tidak selalu berarti kegagalan komunikasi.
Kadang-kadang keheningan hanya berarti dua orang sedang merasa nyaman.
Kamu tidak harus selalu menghibur orang lain
Bayangkan kamu sedang bersama seseorang dan selama beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Orang yang tidak nyaman mungkin langsung berpikir:
"Aduh, suasananya aneh."
Orang yang lebih nyaman mungkin berpikir:
"Tidak apa-apa. Kami tidak harus terus berbicara."
Perbedaannya bukan pada situasinya.
Perbedaannya ada pada interpretasi terhadap situasi tersebut.
Semakin kamu percaya bahwa dirimu harus selalu menarik, semakin kamu takut dianggap membosankan.
Sebaliknya, ketika kamu menerima bahwa kamu tidak harus tampil sempurna setiap saat, tekanan sosial akan berkurang.
Jangan terlalu sibuk mengawasi dirimu sendiri
Ketika berada di lingkungan sosial, sebagian orang terus melakukan "pengawasan diri":
"Tanganku harus di mana?"
"Aku tadi ngomong aneh tidak?"
"Mereka melihatku tidak?"
"Senyumku terlihat aneh?"
"Aku terlalu banyak bicara?"
Masalahnya, semakin banyak perhatian yang kamu arahkan kepada dirimu sendiri, semakin sulit kamu hadir dalam percakapan.
Cobalah mengalihkan perhatian keluar.
Dengarkan orang yang berbicara.
Perhatikan topik pembicaraan.
Tanyakan sesuatu yang benar-benar membuatmu penasaran.
Perhatikan lingkungan.
Dengan kata lain:
Berhenti terlalu sibuk memikirkan bagaimana kamu terlihat, dan mulai memperhatikan apa yang sedang terjadi.
Ini bisa membuat interaksi sosial terasa jauh lebih ringan.
Mengapa Enam Keterampilan Ini Bisa Membuatmu Lebih Nyaman di Mana Pun?
Karena rasa nyaman sosial sebenarnya tidak selalu berasal dari lingkungan.
Sering kali, rasa nyaman berasal dari keyakinan:
"Aku tahu bagaimana menghadapi situasi ini."
Ketika kamu bisa mendengarkan, kamu tidak terlalu takut kehabisan topik.
Ketika kamu bisa berbicara dengan jelas, kamu tidak terlalu takut salah dipahami.
Ketika kamu bisa mengatakan "tidak", kamu tidak terlalu takut kehilangan penerimaan.
Ketika kamu mampu membaca konteks emosional, kamu lebih mudah menyesuaikan diri.
Ketika kamu mampu menghadapi konflik, kamu tidak perlu takut pada setiap perbedaan.
Dan ketika kamu nyaman dengan keheningan, kamu tidak perlu terus-menerus tampil sempurna.
Pada akhirnya, keterampilan komunikasi memberi sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kemampuan bersosialisasi.
Ia memberi rasa aman dari dalam diri.
Kamu Tidak Harus Disukai Semua Orang
Ada satu kesalahpahaman yang perlu dilepaskan jika kamu ingin benar-benar nyaman di berbagai lingkungan:
Kamu tidak mungkin membuat semua orang menyukaimu.
Bahkan orang yang paling ramah sekalipun akan menemukan orang yang tidak cocok dengannya.
Ada orang yang tidak menyukai cara bicaramu.
Ada yang tidak cocok dengan selera humormu.
Ada yang tidak setuju dengan keputusanmu.
Ada yang salah memahami niatmu.
Dan itu adalah bagian normal dari kehidupan sosial.
Tujuan komunikasi yang sehat bukan membuat semua orang menyukaimu.
Tujuannya adalah agar kamu mampu berinteraksi dengan orang lain tanpa kehilangan dirimu sendiri.
Kamu bisa ramah tanpa menjadi people pleaser.
Kamu bisa percaya diri tanpa menjadi arogan.
Kamu bisa tegas tanpa menjadi kasar.
Kamu bisa pendiam tanpa menjadi tidak percaya diri.
Kamu bisa berbeda pendapat tanpa menjadi musuh.
Dan kamu bisa meninggalkan sebuah lingkungan tanpa merasa bahwa nilai dirimu ikut hilang bersamanya.
Mulailah dari Hal-Hal Kecil
Kamu tidak perlu mengubah kepribadianmu dalam satu malam.
Mulailah dengan satu kebiasaan kecil.
Besok, ketika berbicara dengan seseorang, cobalah mendengarkan tanpa memikirkan jawabanmu sendiri.
Hari berikutnya, cobalah mengungkapkan pendapatmu tanpa terlalu banyak meminta maaf.
Ketika seseorang meminta sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan, cobalah mengatakan tidak dengan sopan.
Ketika terjadi konflik, cobalah membicarakan perilaku dan dampaknya, bukan menyerang karakter orang tersebut.
Dan ketika percakapan tiba-tiba hening, cobalah tidak terburu-buru mengisinya.
Perubahan kecil seperti ini mungkin terasa tidak signifikan.
Namun, keterampilan sosial dibangun dari pengulangan.
Semakin sering kamu melakukannya, semakin alami rasanya.
Pada Akhirnya, Kenyamanan Bukan Tentang Menjadi Orang yang Paling Menarik
Mungkin selama ini kamu mengira bahwa agar nyaman di mana pun berada, kamu harus menjadi orang yang pandai berbicara.
Harus lucu.
Harus percaya diri.
Harus punya banyak teman.
Harus selalu tahu apa yang harus dikatakan.
Padahal tidak.
Kenyamanan sosial yang matang justru sering terlihat lebih sederhana.
Kamu bisa masuk ke sebuah ruangan tanpa merasa harus membuktikan apa pun.
Kamu bisa berbicara ketika memang ingin berbicara.
Kamu bisa diam ketika tidak ada yang perlu dikatakan.
Kamu bisa mendengarkan tanpa merasa harus segera membalas.
Kamu bisa berkata tidak tanpa merasa menjadi orang jahat.
Kamu bisa berbeda pendapat tanpa merasa hubungan pasti berakhir.
Dan yang paling penting, kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa terus-menerus bertanya apakah orang lain menyukaimu.
Karena pada akhirnya, kemampuan komunikasi terbaik bukanlah kemampuan untuk membuat semua orang terkesan.
Kemampuan komunikasi terbaik adalah kemampuan untuk membuat dirimu dan orang lain merasa cukup aman untuk menjadi manusia apa adanya.
Jadi, jika suatu hari kamu kembali berada di tempat yang asing, bertemu orang-orang baru, atau memasuki lingkungan yang membuatmu sedikit gugup, ingatlah:
Kamu tidak harus menjadi orang paling menarik di ruangan itu.
Kamu tidak harus mengatakan hal yang sempurna.
Kamu tidak harus membuat semua orang menyukaimu.
Cukup hadir.
Dengarkan.
Berbicara dengan jujur.
Hormati batas dirimu dan orang lain.
Dan izinkan dirimu untuk tidak sempurna.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Feyenoord vs AZ Alkmaar: Sama-Sama Produktif, Laga Berpotensi Imbang
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak
Prediksi Skor Barcelona vs Getafe di Liga Spanyol: Blaugrana Pesta Gol di Camp Nou
Prediksi Susunan Pemain Como vs AS Roma: Fabregas Siapkan Taktik Subbuteo
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022