Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Oktober 2026 | 15.07 WIB

7 Alasan Tukang Bully saat Sekolah Kerap Terlihat Lebih Sukses saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang terlihat lebih sukses. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang dulu dikenal sebagai “tukang bully” di sekolah, tetapi ketika dewasa justru terlihat sukses?

Dulu, ia mungkin dikenal sebagai anak yang suka mengejek teman, mendominasi kelompok, mencari perhatian, bahkan membuat orang lain takut. Anehnya, beberapa tahun kemudian, orang yang sama bisa terlihat memiliki karier bagus, banyak koneksi, percaya diri, bahkan menjadi sosok yang cukup berpengaruh.

Fenomena seperti ini sering membuat orang bertanya-tanya:

“Kok bisa? Bukankah dulu dia yang suka merundung orang lain?”

Jawabannya ternyata tidak sesederhana “orang jahat menjadi sukses”.

Dalam psikologi, perilaku bullying merupakan fenomena yang kompleks. Pelaku bullying bisa memiliki berbagai karakteristik dan latar belakang. Sebagian mungkin memiliki kebutuhan kuat untuk mendapatkan status sosial, sebagian memiliki kemampuan membaca dinamika kelompok, sementara sebagian lainnya menggunakan agresi sebagai cara memperoleh kendali.

Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi:

Tidak semua pelaku bullying akan sukses ketika dewasa.

Bahkan, perilaku bullying yang terus terbawa hingga dewasa dapat berkaitan dengan berbagai masalah sosial, hubungan interpersonal, dan perilaku bermasalah. Jadi, artikel ini bukanlah pembenaran terhadap bullying.

Yang menarik adalah memahami mengapa sebagian mantan pelaku bullying dapat terlihat lebih berhasil secara sosial atau profesional ketika mereka dewasa.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (6/10), terdapat tujuh kemungkinan penjelasannya menurut perspektif psikologi.

1. Mereka Terbiasa Mengambil Risiko dan Berani Menghadapi Konfrontasi

Salah satu karakteristik yang terkadang terlihat pada pelaku bullying adalah keberanian menghadapi konflik.

Di lingkungan sekolah, anak yang suka mendominasi mungkin terbiasa mengambil posisi paling depan, menantang orang lain, atau melakukan sesuatu yang tidak berani dilakukan teman-temannya.

Masalahnya, keberanian tersebut dapat digunakan untuk tujuan yang salah.

Namun ketika seseorang tumbuh dewasa dan belajar mengendalikan perilaku agresifnya, sebagian karakter tersebut dapat berubah menjadi keberanian mengambil keputusan.

Dalam dunia kerja, seseorang sering menghadapi situasi yang membutuhkan keberanian.

Misalnya:

berani menyampaikan pendapat;
berani melakukan negosiasi;
berani mengambil keputusan sulit;
berani menghadapi penolakan;
berani memulai bisnis;
berani mengambil peluang yang belum pasti.

Orang yang terlalu takut gagal mungkin tidak pernah mengambil langkah pertama.

Sementara seseorang yang memiliki toleransi lebih tinggi terhadap konflik dan ketidakpastian mungkin lebih cepat mencoba.

Di sinilah perilaku yang dahulu menjadi masalah bisa mengalami perubahan fungsi.

Agresi bukanlah keberanian.

Tetapi seseorang yang dahulu memiliki kecenderungan menghadapi konflik secara agresif dapat belajar mengubah energinya menjadi ketegasan atau assertiveness.

Perbedaannya sangat besar.

Orang agresif ingin menang dengan mengorbankan orang lain.

Orang asertif berani memperjuangkan kepentingannya tanpa harus merendahkan orang lain.

Jika seorang mantan pelaku bullying berhasil mengalami perkembangan psikologis ke arah yang lebih sehat, keberanian menghadapi konflik tersebut dapat menjadi modal dalam kehidupan profesional.

2. Mereka Lebih Cepat Memahami Dinamika Status dan Kelompok Sosial

Bullying hampir selalu terjadi dalam konteks sosial.

Ada pelaku, korban, penonton, kelompok pertemanan, serta struktur status di dalam kelompok.

Artinya, sebagian pelaku bullying sejak usia muda mungkin sangat memperhatikan pertanyaan seperti:

“Siapa yang berpengaruh?”

“Siapa yang dihormati?”

“Siapa yang mengikuti siapa?”

“Bagaimana cara mendapatkan perhatian kelompok?”

Kemampuan memahami hierarki sosial ini tidak selalu buruk.

Justru dalam kehidupan dewasa, kemampuan membaca situasi sosial merupakan salah satu keterampilan yang penting.

Dalam organisasi, misalnya, seseorang perlu memahami:

siapa yang memiliki pengaruh;
bagaimana keputusan dibuat;
siapa yang perlu diajak bekerja sama;
bagaimana membangun hubungan;
bagaimana menyampaikan ide;
bagaimana membaca suasana kelompok.

Mantan pelaku bullying mungkin sudah sangat familiar dengan dinamika tersebut sejak usia muda.

Namun sekali lagi, kemampuan membaca situasi sosial tidak sama dengan kemampuan membangun hubungan yang sehat.

Seseorang dapat sangat pandai membaca orang lain tetapi tetap buruk dalam memperlakukan mereka.

Karena itu, kemampuan tersebut baru menjadi kekuatan ketika dipadukan dengan empati, kontrol diri, dan kemampuan bekerja sama.

3. Mereka Bisa Memiliki Kepercayaan Diri yang Lebih Tinggi

Ada perbedaan antara percaya diri dan merasa lebih unggul daripada orang lain.

Tetapi dari luar, keduanya terkadang terlihat mirip.

Seseorang yang sejak remaja terbiasa menjadi pusat perhatian kelompok mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya mampu memengaruhi lingkungan.

Ia terbiasa berbicara.

Terbiasa mengambil keputusan.

Terbiasa diperhatikan.

Terbiasa mendapatkan respons dari orang lain.

Pengalaman sosial semacam itu dapat membuat seseorang merasa nyaman berada di tengah kelompok.

Sementara itu, orang yang sejak kecil sangat takut dinilai orang lain mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun rasa percaya diri.

Ketika dewasa, perbedaan ini dapat terlihat dalam situasi seperti:

wawancara kerja, presentasi, negosiasi, networking, kepemimpinan, atau membangun bisnis.

Orang yang nyaman berbicara dan mengambil ruang cenderung lebih mudah terlihat oleh orang lain.

Namun, penting untuk memahami bahwa percaya diri tidak selalu berarti kompeten.

Seseorang bisa terlihat sangat percaya diri tetapi sebenarnya kurang mampu.

Sebaliknya, seseorang yang pendiam bisa memiliki kemampuan luar biasa tetapi tidak selalu pandai menampilkannya.

Karena itu, jika seorang mantan pelaku bullying menjadi sukses, bukan berarti bullying-lah yang membuatnya sukses.

Bisa saja yang berperan adalah kemampuan sosial atau kepercayaan diri yang kemudian berkembang ke arah yang lebih positif.

4. Mereka Terbiasa Mendapatkan Respons dari Lingkungan

Anak yang melakukan bullying biasanya mendapatkan respons tertentu dari lingkungannya.

Korban mungkin takut.

Teman-teman mungkin tertawa.

Sebagian orang mungkin mengikuti.

Guru mungkin memberikan hukuman.

Dengan kata lain, perilakunya menghasilkan konsekuensi sosial yang jelas.

Dalam psikologi perilaku, perilaku yang mendapatkan konsekuensi tertentu dapat menjadi semakin kuat atau semakin berkurang, tergantung pada lingkungan.

Masalahnya muncul ketika seorang anak belajar bahwa:

“Kalau saya melakukan X, orang lain akan bereaksi.”

Jika respons tersebut memberikan perhatian atau status, perilaku tersebut berpotensi terus berulang.

Namun ketika dewasa, pola mencari respons ini dapat muncul dalam bentuk yang lebih konstruktif.

Misalnya, seseorang sangat termotivasi ketika mendapatkan:

pengakuan;
penghargaan;
tanggung jawab;
target;
kompetisi;
kesempatan memimpin.

Orang seperti ini mungkin menyukai lingkungan yang memberikan umpan balik secara cepat.

Dunia bisnis dan profesional sering menyediakan hal tersebut.

Ada target penjualan.

Ada promosi.

Ada penghargaan.

Ada jabatan.

Ada kompetisi.

Ada hasil yang bisa diukur.

Karena itu, individu yang sangat termotivasi oleh status atau pengakuan sosial dapat terlihat sangat ambisius ketika dewasa.

Namun motivasi seperti ini memiliki dua kemungkinan.

Jika dikombinasikan dengan etika dan kedewasaan, ia bisa menghasilkan prestasi.

Jika tidak, ia dapat berubah menjadi perilaku manipulatif, kompetisi tidak sehat, atau kebutuhan berlebihan untuk menguasai orang lain.

5. Sebagian dari Mereka Memiliki Sifat Dominan yang Kemudian Berguna dalam Kepemimpinan

Kepemimpinan membutuhkan kemampuan memengaruhi orang lain.

Menariknya, kemampuan memengaruhi orang lain juga merupakan bagian dari dinamika bullying.

Tetapi sekali lagi, memengaruhi orang lain tidak selalu berarti memimpin dengan baik.

Ada perbedaan besar antara:

“Orang mengikuti saya karena takut.”

dan

“Orang mengikuti saya karena percaya kepada saya.”

Ketika masih sekolah, seorang anak mungkin mendapatkan pengaruh dengan cara pertama.

Namun ketika dewasa, ia bisa belajar menggunakan cara kedua.

Jika proses perkembangan tersebut terjadi, sifat dominan yang dulu digunakan untuk menekan orang lain dapat berubah menjadi kemampuan memimpin.

Misalnya:

Dulu ia suka memerintah teman.

Ketika dewasa, ia belajar memberikan arahan dengan jelas.

Dulu ia suka mendominasi percakapan.

Ketika dewasa, ia belajar menjadi pembicara yang persuasif.

Dulu ia ingin selalu menjadi pusat perhatian.

Ketika dewasa, ia belajar membangun reputasi profesional.

Dulu ia ingin ditakuti.

Ketika dewasa, ia belajar mendapatkan rasa hormat.

Perubahan tersebut menunjukkan sesuatu yang penting dalam perkembangan manusia:

Kepribadian tidak berhenti berkembang ketika seseorang lulus sekolah.

Seseorang bisa menjadi jauh lebih matang dibandingkan dirinya ketika berusia 15 atau 16 tahun.

6. Mereka Mungkin Memiliki Ambisi dan Dorongan Berprestasi yang Tinggi

Tidak semua orang yang suka mendominasi orang lain memiliki motivasi yang sama.

Pada sebagian individu, kebutuhan untuk mendapatkan status, pengakuan, atau posisi tinggi dapat menjadi sangat kuat.

Dalam konteks sekolah, kebutuhan tersebut mungkin muncul melalui popularitas.

Namun ketika dewasa, “arena” tempat mendapatkan status berubah.

Tidak lagi berupa siapa yang paling populer di kelas.

Melainkan:

siapa yang mendapatkan posisi terbaik;
siapa yang memiliki bisnis paling besar;
siapa yang menghasilkan banyak uang;
siapa yang mendapatkan penghargaan;
siapa yang memiliki jabatan tinggi;
siapa yang dianggap berhasil.

Jika seseorang memiliki dorongan kompetitif yang kuat, dunia profesional bisa menjadi tempat untuk menyalurkan dorongan tersebut.

Ini dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian orang yang sangat kompetitif sejak muda kemudian mengejar pencapaian tinggi.

Namun ambisi juga memiliki sisi gelap.

Ambisi yang sehat mendorong seseorang berkembang tanpa harus menghancurkan orang lain.

Ambisi yang tidak sehat dapat membuat seseorang melihat semua orang sebagai pesaing.

Karena itu, keberhasilan profesional saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang benar-benar berkembang secara psikologis.

Kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang naik, tetapi juga tentang bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika berada di atas.

7. Kita Sering Hanya Melihat “Hasil Akhirnya”, Bukan Perjalanan Hidupnya

Ini mungkin alasan yang paling sering dilupakan.

Bayangkan dua orang yang pernah bersekolah bersama.

Orang pertama dulu terkenal sebagai tukang bully.

Setelah 15 tahun, ia memiliki bisnis, rumah bagus, jabatan tinggi, dan banyak koneksi.

Orang kedua dulu pendiam dan sering menjadi korban.

Sekarang ia memiliki kehidupan yang stabil, pekerjaan yang disukai, keluarga yang bahagia, dan hubungan sosial yang sehat.

Jika kita hanya melihat media sosial atau pertemuan singkat, kita mungkin menyimpulkan:

“Si tukang bully ternyata lebih sukses.”

Padahal kita tidak tahu kehidupan lengkapnya.

Kesuksesan seseorang tidak dapat dinilai hanya dari:

mobil;
rumah;
jabatan;
jumlah pengikut;
pakaian;
popularitas;
penghasilan.

Psikologi justru mengajarkan bahwa kesejahteraan manusia jauh lebih kompleks.

Ada kepuasan hidup.

Ada kualitas hubungan.

Ada kesehatan psikologis.

Ada kemampuan mengelola emosi.

Ada rasa memiliki tujuan.

Ada kemampuan membangun hubungan yang sehat.

Jadi, seseorang yang terlihat sukses belum tentu memiliki kehidupan yang lebih baik secara keseluruhan.

Sebaliknya, seseorang yang terlihat biasa-biasa saja belum tentu gagal.

Kita sering membandingkan “hasil yang terlihat” milik orang lain dengan “kehidupan lengkap” milik kita sendiri.

Itulah sebabnya persepsi bahwa mantan tukang bully selalu lebih sukses bisa menjadi ilusi.

Jadi, Apakah Bullying Membuat Seseorang Sukses?

Tidak.

Ini bagian yang sangat penting.

Tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa bullying merupakan jalan menuju kesuksesan.

Bullying dapat memberikan dampak negatif bagi korban, pelaku, maupun lingkungan sosial.

Jika beberapa mantan pelaku bullying kemudian menjadi orang sukses, kita tidak boleh langsung menyimpulkan:

“Bullying membuat mereka sukses.”

Itu adalah kesalahan dalam melihat hubungan sebab-akibat.

Bisa jadi yang membuat seseorang berhasil adalah kombinasi dari berbagai faktor seperti:

kemampuan sosial;
keberanian;
kecerdasan;
kesempatan;
lingkungan keluarga;
pendidikan;
ambisi;
kemampuan beradaptasi;
dukungan sosial;
kondisi ekonomi;
pengalaman hidup;
dan kemampuan belajar dari kesalahan.

Sifat yang dahulu muncul dalam bentuk negatif juga dapat berubah seiring perkembangan.

Anak yang dulu suka mendominasi bisa belajar menjadi pemimpin.

Anak yang dulu mudah marah bisa belajar mengendalikan emosi.

Anak yang dulu mencari status bisa belajar menggunakan ambisinya untuk tujuan yang lebih positif.

Tetapi perubahan tersebut membutuhkan kesadaran dan kematangan.

Pelajaran Penting: Jangan Meniru Tukang Bully, Ambil Sifat Positifnya

Jika kita melihat mantan tukang bully yang berhasil ketika dewasa, pelajaran yang paling tepat bukanlah:

“Berarti menjadi tukang bully itu bagus.”

Justru sebaliknya.

Kita dapat memisahkan perilakunya dari karakteristik yang mungkin berada di baliknya.

Misalnya:

Keberanian → gunakan untuk menghadapi tantangan.

Kepercayaan diri → gunakan untuk menyampaikan ide.

Ambisi → gunakan untuk mencapai tujuan.

Kemampuan memengaruhi orang → gunakan untuk memimpin.

Kemampuan membaca situasi sosial → gunakan untuk membangun hubungan.

Sifat kompetitif → gunakan untuk meningkatkan kemampuan diri.

Tanpa harus merendahkan atau menyakiti orang lain.

Karena pada akhirnya, manusia yang benar-benar berkembang bukanlah orang yang mampu membuat orang lain takut kepadanya.

Melainkan orang yang mampu membuat orang lain percaya kepadanya.

Kesimpulan

Fenomena mantan tukang bully yang kemudian terlihat sukses ketika dewasa memang menarik jika dilihat dari perspektif psikologi.

Sebagian dari mereka mungkin memiliki karakteristik seperti keberanian menghadapi konflik, kemampuan membaca dinamika sosial, kepercayaan diri, ambisi, dorongan mendapatkan status, serta kemampuan memengaruhi orang lain.

Ketika karakteristik tersebut berkembang secara positif dan dipadukan dengan empati serta kontrol diri, sebagian di antaranya dapat menjadi modal dalam kehidupan profesional.

Namun kita tidak boleh membalik kesimpulannya.

Bullying bukan penyebab kesuksesan.

Bahkan, jika perilaku agresif dan kebutuhan mendominasi orang lain terus terbawa sampai dewasa, hal tersebut justru dapat menciptakan berbagai masalah.

Yang menarik bukanlah bahwa “si tukang bully akhirnya sukses”.

Yang lebih menarik adalah bagaimana kepribadian manusia dapat berubah seiring waktu.

Anak yang dulu suka mendominasi dapat belajar memimpin.

Anak yang dulu mencari perhatian dapat belajar membangun prestasi.

Anak yang dulu ingin ditakuti dapat belajar mendapatkan rasa hormat.

Dan mungkin itulah salah satu pelajaran terbesar dari psikologi perkembangan:

masa lalu seseorang tidak selalu menentukan siapa dirinya di masa depan.

Seseorang bisa berubah.

Tetapi perubahan yang paling berharga bukanlah ketika seorang mantan tukang bully menjadi kaya, terkenal, atau berkuasa.

Perubahan yang paling berharga adalah ketika ia menjadi seseorang yang berhasil tanpa harus membuat orang lain gagal.

Karena pada akhirnya, kesuksesan yang paling matang bukanlah tentang seberapa banyak orang yang berada di bawah kita.

Melainkan tentang seberapa banyak orang yang bisa tumbuh bersama kita.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore