seseorang yang melakukan kesalahan fatal kepada pasangannya. (Magnific)
Seseorang mungkin masih mengatakan, “Aku sayang kamu,” tetapi di dalam dirinya mulai muncul rasa lelah, kecewa, tidak aman, atau bahkan tidak lagi merasa dihargai.
Menariknya, psikologi hubungan menunjukkan bahwa bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana pasangan mengalami perlakuan tersebut yang dapat menentukan apakah hubungan semakin kuat atau justru semakin renggang.
Ada perilaku tertentu yang awalnya terlihat sepele, tetapi jika dilakukan berulang kali dapat mengubah cara seseorang memandang pasangannya. Dari yang awalnya merasa nyaman menjadi waspada. Dari merasa dicintai menjadi merasa sendirian. Dan dari ingin mempertahankan hubungan menjadi bertanya-tanya, “Sebenarnya untuk apa aku bertahan?”
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), terdapat tujuh kesalahan yang paling berbahaya dalam hubungan.
1. Meremehkan Perasaan Pasangan
Salah satu kesalahan paling fatal adalah membuat pasangan merasa bahwa emosinya tidak penting.
Contohnya:
“Kamu terlalu sensitif.”
“Gitu saja dipikirin.”
“Kamu lebay.”
“Aku kan cuma bercanda.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus-menerus diterima, pasangan dapat mulai merasa bahwa dirinya tidak aman untuk mengekspresikan emosi.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang tidak harus selalu setuju dengan perasaan pasangannya. Tetapi ia perlu mengakui bahwa perasaan tersebut nyata bagi orang yang mengalaminya.
Misalnya, pasangan merasa sedih karena kita membatalkan janji. Kita mungkin menganggap masalah tersebut kecil. Tetapi bagi pasangan, yang menyakitkan bukan sekadar batalnya janji. Bisa jadi yang terasa menyakitkan adalah perasaan bahwa dirinya tidak diprioritaskan.
Perbedaannya sangat besar.
Alih-alih mengatakan:
“Kamu berlebihan.”
Lebih sehat mengatakan:
“Aku mengerti kenapa kamu kecewa. Aku memang salah karena membatalkan janji tanpa mempertimbangkan perasaanmu.”
Mengakui emosi pasangan bukan berarti mengakui bahwa kita selalu salah.
Ini berarti kita bersedia memahami pengalaman orang yang kita cintai.
Mengapa ini bisa menghilangkan perasaan?
Karena cinta membutuhkan rasa aman secara emosional.
Jika seseorang berkali-kali merasa bahwa emosinya ditolak, lama-kelamaan ia mungkin berhenti bercerita. Setelah berhenti bercerita, kedekatan emosional ikut berkurang.
Dan ketika komunikasi emosional menghilang, hubungan bisa berubah menjadi sekadar rutinitas.
Pasangan masih ada di sebelah kita, tetapi secara emosional terasa semakin jauh.
2. Menggunakan Silent Treatment sebagai Hukuman
Diam tidak selalu berarti buruk.
Kadang seseorang memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum berbicara. Itu sehat.
Masalah muncul ketika diam sengaja digunakan untuk menghukum, mengendalikan, atau membuat pasangan merasa bersalah.
Misalnya, setelah bertengkar seseorang sengaja tidak membalas pesan selama berhari-hari tanpa memberikan penjelasan.
Pasangannya akhirnya mulai bertanya-tanya:
“Apakah dia masih mencintaiku?”
“Aku salah apa?”
“Apakah hubungan ini masih berjalan?”
Ketidakpastian seperti ini dapat menjadi sangat melelahkan secara emosional.
Ada perbedaan besar antara:
“Aku sedang terlalu emosi. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Nanti malam kita bicara.”
dengan:
“Terserah. Aku tidak mau bicara dengan kamu.”
Yang pertama adalah regulasi emosi.
Yang kedua dapat menjadi bentuk hukuman emosional.
Mengapa ini berbahaya?
Hubungan membutuhkan kemampuan untuk memperbaiki konflik.
Setiap pasangan pasti pernah bertengkar. Yang membedakan hubungan sehat dan hubungan tidak sehat bukan apakah mereka pernah konflik, tetapi apakah mereka mampu kembali terhubung setelah konflik.
Jika setiap masalah berakhir dengan pengabaian, pasangan dapat belajar bahwa konflik berarti kehilangan koneksi.
Lama-kelamaan, ia mungkin tidak lagi berusaha menyelesaikan masalah.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tetapi karena ia sudah kehabisan energi untuk memperjuangkan hubungan.
Dan ketika seseorang sudah sampai pada tahap tersebut, perasaan cinta bisa berubah menjadi rasa lelah.
3. Terlalu Sering Mengkritik dan Menyerang Karakter
Ada perbedaan antara mengkritik perilaku dan menyerang kepribadian.
Contohnya:
Kritik terhadap perilaku:
“Aku kecewa karena kamu tidak memberi kabar ketika pulang terlambat.”
Serangan terhadap karakter:
“Kamu memang selalu egois.”
Kalimat pertama membahas sebuah tindakan.
Kalimat kedua menyerang identitas seseorang.
Perbedaan ini sangat penting.
Ketika seseorang terus-menerus diberi label seperti:
egois,
bodoh,
malas,
kekanak-kanakan,
tidak dewasa,
tidak berguna,
ia bukan hanya mendengar kritik terhadap satu kesalahan.
Ia mulai mendapatkan pesan bahwa dirinya sendiri adalah masalah.
Jika pola tersebut berlangsung lama, rasa hormat dalam hubungan dapat terkikis.
Cinta membutuhkan rasa hormat
Ketertarikan romantis tidak hanya dibangun oleh rasa sayang.
Ada unsur lain yang sangat penting: penghargaan terhadap pasangan.
Sulit mempertahankan ketertarikan terhadap seseorang ketika kita merasa terus-menerus diremehkan.
Begitu pula sebaliknya.
Seseorang yang terus dihina oleh pasangannya mungkin akhirnya tidak lagi melihat pasangannya sebagai tempat yang aman.
Pada titik tertentu, yang hilang bukan hanya rasa nyaman.
Rasa kagum pun dapat menghilang.
Dan ketika rasa kagum serta rasa hormat menghilang, ketertarikan romantis sering kali ikut melemah.
4. Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain
“Lihat temanmu, dia bisa lebih perhatian.”
“Kenapa kamu tidak seperti mantanku?”
“Suami orang lain saja bisa melakukan itu.”
“Pacar teman-temanku lebih romantis.”
Mungkin maksud awalnya adalah memberikan contoh.
Tetapi bagi pasangan, pesan yang diterima bisa sangat berbeda:
“Aku tidak cukup baik untukmu.”
Perbandingan yang terus-menerus dapat membuat seseorang merasa sedang mengikuti sebuah kompetisi yang tidak pernah bisa dimenangkan.
Hari ini dibandingkan dengan mantan.
Besok dibandingkan dengan pasangan orang lain.
Minggu depan dibandingkan dengan seseorang di media sosial.
Akhirnya pasangan mulai merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak pernah cukup.
Mengapa ini bisa membunuh perasaan?
Karena hubungan romantis membutuhkan rasa diterima.
Tentu setiap orang memiliki kekurangan dan pasangan boleh menyampaikan kebutuhan.
Namun ada perbedaan antara:
“Aku ingin kamu lebih sering menunjukkan perhatian.”
dan:
“Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?”
Kalimat pertama mengomunikasikan kebutuhan.
Kalimat kedua menciptakan rasa tidak mampu.
Jika seseorang terus merasa dirinya kalah dibandingkan orang lain, ia dapat berhenti berusaha mendapatkan cinta dari pasangannya.
Bukan karena tidak peduli.
Tetapi karena merasa tidak mungkin memenuhi standar tersebut.
5. Menganggap Pasangan Akan Selalu Ada
Ini salah satu jebakan terbesar dalam hubungan jangka panjang.
Pada awal hubungan, seseorang biasanya sangat memperhatikan pasangannya.
Membalas pesan.
Mendengarkan cerita.
Mengucapkan terima kasih.
Mengajak pergi.
Menanyakan kabar.
Namun setelah hubungan terasa aman, usaha tersebut kadang mulai menghilang.
Pasangan mulai dianggap sebagai sesuatu yang otomatis tersedia.
Tidak lagi ada ucapan terima kasih.
Tidak lagi ada usaha untuk menghabiskan waktu bersama.
Tidak lagi bertanya bagaimana hari pasangan.
Bahkan ketika pasangan melakukan sesuatu yang baik, semuanya dianggap biasa.
Masalahnya bukan kurangnya hadiah
Sering kali orang berpikir bahwa menjaga hubungan membutuhkan hal-hal besar.
Padahal, banyak hubungan justru bertahan karena perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten.
Contohnya:
“Terima kasih sudah menungguku.”
“Hari ini kamu kelihatan capek. Istirahat dulu.”
“Aku senang kamu ada di hidupku.”
“Gimana harimu?”
Kalimat-kalimat sederhana seperti ini memberikan pesan:
“Aku masih melihatmu.”
Ketika seseorang berhenti merasa dilihat dan dihargai, hubungan bisa terasa kosong.
Mereka mungkin masih tinggal bersama.
Masih makan bersama.
Masih pergi bersama.
Tetapi koneksi emosionalnya perlahan menghilang.
6. Mengkhianati Kepercayaan, Bahkan Jika Bukan Perselingkuhan
Ketika mendengar kata “pengkhianatan”, banyak orang langsung berpikir tentang perselingkuhan.
Padahal kepercayaan dalam hubungan dapat rusak melalui banyak cara.
Misalnya:
berbohong tentang sesuatu yang penting,
menyembunyikan informasi,
mengingkari janji berkali-kali,
membocorkan rahasia pasangan,
menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata ketika bertengkar,
atau mengatakan sesuatu yang sangat pribadi kepada orang lain tanpa izin.
Masalah utamanya bukan hanya tindakan tersebut.
Masalahnya adalah perubahan persepsi terhadap pasangan.
Seseorang yang sebelumnya berpikir:
“Aku bisa mempercayainya.”
dapat berubah menjadi:
“Aku harus berhati-hati di dekatnya.”
Dan ketika seseorang mulai merasa harus menjaga diri dari pasangannya sendiri, keintiman akan sulit berkembang.
Kepercayaan jauh lebih sulit dibangun daripada dihancurkan
Seseorang mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun rasa percaya.
Tetapi satu kejadian besar dapat membuat semuanya berubah.
Karena itu, ketika kepercayaan rusak, meminta maaf saja terkadang belum cukup.
Perlu ada perubahan perilaku yang konsisten.
Pasangan perlu melihat bahwa kata-kata kita sesuai dengan tindakan.
Tanpa itu, permintaan maaf hanya menjadi suara yang berulang.
7. Berhenti Berusaha Memahami Pasangan
Kesalahan terakhir mungkin terlihat paling sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Yaitu ketika seseorang sudah tidak lagi memiliki rasa ingin tahu terhadap pasangannya.
Ia berhenti bertanya:
“Kenapa kamu merasa seperti itu?”
“Apa yang sebenarnya kamu butuhkan?”
“Apa yang membuatmu takut?”
“Apa yang bisa aku lakukan agar kita lebih baik?”
Sebaliknya, ia langsung berasumsi.
“Dia memang begitu.”
“Sudah tahu sifatnya.”
“Dia pasti cari masalah.”
“Percuma bicara dengannya.”
Ketika asumsi menggantikan rasa ingin tahu, komunikasi mulai mati.
Hubungan membutuhkan dua orang yang terus belajar satu sama lain
Manusia berubah.
Prioritas berubah.
Kebutuhan berubah.
Cara seseorang memandang kehidupan juga dapat berubah.
Orang yang kita cintai lima tahun lalu mungkin masih orang yang sama secara fisik, tetapi pengalaman hidupnya sudah membentuk dirinya menjadi pribadi yang berbeda.
Karena itu, hubungan tidak cukup hanya dengan mengenal pasangan sekali.
Kita perlu terus mengenalnya.
Pasangan yang sehat bukan berarti dua orang yang selalu memahami satu sama lain dengan sempurna.
Tetapi dua orang yang masih memiliki keinginan untuk memahami.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Membuat Perasaan Hilang?
Sering kali bukan satu kesalahan.
Perasaan bisa berubah ketika seseorang terlalu lama mengalami pola yang sama:
tidak didengarkan → tidak dihargai → tidak merasa aman → berhenti terbuka → berhenti berharap → berhenti berusaha.
Pada awalnya seseorang mungkin masih marah.
Lalu kecewa.
Kemudian sedih.
Setelah itu lelah.
Dan akhirnya... tidak merasakan apa-apa.
Tahap terakhir inilah yang sering disalahartikan.
Orang mengira pasangan yang sudah tidak marah berarti masalah telah selesai.
Padahal terkadang sebaliknya.
Marah masih menunjukkan bahwa seseorang peduli.
Ketika seseorang sudah tidak ingin berdebat, tidak ingin menjelaskan, tidak ingin meminta perubahan, dan tidak lagi peduli dengan apa yang dilakukan pasangannya, bisa jadi ia sudah mengalami kelelahan emosional.
Bagaimana Cara Mencegah Perasaan Hilang?
Tidak ada hubungan yang sempurna.
Setiap pasangan pasti pernah salah.
Yang paling penting bukan menjadi pasangan yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan menjadi pasangan yang mampu memperbaiki kesalahan.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu:
1. Dengarkan sebelum membela diri
Jangan langsung mencari alasan.
Coba pahami terlebih dahulu mengapa pasangan terluka.
2. Kritik perilakunya, bukan harga dirinya
Katakan:
“Aku tidak suka ketika kamu membatalkan janji tanpa memberi tahu.”
Bukan:
“Kamu memang orang yang tidak bisa dipercaya.”
3. Berikan apresiasi
Jangan hanya berbicara ketika ada masalah.
Sesekali beri tahu pasangan bahwa usaha mereka terlihat.
4. Belajar meminta maaf dengan benar
Permintaan maaf yang sehat bukan:
“Maaf kalau kamu tersinggung.”
Tetapi:
“Aku sadar perkataanku tadi menyakitimu. Aku seharusnya tidak mengatakannya seperti itu.”
5. Jangan gunakan kelemahan pasangan sebagai senjata
Hal-hal yang diceritakan pasangan dalam kondisi rentan seharusnya menjadi sesuatu yang dijaga, bukan amunisi ketika bertengkar.
6. Jangan berhenti berkencan
Hubungan jangka panjang tetap membutuhkan momen untuk terhubung.
Tidak harus mahal.
Makan bersama tanpa memainkan ponsel, berjalan sore, atau berbicara sebelum tidur pun bisa menjadi bentuk kedekatan.
7. Perbaiki konflik, bukan sekadar memenangkannya
Dalam hubungan, memenangkan argumen tetapi kehilangan kedekatan bukanlah kemenangan.
Tujuan konflik seharusnya bukan mencari siapa yang paling benar.
Tujuannya adalah menemukan cara agar hubungan menjadi lebih baik setelah konflik selesai.
Penutup: Cinta Jarang Hilang dalam Satu Malam
Perasaan romantis memang bisa berubah dengan cepat setelah sebuah kejadian besar. Tetapi dalam banyak hubungan, hilangnya perasaan merupakan hasil dari akumulasi pengalaman emosional yang terjadi berulang kali.
Satu komentar mungkin tidak menghancurkan hubungan.
Satu pertengkaran juga belum tentu membuat seseorang berhenti mencintai.
Tetapi ketika seseorang berkali-kali merasa diremehkan, diabaikan, dibandingkan, tidak dipercaya, atau tidak dihargai, otaknya dapat mulai mengasosiasikan hubungan tersebut dengan rasa sakit daripada rasa aman.
Pada akhirnya, orang tidak selalu pergi karena sudah menemukan orang lain.
Kadang mereka pergi karena sudah terlalu lama merasa sendirian meskipun sedang berada dalam sebuah hubungan.
Karena itu, jika ingin mempertahankan perasaan dalam hubungan, jangan hanya bertanya:
“Apakah pasangan masih mencintaiku?”
Coba tanyakan juga:
“Apakah pasangan masih merasa aman bersamaku?”
“Apakah dia merasa didengar?”
“Apakah dia merasa dihargai?”
“Apakah dia masih merasa menjadi dirinya sendiri ketika bersamaku?”
Karena cinta bukan hanya tentang perasaan yang muncul di awal hubungan.
Cinta juga tentang bagaimana dua orang memperlakukan satu sama lain setelah rasa jatuh cinta mulai menjadi kehidupan sehari-hari.
Dan sering kali, perasaan tidak hilang karena cinta itu lemah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Catatan Buruk Los Che Bisa Berlanjut di El Sardinero
Prediksi Skor Atalanta vs Venezia: La Dea Diburu Krisis, Tim Tamu Lebih Mengenaskan
Prediksi Skor Troyes vs Marseille: Les Phoceens Bidik Pesta Gol, Misi Keluar dari Zona Degradasi!
Prediksi Skor Real Betis vs Osasuna: Rekor Pertemuan Berpihak kepada Los Verdiblancos
Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Real Sociedad vs Deportivo La Coruna: Tuan Rumah Bidik Kemenangan di La Liga
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Freiburg vs Schalke 04 di Bundesliga: Tim Tamu Punya Misi Memutus Tren Buruk

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022