seseorang yang mencoba memanipulasi pasangannya. (Magnific)
Setelah perselingkuhan terbongkar, biasanya muncul fase yang sangat rumit. Orang yang berselingkuh mungkin merasa bersalah, takut kehilangan hubungan, malu, atau panik menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Sementara itu, pasangan yang diselingkuhi bisa merasakan marah, kecewa, bingung, bahkan bertanya-tanya apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan.
Dalam situasi seperti ini, seseorang yang telah berselingkuh mungkin berusaha mendapatkan kembali kepercayaan pasangannya. Ada yang melakukannya dengan cara yang sehat, misalnya mengakui kesalahan, bersikap transparan, dan memberi ruang bagi pasangan untuk memproses luka.
Namun, ada pula yang berusaha membuat pasangannya segera memaafkan tanpa benar-benar menghadapi akar masalah.
Menurut psikologi, cara seseorang meminta maaf dan merespons konsekuensi perselingkuhan dapat memberikan banyak petunjuk tentang apakah ia benar-benar bertanggung jawab atau hanya ingin meredakan situasi.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (6/10), terdapat enam cara yang mungkin dilakukan pasangan ketika berusaha membuat kamu memaafkan perselingkuhannya.
1. Terus-Menerus Meminta Maaf dan Menunjukkan Penyesalan yang Intens
Salah satu respons yang paling umum setelah perselingkuhan terbongkar adalah permintaan maaf berulang kali.
"Aku benar-benar menyesal."
"Aku janji tidak akan mengulanginya."
"Aku tidak bisa hidup tanpamu."
"Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya."
Pada satu sisi, penyesalan memang bisa menjadi bagian penting dari proses memperbaiki hubungan. Seseorang yang menyadari kesalahannya mungkin merasa bersalah dan ingin menunjukkan bahwa ia memahami dampak perbuatannya.
Namun, intensitas permintaan maaf tidak selalu sama dengan kedalaman pertanggungjawaban.
Seseorang bisa menangis, memohon, mengirim pesan panjang, memberikan perhatian berlebihan, atau terus mengatakan bahwa dirinya sangat menyesal. Semua itu mungkin merupakan ekspresi emosi yang tulus.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dilakukan setelah meminta maaf?
Dalam psikologi hubungan, permintaan maaf yang sehat biasanya tidak hanya berisi penyesalan. Ada pengakuan terhadap kesalahan, pemahaman terhadap dampaknya, kesediaan memperbaiki kerusakan, dan perubahan perilaku.
Artinya, pasangan tidak hanya mengatakan, "Maaf karena aku melakukan itu."
Ia juga mampu mengatakan, "Aku memahami bahwa tindakanku membuatmu kehilangan rasa aman. Aku tidak akan memaksamu untuk segera percaya lagi. Aku bersedia menunjukkan melalui tindakan bahwa aku serius memperbaikinya."
Perbedaan ini sangat penting.
Permintaan maaf seharusnya bukan alat untuk membuat kamu segera berhenti marah.
Kamu juga tidak wajib memberikan pengampunan hanya karena pasangan terlihat sangat menyesal.
Penyesalan adalah tanggung jawab orang yang berselingkuh. Sementara memaafkan adalah proses emosional yang membutuhkan waktu dari pihak yang terluka.
2. Membawa Kembali Kenangan Indah untuk Mengingatkan Kamu pada Hubungan
Cara lain yang mungkin terjadi adalah pasangan mengingatkan kamu pada berbagai kenangan indah yang pernah kalian miliki.
Ia mungkin mengirim foto lama, mengajak mengunjungi tempat pertama kali kalian bertemu, membicarakan masa-masa sulit yang pernah kalian lewati bersama, atau mengatakan:
"Kita sudah sejauh ini."
"Jangan buang semua yang sudah kita bangun."
"Aku tahu aku salah, tapi ingat semua hal baik yang sudah kita lalui."
Strategi seperti ini dapat membangkitkan kembali keterikatan emosional.
