Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Oktober 2026 | 03.36 WIB

Jika Ingin Memilih Kehidupan yang Bermakna, Ajukan 6 Pertanyaan Ini kepada Diri Sendiri

seseorang yang memilih kehidupan yang bermakna / foto: Magnific/champpixs

 

JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika kita tidak benar-benar kekurangan sesuatu, tetapi tetap merasa ada yang kurang.

Pekerjaan mungkin baik. Penghasilan mungkin cukup. Kita masih bisa tertawa bersama teman, pergi berlibur, membeli sesuatu yang kita inginkan, atau mencapai target yang selama ini dikejar.

Namun, di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang sulit dijelaskan:

“Sebenarnya, aku sedang menjalani hidup untuk apa?”

Pertanyaan seperti ini tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami masalah. Dalam psikologi, kebutuhan untuk memahami arah, nilai, tujuan, dan makna hidup merupakan bagian penting dari pengalaman manusia.

Kita tidak hanya ingin merasa nyaman. Kita juga ingin merasa bahwa kehidupan kita berarti.

Itulah sebabnya memilih kehidupan yang bermakna tidak selalu sama dengan memilih kehidupan yang paling mudah, paling kaya, paling terkenal, atau paling aman.

Kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang terasa selaras dengan apa yang benar-benar kita anggap penting.

Psikologi positif, penelitian tentang motivasi, serta kajian mengenai meaning in life menunjukkan bahwa manusia cenderung berkembang ketika memiliki rasa keterhubungan, otonomi, kompetensi, tujuan, serta keyakinan bahwa apa yang dilakukan memiliki arti.

Masalahnya, kita sering membuat keputusan bukan berdasarkan apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri, melainkan berdasarkan apa yang diharapkan orang lain.

Kita mengejar pekerjaan karena dianggap sukses.

Menikah karena merasa sudah waktunya.

Mengejar uang karena takut dianggap gagal.

Membeli sesuatu karena ingin terlihat berhasil.

Mengikuti jalan hidup tertentu karena semua orang di sekitar kita melakukannya.

Sampai suatu hari kita berhenti dan menyadari:

“Aku sudah sampai di tempat yang katanya bagus. Tapi kenapa aku tidak merasa bahagia?”

Mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya tujuan kita.

Mungkin kita perlu memeriksa mengapa kita memilih tujuan tersebut sejak awal.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), jika sedang berada di persimpangan hidup, cobalah ajukan enam pertanyaan berikut kepada diri sendiri.

1. Jika tidak ada seorang pun yang bisa menilai hidup saya, kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani?

Ini adalah pertanyaan yang sederhana, tetapi sangat sulit dijawab dengan jujur.

Bayangkan sejenak bahwa tidak ada keluarga yang akan berkomentar.

Tidak ada teman yang akan membandingkan.

Tidak ada media sosial.

Tidak ada orang yang akan mengetahui berapa banyak uang yang Anda hasilkan.

Tidak ada yang peduli dengan jabatan, rumah, kendaraan, penampilan, atau status sosial Anda.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada kritik.

Tidak ada penilaian.

Kemudian tanyakan:

“Kalau hanya saya yang tahu, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin saya jalani?”

Pertanyaan ini berkaitan dengan konsep otonomi, yaitu kemampuan untuk membuat pilihan berdasarkan nilai dan keinginan yang berasal dari dalam diri, bukan semata-mata karena tekanan eksternal.

Dalam Self-Determination Theory, otonomi merupakan salah satu kebutuhan psikologis dasar manusia.

Artinya, kita membutuhkan pengalaman bahwa hidup kita adalah sesuatu yang kita pilih dan miliki.

Masalahnya, manusia sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan.

Sejak kecil, kita belajar bahwa beberapa hal dianggap “berhasil” dan beberapa hal dianggap “gagal”.

Nilai akademik.

Pekerjaan bergengsi.

Penghasilan tinggi.

Rumah besar.

Pernikahan.

Popularitas.

Status.

Semua itu tidak salah.

Tetapi pertanyaannya adalah:

Apakah semua itu benar-benar penting bagi Anda, atau Anda hanya belajar bahwa semua itu seharusnya penting?

Ada orang yang sebenarnya menginginkan kehidupan sederhana, tetapi memaksakan diri mengejar karier yang sangat kompetitif karena takut dianggap tidak sukses.

Ada orang yang sebenarnya menikmati bekerja dengan tenang, tetapi terus mengejar posisi tinggi karena merasa harus membuktikan sesuatu.

Ada pula orang yang sebenarnya ingin memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga, tetapi terus mengatakan, “Nanti kalau sudah sukses.”

Masalahnya, “nanti” sering kali tidak pernah datang.

Karena setelah satu target tercapai, muncul target berikutnya.

Maka, sesekali lepaskan pertanyaan:

“Apa yang akan membuat saya terlihat sukses?”

Dan gantilah dengan:

“Apa yang membuat hidup saya terasa benar-benar milik saya?”

Jawaban Anda mungkin mengejutkan.

Bisa jadi kehidupan yang Anda inginkan ternyata jauh lebih sederhana daripada kehidupan yang selama ini Anda kejar.

2. Apa yang membuat saya merasa benar-benar hidup?

Tidak semua aktivitas yang membuat kita senang membuat kita merasa hidup.

Ada perbedaan antara kesenangan sesaat dan pengalaman yang memberi kita rasa keterlibatan yang mendalam.

Cobalah mengingat beberapa momen dalam hidup ketika Anda merasa sangat hadir.

Bukan ketika Anda mendapatkan pujian.

Bukan ketika Anda membeli sesuatu.

Bukan ketika Anda mendapatkan like.

Tetapi ketika Anda benar-benar tenggelam dalam apa yang sedang dilakukan.

Mungkin ketika sedang membuat sesuatu.

Membantu seseorang.

Belajar.

Mengajar.

Menulis.

Berolahraga.

Berbicara dengan orang yang Anda cintai.

Mengurus keluarga.

Menyelesaikan masalah yang sulit.

Berkarya.

Berkreasi.

Menjelajahi sesuatu yang baru.

Atau bahkan ketika melakukan pekerjaan sederhana yang terasa memiliki tujuan.

Tanyakan:

“Aktivitas apa yang membuat saya lupa melihat jam?”

Pertanyaan ini dapat membantu kita menemukan pola mengenai apa yang secara alami menarik perhatian dan energi kita.

Dalam psikologi, pengalaman keterlibatan yang sangat mendalam sering dikaitkan dengan konsep flow yang dipopulerkan oleh psikolog Mihaly Csikszentmihalyi.

Flow terjadi ketika seseorang begitu terlibat dalam sebuah aktivitas sehingga perhatian hampir sepenuhnya tertuju pada aktivitas tersebut.

Tentu saja, tidak semua aktivitas yang kita sukai harus menjadi pekerjaan.

Dan tidak semua pekerjaan yang bermakna harus terasa menyenangkan setiap saat.

Tetapi pola tersebut tetap memberikan petunjuk.

Jika Anda berkali-kali merasa hidup ketika membantu orang lain, mungkin kontribusi merupakan salah satu nilai penting Anda.

Jika Anda merasa hidup ketika menciptakan sesuatu, mungkin kreativitas memiliki tempat penting dalam kehidupan Anda.

Jika Anda merasa hidup ketika memecahkan masalah, mungkin tantangan intelektual penting bagi Anda.

Jika Anda merasa hidup ketika bersama orang-orang terdekat, mungkin hubungan merupakan salah satu sumber makna terbesar Anda.

Perhatikan polanya.

Jangan hanya bertanya:

“Apa yang saya sukai?”

Tanyakan juga:

“Dalam aktivitas seperti apa saya merasa menjadi versi diri saya yang paling hidup?”

Karena terkadang jawaban mengenai kehidupan yang bermakna tersembunyi bukan di dalam cita-cita besar, tetapi dalam aktivitas kecil yang terus membuat kita merasa hadir.

3. Nilai apa yang tidak ingin saya khianati, bahkan ketika hidup menjadi sulit?

Ini mungkin salah satu pertanyaan terpenting.

Sebab nilai hidup paling mudah terlihat bukan ketika semuanya berjalan baik.

Nilai kita justru terlihat ketika kita harus memilih sesuatu yang sulit.

Bayangkan Anda berada dalam situasi ketika harus memilih antara uang dan integritas.

Antara kenyamanan dan pertumbuhan.

Antara popularitas dan kejujuran.

Antara ambisi pribadi dan waktu bersama keluarga.

Antara mengikuti mayoritas dan mempertahankan prinsip.

Dalam situasi seperti itu, apa yang ingin Anda pertahankan?

Itulah petunjuk mengenai nilai Anda.

Nilai berbeda dengan tujuan.

Tujuan adalah sesuatu yang ingin kita capai.

Misalnya:

“ Saya ingin menjadi manajer.”

“ Saya ingin memiliki rumah.”

“ Saya ingin mendapatkan gelar.”

“ Saya ingin menghasilkan sekian rupiah.”

Sementara nilai adalah kualitas atau prinsip yang ingin kita bawa dalam perjalanan.

Misalnya:

Kejujuran.

Kebebasan.

Keluarga.

Pembelajaran.

Kebaikan.

Kreativitas.

Keberanian.

Keadilan.

Pertumbuhan.

Kontribusi.

Kedekatan.

Kesederhanaan.

Tujuan bisa tercapai.

Nilai tidak pernah benar-benar “selesai”.

Misalnya, seseorang dapat memiliki tujuan menjadi seorang penulis.

Tetapi di balik tujuan tersebut mungkin ada nilai kreativitas dan kebebasan.

Orang lain mungkin memiliki tujuan menjadi dokter, tetapi nilai yang mendasarinya adalah pelayanan dan kontribusi.

Orang lain mungkin tidak memiliki ambisi karier yang besar, tetapi sangat menghargai keluarga dan kehidupan yang tenang.

Tidak ada satu sistem nilai yang berlaku untuk semua orang.

Itulah sebabnya kehidupan bermakna tidak bisa dibuat dengan satu resep universal.

Pertanyaannya bukan:

“Apa yang paling baik menurut masyarakat?”

Melainkan:

“Apa yang benar-benar penting bagi saya?”

Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih sulit:

“Apakah cara saya menjalani hidup saat ini mencerminkan nilai tersebut?”

Karena kita bisa mengatakan bahwa keluarga adalah prioritas, tetapi menghabiskan seluruh waktu untuk pekerjaan.

Kita bisa mengatakan kesehatan penting, tetapi terus mengabaikan tubuh.

Kita bisa mengatakan kebebasan penting, tetapi membangun kehidupan yang sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain.

Kita bisa mengatakan kejujuran penting, tetapi terus menyembunyikan apa yang sebenarnya kita inginkan.

Makna tidak hanya ditemukan dalam apa yang kita yakini.

Makna juga ditemukan dalam bagaimana kita menjalankan apa yang kita yakini.

4. Jika saya tahu bahwa saya tidak bisa menyenangkan semua orang, siapa yang benar-benar ingin saya bahagiakan?

Banyak keputusan dalam hidup sebenarnya bukan keputusan kita.

Kita hanya mengikuti ekspektasi.

“Orang tua saya ingin saya menjadi seperti ini.”

“Teman-teman saya sudah melakukan itu.”

“Usia saya sudah seharusnya mencapai ini.”

“Kalau saya tidak mengikuti mereka, saya akan tertinggal.”

Ketakutan terhadap penolakan adalah sesuatu yang sangat manusiawi.

Sebagai makhluk sosial, kita membutuhkan hubungan dan penerimaan.

Tetapi kebutuhan untuk diterima dapat menjadi masalah ketika kita mulai mengorbankan seluruh identitas diri hanya agar tidak mengecewakan orang lain.

Cobalah tanyakan:

“Siapa yang sedang saya coba puaskan dengan kehidupan saya?”

Kemudian tanyakan:

“Jika saya terus hidup seperti ini selama sepuluh tahun, apakah saya akan berterima kasih kepada diri saya sendiri?”

Pertanyaan kedua sangat penting.

Karena terkadang kita terlalu fokus pada bagaimana keputusan kita terlihat hari ini, tanpa mempertimbangkan bagaimana keputusan itu akan memengaruhi diri kita dalam jangka panjang.

Bayangkan diri Anda sepuluh tahun dari sekarang.

Anda melihat kembali kehidupan Anda saat ini.

Apakah Anda akan berkata:

“Untung saya berani memilih ini.”

Atau:

“Seandainya dulu saya lebih berani menjadi diri sendiri.”

Tidak semua ekspektasi orang lain harus ditolak.

Orang tua, pasangan, teman, dan komunitas dapat memberikan perspektif yang berharga.

Tetapi pada akhirnya, Anda adalah orang yang harus menjalani konsekuensi dari pilihan tersebut.

Mereka mungkin memberikan nasihat.

Mereka mungkin memberikan penilaian.

Mereka mungkin bahkan pergi.

Tetapi Anda tetap harus hidup dengan keputusan Anda setiap hari.

Karena itu, kehidupan yang bermakna membutuhkan kemampuan untuk mengatakan:

“Saya menghargai pendapat orang lain, tetapi saya juga bersedia bertanggung jawab atas pilihan hidup saya sendiri.”

Itulah bentuk kedewasaan psikologis yang penting.

5. Penderitaan seperti apa yang rela saya jalani demi sesuatu yang saya anggap penting?

Ini mungkin pertanyaan yang paling jarang kita tanyakan.

Kita sering bertanya:

“Apa yang membuat saya bahagia?”

Tetapi kehidupan yang bermakna membutuhkan pertanyaan yang lebih dalam:

“Kesulitan seperti apa yang bersedia saya jalani karena sesuatu itu penting bagi saya?”

Karena tidak ada kehidupan yang sepenuhnya bebas dari kesulitan.

Karier memiliki tekanan.

Hubungan membutuhkan kompromi.

Membesarkan anak membutuhkan pengorbanan.

Belajar membutuhkan kegagalan.

Membangun bisnis membutuhkan ketidakpastian.

Menjaga kesehatan membutuhkan disiplin.

Menjadi orang yang baik terkadang membutuhkan keberanian.

Bahkan kehidupan yang sederhana pun memiliki masalah.

Jadi, pertanyaannya bukan bagaimana menghilangkan seluruh penderitaan.

Pertanyaannya adalah:

“Penderitaan seperti apa yang memiliki alasan yang cukup kuat untuk saya jalani?”

Seseorang mungkin bersedia bekerja keras selama bertahun-tahun karena ingin membangun sesuatu yang ia percaya.

Seorang ibu atau ayah mungkin rela kehilangan banyak kenyamanan pribadi demi membesarkan anaknya.

Seorang seniman mungkin rela mengalami banyak penolakan demi menciptakan karya yang diyakininya penting.

Seorang mahasiswa mungkin rela melewati bertahun-tahun belajar karena pendidikan tersebut membuka jalan menuju kehidupan yang diinginkannya.

Ini bukan berarti kita harus memuliakan penderitaan.

Penderitaan bukan otomatis membuat hidup bermakna.

Namun, ketika sebuah kesulitan terhubung dengan sesuatu yang kita nilai penting, kita sering lebih mampu bertahan dan memberikan makna terhadap pengalaman tersebut.

Inilah salah satu alasan mengapa “hidup nyaman” tidak selalu sama dengan “hidup bermakna.”

Kenyamanan memang penting.

Istirahat penting.

Keamanan penting.

Tetapi jika seluruh hidup hanya diarahkan untuk menghindari ketidaknyamanan, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar penting.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Untuk apa saya rela berjuang?”

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin memberi petunjuk lebih banyak tentang diri Anda daripada pertanyaan tentang apa yang membuat Anda nyaman.

6. Jika hidup saya tidak harus terlihat luar biasa, apa yang membuatnya tetap layak dijalani?

Ini mungkin pertanyaan terakhir sekaligus yang paling membebaskan.

Kita hidup di zaman ketika kehidupan orang lain terlihat sangat mudah dibandingkan kehidupan kita sendiri.

Media sosial memperlihatkan pencapaian.

Orang membagikan perjalanan.

Kesuksesan.

Pernikahan.

Karier.

Bisnis.

Rumah.

Liburan.

Tubuh.

Prestasi.

Kita melihat hasil akhirnya tanpa melihat seluruh proses di belakangnya.

Akibatnya, kita mudah merasa bahwa hidup kita harus menjadi sesuatu yang luar biasa agar layak dihargai.

Padahal mungkin tidak demikian.

Sebuah kehidupan tidak harus spektakuler untuk menjadi bermakna.

Seorang ayah yang hadir untuk anaknya.

Seorang ibu yang merawat keluarganya.

Seseorang yang bekerja dengan jujur.

Seorang teman yang selalu hadir ketika dibutuhkan.

Seseorang yang menciptakan karya meskipun tidak terkenal.

Orang yang merawat orang tua.

Orang yang membantu komunitasnya.

Orang yang terus belajar.

Orang yang memilih menjadi baik meskipun tidak ada yang melihat.

Semua itu bisa menjadi kehidupan yang sangat bermakna.

Makna tidak selalu membutuhkan penonton.

Kadang-kadang makna justru tumbuh dari hal-hal yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Karena itu, tanyakan:

“Jika tidak ada yang melihat kehidupan saya, apa yang masih ingin saya lakukan?”

Apa yang tetap akan Anda lakukan meskipun tidak mendapatkan pujian?

Apa yang tetap Anda anggap penting meskipun tidak menghasilkan status?

Apa yang tetap ingin Anda pertahankan meskipun tidak bisa dipamerkan?

Jawaban tersebut dapat membantu memisahkan makna dari validasi.

Dan mungkin di situlah kita mulai memahami sesuatu yang penting:

Kehidupan yang bermakna tidak harus terlihat mengagumkan dari luar. Kehidupan itu harus terasa selaras dari dalam.

