seseorang yang sering jatuh cinta pada orang yang kurang baik. (Magnific)
Kita mungkin pernah berada dalam hubungan yang secara logika sebenarnya tidak sehat. Orang tersebut sering mengabaikan kita, sulit memberikan kepastian, membuat kita merasa tidak cukup, atau bahkan memperlakukan kita dengan buruk. Namun anehnya, semakin sadar bahwa hubungan itu tidak baik, semakin sulit pula untuk melepaskannya.
Di titik tertentu, kita mungkin bertanya kepada diri sendiri: “Kalau dia memang tidak baik untukku, mengapa aku masih mencintainya?”
Jawabannya ternyata tidak sesederhana soal "kurang logis" atau "terlalu bucin". Perasaan cinta tidak selalu bekerja berdasarkan pertimbangan rasional. Ada berbagai proses psikologis yang dapat membuat seseorang tertarik, terikat, bahkan sulit melepaskan diri dari orang yang sebenarnya tidak cocok atau tidak sehat bagi dirinya.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang tidak baik untuk kita.
1. Kita Bisa Tertarik pada Sesuatu yang Terasa Familiar
Salah satu alasan paling kuat adalah karena manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang terasa familiar.
Familiar bukan berarti selalu baik. Sesuatu bisa terasa akrab karena kita pernah mengalaminya berulang kali sejak masa kecil atau hubungan-hubungan sebelumnya.
Misalnya, seseorang yang terbiasa mendapatkan perhatian yang tidak konsisten mungkin secara tidak sadar menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang "normal". Ketika bertemu dengan orang yang hanya sesekali memberikan perhatian, pola itu bisa terasa anehnya familiar.
Sebaliknya, ketika bertemu seseorang yang stabil, konsisten, dan selalu hadir, justru muncul perasaan seperti:
"Kok rasanya biasa saja?"
Padahal, bisa jadi bukan karena orang tersebut kurang menarik. Kita hanya belum terbiasa dengan hubungan yang sehat.
Inilah mengapa terkadang seseorang dapat mengatakan:
"Aku tahu dia memperlakukanku dengan buruk, tapi entah kenapa aku selalu kembali kepadanya."
Ada kemungkinan bahwa yang membuat kita bertahan bukan hanya cinta, tetapi juga rasa familiar terhadap dinamika hubungan tersebut.
Dalam psikologi, pengalaman hubungan awal dapat memengaruhi cara seseorang membentuk ekspektasi mengenai kedekatan, keamanan, dan hubungan romantis. Pola ini sering dibahas melalui konsep attachment atau gaya keterikatan.
Jika sejak awal seseorang belajar bahwa kasih sayang harus diperjuangkan, ditebak, atau diperoleh dengan memenuhi kebutuhan orang lain, ia mungkin lebih mudah menganggap hubungan penuh ketidakpastian sebagai sesuatu yang wajar.
Akibatnya, hubungan yang sebenarnya tidak sehat bisa terasa "seperti rumah".
Dan terkadang, sesuatu terasa seperti rumah bukan karena ia aman, melainkan karena kita sudah terlalu lama tinggal di sana.
2. Ketidakpastian Bisa Membuat Perasaan Terasa Semakin Kuat
Ada fenomena psikologis yang menarik: sesuatu yang tidak selalu kita dapatkan justru bisa membuat kita semakin menginginkannya.
Bayangkan seseorang yang kadang sangat perhatian, tetapi di lain waktu tiba-tiba menjauh.
Hari ini dia mengirim pesan sepanjang malam.
Besok dia menghilang.
Minggu ini dia mengatakan rindu.
Minggu berikutnya dia bersikap dingin.
Pola seperti ini dapat menciptakan ketidakpastian emosional.
Kita mulai bertanya-tanya:
"Dia sebenarnya suka aku atau tidak?"
"Kenapa kemarin dia begitu perhatian, sekarang berubah?"
"Apa yang harus kulakukan supaya dia kembali seperti sebelumnya?"
Perhatian yang datang secara tidak konsisten dapat membuat seseorang terus menunggu "hadiah" berikutnya. Dalam psikologi perilaku, pola penguatan yang tidak konsisten atau intermittent reinforcement dapat membuat suatu perilaku menjadi sangat sulit dihentikan.
Dalam hubungan romantis, hal ini dapat menciptakan siklus:
mendapat perhatian → merasa bahagia → kehilangan perhatian → merasa cemas → berusaha mendapatkan perhatian kembali → mendapat perhatian lagi → merasa sangat bahagia.
Naik-turunnya emosi tersebut dapat membuat hubungan terasa sangat intens.
Masalahnya, intensitas tidak selalu sama dengan kualitas.
Kita sering mengira hubungan yang membuat jantung berdebar, terus memikirkan seseorang, dan penuh drama sebagai hubungan yang "sangat dalam".
Padahal, sebagian dari intensitas itu mungkin berasal dari ketidakpastian.
Hubungan yang sehat terkadang terasa lebih tenang. Tidak selalu ada rasa penasaran, kecemasan, atau drama.
Dan bagi seseorang yang terbiasa dengan hubungan penuh naik-turun, ketenangan tersebut justru bisa disalahartikan sebagai kurangnya chemistry.
3. Kita Bisa Terjebak dalam Harapan bahwa Dia Akan Berubah
Salah satu hal yang membuat kita sulit meninggalkan seseorang adalah harapan.
Bukan hanya mencintai dirinya yang sekarang, tetapi juga mencintai versi dirinya yang kita bayangkan akan muncul suatu hari nanti.
"Sebenarnya dia baik, cuma belum sadar."
"Kalau dia sudah lebih dewasa, pasti berubah."
"Dia sebenarnya sayang, hanya belum bisa menunjukkannya."
"Mungkin kalau aku lebih sabar, dia akan memperlakukanku dengan lebih baik."
Pikiran seperti ini sangat manusiawi.
Ketika kita sudah menginvestasikan banyak waktu, perhatian, energi, dan emosi ke dalam sebuah hubungan, kita ingin percaya bahwa semua itu tidak sia-sia.
Di sinilah kita bisa mengalami apa yang dalam psikologi dikenal sebagai sunk cost effect.
Semakin banyak yang sudah kita investasikan, semakin sulit bagi kita untuk mengakui bahwa mungkin hubungan tersebut memang tidak berjalan seperti yang kita harapkan.
Kita berpikir:
"Aku sudah bertahan selama ini. Masa harus menyerah sekarang?"
Padahal, waktu yang sudah berlalu tidak dapat dikembalikan dengan terus bertahan.
Mencintai seseorang juga tidak otomatis berarti kita mampu mengubahnya.
Seseorang akan berubah ketika dia sendiri menyadari kebutuhan untuk berubah dan bersedia melakukan proses tersebut.
Kita dapat mendukung seseorang.
Kita dapat berkomunikasi.
Kita dapat memberikan kesempatan.
Tetapi kita tidak dapat menjalani proses perubahan atas nama orang lain.
Terkadang yang membuat kita sulit melepaskan bukan karena orang itu begitu sempurna, melainkan karena kita masih berharap suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang kita inginkan.
4. Kita Bisa Mengira "Sulit Didapat" Berarti "Lebih Berharga"
Ada kecenderungan psikologis manusia untuk memberikan nilai lebih tinggi pada sesuatu yang terasa langka atau sulit diperoleh.
Dalam konteks hubungan, hal ini bisa muncul ketika seseorang sangat sulit mendapatkan perhatian dari orang tertentu.
Semakin sulit mendapatkannya, semakin besar pula keinginan untuk memilikinya.
Misalnya, ketika seseorang terus-menerus memberikan perhatian, kita mungkin menganggapnya sebagai hal biasa.
Namun ketika seseorang yang biasanya cuek tiba-tiba memberikan sedikit perhatian, kita bisa merasa sangat bahagia.
Kita bahkan mungkin menganggap momen kecil tersebut sebagai sesuatu yang sangat berarti.
"Dia jarang mengatakan sayang, jadi ketika dia mengatakannya, pasti benar-benar tulus."
Belum tentu.
Kelangkaan perhatian tidak selalu membuat perhatian tersebut menjadi lebih berharga.
Namun otak kita dapat memberikan makna yang sangat besar pada sesuatu yang jarang kita dapatkan.
Inilah salah satu alasan mengapa orang yang sulit didapat kadang terasa jauh lebih menarik daripada orang yang jelas-jelas menyukai kita.
Kita mungkin bukan hanya mengejar orang tersebut.
Kita juga mengejar validasi bahwa kita akhirnya berhasil mendapatkan seseorang yang sulit didapatkan.
Dan ketika keberhasilan mendapatkan seseorang menjadi ukuran harga diri, hubungan dapat berubah menjadi semacam perlombaan.
Bukan lagi:
"Apakah orang ini baik untukku?"
Tetapi:
"Bisakah aku membuat dia memilihku?"
Padahal kedua pertanyaan tersebut sangat berbeda.
5. Kita Kadang Mencari Validasi dari Orang yang Tidak Memberikannya
Ada kalanya kita tertarik pada seseorang karena kita sangat menginginkan pengakuan darinya.
Jika orang tersebut sulit memberikan perhatian, kita bisa menjadi semakin terobsesi untuk mendapatkannya.
Mengapa?
Karena penerimaan dari orang yang kita anggap sulit didapatkan dapat terasa seperti bukti bahwa kita cukup berharga.
Misalnya:
"Kalau dia akhirnya mencintaiku, berarti aku memang cukup menarik."
"Kalau orang seperti dia memilihku, berarti aku berharga."
Masalahnya, harga diri kita kemudian bergantung pada respons orang lain.
Ketika dia memberikan perhatian, kita merasa berharga.
Ketika dia menjauh, kita merasa tidak cukup.
Akibatnya, hubungan tersebut menjadi sangat emosional karena yang dipertaruhkan bukan hanya cinta, tetapi juga identitas dan harga diri.
Kita tidak hanya takut kehilangan pasangan.
Kita takut kehilangan perasaan bahwa diri kita berharga.
Padahal nilai diri seseorang tidak seharusnya ditentukan oleh apakah orang tertentu memilihnya atau tidak.
Orang yang tidak mencintai kita bukan berarti kita tidak layak dicintai.
Dan orang yang mencintai kita juga bukan satu-satunya bukti bahwa kita berharga.
6. Chemistry yang Kuat Tidak Selalu Berarti Kecocokan
Ini mungkin salah satu kesalahpahaman terbesar dalam hubungan romantis.
Kita sering menganggap chemistry sebagai bukti bahwa seseorang adalah pasangan yang tepat.
Padahal, ketertarikan yang sangat kuat tidak selalu berarti hubungan tersebut sehat.
Seseorang bisa membuat kita sangat tertarik tetapi memiliki nilai hidup yang bertentangan dengan kita.
Seseorang bisa membuat kita sangat rindu tetapi tidak mampu memberikan rasa aman.
Seseorang bisa membuat kita merasa "nyambung" tetapi terus-menerus melukai kita.
Ada perbedaan antara ketertarikan dan kecocokan.
Ketertarikan menjawab pertanyaan:
"Seberapa kuat aku tertarik kepadanya?"
Sedangkan kecocokan lebih berkaitan dengan:
"Apakah kami dapat membangun hubungan yang sehat bersama?"
Keduanya tidak selalu berjalan beriringan.
Hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar chemistry.
Kita juga membutuhkan rasa hormat, komunikasi, kepercayaan, batasan yang sehat, nilai yang cukup selaras, dan kemauan dari kedua pihak untuk menjaga hubungan.
Karena itu, ketika seseorang berkata:
"Aku tidak pernah merasakan chemistry seperti ini dengan siapa pun,"
itu mungkin benar.
Tetapi pertanyaan berikutnya tetap perlu diajukan:
"Apakah chemistry ini membuat hidupku lebih baik?"
Sebab hubungan yang terasa luar biasa tetapi terus-menerus menghancurkan kesehatan emosional kita bukan berarti hubungan tersebut luar biasa sehat.
7. Kita Sering Jatuh Cinta pada Potensi, Bukan Kenyataan
Alasan terakhir mungkin yang paling menyakitkan.
Kadang-kadang kita tidak benar-benar mencintai orang yang ada di depan kita.
Kita mencintai potensinya.
Kita melihat bagaimana dia bisa menjadi seseorang yang lebih baik.
Kita membayangkan hubungan yang mungkin terjadi jika dia berubah.
Kita mengingat sisi baiknya dan membayangkan bahwa sisi tersebut suatu hari akan menjadi kepribadian utamanya.
Kita melihat satu kebaikan kecil dan menggunakannya sebagai bukti bahwa:
"Sebenarnya dia orang baik."
Sementara berbagai perilaku yang menyakiti kita terus kita abaikan.
Ini dapat membuat kita hidup dalam hubungan antara kenyataan dan harapan.
Kenyataannya mungkin:
Dia tidak konsisten.
Dia tidak menghargai batasan.
Dia tidak memberikan komitmen.
Dia sering membuat kita merasa tidak aman.
Namun harapannya berkata:
"Suatu hari nanti semuanya akan berbeda."
Semakin besar jarak antara kenyataan dan harapan, semakin besar pula rasa sakit yang mungkin kita alami.
Karena kita terus menunggu seseorang menjadi versi dirinya yang sebenarnya belum pernah dia tunjukkan secara konsisten.
Pada akhirnya, salah satu bentuk kedewasaan emosional adalah kemampuan untuk melihat seseorang berdasarkan perilakunya sekarang, bukan hanya berdasarkan potensinya di masa depan.
Jadi, Mengapa Kita Sulit Melepaskan Orang yang Tidak Baik untuk Kita?
Karena cinta tidak selalu bekerja seperti matematika.
Kita bisa tahu bahwa seseorang tidak cocok dengan kita, tetapi tetap merindukannya.
Kita bisa tahu hubungan itu tidak sehat, tetapi tetap ingin kembali.
Kita bisa memahami semua alasan mengapa harus pergi, tetapi hati kita tetap berharap.
Itu bukan berarti kita bodoh.
Itu berarti kita manusia.
Perasaan membutuhkan waktu untuk mengikuti apa yang sudah dipahami oleh logika.
Karena itu, menyadari bahwa seseorang tidak baik untuk kita bukan berarti kita langsung berhenti mencintainya.
Kadang-kadang prosesnya justru seperti ini:
menyadari → menyangkal → berharap → kecewa → mencoba lagi → lelah → menerima → perlahan melepaskan.
Tidak semua orang yang kita cintai harus menjadi bagian dari hidup kita selamanya.
Ada orang yang hadir untuk memberikan kebahagiaan.
Ada yang hadir untuk memberikan pelajaran.
Ada pula yang membuat kita memahami batas diri, kebutuhan emosional, dan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita toleransi lagi.
Pada Akhirnya, Pertanyaan yang Lebih Penting Bukan "Apakah Aku Mencintainya?"
Ketika sedang jatuh cinta, kita sering bertanya:
"Apakah aku benar-benar mencintainya?"
Tetapi mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
"Apakah hubungan ini baik untukku?"
Apakah aku merasa aman?
Apakah aku dihargai?
Apakah aku bisa menjadi diriku sendiri?
Apakah batasanku dihormati?
Apakah komunikasi kami sehat?
Apakah aku merasa tenang lebih sering daripada merasa cemas?
Apakah hubungan ini membuatku berkembang, atau justru membuatku terus meragukan diriku sendiri?
Dan yang paling penting:
Apakah aku mencintai orang yang benar-benar ada di hadapanku, atau aku sedang mencintai versi dirinya yang aku harapkan akan muncul suatu hari nanti?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung membuat perasaan kita hilang.
Namun pertanyaan itu dapat membantu kita membedakan antara cinta yang sehat dan keterikatan yang membuat kita terus terluka.
Sebab terkadang, melepaskan seseorang bukan berarti cinta kita tidak cukup besar.
Justru bisa menjadi tanda bahwa kita akhirnya belajar mencintai diri sendiri dengan cukup besar untuk mengatakan:
"Aku mencintaimu, tetapi aku juga harus menjaga diriku."
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah salah satu bentuk cinta yang paling dewasa.
Bukan selalu tentang menemukan seseorang yang membuat kita merasakan emosi paling kuat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Catatan Buruk Los Che Bisa Berlanjut di El Sardinero
Prediksi Skor Atalanta vs Venezia: La Dea Diburu Krisis, Tim Tamu Lebih Mengenaskan
Prediksi Skor Troyes vs Marseille: Les Phoceens Bidik Pesta Gol, Misi Keluar dari Zona Degradasi!
Prediksi Skor Real Betis vs Osasuna: Rekor Pertemuan Berpihak kepada Los Verdiblancos
Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Real Sociedad vs Deportivo La Coruna: Tuan Rumah Bidik Kemenangan di La Liga
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Freiburg vs Schalke 04 di Bundesliga: Tim Tamu Punya Misi Memutus Tren Buruk

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022