Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Oktober 2026 | 15.43 WIB

6 Alasan Mengapa Semakin Banyak Orang Bercerai meski Telah Bersama Puluhan Tahun Menurut Psikologi

seseorang yang bercerai meski telah bersama lama. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada sesuatu yang sering membuat banyak orang terkejut ketika mendengar kabar perceraian pasangan yang telah menikah selama puluhan tahun.

“Bukankah mereka sudah melewati begitu banyak hal bersama?”

“Bukankah anak-anak mereka sudah besar?”

“Kalau sudah bertahan selama 20 atau 30 tahun, mengapa baru sekarang bercerai?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul karena kita sering menganggap lamanya sebuah pernikahan sebagai bukti bahwa hubungan tersebut pasti kuat. Padahal, dari sudut pandang psikologi, durasi hubungan tidak selalu menunjukkan kualitas hubungan.

Sebuah pasangan bisa tetap bersama selama puluhan tahun karena cinta, tetapi bisa juga karena tanggung jawab, anak, kondisi ekonomi, tekanan sosial, kebiasaan, ketakutan memulai kembali, atau sekadar karena tidak pernah benar-benar mengambil keputusan untuk berpisah.

Menariknya, perceraian setelah puluhan tahun menikah tidak selalu berarti bahwa masalah baru muncul. Dalam banyak kasus, masalah tersebut sudah ada selama bertahun-tahun, tetapi baru mencapai titik ketika salah satu atau kedua pasangan merasa tidak sanggup lagi mempertahankan keadaan yang sama.

Perubahan individu sepanjang hidup juga memainkan peran besar. Orang yang menikah pada usia 20-an belum tentu memiliki kebutuhan, nilai, identitas, atau prioritas yang sama ketika memasuki usia 50-an atau 60-an.

Dengan kata lain, dua orang yang dulu cocok belum tentu selalu cocok dengan versi diri mereka masing-masing di masa depan.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (6/10), terdapat enam alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa memilih mengakhiri pernikahan setelah puluhan tahun bersama.

1. Mereka akhirnya menyadari bahwa selama ini hanya “bertahan”, bukan benar-benar bahagia

Salah satu alasan yang cukup penting adalah munculnya kesadaran bahwa seseorang selama bertahun-tahun sebenarnya hanya menjalani hubungan karena merasa harus bertahan.

Pada tahap awal pernikahan, seseorang mungkin memiliki banyak alasan untuk mempertahankan hubungan.

Ada anak.

Ada tanggung jawab finansial.

Ada keluarga besar.

Ada rumah yang dibangun bersama.

Ada reputasi sosial.

Ada keyakinan bahwa perceraian akan menghancurkan kehidupan anak.

Ada pula harapan bahwa pasangan suatu hari akan berubah.

Karena itu, seseorang dapat belajar beradaptasi dengan ketidakbahagiaan.

Ia mungkin berkata kepada dirinya sendiri:

“Yang penting keluarga tetap utuh.”

“Semua pernikahan memang seperti ini.”

“Tidak apa-apa, nanti juga membaik.”

“Demi anak-anak, saya harus bertahan.”

Masalahnya, strategi bertahan dapat berlangsung sangat lama.

Seseorang bahkan bisa menjadi begitu terbiasa dengan ketidakbahagiaan sehingga menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan.

Namun, ketika kondisi kehidupan berubah, kesadaran tersebut dapat muncul kembali.

Misalnya, anak-anak sudah dewasa dan meninggalkan rumah. Beban pengasuhan berkurang. Karier mulai stabil. Kondisi finansial menjadi lebih mandiri. Atau seseorang mulai memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.

Pada titik tersebut, pertanyaan yang selama bertahun-tahun ditekan bisa muncul:

“Kalau sekarang saya bebas memilih, apakah saya masih ingin menjalani kehidupan seperti ini?”

Pertanyaan tersebut bisa sangat kuat.

Bukan karena seseorang tiba-tiba membenci pasangannya, tetapi karena ia mulai membedakan antara mempertahankan pernikahan dan menjalani kehidupan yang bermakna.

2. Anak-anak sudah dewasa sehingga alasan untuk tetap bersama berubah

Banyak pasangan bertahan dalam pernikahan karena anak.

Ini bukan berarti keputusan tersebut selalu salah. Dalam banyak keluarga, keberadaan anak memang membuat pasangan lebih berhati-hati ketika mempertimbangkan perceraian.

Namun, ketika anak-anak sudah dewasa, struktur kehidupan keluarga dapat berubah secara drastis.

Selama bertahun-tahun, pasangan mungkin memiliki tujuan bersama:

mengurus anak, membayar sekolah, mengatur rumah, membantu anak memasuki perguruan tinggi, membangun karier, dan memastikan keluarga tetap berjalan.

Semua aktivitas tersebut menciptakan peran bersama.

Mereka mungkin tidak lagi merasa sebagai pasangan romantis, tetapi sebagai sebuah tim yang mengelola keluarga.

Ketika anak-anak pergi, fungsi tersebut berkurang.

Rumah yang dahulu ramai tiba-tiba menjadi lebih sepi.

Pasangan yang sebelumnya sibuk dengan jadwal anak-anak kini memiliki lebih banyak waktu berdua.

Ironisnya, kondisi ini terkadang justru membuat masalah yang sebelumnya tertutupi menjadi semakin terlihat.

Selama 20 tahun, pasangan mungkin jarang menyadari betapa jauh mereka telah berkembang ke arah yang berbeda karena hampir seluruh energi mereka terserap dalam kehidupan keluarga.

Setelah anak-anak mandiri, mereka akhirnya berhadapan langsung satu sama lain.

Dan muncul pertanyaan:

“Kalau tidak ada lagi anak yang harus kami besarkan bersama, apa sebenarnya yang membuat kami tetap menjadi pasangan?”

Pertanyaan ini bisa terasa sangat menyakitkan.

Karena terkadang jawabannya bukan cinta atau kedekatan emosional, melainkan hanya kebiasaan dan tanggung jawab.

Inilah salah satu alasan mengapa fase setelah anak meninggalkan rumah dapat menjadi periode penting dalam kehidupan pernikahan.

3. Mereka mengalami perubahan identitas dan mulai merasa “tidak mengenal” satu sama lain

Manusia berubah.

Ini adalah fakta psikologis yang sering kita lupakan ketika membicarakan pernikahan jangka panjang.

Seseorang yang berusia 25 tahun dapat memiliki kebutuhan dan impian yang sangat berbeda ketika berusia 50 tahun.

Ketika menikah muda, seseorang mungkin berfokus pada:

membangun karier,
membeli rumah,
memiliki anak,
meningkatkan kondisi ekonomi,
membangun status sosial,
atau sekadar menciptakan kehidupan yang stabil.

Namun setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, pertanyaan hidup bisa berubah.

Seseorang mulai bertanya:

“Apa yang sebenarnya saya inginkan dari hidup saya?”

“Siapa saya selain sebagai pasangan dan orang tua?”

“Apakah kehidupan yang saya jalani selama ini benar-benar sesuai dengan diri saya?”

Psikologi perkembangan mengenal bahwa manusia terus mengalami perubahan identitas sepanjang kehidupan.

Karena itu, pernikahan jangka panjang sebenarnya menghadapi tantangan yang unik: dua orang harus terus beradaptasi terhadap perubahan satu sama lain.

Masalah muncul ketika salah satu berubah sementara yang lain tidak.

Misalnya, seorang istri mulai ingin melakukan perjalanan, mengembangkan hobi, kembali bekerja, atau mengejar pendidikan.

Sementara suaminya merasa kehidupan seharusnya tetap seperti sebelumnya.

Atau sebaliknya.

Pada awalnya, perbedaan tersebut mungkin dianggap kecil.

Tetapi jika terus berlangsung selama bertahun-tahun, seseorang dapat merasa bahwa dirinya hidup bersama orang yang secara emosional sudah tidak lagi dikenalnya.

Yang menyakitkan bukan hanya perubahan pasangan.

Yang lebih menyakitkan adalah perasaan:

“Saya berubah, tetapi kamu tidak pernah benar-benar mencoba mengenal saya yang sekarang.”

4. Luka dan kebencian yang tidak pernah diselesaikan akhirnya menumpuk

Tidak semua perceraian terjadi karena satu masalah besar.

Kadang-kadang justru karena ratusan masalah kecil yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Pertengkaran yang tidak pernah mendapatkan penyelesaian.

Permintaan maaf yang tidak tulus.

Pengkhianatan yang tidak pernah dipulihkan.

Kritik yang terus berulang.

Perasaan diabaikan.

Ketidakadilan dalam pembagian pekerjaan rumah.

Masalah keuangan.

Kurangnya perhatian.

Kehidupan seksual yang semakin jauh.

Atau bertahun-tahun merasa tidak dihargai.

Satu masalah mungkin dapat ditoleransi.

Namun masalah yang sama jika terjadi berulang kali dapat menciptakan luka emosional yang semakin dalam.

Pada akhirnya, seseorang bukan lagi marah karena kejadian terakhir.

Ia marah karena kejadian terakhir mengingatkannya pada seluruh kejadian sebelumnya.

Misalnya, pasangan lupa melakukan sesuatu.

Bagi orang luar, masalah itu mungkin tampak sepele.

Namun bagi pasangannya, kejadian tersebut dapat terasa seperti:

“Sekali lagi saya yang harus mengurus semuanya.”

“Selama 20 tahun kamu selalu seperti ini.”

“Berapa kali lagi saya harus menjelaskan hal yang sama?”

Artinya, konflik yang terlihat kecil sebenarnya membawa akumulasi pengalaman selama bertahun-tahun.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat mencapai apa yang secara sederhana disebut sebagai kelelahan emosional dalam hubungan.

Ia tidak lagi ingin berdebat.

Tidak lagi ingin menjelaskan.

Tidak lagi berharap.

Dan justru ketika seseorang berhenti berharap, hubungan bisa memasuki fase yang sangat serius.

Karena marah masih menunjukkan adanya keterlibatan emosional.

Tetapi ketika seseorang benar-benar tidak peduli, hubungan dapat menjadi jauh lebih sulit untuk dipulihkan.

5. Kemandirian finansial dan perubahan sosial membuat orang lebih berani mengambil keputusan

Perceraian tidak hanya berkaitan dengan psikologi individu. Kondisi sosial dan ekonomi juga dapat memengaruhi keputusan seseorang.

Dulu, banyak orang merasa bahwa meninggalkan pernikahan yang tidak bahagia hampir mustahil.

Terutama ketika salah satu pasangan tidak memiliki penghasilan sendiri.

Seseorang mungkin berpikir:

“Kalau saya pergi, saya akan hidup bagaimana?”

“Bagaimana dengan rumah?”

“Bagaimana dengan anak-anak?”

“Bagaimana dengan keluarga besar?”

“Bagaimana dengan penilaian masyarakat?”

Ketergantungan seperti itu dapat membuat seseorang tetap berada dalam pernikahan meskipun secara emosional sudah lama tidak bahagia.

Namun seiring perubahan kehidupan sosial, semakin banyak orang yang memiliki akses terhadap pendidikan, pekerjaan, penghasilan sendiri, jaringan sosial, dan informasi mengenai pilihan hidup setelah perceraian.

Akibatnya, keputusan yang dahulu terasa mustahil sekarang mungkin terasa lebih realistis.

Ini bukan berarti semua perceraian terjadi karena seseorang menjadi “lebih egois”.

Dalam beberapa kasus, meningkatnya kemandirian justru memungkinkan seseorang mengambil keputusan yang selama puluhan tahun tidak berani diambil.

Ada perbedaan besar antara:

“Saya tidak bisa meninggalkan hubungan ini.”

dan

“Saya memilih tetap berada dalam hubungan ini.”

Ketika seseorang mulai memiliki kemampuan untuk memilih, ia dapat mengevaluasi kembali kehidupannya dengan cara yang berbeda.

Ironisnya, justru ketika seseorang merasa mampu hidup mandiri, ia mungkin menjadi lebih kritis terhadap kualitas hubungan yang selama ini dijalaninya.

6. Mereka mulai menyadari bahwa waktu yang tersisa terasa lebih berharga

Ini mungkin merupakan salah satu alasan psikologis paling kuat pada perceraian di usia yang lebih matang.

Ketika masih muda, seseorang sering merasa memiliki banyak waktu.

Jika pernikahan sedang tidak bahagia, muncul pikiran:

“Nanti juga membaik.”

“Tunggu anak besar.”

“Tunggu kondisi ekonomi stabil.”

“Nanti setelah pensiun kita bisa memperbaikinya.”

“Nanti kalau situasinya lebih tenang.”

Masalahnya, “nanti” dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Kemudian seseorang memasuki usia 50-an, 60-an, atau lebih.

Kesadaran mengenai waktu berubah.

Orang mulai melihat hidup bukan sebagai sesuatu yang tidak terbatas, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki batas.

Pertanyaan yang muncul bukan lagi:

“Bisakah saya bertahan?”

melainkan:

“Apakah saya ingin menghabiskan sisa hidup saya seperti ini?”

Perubahan perspektif tersebut dapat menghasilkan keputusan yang sangat berbeda.

Seseorang yang selama puluhan tahun rela mengorbankan kebahagiaannya demi keluarga mungkin akhirnya merasa bahwa dirinya juga memiliki hak untuk menjalani kehidupan yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Inilah sebabnya perceraian setelah puluhan tahun menikah terkadang bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba.

Bagi orang yang mengambil keputusan tersebut, prosesnya mungkin sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Yang terlihat tiba-tiba bagi orang lain sebenarnya adalah akhir dari proses psikologis yang sangat panjang.

Mengapa Perceraian Setelah Puluhan Tahun Terlihat Begitu Mengejutkan?

Salah satu alasannya adalah karena kita sering melihat pernikahan dari luar.

Kita melihat pasangan yang masih tinggal serumah.

Masih menghadiri acara keluarga.

Masih merayakan ulang tahun pernikahan.

Masih memiliki foto bersama.

Masih terlihat harmonis di media sosial.

Namun kita tidak melihat percakapan yang terjadi ketika pintu rumah tertutup.

Kita tidak tahu apakah mereka masih berbicara dari hati ke hati.

Kita tidak tahu apakah mereka masih merasa dihargai.

Kita tidak tahu apakah mereka masih memiliki keintiman emosional.

Dan kita tidak tahu berapa lama salah satu dari mereka telah mempertimbangkan untuk pergi.

Karena itu, lamanya sebuah pernikahan bukanlah bukti bahwa hubungan tersebut selalu bahagia.

Begitu pula perceraian setelah puluhan tahun bukan otomatis bukti bahwa seluruh pernikahan tersebut gagal.

Sebuah hubungan bisa memiliki 25 tahun penuh cinta, perjuangan, kebahagiaan, dan pengalaman berharga, tetapi tetap berakhir pada tahun ke-26.

Akhir sebuah hubungan tidak selalu menghapus nilai dari tahun-tahun yang telah dilewati bersama.

Perceraian Bukan Selalu Berarti Tidak Pernah Ada Cinta

Ada anggapan bahwa jika pasangan bercerai setelah 20 atau 30 tahun, berarti salah satu dari mereka pasti sudah tidak pernah mencintai yang lain.

Secara psikologis, kenyataannya jauh lebih kompleks.

Seseorang dapat mencintai pasangannya sekaligus menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi sehat atau sesuai dengan kehidupan yang ingin dijalaninya.

Cinta dan kompatibilitas bukanlah hal yang sama.

Seseorang dapat mencintai orang lain tetapi tidak lagi mampu berkomunikasi dengan baik dengannya.

Seseorang dapat menghargai masa lalu tetapi tidak ingin mengulang pola hidup yang sama.

Seseorang dapat berterima kasih atas puluhan tahun kebersamaan tetapi tetap ingin menjalani kehidupan yang berbeda.

Karena itu, perceraian tidak selalu memiliki narasi sederhana tentang “siapa yang salah”.

Dalam banyak kasus, terdapat dua orang dengan kebutuhan, luka, perubahan, dan harapan yang kompleks.

Yang Sering Tidak Disadari: Pernikahan Jangka Panjang Memerlukan Adaptasi

Mungkin pelajaran terbesar dari fenomena ini adalah bahwa pernikahan tidak cukup hanya dipertahankan.

Pernikahan juga harus diperbarui.

Pasangan yang menikah selama puluhan tahun sebenarnya menjalani banyak fase kehidupan:

pasangan muda,

orang tua baru,

orang tua dengan anak sekolah,

orang tua dengan anak remaja,

pasangan dengan anak dewasa,

hingga akhirnya kembali menjadi dua orang yang hidup berdua.

Setiap fase membutuhkan bentuk hubungan yang berbeda.

Hal yang berhasil ketika anak masih kecil belum tentu berhasil ketika anak sudah dewasa.

Cara berkomunikasi yang efektif pada usia 30 tahun belum tentu cocok ketika pasangan berusia 55 tahun.

Kebutuhan emosional juga berubah.

Karena itu, hubungan yang sehat bukan hanya tentang bertahan menghadapi perubahan.

Hubungan yang sehat juga tentang bersedia mengenal kembali pasangan yang telah berubah.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk mempertahankan ingatan tentang siapa pasangan kita dulu sampai lupa bertanya:

“Siapa kamu sekarang?”

Dan mungkin pertanyaan sederhana itulah yang perlu terus diajukan bahkan setelah 10, 20, atau 30 tahun pernikahan.

Penutup

Perceraian setelah puluhan tahun bersama memang terlihat paradoksal.

Namun dari sudut pandang psikologi, hal tersebut sebenarnya dapat dipahami.

Manusia berubah. Kebutuhan berubah. Prioritas berubah. Anak-anak tumbuh. Kondisi ekonomi berubah. Identitas berkembang. Luka emosional dapat menumpuk. Dan persepsi seseorang terhadap waktu juga berubah seiring bertambahnya usia.

Enam alasan yang sering berperan adalah:

Seseorang akhirnya menyadari bahwa ia selama ini hanya bertahan, bukan benar-benar bahagia.
Anak-anak sudah dewasa sehingga alasan untuk mempertahankan pernikahan ikut berubah.
Perubahan identitas membuat pasangan merasa sudah tidak lagi mengenal satu sama lain.
Luka dan konflik yang tidak pernah diselesaikan menumpuk selama bertahun-tahun.
Kemandirian finansial dan perubahan sosial membuat seseorang lebih mampu mengambil keputusan sendiri.
Kesadaran bahwa waktu hidup terbatas membuat seseorang mengevaluasi kembali bagaimana ia ingin menjalani sisa hidupnya.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah:

“Mengapa mereka baru bercerai setelah puluhan tahun?”

Tetapi:

“Apa yang sebenarnya terjadi selama puluhan tahun tersebut?”

Karena sebuah perceraian yang terjadi hari ini mungkin bukan cerita tentang keputusan yang dibuat hari ini.

Bisa jadi, itu adalah puncak dari ribuan keputusan kecil, percakapan yang tidak pernah terjadi, luka yang tidak pernah sembuh, kebutuhan yang tidak pernah diungkapkan, dan perubahan diri yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Dan justru karena itulah, memahami psikologi hubungan menjadi penting.

Bukan hanya agar kita memahami mengapa seseorang akhirnya memilih pergi, tetapi juga agar kita belajar mengenali kapan sebuah hubungan membutuhkan perhatian—jauh sebelum kedua orang di dalamnya merasa bahwa satu-satunya pilihan yang tersisa adalah berpisah.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore