seseorang yang mencintai dan peduli pada orang yang belum pernah bertemu / foto: Magnific/wayhomestudio
Mungkin kamu mengenalnya dari tulisan-tulisannya, dari video, dari cerita orang lain, dari media sosial, atau bahkan hanya dari percakapan singkat di dunia maya. Anehnya, meskipun belum pernah duduk berhadapan dengannya, belum pernah mendengar suaranya secara langsung, dan belum pernah mengetahui bagaimana ekspresinya ketika sedang lelah atau marah, kehadirannya bisa terasa begitu berarti.
Kita bisa merasa khawatir ketika dia sedang mengalami masalah. Kita bisa ikut bahagia ketika dia mendapatkan sesuatu yang baik. Bahkan, terkadang kita bisa merindukan seseorang yang secara fisik sebenarnya sangat jauh dari kehidupan kita.
Apakah itu aneh?
Menurut psikologi, tidak selalu.
Manusia memang memiliki kemampuan luar biasa untuk membangun ikatan emosional bahkan ketika hubungan tersebut tidak didasarkan pada pertemuan fisik. Otak kita tidak hanya merespons keberadaan seseorang secara langsung, tetapi juga merespons representasi mental tentang orang tersebut—bagaimana kita mengenalnya, apa yang kita ketahui tentang dirinya, bagaimana kita membayangkannya, dan makna apa yang kita berikan terhadap hubungan tersebut.
Karena itu, seseorang yang belum pernah kita temui dapat tetap menjadi sosok yang penting secara emosional.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), terdapat enam alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.
1. Otak Kita Mampu Membangun Kedekatan Tanpa Kehadiran Fisik
Salah satu hal menarik tentang manusia adalah kemampuan kita untuk merasa dekat dengan seseorang meskipun orang tersebut tidak berada di depan mata.
Dalam kehidupan sehari-hari, kedekatan emosional tidak selalu dibangun melalui kehadiran fisik. Ia juga dapat terbentuk melalui komunikasi, perhatian, pengalaman bersama, cerita, dan rasa saling memahami.
Bayangkan seseorang yang setiap malam berbicara denganmu melalui pesan. Dia mungkin tidak pernah berada di ruangan yang sama denganmu. Namun, setelah berbulan-bulan saling bercerita, kamu mengetahui bagaimana harinya berjalan, apa yang membuatnya takut, apa yang membuatnya tertawa, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak diketahui orang lain.
Secara psikologis, informasi semacam itu membantu membentuk representasi mental tentang dirinya.
Kita mulai memiliki gambaran mengenai siapa dia.
Kita tahu bahwa ketika sedang sedih, dia cenderung diam. Kita tahu bahwa dia suka membicarakan sesuatu yang dianggapnya penting. Kita tahu apa yang membuatnya merasa dihargai. Kita tahu impiannya, kekhawatirannya, atau bahkan luka yang pernah dialaminya.
Semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin "nyata" sosok tersebut di dalam pikiran kita.
Inilah salah satu alasan mengapa jarak fisik tidak selalu sama dengan jarak emosional.
Seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya dapat terasa lebih dekat daripada orang yang duduk di sebelah kita tetapi tidak pernah benar-benar memahami kita.
Psikologi hubungan manusia menunjukkan bahwa perasaan dekat dan kedekatan geografis adalah dua hal yang berbeda.
Kita tidak selalu membutuhkan kehadiran fisik untuk merasa dimengerti.
Kadang-kadang, satu percakapan yang jujur bisa menciptakan rasa kedekatan yang jauh lebih besar daripada berjam-jam berada dalam ruangan yang sama.
Dan ketika rasa kedekatan itu berlangsung terus-menerus, perhatian dapat berubah menjadi keterikatan emosional.
2. Empati Membuat Kita Ikut Merasakan Kehidupan Orang Lain
Alasan kedua adalah empati.
Manusia memiliki kemampuan untuk membayangkan pengalaman emosional orang lain. Ketika kita mendengar seseorang bercerita tentang kehilangan, perjuangan, kesepian, atau harapannya, kita tidak hanya menerima informasi secara intelektual.
Kita dapat membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi mereka.
Misalnya, seseorang bercerita bahwa ia sedang berjuang mencapai impiannya meskipun berkali-kali gagal.
Kita mungkin mulai membayangkan:
"Bagaimana kalau aku berada di posisi dia?"
Atau ketika seseorang mengatakan bahwa dia sedang menghadapi masa yang sangat sulit, pikiran kita dapat membangun simulasi emosional tentang situasi tersebut.
Kita mungkin belum pernah mengalami kehidupannya, tetapi kita dapat menggunakan pengalaman emosional kita sendiri untuk memahami sebagian dari apa yang mungkin dia rasakan.
Inilah yang membuat empati begitu kuat.
Empati tidak selalu membutuhkan pengalaman yang identik. Kita tidak harus mengalami hal yang sama persis untuk dapat peduli.
Seseorang mungkin tidak pernah kehilangan orang yang sama seperti yang kita kehilangan. Tetapi kita tahu bagaimana rasanya kehilangan.
Seseorang mungkin memiliki masalah yang berbeda dari kita. Tetapi kita tahu bagaimana rasanya takut.
Seseorang mungkin menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Tetapi kita tahu bagaimana rasanya berharap.
Kesamaan emosional inilah yang sering menjadi jembatan.
Ketika kita melihat manusia lain mengalami sesuatu yang secara emosional dapat kita pahami, batas antara "kehidupannya" dan "perasaanku" dapat terasa lebih tipis.
Kita mulai berpikir:
"Aku ingin dia baik-baik saja."
Bukan karena kita mendapatkan keuntungan langsung dari keadaan tersebut, melainkan karena kesejahteraannya mulai memiliki nilai bagi kita.
Dan ketika perhatian seperti ini semakin sering muncul, rasa peduli dapat berkembang menjadi kasih sayang.
3. Kita Dapat Membentuk Ikatan Parasosial dengan Seseorang
Fenomena ini menjadi semakin menarik di era internet.
Saat ini, seseorang dapat mengikuti kehidupan orang lain setiap hari tanpa pernah benar-benar berinteraksi secara langsung dengannya.
Kita melihat unggahannya.
Mendengar ceritanya.
Menonton videonya.
Membaca pikirannya.
Melihat bagaimana dia menjalani hari.
Lama-kelamaan, kita dapat merasa seolah-olah mengenal orang tersebut secara pribadi.
Dalam psikologi, hubungan semacam ini sering dibahas dalam konsep hubungan parasosial.
Hubungan parasosial adalah hubungan psikologis satu arah yang dapat terbentuk antara seseorang dengan figur media, tokoh publik, kreator, karakter fiksi, atau sosok lain yang sebenarnya tidak memiliki hubungan interpersonal yang setara dengannya.
Menariknya, perasaan yang muncul tetap bisa terasa nyata.
Kita dapat merasa senang ketika seorang figur yang kita kagumi berhasil.
Kita dapat merasa sedih ketika mereka mengalami sesuatu yang buruk.
Kita bahkan bisa merasa kehilangan ketika mereka berhenti muncul.
Ini bukan berarti perasaan tersebut "palsu".
Perasaannya nyata.
Yang berbeda adalah struktur hubungannya.
Kita mungkin memiliki banyak informasi mengenai seseorang, tetapi orang tersebut mungkin tidak mengetahui keberadaan kita.
Karena itu, penting membedakan antara perasaan yang nyata dan hubungan yang timbal balik.
Seseorang dapat benar-benar merasa sayang kepada figur yang belum pernah ditemuinya. Namun, rasa sayang tersebut tidak otomatis berarti bahwa hubungan personal telah terbentuk.
Ini juga menjelaskan mengapa kita terkadang merasa sangat dekat dengan seseorang yang hanya kita kenal melalui layar.
Paparan yang berulang membuat sosok tersebut terasa familiar.
Dan dalam psikologi, familiaritas dapat memengaruhi rasa suka.
Semakin sering kita melihat atau berinteraksi dengan suatu stimulus dalam kondisi tertentu, semakin akrab stimulus tersebut dapat terasa.
Maka, seseorang yang awalnya adalah "orang asing" perlahan bisa terasa seperti "seseorang yang sudah lama kita kenal".
4. Kita Sering Mencintai Makna yang Kita Bangun tentang Seseorang
Ada alasan lain yang jauh lebih dalam.
Kadang-kadang, kita tidak hanya mencintai seseorang berdasarkan siapa dirinya secara objektif.
Kita juga mencintai makna yang kita berikan kepadanya.
Ini penting.
Ketika kita mengenal seseorang dari jauh, kita tidak memiliki seluruh informasi tentang dirinya.
Kita tidak melihat seluruh sisi kehidupannya.
Kita mungkin hanya mengetahui bagian-bagian yang dia pilih untuk ditunjukkan.
Akibatnya, pikiran kita secara alami mengisi ruang kosong tersebut.
Kita membangun gambaran mental.
Kita membayangkan bagaimana dia sebenarnya.
Kita menafsirkan kata-katanya.
Kita menghubungkan cerita hidupnya dengan pengalaman kita sendiri.
Dan akhirnya, sosok yang ada di dalam pikiran kita dapat menjadi lebih kompleks daripada informasi yang sebenarnya kita miliki.
Misalnya, seseorang menulis tentang kesepian.
Bagi kita, tulisan itu mungkin terasa sangat dalam karena kita sendiri pernah merasa kesepian.
Akibatnya, kita tidak hanya membaca kalimatnya.
Kita memasukkan pengalaman emosional kita sendiri ke dalam kalimat tersebut.
Kita merasa:
"Dia mengerti aku."
Padahal mungkin yang terjadi adalah kita menemukan bagian dari diri kita sendiri dalam dirinya.
Ini bukan berarti perasaan tersebut tidak valid.
Justru fenomena ini menunjukkan betapa aktifnya pikiran manusia dalam membangun hubungan emosional.
Kita bukan sekadar menerima seseorang sebagaimana adanya.
Kita juga membangun cerita mengenai siapa dia bagi kita.
Karena itu, terkadang seseorang dapat menjadi sangat berarti bukan hanya karena apa yang dia lakukan, tetapi karena apa yang kita rasakan ketika memikirkan dirinya.
Dia mungkin mengingatkan kita pada harapan.
Dia mungkin membuat kita merasa dimengerti.
Dia mungkin memberi kita keberanian.
Dia mungkin menjadi simbol dari sesuatu yang selama ini kita cari.
Pada titik tertentu, kita mungkin tidak hanya menyayangi orangnya.
Kita juga menyayangi arti kehadirannya dalam kehidupan psikologis kita.
5. Perasaan Peduli Dapat Tumbuh dari Kebiasaan Memberi Perhatian
Ada sebuah proses psikologis yang sering tidak kita sadari: semakin banyak perhatian yang kita berikan kepada seseorang, semakin penting orang tersebut dapat terasa bagi kita.
Perhatian adalah sumber daya psikologis.
Ketika kita terus-menerus memikirkan seseorang, mengikuti kabarnya, mengingat perkataannya, menunggu pesannya, atau memikirkan bagaimana keadaannya, orang tersebut mulai mendapatkan ruang di dalam kehidupan mental kita.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Bulan demi bulan.
Pada akhirnya, keberadaannya menjadi bagian dari rutinitas emosional.
Misalnya, setiap pagi kita terbiasa melihat kabarnya.
Setiap malam kita terbiasa berbicara dengannya.
Ketika mengalami sesuatu, kita langsung berpikir untuk menceritakannya kepada dia.
Tanpa sadar, otak telah mengasosiasikan orang tersebut dengan berbagai pengalaman sehari-hari.
Dia bukan lagi sekadar seseorang yang kita kenal.
Dia telah menjadi bagian dari pola kehidupan kita.
Inilah salah satu alasan mengapa kehilangan komunikasi dengan seseorang terkadang terasa jauh lebih berat daripada yang kita perkirakan.
Yang hilang bukan hanya percakapan.
Yang hilang juga adalah rutinitas.
Tempat berbagi.
Harapan untuk menerima kabar.
Kebiasaan memikirkan seseorang.
Dan ruang emosional yang selama ini ditempati olehnya.
Karena itu, jangan heran jika seseorang yang belum pernah kita temui secara langsung tetap dapat meninggalkan "jejak" yang besar.
Jejak emosional tidak selalu ditentukan oleh lamanya seseorang hadir secara fisik.
Ia juga dapat ditentukan oleh seberapa besar ruang psikologis yang diberikan kepadanya.
6. Kita Mampu Mencintai Seseorang karena Nilai, Harapan, dan Kemanusiaan yang Kita Lihat dalam Dirinya
Pada akhirnya, ada alasan yang mungkin paling sederhana sekaligus paling manusiawi.
Kita dapat peduli kepada seseorang karena kita melihat bahwa dia adalah manusia.
Manusia memiliki kecenderungan untuk merespons penderitaan, harapan, keberanian, kebaikan, dan kerentanan orang lain.
Kita dapat tersentuh oleh cerita seseorang yang bahkan tidak pernah kita temui.
Mengapa?
Karena pengalaman manusia memiliki banyak kesamaan.
Kita semua mengetahui sedikit tentang rasa takut.
Tentang kehilangan.
Tentang harapan.
Tentang keinginan untuk diterima.
Tentang kebutuhan untuk dicintai.
Tentang keinginan agar hidup kita berarti.
Ketika seseorang menunjukkan sisi manusianya secara jujur, kita dapat mengenali sesuatu yang familiar di dalam dirinya.
Mungkin bukan kehidupannya.
Bukan latar belakangnya.
Bukan pengalaman persisnya.
Tetapi kemanusiaannya.
Dan ketika kita melihat kemanusiaan tersebut, rasa peduli dapat muncul bahkan tanpa hubungan langsung.
Kita mungkin tidak bisa membantu banyak.
Kita mungkin bahkan tidak pernah bertemu.
Namun kita tetap bisa berharap:
"Semoga dia baik-baik saja."
Kalimat sederhana tersebut sebenarnya menunjukkan sesuatu yang sangat dalam.
Kita sedang mengakui bahwa kesejahteraan orang lain memiliki nilai, meskipun orang itu tidak memberikan manfaat langsung kepada kita.
Dalam bentuk tertentu, inilah salah satu dasar dari kasih sayang manusia.
Lalu, Apakah Mencintai Seseorang yang Belum Pernah Kita Temui Itu "Tidak Nyata"?
Tidak.
Perasaan dapat menjadi nyata meskipun hubungan fisiknya belum ada.
Rasa rindu bisa nyata.
Kekhawatiran bisa nyata.
Kekaguman bisa nyata.
Kasih sayang bisa nyata.
Namun ada satu hal yang perlu dibedakan:
Perasaan yang nyata tidak selalu berarti hubungan yang nyata dalam arti timbal balik.
Ini adalah batas penting yang sering terlupakan.
Kita boleh mencintai seseorang dari jauh.
Kita boleh peduli kepadanya.
Kita boleh merasa terhubung dengannya.
Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa apa yang kita ketahui tentang seseorang mungkin hanya sebagian dari keseluruhan dirinya.
Kita mengenal cerita yang dia bagikan, bukan seluruh kehidupannya.
Kita mengenal sisi yang terlihat, bukan seluruh sisi yang tersembunyi.
Karena itu, semakin besar perasaan kita kepada seseorang yang belum pernah kita temui, semakin penting pula untuk menjaga keseimbangan antara realitas dan imajinasi.
Jangan sampai kita mencintai versi seseorang yang sepenuhnya kita ciptakan sendiri.
Mengapa Perasaan seperti Ini Terkadang Terasa Begitu Kuat?
Karena manusia tidak hanya hidup berdasarkan apa yang terjadi secara fisik.
Kita juga hidup berdasarkan apa yang terjadi di dalam pikiran.
Kita bisa menangis karena mengingat masa lalu yang sudah tidak terjadi.
Kita bisa merasa takut terhadap sesuatu yang belum terjadi.
Kita bisa tersenyum hanya karena membayangkan seseorang.
Kita bisa merindukan tempat yang jauh hanya dengan melihat sebuah foto.
Dan kita bisa mencintai seseorang melalui cerita, percakapan, ingatan, serta gambaran mental yang kita bangun tentang dirinya.
Itulah kekuatan pikiran manusia.
Bagi otak, sebuah hubungan tidak selalu membutuhkan kehadiran fisik setiap saat agar memiliki makna emosional.
Yang dibutuhkan adalah representasi mental, pengalaman emosional, perhatian, dan makna.
Itulah sebabnya seseorang yang secara geografis sangat jauh dapat terasa begitu dekat.
Pada Akhirnya, Jarak Tidak Selalu Mengukur Kedekatan
Kita sering menganggap bahwa kedekatan berarti berada di tempat yang sama.
Padahal dalam kehidupan emosional manusia, kedekatan memiliki bentuk yang jauh lebih luas.
Ada orang yang kita temui setiap hari tetapi terasa asing.
Ada pula orang yang belum pernah kita temui tetapi terasa sangat dekat.
Ada orang yang duduk di sebelah kita tetapi tidak mengetahui apa yang sedang kita rasakan.
Dan ada orang yang berada jauh di tempat lain tetapi mampu membuat kita merasa dipahami hanya melalui beberapa kalimat.
Mungkin karena pada akhirnya, manusia tidak hanya terhubung melalui kehadiran.
Kita terhubung melalui perhatian, empati, cerita, makna, dan emosi.
Itulah sebabnya kita bisa mencintai seseorang yang belum pernah kita temui.
Bukan karena otak kita tidak memahami kenyataan.
Justru karena otak dan hati manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk membangun hubungan dengan manusia lain melalui hal-hal yang jauh lebih abstrak daripada sekadar jarak fisik.
Dan mungkin, salah satu hal paling indah dari manusia adalah ini:
Kita tidak harus memiliki seseorang di dekat kita untuk berharap agar hidupnya baik-baik saja.
Terkadang, cukup dengan mengetahui bahwa seseorang ada di dunia ini, kita sudah memiliki alasan untuk peduli.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Isenmulang Kalteng vs Persebaya di Super League, Green Force Berpeluang Curi Tiga Poin
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain Persik vs Madura United: Reina Siapkan Strategi Terbaik
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang
Adhyaksa FC Bekasi Vs PSGC Ciamis: Misi Bangkit Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022