Pada akhirnya, kehidupan yang bermakna bukan tentang menemukan satu jawaban

Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika kita berbicara tentang “tujuan hidup”.

Kita membayangkan seolah-olah setiap orang memiliki satu tujuan besar yang tersembunyi.

Seolah-olah suatu hari kita akan menemukan pekerjaan yang tepat, pasangan yang tepat, kota yang tepat, atau misi hidup yang tepat.

Kemudian semuanya menjadi jelas.

Dalam kenyataannya, kehidupan jauh lebih kompleks.

Makna dapat berubah sepanjang hidup.

Apa yang penting bagi kita ketika berusia dua puluh tahun mungkin berbeda ketika berusia empat puluh atau enam puluh tahun.

Kita berubah.

Situasi berubah.

Hubungan berubah.

Tanggung jawab berubah.

Prioritas berubah.

Karena itu, memilih kehidupan yang bermakna bukan keputusan satu kali.

Ini adalah proses terus-menerus untuk menyesuaikan kehidupan dengan nilai yang kita anggap penting.

Mungkin hari ini Anda perlu bertanya:

“Apakah pekerjaan saya masih sesuai dengan nilai saya?”

Beberapa tahun kemudian:

“Apakah hubungan saya masih memberi ruang bagi saya untuk menjadi diri sendiri?”

Kemudian:

“Apa yang sebenarnya ingin saya wariskan kepada orang lain?”

Dan suatu hari mungkin pertanyaannya berubah menjadi:

“Apakah saya menggunakan waktu saya untuk hal-hal yang benar-benar penting?”

Tidak ada jawaban permanen.

Yang ada adalah proses refleksi.

Cobalah menjawab keenam pertanyaan ini dengan jujur

Ambil selembar kertas.

Jangan jawab dengan apa yang terdengar bagus.

Jangan jawab dengan apa yang seharusnya Anda rasakan.

Jangan menjawab berdasarkan apa yang membuat Anda terlihat sukses.

Jawab berdasarkan apa yang benar-benar Anda rasakan.

1. Jika tidak ada seorang pun yang bisa menilai hidup saya, kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani?

2. Apa yang membuat saya merasa benar-benar hidup?

3. Nilai apa yang tidak ingin saya khianati, bahkan ketika hidup menjadi sulit?

4. Jika saya tahu bahwa saya tidak bisa menyenangkan semua orang, siapa yang benar-benar ingin saya bahagiakan?

5. Penderitaan seperti apa yang rela saya jalani demi sesuatu yang saya anggap penting?

6. Jika hidup saya tidak harus terlihat luar biasa, apa yang membuatnya tetap layak dijalani?

Setelah menjawab semuanya, jangan langsung mencari keputusan besar.

Baca kembali jawaban Anda.

Cari kata-kata yang muncul berulang kali.

Mungkin Anda terus menulis tentang keluarga.

Mungkin kebebasan.

Mungkin kreativitas.

Mungkin kontribusi.

Mungkin ketenangan.

Mungkin pertumbuhan.

Mungkin cinta.

Mungkin pembelajaran.

Mungkin keberanian.

Kata-kata yang muncul berulang kali itu mungkin merupakan petunjuk mengenai nilai-nilai yang sebenarnya ingin Anda bawa ke dalam kehidupan.

Kemudian tanyakan satu pertanyaan terakhir:

“Apakah cara saya menggunakan waktu saya hari ini mencerminkan hal-hal yang saya katakan penting bagi saya?”

Jika jawabannya belum, tidak perlu langsung mengubah seluruh hidup.

Mulailah dari satu hal kecil.

Satu batas yang perlu dibuat.

Satu kebiasaan yang perlu dibangun.

Satu hubungan yang perlu dirawat.

Satu keputusan yang selama ini ditunda.

Satu keberanian untuk mengatakan tidak.

Atau satu keberanian untuk mengatakan ya.

Karena kehidupan yang bermakna jarang dibangun melalui satu keputusan besar.

Lebih sering, ia dibangun melalui ratusan pilihan kecil yang perlahan-lahan membuat hidup kita semakin selaras dengan apa yang kita anggap penting.

Dan mungkin itulah inti dari kehidupan yang bermakna:

Bukan menjalani kehidupan yang terlihat paling hebat.

Bukan memenangkan perlombaan dengan orang lain.

Bukan membuat semua orang mengagumi kita.

Melainkan bangun setiap hari dan perlahan-lahan membangun kehidupan yang ketika dijalani terasa:

“Ini adalah hidup saya. Dan saya tahu mengapa saya memilihnya.”***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore