Ilustrasi, apa yang dianggap normal oleh Baby Boomer dan Gen X, namun tidak ditolerir Gen Z. (Magnific/ yanalya)
JawaPos.com - Mulai dari pemikiran hingga kebiasaan, generasi tua yang didominasi oleh Baby Boomer dan Gen X memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan generasi muda, yakni Generasi Z atau Gen Z.
Akibatnya, hal-hal yang dianggap normal oleh Generasi Baby Boomer dan Gen X tidak bisa ditolerir oleh Gen Z, seperti dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Kamis (8/10) berikut ini.
1. Panggilan Telepon yang Tak Terduga
Generasi Z jauh lebih memilih mengirim surel atau pesan teks sebagai perantara komunikasi, karena banyak dari mereka merasa cemas saat harus menelepon atau menerima telepon.
Jadi, tidak heran bila mereka sering kali menolak atau tidak menjawab panggilan telepon.
Sebaliknya, Gen X dan Baby Boomer lebih senang berkomunikasi secara tatap muka atau melalui telepon.
Bagi mereka, kesediaan mengangkat telepon atau menelepon seseorang terasa lebih menunjukkan rasa hormat daripada mengirim pesan teks, terutama untuk urusan yang penting.
2. Kunjungan Mendadak ke Rumah
Sama seperti kebiasaan menolak panggilan telepon, Gen Z pun cenderung tidak membukakan pintu jika sedang tidak ingin bersosialisasi.
Mereka merasa sangat terganggu oleh kunjungan mendadak ke rumah, meskipun itu orang tua mereka sendiri.
3. Bekerja di Akhir Pekan
Banyak anggota Gen Z sangat memedulikan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan atau work-life balance.
Jadi, mereka akan menolak bekerja lembur hingga larut malam, bekerja di akhir pekan, atau menerima telepon di luar jam kerja, meski dari atasan mereka, kecuali ada kompensasi yang sepadan atau merasa pekerjaan tersebut bermakna.
Bagi mereka, bekerja hanya sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik sehingga mereka tidak hidup semata-mata untuk bekerja.
Sementara itu, Generasi X dan Baby Boomer memandang loyalitas kepada perusahaan harus dibuktikan baik saat jam kerja maupun di luar jam kerja.
Itu sebabnya, generasi lebih tua rela bekerja di akhir pekan dan menganggap hal ini lumrah, meski kelelahan ekstrem menanti di depan sana.
4. Mencari Harga Termurah saat Belanja
Terlepas dari situasi keuangan, sebagian besar Gen Z berbelanja dengan mengutamakan nilai-nilai yang diyakininya, meski harus mengeluarkan biaya lebih untuk sebuah merek atau bersusah payah membeli bahan makanan organik.
Intinya, mereka lebih mementingkan aspek nutrisi dan kualitas dibandingkan harga.
Sementara Baby Boomer dan Gen X mengutamakan sikap hemat.
Jadi, mereka cenderung mencari harga terbaik meski kondisi keuangan relatif stabil.
5. Acara Sosial Kantor yang Wajib Dihadiri di Luar Jam Kerja
Bagi karyawan Generasi Z, segala sesuatu yang bersifat wajib dalam pekerjaan harus dilakukan di jam kerja, termasuk acara sosial kantor atau kegiatan perusahaan.
Atasan yang kebanyakan berasal dari Gen X atau Baby Boomer yang terbiasa dengan konsep loyalitas perusahaan yang jauh berbeda dan lebih kaku akan menganggap acara-acara ini sebagai kewajiban.
Tapi, Gen Z akan memutuskan sendiri apakah mereka ingin menghadiri acara tersebut atau tidak sama seperti batasan untuk pulang kerja tepat pukul 17.00 yang sering menjadi perbincangan.
6. Mentalitas Pengorbanan Terkait Uang
Generasi lebih tua merasa bangga dengan perjuangan keras yang rela memforsir diri hingga kelelahan dan mengorbankan kenyamanan-kenyamanan kecil demi menabung.
Namun, Gen Z tidak bisa menerima mentalitas pengorbanan semacam itu.
Gen Z lebih bersedia membelanjakan uang untuk pengalaman-pengalaman sederhana serta barang-barang yang mempermudah hidup mereka.
Tidak heran banyak dari mereka yang rela mengeluarkan uang demi secangkir latte dan menunda pencapaian hidup yang penting.
7. Menjalani Masa-Masa Sulit sebagai Pekerja Muda
Generasi muda kini menolak gagasan 'harus membuktikan diri' di tempat kerja sehingga sebagian besar dari mereka tidak tertarik untuk meniti jenjang karier perusahaan.
Ini mengubah total ekspektasi di dunia kera selama ini.
Sementara itu, Baby Boomer dan Gen X bersusah payah membuktikan diri di masa lalu karena memandang jenjang karier adalah hak untuk mereka yang harus didapatkan.
8. Membanggakan Kelelahan Ekstrem dan Burnout
Tumbuh di tengah budaya kerja yang menuntut kesibukan tiada henti, banyak dari Baby Boomer dan Gen X terbiasa menganggap burnout sebagai hal yang wajar.
Pandangan mereka mengenai loyalitas terhadap perusahaan sering kali mendorong untuk memforsir diri hingga kelelahan serta lebih mengutamakan produktivitas dibandingkan kesejahteraan diri sendiri.
Sementara itu, Gen Z tumbuh di tengah tuntutan baru akan fleksibilitas dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Ini membuat Gen Z tidak lagi bisa menerima pola pikir seperti itu.
Tidak hanya lebih sering mengambil cuti dan berpindah-pindah pekerjaan demi menemukan perusahaan yang selaras dengan nilai-nilai mereka, tapi juga secara aktif menjaga waktu pribadi dan kesejahteraan dirinya.***