seseorang yang kurang mengenal asal usulnya. (magnific)
Namun, tidak semua orang memiliki pengalaman seperti itu.
Sebagian orang tumbuh tanpa banyak informasi mengenai keluarganya. Ada yang tidak pernah mengenal salah satu orang tua, kehilangan anggota keluarga sejak kecil, dibesarkan oleh orang lain, berasal dari keluarga yang jarang membicarakan masa lalu, atau memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertanya tentang sejarah keluarganya.
Akibatnya, ketika dewasa, seseorang mungkin memiliki perasaan yang sulit dijelaskan: "Saya sebenarnya berasal dari mana?", "Mengapa saya menjadi seperti sekarang?", atau "Apa yang membuat keluarga saya memiliki kehidupan seperti ini?"
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (6/10), dalam psikologi, mengenal asal-usul bukan sekadar mengumpulkan nama dan tanggal. Pemahaman tentang perjalanan hidup dan keluarga dapat membantu seseorang membangun sense of identity, yaitu perasaan mengenai siapa dirinya, nilai apa yang dimilikinya, dan bagaimana ia memahami perjalanan hidupnya.
Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak mengetahui asal-usul bukan berarti seseorang memiliki identitas yang tidak lengkap. Identitas manusia dibentuk oleh banyak hal: pengalaman, hubungan sosial, pilihan pribadi, nilai, lingkungan, serta cara seseorang memberikan makna terhadap kehidupannya.
Karena itu, jika Anda merasa kurang mengenal asal-usul sendiri, ada beberapa praktik yang dapat dicoba secara perlahan.
1. Mulailah dengan Menulis Cerita Hidup Sendiri
Salah satu langkah sederhana adalah menulis perjalanan hidup Anda dari sudut pandang Anda sendiri.
Tidak perlu langsung membuat silsilah keluarga yang lengkap. Mulailah dari pertanyaan-pertanyaan sederhana:
Di mana saya dibesarkan?
Apa kenangan masa kecil yang paling kuat?
Siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya?
Nilai apa yang diajarkan kepada saya sejak kecil?
Peristiwa apa yang paling mengubah cara saya melihat kehidupan?
Kebiasaan apa yang saya bawa dari keluarga?
Hal apa dari keluarga yang ingin saya pertahankan?
Hal apa yang justru ingin saya hentikan?
Dalam psikologi, manusia tidak hanya mengingat peristiwa, tetapi juga membangun cerita mengenai dirinya melalui pengalaman tersebut. Proses ini sering dikaitkan dengan narrative identity, yaitu cara seseorang memahami dirinya melalui kisah hidup yang ia bangun.
Menulis dapat membantu mengubah pengalaman yang sebelumnya terasa seperti potongan-potongan terpisah menjadi sebuah cerita yang lebih terstruktur.
Misalnya, seseorang mungkin awalnya hanya berpikir:
"Saya tidak pernah dekat dengan keluarga."
Namun setelah menulis lebih jauh, ia mungkin menemukan:
"Saya memang tidak memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga besar, tetapi sejak kecil saya belajar mandiri. Saya juga mendapatkan banyak dukungan dari seorang guru dan beberapa teman. Ternyata rasa mandiri yang saya miliki bukan hanya kelemahan, tetapi juga salah satu bagian dari perjalanan hidup saya."
Perubahan cara melihat pengalaman seperti ini dapat memberikan pemahaman baru terhadap diri sendiri.
Menulis bukan berarti mengubah masa lalu. Tujuannya adalah memahami bagaimana masa lalu tersebut memengaruhi diri Anda sekarang.
Cara memulainya
Luangkan sekitar 15–20 menit. Tuliskan kehidupan Anda secara kronologis:
Masa kanak-kanak → masa sekolah → remaja → awal dewasa → kehidupan sekarang.
Tidak perlu membuat tulisan yang bagus. Jangan terlalu memikirkan tata bahasa.
Yang penting adalah kejujuran.
Anda bahkan bisa membuat dua kolom:
"Hal yang saya ketahui" dan "Hal yang belum saya ketahui."
Dengan begitu, Anda dapat melihat bahwa tidak mengenal asal-usul bukanlah sebuah kekosongan yang harus langsung diselesaikan. Ada bagian yang sudah Anda ketahui dan ada bagian yang masih menjadi tanda tanya.
Dan tidak semua tanda tanya harus segera memiliki jawaban.
2. Bertanya kepada Orang yang Lebih Tua tentang Sejarah Keluarga
Jika memungkinkan dan situasinya aman secara emosional, cobalah berbicara dengan orang-orang yang lebih tua dalam keluarga.
Mereka mungkin mengetahui cerita yang selama ini tidak pernah Anda dengar.
Namun, jangan langsung memulai dengan pertanyaan yang terlalu besar seperti:
"Ceritakan semua tentang keluarga kita."
Pertanyaan tersebut bisa terasa terlalu luas.
Sebaliknya, gunakan pertanyaan yang spesifik.
Misalnya:
Keluarga kita dahulu tinggal di mana?
Bagaimana kehidupan keluarga ketika masih muda?
Siapa anggota keluarga yang paling dekat dengan Anda?
Mengapa keluarga pindah dari satu tempat ke tempat lain?
Pekerjaan apa yang dilakukan kakek atau nenek?
Tradisi apa yang dulu sering dilakukan?
Apa kesulitan terbesar yang pernah dialami keluarga?
Apa yang paling Anda ingat dari masa kecil?
Bagaimana orang tua Anda mendidik anak-anak?
Apa yang menurut Anda berubah paling besar dalam keluarga kita?
Pertanyaan semacam ini dapat membuka percakapan secara perlahan.
Ada satu hal yang perlu diperhatikan: cerita keluarga bukan selalu fakta yang sempurna.
Ingatan manusia dapat berubah seiring waktu. Dua orang dapat mengingat peristiwa yang sama dengan cara berbeda. Karena itu, ketika mendengar cerita keluarga, jangan selalu menganggap satu versi sebagai kebenaran mutlak.
Anda dapat melihatnya sebagai potongan informasi.
Misalnya, ibu Anda memiliki satu cerita mengenai masa kecilnya. Paman Anda memiliki versi yang berbeda. Dokumen lama mungkin menunjukkan informasi lain.
Alih-alih langsung menentukan siapa yang benar, Anda dapat bertanya:
"Mengapa mereka mengingat peristiwa itu secara berbeda?"
Justru dari perbedaan tersebut, Anda mungkin mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang keluarga.
3. Mencari Jejak Asal-Usul melalui Foto, Dokumen, dan Benda Lama
Tidak semua sejarah keluarga tersimpan dalam percakapan.
Sebagian justru tersimpan dalam benda-benda sederhana.
Foto lama, surat, buku harian, ijazah, dokumen keluarga, catatan pekerjaan, buku alamat, atau bahkan benda yang diwariskan dapat memberikan petunjuk tentang kehidupan generasi sebelumnya.
Cobalah membuat satu tempat khusus untuk menyimpan informasi yang ditemukan.
Misalnya:
"Arsip perjalanan keluarga."
Anda dapat menyimpan:
foto lama;
nama anggota keluarga;
lokasi tempat tinggal;
pekerjaan;
tanggal atau periode penting;
cerita yang berkaitan dengan foto;
dokumen yang tersedia;
pertanyaan yang belum terjawab.
Jika menemukan foto lama, jangan hanya menulis nama orangnya.
Tuliskan juga:
"Foto ini kemungkinan diambil ketika keluarga tinggal di..."
atau:
"Saya belum mengetahui siapa orang di sebelah kanan, tetapi menurut cerita keluarga ia adalah..."
Dengan begitu, Anda tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga menjaga batas antara fakta, cerita, dan dugaan.
Ini penting karena pencarian asal-usul dapat menjadi proses yang emosional.
Seseorang mungkin menemukan informasi yang menyenangkan, tetapi bisa juga menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Misalnya, ia mengetahui bahwa keluarganya pernah mengalami konflik besar, perpindahan tempat tinggal, perceraian, kehilangan, kemiskinan, atau peristiwa lain yang sebelumnya tidak pernah dibicarakan.
Tidak semua informasi harus langsung Anda selesaikan secara emosional.
Terkadang mengetahui sesuatu hanya merupakan langkah pertama.
Memahami dan menerima maknanya mungkin membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
4. Mempelajari Budaya dan Lingkungan Tempat Keluarga Berasal
Asal-usul seseorang tidak hanya berbentuk hubungan darah.
Tempat seseorang tumbuh, bahasa yang digunakan, makanan yang dimakan, kebiasaan keluarga, nilai sosial, tradisi, dan lingkungan masyarakat juga dapat menjadi bagian dari identitas.
Karena itu, jika informasi mengenai keluarga biologis terbatas, Anda tetap dapat mengeksplorasi konteks budaya dan lingkungan yang membentuk perjalanan keluarga Anda.
Misalnya, cobalah mempelajari:
sejarah daerah asal keluarga;
kebiasaan masyarakat setempat;
bahasa atau dialek yang digunakan;
makanan tradisional;
musik dan kesenian;
pekerjaan yang umum dilakukan masyarakat pada masa lalu;
kondisi sosial pada periode ketika orang tua atau kakek-nenek tumbuh;
alasan suatu daerah mengalami perpindahan penduduk.
Tujuannya bukan untuk membuat Anda terikat pada suatu identitas tertentu.
Justru sebaliknya.
Dengan memahami konteks, Anda dapat melihat bahwa kehidupan keluarga sering kali dipengaruhi oleh kondisi yang jauh lebih besar daripada individu.
Misalnya, keputusan seseorang untuk pindah kota mungkin bukan semata-mata karena ia ingin meninggalkan keluarganya. Bisa saja ada faktor pekerjaan, ekonomi, pendidikan, konflik sosial, atau perubahan keadaan.
Ketika seseorang memahami konteks tersebut, ia dapat melihat keluarganya dengan cara yang lebih kompleks.
Bukan hanya:
"Mengapa mereka melakukan itu?"
Tetapi:
"Kondisi seperti apa yang mungkin mereka hadapi ketika mengambil keputusan tersebut?"
Perspektif semacam ini tidak berarti membenarkan semua tindakan masa lalu.
Namun, memahami konteks dapat membantu seseorang melihat sejarah keluarganya dengan lebih objektif.
5. Membedakan Warisan Keluarga dari Pilihan Pribadi
Ini merupakan salah satu praktik yang sangat penting.
Ketika seseorang mulai mempelajari asal-usulnya, ada risiko ia menganggap bahwa dirinya sepenuhnya merupakan produk keluarganya.
Misalnya:
"Keluarga saya seperti ini, berarti saya juga akan seperti ini."
Padahal, manusia bukan sekadar hasil dari masa lalu.
Kita memang dipengaruhi oleh keluarga, tetapi kita juga memiliki kemampuan untuk memilih.
Cobalah membuat tiga daftar:
Yang ingin saya pertahankan
Contohnya:
menghargai kerja keras;
menjaga hubungan dengan keluarga;
membantu orang lain;
hidup sederhana;
menghormati orang yang lebih tua.
Yang ingin saya ubah
Misalnya:
pola komunikasi yang kasar;
kebiasaan memendam emosi;
cara menyelesaikan konflik;
kebiasaan menghindari pembicaraan penting.
Yang ingin saya ciptakan sendiri
Misalnya:
cara mendidik anak yang berbeda;
hubungan yang lebih terbuka;
gaya hidup yang lebih sesuai dengan nilai pribadi;
tradisi baru.
Latihan ini membantu seseorang memahami bahwa mengenal asal-usul tidak berarti harus hidup berdasarkan asal-usul tersebut.
Masa lalu dapat menjadi informasi, tetapi tidak harus menjadi takdir.
Anda dapat menghormati keluarga tanpa harus mengulangi semua pola keluarga.
Anda dapat mencintai orang tua tanpa harus memiliki semua nilai mereka.
Anda juga dapat mengakui bahwa ada bagian dari masa lalu yang tidak ingin Anda teruskan.
Inilah salah satu bentuk perkembangan identitas yang sehat: mampu mengatakan,
"Saya berasal dari cerita ini, tetapi saya masih memiliki kesempatan untuk menentukan kelanjutan cerita saya."
6. Membangun Identitas melalui Hubungan dan Pilihan di Masa Sekarang
Ada kesalahpahaman yang cukup umum mengenai asal-usul.
Seseorang mungkin berpikir bahwa ia harus mengetahui seluruh sejarah keluarganya terlebih dahulu agar bisa mengetahui siapa dirinya.
Padahal, identitas tidak hanya ditemukan dengan melihat ke belakang.
Identitas juga dibangun melalui kehidupan yang sedang dijalani sekarang.
Jika Anda hanya memiliki sedikit informasi mengenai keluarga biologis, Anda tetap dapat bertanya:
"Orang seperti apa yang ingin saya menjadi?"
Cobalah memperhatikan pilihan sehari-hari.
Apa yang Anda anggap penting?
Bagaimana Anda memperlakukan orang lain?
Hubungan seperti apa yang ingin Anda bangun?
Nilai apa yang tidak ingin Anda kompromikan?
Apa yang membuat hidup terasa bermakna?
Hal-hal tersebut merupakan bagian dari identitas Anda.
Anda mungkin tidak mengetahui dengan lengkap siapa leluhur Anda.
Namun, Anda dapat mengetahui bahwa Anda ingin menjadi seseorang yang jujur.
Anda mungkin tidak mengetahui seluruh sejarah keluarga.
Namun, Anda dapat memilih untuk menjadi orang tua yang lebih terbuka kepada anak-anak Anda kelak.
Anda mungkin tidak mengetahui dari mana semua kebiasaan keluarga berasal.
Namun, Anda dapat memilih kebiasaan mana yang ingin diteruskan.
Dengan demikian, proses mengenal asal-usul tidak hanya menjadi perjalanan ke masa lalu.
Ia juga dapat menjadi cara untuk menentukan masa depan.
Tidak Mengetahui Asal-Usul Bukan Berarti Tidak Memiliki Identitas
Bagi sebagian orang, pencarian asal-usul dapat memberikan rasa keterhubungan yang selama ini hilang.
Namun, bagi sebagian lainnya, proses tersebut mungkin justru membuka luka lama.
Karena itu, tidak perlu memaksakan diri.
Anda tidak harus menemukan semua jawaban.
Tidak semua keluarga memiliki sejarah yang terdokumentasi dengan baik. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bertanya kepada orang tua atau kakek-nenek. Ada pula informasi yang mungkin memang tidak pernah diketahui.
Dalam kondisi seperti itu, menerima ketidaklengkapan juga merupakan bagian dari proses.
Anda dapat mengatakan kepada diri sendiri:
"Ada bagian dari cerita hidup saya yang saya ketahui, ada bagian yang belum saya ketahui, dan ada kemungkinan beberapa bagian tidak akan pernah saya ketahui."
Dan itu tidak membuat kehidupan Anda menjadi kurang berarti.
Identitas manusia bukan sebuah teka-teki yang harus diselesaikan secara sempurna.
Ia lebih mirip sebuah cerita yang terus berkembang.
Asal-usul dapat memberikan bab-bab awal, tetapi kehidupan yang Anda jalani sekarang juga merupakan bagian penting dari cerita tersebut.
Penutup
Bagi orang yang kurang mengenal asal-usulnya, pencarian identitas tidak harus dimulai dengan pertanyaan besar.
Mulailah dari hal-hal sederhana.
Tuliskan apa yang Anda ingat.
Tanyakan cerita kepada orang yang masih bisa ditanya.
Perhatikan foto dan dokumen lama.
Pelajari lingkungan tempat keluarga berasal.
Pisahkan warisan keluarga dari pilihan pribadi.
Dan yang paling penting, bangun identitas melalui keputusan yang Anda buat hari ini.
Enam praktik tersebut bukan cara untuk menemukan satu jawaban final tentang "siapa saya sebenarnya."
Sebaliknya, praktik tersebut membantu seseorang memahami bahwa identitas terbentuk dari hubungan antara masa lalu, pengalaman sekarang, dan pilihan yang dibuat untuk masa depan.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak selalu bisa mengetahui seluruh cerita tentang dari mana kita berasal.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Rusia vs Nigeria: Tuan Rumah On Fire, Super Eagles Kehilangan Banyak Pemain
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Skor Belarusia vs Finlandia di UEFA Nations League: Huuhkajat Menang Tipis di Budapest
Alasan Ole Romeny Selebrasi Bawa Jersey Marselino saat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022