seseorang yang merancang hidupnya sesuai keinginan. (magnific)
JawaPos.com -Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai bertanya: “Sebenarnya, aku ingin hidup seperti apa?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya sering kali tidak mudah ditemukan.
Sebab sejak kecil, kita terbiasa menerima banyak sekali definisi tentang kehidupan yang “baik”. Kita diajarkan untuk mendapatkan nilai bagus, masuk sekolah yang baik, mendapatkan pekerjaan, menghasilkan banyak uang, menikah, memiliki rumah, membangun karier, dan terus mengejar sesuatu yang dianggap sebagai keberhasilan.
Tanpa sadar, kita bisa menjalani hidup berdasarkan rencana yang dibuat oleh lingkungan, bukan berdasarkan apa yang benar-benar kita inginkan.
Kemudian suatu hari, meskipun dari luar semuanya terlihat baik-baik saja, muncul perasaan kosong.
Kita bertanya:
“Kenapa aku tidak sebahagia yang seharusnya?”
Dalam psikologi, kesejahteraan manusia tidak hanya berkaitan dengan pencapaian eksternal. Ada kebutuhan yang lebih dalam: kebutuhan untuk merasa bahwa hidup kita memiliki makna, bahwa kita memiliki kendali atas pilihan kita, bahwa hubungan kita dengan orang lain bermakna, dan bahwa kehidupan yang kita jalani selaras dengan nilai-nilai yang kita anggap penting.
Karena itu, jika kamu sedang berada pada fase ingin merancang kembali hidupmu, mungkin kamu tidak membutuhkan lebih banyak motivasi.
Kamu mungkin membutuhkan pertanyaan yang tepat.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), terdapat enam pertanyaan yang bisa kamu ajukan kepada dirimu sendiri.
1. “Kalau tidak ada seorang pun yang bisa menilaiku, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin aku jalani?”
Ini mungkin pertanyaan yang paling penting.
Bayangkan sejenak bahwa tidak ada media sosial.
Tidak ada teman yang membandingkan.
Tidak ada keluarga yang memiliki ekspektasi tertentu.
Tidak ada tetangga yang perlu dibuat kagum.
Tidak ada orang yang tahu berapa gajimu, pekerjaanmu apa, tinggal di mana, atau apa yang kamu miliki.
Lalu tanyakan:
“Kalau semua penilaian sosial itu hilang, aku sebenarnya ingin hidup seperti apa?”
Pertanyaan ini penting karena manusia adalah makhluk sosial. Kita secara alami memperhatikan bagaimana diri kita dipandang oleh orang lain.
Masalahnya muncul ketika penilaian eksternal mulai menjadi kompas utama dalam mengambil keputusan.
Kita memilih pekerjaan bukan karena pekerjaan tersebut bermakna bagi kita, tetapi karena terlihat bergengsi.
Kita membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena ingin terlihat berhasil.
Kita mengejar jabatan karena takut dianggap gagal.
Kita mempertahankan hubungan karena takut mengecewakan orang lain.
Kita bahkan terkadang menentukan standar kebahagiaan berdasarkan kehidupan orang lain.
Psikologi menyebut salah satu mekanisme ini sebagai social comparison, yaitu kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain.
Perbandingan sosial tidak selalu buruk. Dalam kadar tertentu, kita memang belajar dari orang lain.
Namun, jika hidup kita terus-menerus digunakan untuk mengejar standar orang lain, kita bisa kehilangan kontak dengan keinginan kita sendiri.
Karena itu, cobalah bertanya:
“Apa yang akan kupilih jika aku tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun?”
Mungkin jawabannya mengejutkan.
Mungkin kamu ternyata tidak membutuhkan karier yang sangat tinggi.
Mungkin kamu ingin pekerjaan yang lebih sederhana tetapi memiliki waktu lebih banyak.
Mungkin kamu ingin tinggal di kota kecil.
Mungkin kamu ingin lebih sering bersama keluarga.
Mungkin kamu ingin membangun bisnis.
Mungkin kamu ingin kembali belajar sesuatu.
Atau mungkin kamu hanya ingin kehidupan yang lebih tenang.
Tidak semua kehidupan yang terlihat mengesankan dari luar akan terasa bermakna dari dalam.
Dan tidak semua kehidupan yang terlihat sederhana berarti gagal.
Hidup yang sesuai dengan dirimu tidak harus terlihat luar biasa bagi orang lain.
Yang penting adalah apakah kehidupan itu terasa benar ketika kamu menjalaninya.
2. “Apa yang sebenarnya penting bagiku, dan apakah hidupku saat ini mencerminkan nilai tersebut?”
Banyak orang memiliki keinginan.
Tetapi tidak semua orang memiliki kejelasan tentang nilai hidup mereka.
Keinginan adalah sesuatu yang ingin kita dapatkan.
Nilai adalah sesuatu yang ingin kita hidupi.
Misalnya, seseorang mungkin berkata:
“Aku ingin menghasilkan banyak uang.”
Tetapi jika ditanya lebih jauh, mungkin uang bukan tujuan akhirnya.
Uang mungkin melambangkan:
kebebasan,
keamanan,
kemampuan membantu keluarga,
kesempatan bepergian,
kemandirian,
atau kesempatan mengendalikan waktu sendiri.
Dengan kata lain, di balik sebuah tujuan sering kali terdapat nilai yang lebih dalam.
Dalam psikologi, kehidupan yang selaras dengan nilai pribadi sering dikaitkan dengan rasa autentik dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa yang ingin aku capai?”
Tanyakan juga:
“Mengapa hal itu penting bagiku?”
Misalnya:
“Aku ingin punya banyak uang.”
Mengapa?
“Supaya aku tidak perlu khawatir soal masa depan.”
Mengapa itu penting?
“Karena aku ingin merasa aman.”
Atau:
“Aku ingin punya pekerjaan yang fleksibel.”
Mengapa?
“Supaya punya lebih banyak waktu dengan keluarga.”
Berarti nilai yang lebih mendasar mungkin adalah keluarga dan kebebasan.
Setelah kamu mengetahui nilai-nilai tersebut, lihat kehidupanmu saat ini.
Apakah waktumu mencerminkan nilai tersebut?
Apakah pekerjaanmu mencerminkan nilai tersebut?
Apakah cara kamu menghabiskan uang mencerminkan nilai tersebut?
Apakah hubunganmu mencerminkan nilai tersebut?
Karena terkadang masalah kita bukan karena tidak tahu apa yang penting.
Kita tahu.
Tetapi cara kita menjalani hidup tidak sesuai dengan apa yang kita katakan penting.
Kita berkata keluarga penting, tetapi hampir seluruh waktu kita diberikan kepada pekerjaan.
Kita berkata kesehatan penting, tetapi tidur selalu menjadi hal pertama yang dikorbankan.
Kita berkata kebebasan penting, tetapi seluruh kehidupan dibangun di atas kewajiban yang tidak pernah kita pertanyakan.
Kita berkata ketenangan penting, tetapi setiap hari kita memenuhi pikiran dengan distraksi.
Maka pertanyaan ini menjadi sangat penting:
“Apakah cara aku menghabiskan waktu hari ini mencerminkan kehidupan yang katanya ingin aku bangun?”
Jika jawabannya tidak, mungkin yang perlu diubah bukan impianmu.
Mungkin yang perlu diubah adalah prioritasmu.
3. “Apa yang sebenarnya membuatku hidup, bukan sekadar membuatku sibuk?”
Ada perbedaan besar antara sibuk dan bermakna.
Keduanya sering terlihat sama dari luar.
Seseorang bisa bekerja selama 12 jam sehari, menghadiri banyak rapat, menjawab ratusan pesan, menyelesaikan berbagai tugas, dan merasa sangat produktif.
Tetapi pada malam hari, ia mungkin tetap bertanya:
“Untuk apa semua ini?”
Kesibukan memberi kita sensasi bahwa kita sedang bergerak.
Tetapi bergerak tidak selalu berarti menuju arah yang benar.
Karena itu, cobalah melihat kembali pengalaman dalam hidupmu.
Kapan terakhir kali kamu benar-benar merasa:
“Aku suka berada di sini.”
Bukan karena orang lain memujimu.
Bukan karena menghasilkan uang.
Bukan karena terlihat keren.
Tetapi karena kamu benar-benar menikmati prosesnya.
Perhatikan aktivitas yang membuatmu kehilangan kesadaran terhadap waktu.
Hal-hal yang membuatmu penasaran.
Hal-hal yang membuatmu ingin belajar lebih dalam.
Hal-hal yang membuatmu merasa berguna.
Hal-hal yang membuatmu merasa menjadi dirimu sendiri.
Konsep flow dalam psikologi menggambarkan kondisi ketika seseorang sangat tenggelam dalam suatu aktivitas sehingga perhatian terfokus dan kesadaran terhadap waktu dapat berkurang.
Flow tidak otomatis berarti pekerjaan tersebut adalah “panggilan hidup”.
Namun pengalaman semacam ini dapat menjadi petunjuk.
Mungkin ada sesuatu dalam aktivitas tersebut yang sesuai dengan kekuatan, minat, atau kebutuhan psikologismu.
Cobalah membuat daftar sederhana:
Aktivitas yang membuatku merasa hidup:
membaca,
menulis,
membangun sesuatu,
mengajar,
berbicara dengan orang,
memecahkan masalah,
bepergian,
berolahraga,
menciptakan karya,
membantu orang,
belajar,
bekerja sendirian,
bekerja bersama tim,
atau sesuatu yang lain.
Kemudian tanyakan:
“Bagaimana aku bisa memasukkan lebih banyak aktivitas seperti ini ke dalam kehidupanku?”
Tidak harus langsung mengubah karier.
Tidak harus berhenti dari pekerjaan.
Tidak harus membuat keputusan ekstrem.
Terkadang perubahan hidup dimulai dari sesuatu yang jauh lebih kecil:
memberikan ruang bagi hal-hal yang membuat kita merasa hidup.
Karena hidup yang baik bukan hanya tentang mengurangi hal-hal yang melelahkan.
Tetapi juga tentang memperbanyak hal-hal yang memberi energi psikologis.
4. “Ketakutan apa yang sedang mengendalikan keputusan-keputusanku?”
Ini pertanyaan yang mungkin paling tidak nyaman.
Karena terkadang kita mengira bahwa kita sedang membuat keputusan berdasarkan keinginan.
Padahal sebenarnya kita sedang membuat keputusan berdasarkan ketakutan.
Kita berkata:
“Aku bertahan karena ini pilihan yang aman.”
Tetapi mungkin sebenarnya:
“Aku takut memulai dari nol.”
Kita berkata:
“Aku belum siap.”
Tetapi mungkin sebenarnya:
“Aku takut gagal.”
Kita berkata:
“Aku tidak punya waktu.”
Tetapi mungkin sebenarnya:
“Aku takut menjadikan hal ini sebagai prioritas.”
Kita berkata:
“Aku tidak peduli dengan pendapat orang.”
Tetapi mungkin sebenarnya:
“Aku sangat takut dianggap gagal.”
Ketakutan tidak selalu buruk.
Ketakutan memiliki fungsi adaptif. Ia membantu manusia mengenali ancaman dan melindungi diri.
Namun, ketakutan bisa menjadi masalah ketika ia mulai menentukan seluruh arah kehidupan.
Cobalah tanyakan:
“Jika aku tahu bahwa aku tidak akan gagal, apa yang akan kulakukan?”
Lalu tanyakan pertanyaan berikutnya:
“Jika aku tahu bahwa tidak ada yang akan menghakimiku, apa yang akan kupilih?”
Dan:
“Apa yang selama ini ingin kulakukan tetapi terus kutunda karena takut?”
Jawabannya mungkin menunjukkan sesuatu yang penting.
Bukan berarti semua ketakutan harus dilawan.
Kadang-kadang ketakutan memang memberi informasi yang valid.
Tetapi kita perlu membedakan antara:
“Ini benar-benar bukan untukku.”
dan
“Ini mungkin untukku, tetapi aku takut.”
Keduanya terasa sangat mirip.
Padahal konsekuensinya berbeda.
Jika sesuatu memang tidak sesuai dengan nilai dan kebutuhanmu, kamu tidak perlu memaksakannya.
Namun jika sesuatu sangat berarti bagimu dan satu-satunya alasan kamu tidak melakukannya adalah rasa takut, mungkin sudah waktunya mengambil langkah kecil.
Bukan langkah besar.
Langkah kecil.
Karena keberanian dalam kehidupan nyata sering kali bukan berarti tidak takut.
Keberanian adalah tetap bergerak meskipun takut, dengan cara yang masuk akal dan terukur.
5. “Seperti apa kehidupan sehari-hari yang sebenarnya ingin aku jalani?”
Ini pertanyaan yang sering dilewatkan.
Kita terlalu sering membayangkan hasil akhir, tetapi jarang membayangkan kehidupan sehari-hari yang diperlukan untuk sampai ke sana.
Misalnya kamu berkata:
“Aku ingin menjadi sukses.”
Tetapi sukses seperti apa?
Bayangkan kehidupan tersebut secara konkret.
Jam berapa kamu bangun?
Di mana kamu tinggal?
Apa yang kamu lakukan pada pagi hari?
Berapa jam kamu bekerja?
Dengan siapa kamu bekerja?
Berapa banyak waktu yang kamu miliki untuk keluarga?
Apakah kamu sering bepergian?
Apakah kamu bekerja dari rumah?
Apakah kamu memiliki banyak tanggung jawab?
Bagaimana malam harimu?
Apa yang kamu lakukan pada akhir pekan?
Dengan siapa kamu menghabiskan waktu?
Pertanyaan ini penting karena terkadang kita mengejar tujuan yang sebenarnya tidak kita sukai gaya hidupnya.
Misalnya seseorang ingin menjadi pengusaha besar.
Tetapi setelah dibayangkan lebih jauh, ia sadar bahwa kehidupan seorang pengusaha tertentu mungkin membutuhkan perjalanan terus-menerus, tekanan tinggi, keputusan tanpa henti, dan waktu yang sangat sedikit.
Apakah ia menginginkan hasilnya?
Mungkin.
Tetapi apakah ia menginginkan kehidupan sehari-harinya?
Belum tentu.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa yang ingin aku miliki?”
Tanyakan:
“Kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani setiap hari?”
Ini adalah perbedaan yang sangat besar.
Sebab kehidupan pada akhirnya bukan kumpulan momen besar.
Sebagian besar hidup terdiri dari hari-hari biasa.
Bangun.
Bekerja.
Makan.
Berbicara.
Beristirahat.
Menghabiskan waktu dengan orang lain.
Menghadapi masalah kecil.
Mengulangi rutinitas.
Karena itu, jika kamu ingin merancang hidup yang baik, jangan hanya merancang masa depan.
Rancang hari-harimu.
Masa depan yang kita inginkan pada akhirnya dibangun dari pola kehidupan sehari-hari.
6. “Jika lima tahun lagi aku masih menjalani kehidupan yang sama, apakah aku akan berterima kasih atau menyesal?”
Ini adalah pertanyaan tentang arah.
Bayangkan dirimu lima tahun dari sekarang.
Bukan versi ideal yang sempurna.
Tetapi dirimu yang benar-benar mengikuti pola kehidupanmu saat ini.
Jika kamu terus menghabiskan waktu dengan cara yang sama...
Jika kamu terus mempertahankan hubungan yang sama...
Jika kamu terus mengabaikan kesehatan...
Jika kamu terus menunda impian...
Jika kamu terus bekerja dengan cara yang sama...
Jika kamu terus menghindari hal-hal yang kamu takutkan...
Jika tidak ada perubahan berarti...
Di mana kira-kira kamu akan berada?
Kemudian tanyakan:
“Apakah aku menyukai kemungkinan itu?”
Pertanyaan ini bukan untuk membuatmu cemas.
Justru sebaliknya.
Pertanyaan ini membantu kita menyadari bahwa arah kehidupan tidak hanya ditentukan oleh keputusan besar.
Ia juga ditentukan oleh pola kecil yang kita ulangi setiap hari.
Satu hari mungkin terasa tidak penting.
Tetapi satu tahun terdiri dari ratusan hari.
Kebiasaan kecil yang terus diulang akhirnya menjadi gaya hidup.
Gaya hidup yang terus dipertahankan akhirnya membentuk kehidupan.
Karena itu, terkadang kita tidak perlu mengetahui dengan pasti apa yang akan kita lakukan lima tahun lagi.
Kita hanya perlu memastikan bahwa arah kita masuk akal.
Kamu tidak harus mengetahui seluruh jalan.
Kamu hanya perlu tahu langkah berikutnya.
Jangan mencoba menjawab semuanya sekaligus
Enam pertanyaan ini bukan ujian yang harus kamu jawab dalam satu malam.
Bahkan, beberapa jawabannya mungkin berubah seiring waktu.
Manusia berkembang.
Nilai berubah.
Prioritas berubah.
Keadaan berubah.
Apa yang penting ketika berusia 20 tahun mungkin berbeda ketika berusia 30 atau 40 tahun.
Karena itu, merancang hidup bukan berarti membuat sebuah rencana yang tidak boleh berubah.
Merancang hidup berarti secara berkala berhenti dan bertanya:
“Apakah kehidupan yang sedang kubangun masih sesuai dengan orang yang sedang bertumbuh menjadi diriku?”
Kamu mungkin tidak membutuhkan perubahan besar.
Mungkin kamu hanya perlu mengurangi sesuatu.
Mengatakan tidak.
Mengubah rutinitas.
Menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang yang penting.
Belajar sesuatu yang baru.
Mencoba pekerjaan sampingan.
Beristirahat.
Meninggalkan sesuatu yang sudah tidak sesuai.
Atau akhirnya mengakui bahwa impian yang selama ini kamu kejar sebenarnya bukan milikmu.
Pada akhirnya, hidupmu tidak harus terlihat mengesankan
Ada jebakan dalam proses merancang kehidupan.
Kita bisa kembali terjebak pada pertanyaan:
“Bagaimana membuat hidupku terlihat sukses?”
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Bagaimana membuat hidupku terasa bermakna bagiku?”
Keduanya tidak selalu sama.
Kehidupan yang terlihat hebat dari luar bisa terasa sangat melelahkan dari dalam.
Sebaliknya, kehidupan yang tampak sederhana mungkin terasa sangat kaya bagi orang yang menjalaninya.
Tidak semua orang membutuhkan kehidupan yang besar.
Ada yang membutuhkan kebebasan.
Ada yang membutuhkan stabilitas.
Ada yang membutuhkan tantangan.
Ada yang membutuhkan keluarga.
Ada yang membutuhkan kreativitas.
Ada yang membutuhkan kedamaian.
Ada yang ingin membangun sesuatu yang besar.
Ada yang hanya ingin memiliki waktu yang cukup untuk menikmati hidup.
Tidak ada satu desain kehidupan yang cocok untuk semua orang.
Yang penting adalah kamu memahami mengapa kamu memilih kehidupan tersebut.
Jadi, jika saat ini kamu sedang berada di persimpangan hidup, mungkin jangan terburu-buru bertanya:
“Apa yang harus kulakukan dengan hidupku?”
Mulailah dengan enam pertanyaan yang lebih sederhana:
Kalau tidak ada seorang pun yang bisa menilaiku, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin aku jalani?
Apa yang sebenarnya penting bagiku, dan apakah hidupku saat ini mencerminkan nilai tersebut?
Apa yang membuatku hidup, bukan sekadar membuatku sibuk?
Ketakutan apa yang sedang mengendalikan keputusan-keputusanku?
Seperti apa kehidupan sehari-hari yang sebenarnya ingin aku jalani?
Jika lima tahun lagi aku masih menjalani kehidupan yang sama, apakah aku akan berterima kasih atau menyesal?
Mungkin kamu belum memiliki semua jawabannya.
Tidak apa-apa.
Kamu tidak harus mengetahui seluruh masa depan untuk mulai mengubah arah.
Kadang-kadang, hidup yang lebih sesuai dengan diri kita dimulai bukan dengan keputusan yang besar.
Tetapi dengan keberanian untuk berhenti sejenak dan berkata:
“Tunggu. Selama ini aku sebenarnya sedang membangun kehidupan yang kuinginkan, atau kehidupan yang diharapkan orang lain dariku?”
Dan mungkin, dari pertanyaan itulah, kehidupan yang benar-benar milikmu mulai dibangun.***