Tekad yang begitu kuat sejalan dengan etos kerja yang tinggi menjadikan mereka tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tapi juga mengerjakannya dengan sangat baik, sehingga orang lain mau tidak mau mengakuinya.
Masuk akal jika Baby Boomer memandang profesionalisme berdasarkan tampilan luarnya.
Jadi, mereka mengenakan pakaian kerja formal karena meyakini hal itu sebagai representasi visual dari keseriusan bekerja.
Mereka juga menjaga komunikasi tetap formal sebagai bentuk penghormatan terhadap otoritas.
Ini sangat kontras dengan pandangan generasi yang lebih muda.
Tidak heran, Baby Boomer yang masih aktif bekerja sering kali berselisih paham dengan karyawan yang lebih muda akibat perbedaan perspektif.
Namun, menunjukkan sikap profesional akan selalu menjadi prioritas utama generasi ini.
Generasi X (Gen X)
Mereka yang lahir antara tahun 1965 – 1980 berfokus pada hasil akhir dan tidak terlalu memusingkan seberapa profesional penampilannya.
Kemandirian selalu menjadi nomor satu bagi mereka, baik di kehidupan pribadi maupun di tempat kerja.
Ini membuat Gen X selalu ingin menyelesaikan pekerjaan tanpa harus diawasi secara mendetail.
Berbeda dengan Baby Boomer, Generasi X menginginkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang sehat serta tidak terasa membebani.
Hal ini menempatkan Gen X di posisi tengah antara kaum Baby Boomer dan Milenial dalam hal pandangan mengenai profesionalisme.
Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan teladan etos kerja yang kuat dari Baby Boomer, namun juga tidak menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya tujuan hidup.
Gaya kerja Generasi X cenderung lebih mirip Milenial.
Alih-alih menganggap profesionalisme sebagai sebuah pertunjukan yang harus ditampilkan, mereka lebih fokus melakukan apa pun yang diperlukan agar pekerjaan selesai.
Jika hasilnya tidak terlihat sesempurna ekspektasi kaum Baby Boomer, mereka tidak mempermasalahkannya.
Generasi Milenial
Generasi Milenial melanjutkan transisi yang dirintis Gen X menuju bentuk profesionalisme yang lebih santai.
Mereka tidak memiliki reputasi yang baik saat pertama kali mulai bekerja.
Mungkin karena kesan awal dari rekan-rekan kerja yang menganggap kaum Milenial jelas-jelas tidak profesional.
Jadi, meski mereka sudah merasa menjadi karyawan yang cakap, namun rekan-rekan kerja yang lebih senior berpendapat sebaliknya.
Tanpa sadar, ini membentuk citra diri Milenial mengenai apa artinya bersikap profesional, sehingga mereka lebih senang berpakaian santai saat bekerja atau berkomunikasi dengan cara yang berbeda.
Misalnya, mereka tidak memperlakukan pesan terkait pekerjaan layaknya pesan teks biasa, tapi mereka juga tidak terlalu formal, terutama jika situasi tidak menuntutnya.
Ini membuat generasi yang lebih tua bertanya-tanya 'apakah Generasi Milenial benar-benar bersikap profesional?'.
Padahal, kenyataannya, mereka hanya memiliki pandangan sendiri mengenai wujud profesionalisme tersebut.
Bagi mereka yang lahir dalam rentang waktu 1981 – 1996, aspek terpenting dari sikap profesional adalah menyelesaikan pekerjaan.
Mereka juga tidak terlalu memedulikan penampilan saat melakukan hal tersebut.
Generasi Z (Gen Z)
Dunia kerja yang sedang berubah dengan cepat memengaruhi pandangan Generasi Z tentang apa itu profesionalisme.
Memulai karier bukan hal yang mudah bagi Gen Z di tengah anggapan bahwa mereka sama sekali tidak peduli dengan pekerjaan.
Kesenjangan ini kemungkinan besar berawal dari perbedaan nilai yang signifikan antara Gen Z dan pemberi kerja yang umumnya berasal dari generasi yang lebih tua.
Alih-alih sekadar datang dan pulang kerja sesuai jam yang ditentukan, mereka ingin merasa bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang berdampak positif.
Profesionalisme berbeda bagi mereka yang lahir tahun 1997 – 2012.
Mereka berpikir bahwa bertindak secara formal hanya akan menghalanginya melakukan apa yang perlu dilakukan.
Ini terlihat jelas dari cara mereka berkomunikasi, lebih santai dibanding generasi sebelumnya.
Membuat rekan kerja mereka yang lebih tua pasti akan meremehkan mereka, namun bukan berarti Gen Z buruk dalam pekerjaannya.
Mereka hanya tidak ingin terjebak dalam daftar perilaku yang baik dan lupa apa yang benar-benar penting bagi mereka.
Dengan demikian, Gen Z tidak memandang profesionalisme secara tradisional seperti generasi pendahulunya.***