seseorang yang melalui tahapan sulit bersama pasangan. (Magnific)
Namun, di balik perbedaan tersebut, psikologi hubungan menunjukkan bahwa hubungan yang sehat biasanya melewati sejumlah proses perkembangan yang relatif serupa.
Hubungan yang sukses bukan berarti hubungan yang tidak pernah mengalami konflik. Justru, hubungan yang kuat biasanya adalah hubungan yang mampu melewati perubahan, perbedaan, kekecewaan, dan berbagai tantangan tanpa kehilangan rasa aman dan penghargaan terhadap satu sama lain.
Dengan kata lain, keberhasilan sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar rasa cinta pada awalnya, tetapi juga oleh bagaimana dua orang berkembang bersama setelah perasaan awal mulai berubah.
Dilansir dari Psychology Today pada MInggu (4/10), terdapat lima tahap penting yang umumnya perlu dilalui oleh pasangan untuk membangun hubungan yang matang dan sehat.
1. Tahap Ketertarikan: Ketika Dua Orang Mulai Merasakan Koneksi
Tahap pertama biasanya dimulai dengan ketertarikan.
Ketertarikan bisa muncul karena banyak hal: penampilan fisik, kepribadian, humor, kesamaan minat, cara berbicara, nilai-nilai tertentu, atau bahkan perasaan nyaman yang sulit dijelaskan.
Pada fase ini, hubungan sering terasa menyenangkan dan penuh energi. Bertemu dengan orang tersebut dapat meningkatkan suasana hati. Percakapan terasa menarik meskipun berlangsung berjam-jam. Bahkan hal-hal kecil dari dirinya bisa terasa istimewa.
Secara psikologis, fase awal hubungan memang dapat membuat seseorang lebih fokus pada sisi positif calon pasangan.
Kita cenderung memperhatikan kualitas yang menyenangkan dan belum terlalu melihat kekurangan secara menyeluruh. Inilah salah satu alasan mengapa masa awal hubungan sering terasa sangat romantis.
Mengapa tahap ini penting?
Ketertarikan memberikan dasar emosional untuk hubungan.
Tanpa adanya rasa tertarik, penasaran, atau keinginan untuk mengenal seseorang lebih jauh, hubungan biasanya sulit berkembang menjadi kedekatan yang lebih dalam.
Namun, ada satu kesalahan yang sering terjadi pada tahap ini: menganggap intensitas perasaan sebagai bukti bahwa hubungan pasti akan berhasil.
Padahal, rasa tertarik dan kecocokan jangka panjang adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa sangat tertarik kepada pasangannya tetapi ternyata memiliki perbedaan besar dalam nilai, tujuan hidup, cara berkomunikasi, atau kebutuhan emosional.
Karena itu, tahap pertama sebaiknya tidak hanya digunakan untuk menikmati perasaan jatuh cinta, tetapi juga untuk mulai mengenal orang lain secara realistis.
Jangan terburu-buru mengidealkan pasangan
Pada tahap awal, seseorang bisa saja melihat pasangan melalui "kacamata positif".
Kekurangan kecil terasa lucu. Perbedaan terasa menarik. Kebiasaan yang sebenarnya mengganggu belum terlalu terlihat.
Tidak ada yang salah dengan menikmati fase tersebut. Namun, hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk secara bertahap melihat pasangan sebagai manusia yang utuh—dengan kelebihan, kekurangan, kebutuhan, ketakutan, dan batasannya.
Hubungan yang kuat bukan dibangun ketika kita menemukan seseorang yang sempurna.
Hubungan yang kuat dibangun ketika kita mengenal seseorang dengan cukup baik dan tetap memilih untuk memperlakukannya dengan baik.
2. Tahap Membangun Kepercayaan: Dari Ketertarikan Menuju Rasa Aman
Setelah ketertarikan mulai berkembang, hubungan memasuki tahap yang jauh lebih penting: membangun kepercayaan.
Di sinilah hubungan mulai bergerak dari sekadar "aku menyukaimu" menjadi "aku merasa aman bersamamu".
Kepercayaan tidak muncul hanya karena seseorang mengatakan, "Percayalah padaku."
Kepercayaan terbentuk melalui pengalaman yang berulang.
Ketika seseorang mengatakan akan menelepon, lalu benar-benar menelepon, kepercayaan bertambah.
Ketika seseorang berjanji menjaga sebuah rahasia dan benar-benar melakukannya, kepercayaan bertambah.
Ketika terjadi kesalahpahaman dan pasangan mampu membicarakannya tanpa mempermalukan atau mengancam, rasa aman juga bertambah.
Dengan kata lain, kepercayaan dibangun dari konsistensi antara kata dan tindakan.
Rasa aman secara emosional
Dalam hubungan yang sehat, seseorang perlu merasa bahwa dirinya dapat menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus takut ditolak.
Ini berkaitan dengan apa yang sering disebut sebagai keamanan emosional.
Pasangan tidak harus selalu setuju. Mereka bahkan dapat memiliki pendapat yang berbeda. Namun, seseorang tetap merasa bahwa perbedaan tersebut tidak otomatis membuat hubungan menjadi terancam.
Misalnya, seseorang dapat mengatakan:
"Aku tidak setuju dengan keputusanmu."
Tanpa membuat pasangannya merasa:
"Kalau begitu kamu sudah tidak mencintaiku."
Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang bisa dibicarakan, bukan ancaman terhadap keberadaan hubungan.
Kepercayaan membutuhkan waktu
Salah satu kesalahpahaman dalam hubungan adalah anggapan bahwa semakin besar rasa cinta, semakin besar pula kepercayaan.
Padahal, keduanya berkembang dengan cara berbeda.
Cinta bisa muncul dengan cepat.
Kepercayaan biasanya membutuhkan waktu.
Seseorang mungkin merasa sangat mencintai pasangannya dalam beberapa bulan, tetapi belum tentu memiliki cukup pengalaman untuk mengetahui bagaimana pasangannya bertindak ketika marah, kecewa, menghadapi tekanan, mengalami kegagalan, atau menghadapi masalah serius.
Justru dalam situasi sulit itulah karakter seseorang sering terlihat lebih jelas.
Karena itu, jangan hanya melihat bagaimana pasangan memperlakukan Anda ketika semuanya berjalan baik.
Perhatikan juga bagaimana ia memperlakukan Anda ketika terjadi perbedaan.
3. Tahap Menghadapi Perbedaan dan Konflik
Ini adalah tahap yang sering membuat pasangan merasa bahwa hubungan mereka mulai "berubah".
Setelah masa awal yang penuh antusiasme berlalu, pasangan mulai melihat sisi lain satu sama lain.
Kebiasaan yang sebelumnya dianggap menarik bisa mulai mengganggu.
Perbedaan gaya komunikasi mulai terlihat.
Perbedaan cara mengelola uang, waktu, keluarga, pekerjaan, pertemanan, atau masa depan bisa mulai menjadi sumber konflik.
Pada titik ini, sebagian pasangan mulai berpikir:
"Mungkin dia bukan orang yang tepat."
Padahal, munculnya konflik tidak selalu berarti hubungan tersebut gagal.
Dalam banyak hubungan, konflik justru merupakan bagian normal dari proses mengenal satu sama lain secara lebih realistis.
Mengapa konflik tidak selalu buruk?
Konflik dapat membantu pasangan memahami kebutuhan masing-masing.
Misalnya, satu orang membutuhkan lebih banyak waktu bersama, sementara pasangannya membutuhkan lebih banyak ruang pribadi.
Tanpa percakapan, perbedaan tersebut dapat berubah menjadi rasa kecewa.
Namun, dengan komunikasi yang baik, pasangan dapat menemukan solusi:
"Aku ingin kita punya waktu bersama di akhir pekan, tetapi aku juga memahami kamu membutuhkan waktu sendiri."
Masalah yang sama bisa menghasilkan dua hal yang sangat berbeda tergantung bagaimana pasangan menghadapinya.
Konflik yang dikelola dengan sehat dapat meningkatkan pemahaman.
Konflik yang dikelola dengan buruk dapat menghasilkan luka emosional.
Bukan konflik yang menentukan hubungan, tetapi cara menghadapinya
Pasangan yang sehat bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar.
Pasangan yang sehat adalah pasangan yang mampu bertengkar tanpa menghancurkan rasa hormat.
Ada perbedaan besar antara mengatakan:
"Aku kecewa dengan tindakanmu."
dan:
"Kamu memang selalu menyebalkan."
Yang pertama membicarakan perilaku.
Yang kedua menyerang identitas.
Dalam hubungan jangka panjang, kemampuan membedakan masalah dari pribadi pasangan sangat penting.
Satu keputusan yang buruk tidak otomatis berarti seseorang adalah pasangan yang buruk.
Satu kesalahan tidak harus menjadi label permanen.
Belajar memperbaiki setelah konflik
Hubungan yang matang juga membutuhkan kemampuan untuk melakukan perbaikan setelah konflik.
Misalnya:
"Aku tadi terlalu keras saat bicara. Aku minta maaf."
atau:
"Aku masih tidak setuju dengan keputusanmu, tetapi aku memahami alasanmu."
Permintaan maaf yang tulus bukan berarti mengakui bahwa kita selalu salah.
Permintaan maaf berarti kita bersedia bertanggung jawab atas bagian kita dalam konflik.
Dan ini sangat penting.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa kesalahan, melainkan hubungan di mana kedua orang bersedia memperbaiki kesalahan.
4. Tahap Komitmen: Memilih Satu Sama Lain Secara Sadar
Setelah pasangan melewati berbagai perbedaan, hubungan biasanya memasuki tahap komitmen yang lebih matang.
Komitmen bukan sekadar mengatakan:
"Aku cinta kamu."
Komitmen berarti memilih untuk berinvestasi dalam hubungan meskipun perasaan tidak selalu berada pada tingkat intensitas yang sama seperti di awal.
Perasaan romantis memang bisa naik dan turun.
Ada hari ketika pasangan terasa sangat dekat.
Ada pula hari ketika seseorang merasa lelah, sibuk, stres, atau membutuhkan ruang.
Komitmen membantu hubungan tetap berjalan ketika emosi sedang tidak ideal.
Cinta sebagai pilihan dan tindakan
Banyak orang menganggap cinta terutama sebagai perasaan.
Padahal, dalam hubungan jangka panjang, cinta juga diwujudkan melalui tindakan.
Mendengarkan ketika pasangan sedang berbicara.
Menghormati batasan.
Membantu ketika pasangan mengalami kesulitan.
Menepati kesepakatan.
Menyediakan waktu.
Membicarakan masalah yang tidak nyaman.
Bersedia belajar.
Semua itu adalah bentuk cinta yang mungkin tidak selalu terasa romantis, tetapi sangat menentukan kualitas hubungan.
Komitmen bukan berarti kehilangan diri sendiri
Komitmen yang sehat juga bukan berarti dua orang harus melakukan segala sesuatu bersama.
Hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi masing-masing individu untuk memiliki kehidupan pribadi.
Seseorang tetap dapat memiliki teman, hobi, pekerjaan, tujuan pribadi, dan waktu untuk dirinya sendiri.
Justru, hubungan yang terlalu bergantung pada satu orang untuk memenuhi seluruh kebutuhan emosional dapat menjadi tidak sehat.
Dua orang yang sehat tidak harus menjadi satu orang.
Mereka tetap menjadi individu, tetapi memilih untuk membangun kehidupan bersama.
Membicarakan masa depan
Komitmen juga terlihat dari kemampuan pasangan membicarakan masa depan.
Tidak semua pasangan memiliki rencana yang sama, tetapi pasangan yang serius biasanya mulai mendiskusikan pertanyaan penting seperti:
Bagaimana kita melihat masa depan hubungan ini?
Apakah kita ingin menikah?
Bagaimana pandangan kita tentang keluarga?
Bagaimana mengelola keuangan?
Di mana kita ingin tinggal?
Bagaimana membagi tanggung jawab?
Seberapa besar peran keluarga masing-masing?
Bagaimana kita menghadapi karier dan perubahan hidup?
Pertanyaan seperti ini mungkin tidak selalu romantis.
Namun, justru pembicaraan tersebut dapat mencegah banyak konflik di masa depan.
5. Tahap Kedekatan dan Pertumbuhan Bersama
Tahap terakhir bukan berarti hubungan telah "selesai".
Justru sebaliknya.
Hubungan yang sukses harus terus berkembang.
Setelah melewati ketertarikan, membangun kepercayaan, menghadapi konflik, dan membentuk komitmen, pasangan memiliki kesempatan untuk membangun kedekatan yang jauh lebih dalam.
Pada tahap ini, pasangan tidak hanya mengenal sisi menyenangkan satu sama lain.
Mereka juga mengenal ketakutan, kelemahan, kegagalan, impian, nilai hidup, dan berbagai pengalaman yang membentuk kepribadian masing-masing.
Inilah bentuk keintiman yang lebih matang.
Intim bukan berarti selalu bersama
Keintiman tidak hanya berarti sering bertemu atau melakukan aktivitas romantis.
Keintiman berarti merasa dikenal dan diterima.
Seseorang dapat berkata:
"Aku sedang tidak baik-baik saja."
dan tidak merasa harus berpura-pura kuat.
Seseorang dapat menceritakan ketakutannya tanpa khawatir akan digunakan untuk menyerangnya di kemudian hari.
Seseorang dapat mengungkapkan kebutuhan tanpa merasa malu.
Di sinilah hubungan dapat menjadi tempat yang memberikan rasa aman secara emosional.
Bertumbuh bersama
Manusia berubah.
Tujuan hidup bisa berubah.
Karier berubah.
Prioritas berubah.
Pandangan tentang keluarga dapat berubah.
Bahkan kepribadian dan kebutuhan emosional seseorang dapat berkembang seiring pengalaman hidup.
Karena itu, hubungan jangka panjang membutuhkan kemampuan untuk mengenal pasangan berulang kali.
Orang yang kita cintai sepuluh tahun lalu mungkin masih memiliki banyak kesamaan dengan dirinya yang sekarang, tetapi ia juga pasti telah berubah.
Hubungan yang sehat memberikan ruang bagi perubahan tersebut.
Pasangan tidak hanya bertanya:
"Siapa kamu?"
tetapi juga:
"Siapa kamu sekarang?"
dan:
"Bagaimana kita bisa tumbuh bersama?"
Tidak Semua Hubungan Harus Melewati Tahap Ini dengan Urutan yang Sama
Lima tahap tersebut bukanlah aturan matematika.
Hubungan manusia jauh lebih kompleks.
Ada pasangan yang membutuhkan waktu lama untuk membangun kepercayaan. Ada yang menghadapi konflik sejak awal. Ada yang sudah lama bersama tetapi baru kemudian mulai membicarakan komitmen secara serius.
Bahkan pasangan yang telah menikah bertahun-tahun dapat kembali menghadapi tahap konflik ketika mengalami perubahan besar seperti pindah kota, memiliki anak, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi masalah keluarga.
Karena itu, perkembangan hubungan lebih tepat dilihat sebagai proses yang berulang daripada tangga yang hanya bisa dinaiki sekali.
Pasangan dapat kembali ke tahap sebelumnya berkali-kali.
Setelah konflik, mereka mungkin harus membangun kembali kepercayaan.
Setelah perubahan besar, mereka mungkin perlu mendefinisikan ulang komitmen.
Setelah bertahun-tahun bersama, mereka mungkin perlu kembali mengenal satu sama lain.
Dan itu normal.
Apa yang Sebenarnya Membuat Sebuah Hubungan Bertahan?
Jika diringkas, hubungan yang sehat biasanya tidak dibangun hanya oleh chemistry.
Chemistry memang penting.
Tetapi chemistry tanpa komunikasi dapat menghasilkan hubungan yang penuh kebingungan.
Komitmen tanpa rasa hormat dapat berubah menjadi keterikatan yang tidak sehat.
Komunikasi tanpa empati dapat berubah menjadi perdebatan.
Dan cinta tanpa kepercayaan dapat berubah menjadi kecemasan.
Hubungan yang kuat membutuhkan beberapa unsur yang saling mendukung:
Kepercayaan membuat seseorang merasa aman.
Komunikasi membantu pasangan memahami kebutuhan masing-masing.
Rasa hormat menjaga martabat kedua orang ketika terjadi perbedaan.
Komitmen membantu hubungan bertahan melewati masa sulit.
Keintiman emosional membuat pasangan merasa benar-benar dikenal.
Kemampuan memperbaiki konflik membantu hubungan pulih setelah mengalami masalah.
Tidak ada hubungan yang sempurna.
Namun, hubungan yang sehat biasanya memiliki dua orang yang bersedia belajar.
Kesimpulan: Hubungan yang Sukses Bukan Hubungan yang Tanpa Masalah
Banyak orang mencari hubungan yang "tepat" seolah-olah keberhasilan hubungan bergantung pada menemukan seseorang yang benar-benar cocok dalam segala hal.
Padahal, kecocokan memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.
Dua orang dapat memiliki banyak kesamaan tetapi tetap memiliki hubungan yang buruk jika tidak mampu berkomunikasi.
Sebaliknya, dua orang dapat memiliki beberapa perbedaan tetapi membangun hubungan yang kuat jika mereka mampu menghormati, memahami, dan menegosiasikan perbedaan tersebut.
Pada akhirnya, hubungan yang sukses bukanlah hubungan yang selalu terasa mudah.
Hubungan yang sukses adalah hubungan di mana dua orang dapat melewati perubahan tanpa kehilangan rasa hormat, menghadapi konflik tanpa saling menghancurkan, dan tetap memiliki keinginan untuk memahami satu sama lain.
Lima tahap tersebut—ketertarikan, kepercayaan, menghadapi konflik, komitmen, serta kedekatan dan pertumbuhan bersama—dapat menjadi gambaran perjalanan yang harus dilalui banyak pasangan.
Dan mungkin bagian terpentingnya adalah ini:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022