Secara psikologis, manusia memang cenderung memiliki keterikatan pada pengalaman positif yang telah berlangsung lama. Hubungan yang sudah bertahun-tahun dibangun tidak mudah dipisahkan begitu saja dari identitas dan kehidupan seseorang.
Karena itu, ketika seseorang dihadapkan pada keputusan untuk bertahan atau pergi setelah perselingkuhan, kenangan positif dapat membuat keputusan tersebut menjadi semakin sulit.
Masalahnya bukan pada mengingat kenangan indah.
Masalah muncul ketika kenangan tersebut digunakan untuk menghindari pembicaraan mengenai pengkhianatan yang terjadi.
Hubungan yang memiliki banyak kenangan indah tetap dapat mengalami masalah serius.
Kamu boleh menghargai semua hal baik yang pernah terjadi sekaligus mengakui bahwa perselingkuhan telah menyebabkan luka yang nyata.
Kedua hal tersebut bisa benar pada saat yang sama.
Sebuah hubungan tidak menjadi sehat hanya karena pernah memiliki banyak momen bahagia.
3. Membuat Kamu Merasa Bersalah Jika Tidak Segera Memaafkan
Ini adalah salah satu pola yang perlu diperhatikan.
Pasangan mungkin mengatakan:
"Aku sudah mengakui kesalahanku, kenapa kamu masih marah?"
"Aku sudah minta maaf berkali-kali."
"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti bisa memaafkanku."
"Aku juga sudah menderita karena kesalahanku."
Kalimat seperti ini dapat menggeser fokus dari luka yang dialami pasangan menjadi penderitaan orang yang melakukan kesalahan.
Padahal, rasa sakit akibat perselingkuhan tidak memiliki batas waktu yang sama bagi setiap orang.
Ada orang yang membutuhkan beberapa minggu untuk mulai merasa lebih stabil. Ada pula yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk kembali merasa aman.
Dalam proses pemulihan, orang yang diselingkuhi mungkin mengalami pertanyaan berulang, rasa curiga, kemarahan, kesedihan, dan kebutuhan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Jika pasangan terus mendesak agar kamu segera "move on", hal tersebut dapat membuat proses pemulihan semakin sulit.
Memaafkan bukanlah tombol yang bisa ditekan hanya karena seseorang sudah mengucapkan kata "maaf".
Lebih penting lagi, memaafkan tidak sama dengan melupakan.
Seseorang dapat memilih untuk memaafkan tetapi tetap menetapkan batasan. Seseorang juga dapat memutuskan bahwa ia belum siap memaafkan.
Keduanya adalah keputusan pribadi.
4. Menyalahkan Kondisi Hubungan atau Bahkan Menyalahkan Kamu
Pola lain yang mungkin muncul adalah usaha menjelaskan perselingkuhan dengan berbagai masalah dalam hubungan.
"Aku merasa tidak diperhatikan."
"Kita sudah lama tidak dekat."
"Kamu terlalu sibuk."
"Aku merasa kesepian."
"Kita memang sudah sering bertengkar."
Masalah dalam hubungan memang bisa nyata.
Namun, masalah hubungan tidak otomatis menjadi penyebab yang membenarkan perselingkuhan.
Ada perbedaan besar antara menjelaskan konteks dan memindahkan tanggung jawab.
Seseorang dapat mengatakan bahwa hubungan mereka sedang bermasalah tanpa menjadikan pasangannya sebagai penyebab langsung dari keputusan untuk berselingkuh.
Contohnya:
"Hubungan kita memang sedang buruk dan aku merasa tidak bahagia. Tetapi keputusan untuk menjalin hubungan dengan orang lain tetap merupakan pilihanku. Seharusnya aku membicarakan masalah tersebut atau mengakhiri hubungan dengan cara yang jujur."
Pernyataan seperti ini menunjukkan tanggung jawab.
Sebaliknya, jika seseorang mengatakan, "Aku selingkuh karena kamu tidak cukup perhatian," maka tanggung jawab atas pilihan tersebut mulai dialihkan.
Hal ini penting karena hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mengakui dua hal sekaligus:
Hubungan mungkin memiliki masalah, tetapi perselingkuhan tetap merupakan pilihan yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang yang melakukannya.
5. Menjanjikan Perubahan Besar agar Kamu Tidak Pergi
Ketika takut kehilangan pasangan, seseorang mungkin tiba-tiba berubah secara drastis.
Ia menjadi sangat perhatian.
Lebih sering memberikan hadiah.
Lebih romantis.
Lebih sering menghubungi kamu.
Bahkan mungkin membuat berbagai janji besar.
"Aku akan berubah."
"Aku akan melakukan apa pun."
"Aku tidak akan pernah membuatmu kecewa lagi."
Respons tersebut tidak selalu buruk.
Justru, perubahan perilaku dapat menjadi bagian penting dari proses memperbaiki hubungan setelah perselingkuhan.
Tetapi perubahan yang sehat biasanya tidak hanya terlihat pada saat hubungan sedang berada dalam krisis.
Perubahan membutuhkan konsistensi.
Seseorang yang benar-benar ingin memperbaiki hubungan biasanya bersedia melakukan hal-hal yang tidak selalu nyaman baginya: menjawab pertanyaan pasangan dengan jujur, menerima konsekuensi, menghormati batasan, memperbaiki pola komunikasi, dan memahami bahwa kepercayaan tidak dapat dipulihkan hanya dengan kata-kata.
Karena itu, daripada melihat seberapa besar janji yang dibuat, perhatikan seberapa konsisten perilaku tersebut bertahan setelah situasi mulai tenang.
Janji yang besar mudah dibuat ketika seseorang takut kehilangan.
Perubahan yang konsisten jauh lebih sulit dipertahankan.
6. Mengajak Kamu Fokus pada Masa Depan agar Tidak Terlalu Membahas Masa Lalu
Pasangan mungkin berkata:
"Kita jangan terus membahas ini."
"Kita harus melihat ke depan."
"Aku ingin memulai semuanya dari awal."
"Kita tidak akan bisa memperbaiki hubungan kalau kamu terus mengungkit perselingkuhan."
Kalimat seperti ini terdengar masuk akal.
Bagaimanapun, hubungan memang tidak bisa selamanya hidup di masa lalu.
Namun, proses memperbaiki kepercayaan tidak berarti mengabaikan apa yang telah terjadi.
Dalam banyak kasus, orang yang terluka membutuhkan kesempatan untuk memahami kejadian tersebut sebelum dapat benar-benar merasa aman kembali.
Menghindari pembicaraan mungkin memberikan ketenangan sementara, tetapi belum tentu menyelesaikan masalah.
Ada perbedaan antara terjebak dalam masa lalu dan memproses luka dari masa lalu.
Jika seseorang terus-menerus membahas perselingkuhan tanpa ada kemajuan, tentu hubungan membutuhkan cara yang lebih sehat untuk menghadapinya.
Tetapi jika pasangan menggunakan kalimat "jangan ungkit lagi" setiap kali kamu mencoba membicarakan sesuatu yang belum selesai, hal tersebut patut diperhatikan.
Membangun kembali kepercayaan membutuhkan ruang untuk berbicara mengenai apa yang terjadi, bagaimana dampaknya, dan apa yang harus berubah.
Masa depan yang sehat biasanya dibangun dengan menghadapi masalah, bukan dengan berpura-pura masalah tersebut tidak pernah ada.
Jadi, Apakah Pasangan Sedang Memanipulasi Kamu?
Tidak selalu.
Ini bagian yang penting untuk dipahami.
Seseorang yang berselingkuh bisa saja melakukan berbagai hal di atas tanpa secara sadar berniat memanipulasi pasangannya.
Rasa takut kehilangan, rasa bersalah, kecemasan, dan keinginan memperbaiki keadaan dapat membuat seseorang bertindak emosional.
Karena itu, satu perilaku saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang sedang memanipulasi.
Yang lebih penting adalah pola perilakunya.
Apakah ia benar-benar bertanggung jawab?
Apakah ia bersedia mendengarkan rasa sakitmu?
Apakah ia menghormati batasan yang kamu buat?
Apakah ia berhenti menyalahkanmu?
Apakah ia bersedia menjawab pertanyaan yang relevan dengan jujur?
Apakah perubahan perilakunya konsisten?
Dan yang paling penting, apakah ia menghormati keputusanmu meskipun keputusan tersebut tidak sesuai dengan keinginannya?
Orang yang benar-benar ingin memperbaiki hubungan biasanya memahami bahwa ia tidak dapat memaksa pasangannya untuk kembali percaya.
Ia hanya dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan kepercayaan tersebut tumbuh kembali.
Memaafkan Bukan Berarti Kamu Harus Bertahan
Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai perselingkuhan adalah anggapan bahwa memaafkan berarti harus kembali menjalin hubungan seperti sebelumnya.
Padahal, keduanya berbeda.
Kamu bisa memaafkan seseorang tetapi memilih untuk mengakhiri hubungan.
Kamu juga bisa tetap mencintai seseorang tetapi menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi memberikan rasa aman.
Bahkan, kamu bisa belum mampu memaafkan sekarang dan tetap berhak mengambil keputusan untuk menjaga dirimu.
Memaafkan seharusnya bukan hasil dari tekanan.
Bukan karena pasangan menangis.
Bukan karena ia mengancam akan pergi.
Bukan karena keluarga atau teman mengatakan kamu harus memberikan kesempatan kedua.
Dan bukan pula karena kamu takut memulai hidup baru.
Jika hubungan ingin diperbaiki, keputusan tersebut idealnya lahir dari pertimbangan yang sadar, bukan dari rasa bersalah atau tekanan emosional.
Hal yang Lebih Penting daripada Kata-Kata
Setelah perselingkuhan, kata-kata memang penting.
Tetapi perilaku sering kali memberikan informasi yang jauh lebih kuat.
Perhatikan apakah pasangan:
mengakui kesalahannya tanpa mencari kambing hitam;
tidak mengecilkan dampak perselingkuhan;
bersedia memberikan waktu untuk proses pemulihan;
menghormati batasan yang kamu tetapkan;
tidak memaksa kamu segera memaafkan;
bersedia membangun kembali transparansi;
konsisten antara ucapan dan tindakan;
mau membicarakan akar masalah dalam hubungan;
memahami bahwa kepercayaan harus dibangun kembali secara bertahap.
Perubahan yang nyata biasanya tidak selalu dramatis.
Kadang-kadang justru terlihat dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Bukan satu malam penuh tangisan.
Bukan satu buket bunga.
Bukan satu pesan panjang.
Melainkan perilaku yang tetap bertanggung jawab bahkan ketika tidak ada lagi ancaman putus atau konflik besar.
Penutup
Perselingkuhan dapat membuat seseorang mempertanyakan banyak hal: apakah dirinya kurang baik, apakah hubungan tersebut masih memiliki masa depan, apakah pasangan benar-benar mencintainya, dan apakah kepercayaan yang pernah ada masih mungkin dibangun kembali.
Dalam kondisi seperti itu, penting untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena pasangan meminta maaf atau menunjukkan penyesalan.
Perhatikan bagaimana ia menghadapi konsekuensi dari tindakannya.
Apakah ia berusaha menghapus rasa bersalahnya sendiri, atau benar-benar berusaha memahami luka yang ditimbulkannya?
Apakah ia meminta kamu melupakan semuanya, atau bersedia membantu membangun kembali rasa aman?
Apakah ia hanya takut kehilanganmu, atau benar-benar siap mengubah perilaku yang membuat hubungan menjadi tidak sehat?
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya "Apakah dia menyesal?"
Tetapi juga:
"Apakah perilakunya menunjukkan bahwa dia memahami mengapa kepercayaan itu hilang dan bersedia melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk mendapatkannya kembali?"
Kamu tidak harus memutuskan semuanya dalam satu hari.
Memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpikir bukan berarti kamu kejam.
Menetapkan batasan bukan berarti kamu tidak mencintai pasangan.
Dan memilih untuk tidak langsung memaafkan bukan berarti kamu orang yang pendendam.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022