Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Oktober 2026 | 02.35 WIB

7 Strategi yang Digunakan Orang untuk Mengakhiri Persahabatan yang Menguras Energi Menurut Psikologi

seseorang yang mengakhiri persahabatan yang menguras energi. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Persahabatan seharusnya menjadi salah satu hubungan yang memberikan rasa nyaman, dukungan, dan kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Namun, tidak semua persahabatan berjalan seperti itu. Ada hubungan pertemanan yang justru membuat seseorang merasa lelah secara emosional, terus-menerus tertekan, atau kehilangan energi setelah berinteraksi.


Persahabatan yang menguras energi tidak selalu berarti bahwa teman tersebut adalah orang yang "buruk". Terkadang, masalah muncul karena kebutuhan emosional yang tidak seimbang, batas pribadi yang terus dilanggar, konflik yang berulang, atau pola hubungan yang membuat salah satu pihak merasa harus terus memberi tanpa mendapatkan ruang yang cukup untuk dirinya sendiri.

Dalam psikologi, keputusan untuk mengakhiri sebuah hubungan biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Seseorang sering kali melewati proses panjang berupa evaluasi, munculnya ketidaknyamanan, usaha memperbaiki hubungan, hingga akhirnya menyadari bahwa menjaga jarak mungkin lebih sehat.

Menariknya, orang memiliki cara yang berbeda-beda ketika ingin mengakhiri persahabatan yang sudah terasa melelahkan. Ada yang memilih berbicara secara langsung, ada yang perlahan mengurangi intensitas komunikasi, dan ada pula yang menetapkan batas tegas tanpa memutus hubungan secara dramatis.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (5/10), terdapat tujuh strategi yang umum digunakan seseorang untuk mengakhiri atau menjauh dari persahabatan yang menguras energi, dilihat dari perspektif psikologi.

1. Mengurangi Intensitas Komunikasi Secara Bertahap

Salah satu strategi yang paling sering digunakan adalah mengurangi intensitas komunikasi secara perlahan.

Orang yang sebelumnya selalu membalas pesan dengan cepat mungkin mulai membutuhkan waktu lebih lama. Pertemuan yang dahulu dilakukan setiap minggu menjadi lebih jarang. Percakapan panjang berubah menjadi percakapan singkat. Bahkan, seseorang mungkin mulai berhenti menjadi pihak yang selalu menginisiasi komunikasi.

Dalam psikologi sosial, perubahan frekuensi interaksi dapat memengaruhi kedekatan sebuah hubungan. Persahabatan pada dasarnya dipelihara oleh interaksi yang berulang. Ketika interaksi dikurangi, kedekatan emosional juga dapat berkurang secara perlahan.

Strategi ini sering dipilih oleh orang yang tidak nyaman dengan konfrontasi langsung. Mereka mungkin merasa bahwa mengatakan, "Saya tidak ingin berteman lagi," terlalu menyakitkan atau berpotensi menimbulkan konflik.

Dengan mengurangi komunikasi secara bertahap, seseorang berharap hubungan tersebut dapat berubah secara alami tanpa harus melalui percakapan yang sangat emosional.

Namun, strategi ini memiliki kelemahan.

Jika dilakukan tanpa komunikasi yang jelas, pihak lain mungkin merasa bingung. Ia bisa bertanya-tanya apakah telah melakukan kesalahan atau mengapa hubungan tiba-tiba berubah.

Karena itu, mengurangi intensitas komunikasi bisa menjadi pilihan yang relatif lembut, tetapi tidak selalu menjadi pilihan yang paling sehat jika masalah dalam hubungan sebenarnya membutuhkan percakapan terbuka.

2. Mulai Menetapkan Batasan yang Lebih Tegas

Strategi kedua adalah menetapkan batasan atau boundaries.

Batasan bukan berarti seseorang membenci temannya. Batasan merupakan cara untuk menjelaskan apa yang dapat dan tidak dapat diterima dalam sebuah hubungan.

Misalnya, seseorang mungkin mulai mengatakan:

"Saya tidak bisa selalu tersedia ketika kamu membutuhkan saya."

Atau:

"Saya tidak nyaman kalau masalah pribadi saya dibicarakan kepada orang lain."

Bisa juga:

"Saya sedang membutuhkan waktu untuk diri sendiri, jadi mungkin saya tidak akan sesering dulu membalas pesan."

Secara psikologis, batasan membantu seseorang menjaga sumber daya emosionalnya. Setiap orang memiliki kapasitas yang terbatas untuk memberikan perhatian, waktu, tenaga, dan dukungan kepada orang lain.

Persahabatan yang tidak sehat terkadang ditandai oleh ketidakseimbangan. Salah satu orang selalu menjadi tempat curhat, selalu diminta membantu, atau selalu diharapkan tersedia, sementara kebutuhannya sendiri kurang diperhatikan.

Ketika seseorang mulai menyadari pola tersebut, menetapkan batasan dapat menjadi langkah penting.

Menariknya, reaksi teman terhadap batasan juga bisa memberikan informasi mengenai kualitas hubungan.

Teman yang sehat mungkin kecewa, tetapi tetap berusaha menghormati batasan tersebut. Sebaliknya, jika batasan langsung dianggap sebagai bentuk pengkhianatan, manipulasi, atau alasan untuk membuat seseorang merasa bersalah, hal itu dapat menunjukkan adanya dinamika hubungan yang kurang sehat.

3. Berhenti Merasa Bertanggung Jawab atas Emosi Teman

Banyak orang sulit meninggalkan persahabatan yang melelahkan karena merasa bersalah.

Mereka mungkin berpikir:

"Kalau saya menjauh, dia akan sedih."

"Dia tidak punya banyak teman lain."

"Saya takut dia menganggap saya orang jahat."

"Bagaimana kalau dia membutuhkan saya?"

Perasaan seperti ini dapat membuat seseorang terus mempertahankan hubungan meskipun dirinya sendiri sudah kelelahan.

Salah satu perubahan psikologis yang penting adalah memahami bahwa seseorang tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas emosi orang lain.

Kita memang dapat mempertimbangkan perasaan teman, tetapi kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain merespons keputusan kita.

Menyadari hal tersebut memungkinkan seseorang mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan dan nilai pribadinya, bukan hanya berdasarkan rasa bersalah.

Ini bukan berarti seseorang boleh bersikap kasar atau tidak peduli. Justru sebaliknya, seseorang tetap dapat mengakhiri hubungan dengan penuh empati tanpa merasa wajib mengorbankan kesehatan emosionalnya.

Perbedaannya terletak pada cara berpikir.

"Saya tidak ingin menyakiti perasaannya" adalah bentuk empati.

"Saya harus terus bertahan agar dia tidak kecewa" dapat menjadi beban emosional.

Memahami perbedaan tersebut sering kali membantu seseorang keluar dari hubungan yang sudah tidak sehat baginya.

4. Menghentikan Pola Selalu Menjadi "Penyelamat"

Dalam beberapa persahabatan, satu orang terus berada dalam posisi sebagai penyelamat.

Ia selalu mendengarkan masalah, memberikan solusi, membantu menyelesaikan konflik, meminjamkan waktu, bahkan ikut menanggung beban emosional temannya.

Pada awalnya, perilaku tersebut mungkin terasa bermakna. Seseorang merasa dirinya dibutuhkan dan berguna.

Namun, jika pola tersebut berlangsung terus-menerus dan tidak seimbang, hubungan dapat menjadi sangat melelahkan.

Salah satu strategi untuk keluar dari pola tersebut adalah berhenti secara perlahan mengambil tanggung jawab yang sebenarnya bukan miliknya.

Misalnya, ketika seorang teman terus meminta nasihat mengenai masalah yang sama, seseorang tidak lagi merasa harus memberikan solusi setiap saat.

Ia mungkin mengatakan:

"Saya mengerti kamu sedang menghadapi masalah, tetapi saya rasa keputusan ini perlu kamu ambil sendiri."

Atau:

"Saya bisa mendengarkan sebentar, tetapi saya tidak punya kapasitas untuk membahas masalah ini sepanjang malam."

Secara psikologis, langkah ini membantu mengembalikan tanggung jawab kepada pemilik masalah.

Persahabatan yang sehat memungkinkan kedua orang saling mendukung tanpa membuat salah satu pihak merasa seperti terapis, penyelamat, atau tempat pembuangan seluruh masalah emosional.

Ketika seseorang berhenti memainkan peran tersebut, hubungan terkadang berubah dengan sendirinya. Jika hubungan hanya bertahan karena seseorang terus memberikan bantuan tanpa batas, berkurangnya bantuan dapat membuat ketidakseimbangan tersebut terlihat dengan jelas.

5. Mengalihkan Fokus ke Lingkungan dan Hubungan yang Lebih Sehat

Ketika seseorang mulai merasa tidak nyaman dalam sebuah persahabatan, ia sering kali mulai mencari lingkungan sosial yang lebih sesuai dengan dirinya.

Ia mungkin lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga, rekan kerja, komunitas, atau teman lain yang membuatnya merasa dihargai dan nyaman.

Secara psikologis, ini bukan sekadar "mengganti teman".

Manusia cenderung mengevaluasi hubungan berdasarkan pengalaman emosional yang muncul dari hubungan tersebut. Jika sebuah lingkungan memberikan rasa aman, dihargai, dan diterima, seseorang mungkin secara alami lebih tertarik menghabiskan waktu di lingkungan tersebut.

Sebaliknya, jika sebuah hubungan terus menghasilkan kecemasan, konflik, rasa bersalah, atau kelelahan, seseorang mungkin mulai menarik diri.

Memperluas lingkungan sosial juga dapat membantu seseorang menyadari bahwa ia memiliki pilihan.

Orang yang merasa hanya memiliki satu kelompok pertemanan terkadang lebih takut meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Namun, ketika memiliki jaringan sosial yang lebih luas, ketergantungan emosional terhadap satu hubungan dapat berkurang.

Karena itu, membangun hubungan sosial yang sehat dapat menjadi bagian penting dari proses melepaskan diri dari persahabatan yang menguras energi.

6. Mengurangi Keterbukaan Pribadi

Strategi lain yang sering muncul adalah mengurangi tingkat keterbukaan pribadi.

Jika sebelumnya seseorang selalu menceritakan masalah, rencana, perasaan, atau kehidupan pribadinya kepada seorang teman, ia mungkin mulai menyimpan sebagian informasi tersebut untuk dirinya sendiri.

Percakapan menjadi lebih netral.

Topik pribadi diganti dengan pembicaraan umum. Informasi sensitif tidak lagi dibagikan. Bahkan, seseorang mungkin mulai memilih dengan lebih hati-hati hal-hal apa yang ingin diceritakan.

Dalam hubungan interpersonal, keterbukaan diri merupakan salah satu faktor yang dapat memperkuat kedekatan. Ketika keterbukaan berkurang, tingkat keintiman hubungan pun dapat ikut berubah.

Hal ini bisa menjadi cara seseorang menciptakan jarak emosional tanpa harus langsung memutus kontak.

Namun, strategi ini juga perlu dilakukan secara sadar. Jika seseorang sengaja menggunakan informasi pribadi untuk memanipulasi atau menghukum temannya, situasinya tentu berbeda.

Tujuannya seharusnya bukan untuk membalas atau membuat orang lain merasa tidak berharga, melainkan untuk melindungi privasi dan mengurangi keterikatan emosional ketika hubungan memang sudah tidak terasa sehat.

7. Mengakhiri Persahabatan Secara Langsung dan Jelas

Tidak semua orang memilih pergi secara perlahan.

Sebagian orang akhirnya memilih strategi yang paling jelas: berbicara secara langsung.

Percakapan tersebut tidak harus penuh kemarahan. Justru, komunikasi yang tenang dan tegas sering kali lebih sehat daripada menyimpan rasa kesal selama berbulan-bulan.

Misalnya:

"Saya merasa hubungan kita belakangan ini lebih banyak membuat saya lelah daripada merasa nyaman. Saya menghargai pengalaman yang sudah kita lalui bersama, tetapi saya merasa perlu mengambil jarak dan melanjutkan hidup saya dengan cara yang berbeda."

Pernyataan seperti ini berfokus pada pengalaman pribadi, bukan menyerang karakter orang lain.

Dalam komunikasi interpersonal, penggunaan kalimat berbasis "saya" atau "I-statements" dapat membantu seseorang menyampaikan perasaan tanpa langsung menuduh pihak lain.

Bandingkan:

"Kamu selalu bikin hidup saya capek."

dengan:

"Saya merasa sangat lelah dengan pola hubungan kita akhir-akhir ini."

Pernyataan kedua lebih berfokus pada pengalaman pribadi sehingga berpotensi mengurangi eskalasi konflik.

Tentu, percakapan langsung tidak selalu aman atau tepat untuk semua situasi. Jika seseorang menghadapi perilaku yang sangat manipulatif, agresif, mengancam, atau membuatnya merasa tidak aman, menjaga jarak dengan cara yang lebih aman dapat menjadi prioritas.

Mengapa Mengakhiri Persahabatan Bisa Terasa Sulit?

Banyak orang mengira bahwa mengakhiri persahabatan seharusnya lebih mudah daripada mengakhiri hubungan romantis.

Padahal, kehilangan seorang teman juga dapat menimbulkan kesedihan yang cukup besar.

Persahabatan sering kali terkait dengan kenangan, identitas, rutinitas, dan fase kehidupan tertentu. Seorang teman mungkin telah menjadi bagian dari kehidupan seseorang selama bertahun-tahun.

Karena itu, ketika hubungan tersebut berakhir, seseorang tidak hanya kehilangan interaksi dengan seorang individu. Ia mungkin juga kehilangan kebiasaan, kelompok sosial, tempat berbagi cerita, atau versi dirinya yang muncul dalam hubungan tersebut.

Inilah alasan mengapa seseorang dapat merasa sedih meskipun sebenarnya ia tahu bahwa menjauh adalah keputusan yang tepat.

Perasaan lega dan sedih juga dapat muncul bersamaan.

Seseorang bisa merasa:

"Saya tahu keputusan ini benar, tetapi saya tetap merindukannya."

Kedua perasaan tersebut tidak bertentangan.

Merindukan seseorang tidak selalu berarti kita harus kembali kepada hubungan tersebut. Begitu pula merasa lega tidak berarti kita tidak pernah menghargai persahabatan tersebut.

Tidak Semua Persahabatan Harus Berakhir dengan Konflik

Ada anggapan bahwa sebuah persahabatan harus berakhir karena seseorang melakukan kesalahan besar.

Padahal, tidak selalu demikian.

Terkadang dua orang hanya berkembang ke arah yang berbeda.

Nilai kehidupan berubah. Prioritas berubah. Kebutuhan emosional berubah. Lingkungan berubah. Bahkan cara seseorang memandang dirinya sendiri dapat berubah.

Teman yang dahulu sangat cocok mungkin tidak lagi memiliki kecocokan yang sama beberapa tahun kemudian.

Dalam kondisi seperti ini, mengakhiri atau mengurangi kedekatan tidak selalu berarti ada pihak yang menjadi penjahat.

Ada hubungan yang berakhir bukan karena seseorang jahat, tetapi karena hubungan tersebut sudah tidak lagi sehat atau sesuai bagi kedua pihak.

Memahami hal ini dapat mengurangi kecenderungan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Tanda Bahwa Seseorang Mungkin Membutuhkan Jarak

Tidak ada satu tanda yang secara otomatis membuktikan bahwa sebuah persahabatan harus diakhiri. Namun, beberapa pola dapat menjadi bahan refleksi.

Misalnya:

merasa terus-menerus lelah setelah berinteraksi;
takut mengatakan pendapat karena khawatir memicu konflik;
merasa harus selalu tersedia;
merasa bersalah ketika mengatakan "tidak";
kebutuhan emosional selalu terasa satu arah;
batas pribadi berulang kali tidak dihormati;
sering merasa diremehkan atau tidak dihargai;
hubungan lebih banyak menghasilkan stres daripada rasa nyaman;
merasa tidak bisa menjadi diri sendiri;
terus mempertahankan hubungan terutama karena rasa takut atau rasa bersalah.

Satu atau dua tanda tersebut belum tentu berarti hubungan harus diakhiri. Namun, jika pola tersebut berlangsung lama dan berbagai usaha memperbaiki hubungan tidak berhasil, seseorang mungkin perlu mengevaluasi kembali hubungan tersebut.

Mengakhiri Persahabatan Tidak Harus Berarti Membenci

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang berakhirnya sebuah persahabatan adalah anggapan bahwa seseorang harus membenci temannya terlebih dahulu.

Padahal, seseorang dapat mengakhiri sebuah hubungan sambil tetap menghargai masa lalu.

Kita dapat mengakui bahwa seseorang pernah memberikan pengalaman yang berarti, sekaligus menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi cocok untuk kehidupan kita saat ini.

Ini merupakan bagian dari kedewasaan emosional: mampu membedakan antara menghargai seseorang dan mempertahankan kedekatan dengannya.

Tidak semua orang yang pernah penting dalam hidup kita harus tetap memiliki akses yang sama terhadap kehidupan kita selamanya.

Penutup

Persahabatan yang menguras energi dapat membuat seseorang berada dalam dilema. Di satu sisi, ia ingin mempertahankan hubungan karena sejarah, kenangan, atau rasa peduli. Di sisi lain, ia mulai menyadari bahwa hubungan tersebut memberikan beban emosional yang terlalu besar.

Menurut perspektif psikologi, menjauh dari hubungan yang tidak sehat dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari mengurangi intensitas komunikasi, menetapkan batasan, berhenti merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain, hingga berbicara secara langsung dan tegas.

Yang paling penting bukanlah seberapa dramatis seseorang mengakhiri persahabatan, melainkan apakah keputusan tersebut dilakukan dengan kesadaran, empati, dan penghormatan terhadap batas diri.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan psikologis bukan berarti harus mempertahankan semua hubungan yang pernah kita miliki.

Ada kalanya, melepaskan sebuah persahabatan bukan tanda bahwa kita gagal mempertahankan hubungan, melainkan tanda bahwa kita mulai memahami kebutuhan diri sendiri.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore