Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 September 2026 | 21.09 WIB

5 Hal Tak Terduga yang Ternyata Dapat Meningkatkan Kemungkinan Terjadinya Perselingkuhan

seseorang yang meningkatkan kemungkinan perselingkuhan / foto: Magnific/stefamerpik

 

JawaPos.com - Perselingkuhan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang terjadi karena satu alasan sederhana: seseorang tidak lagi mencintai pasangannya. Namun, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, persoalannya jauh lebih kompleks.

Perselingkuhan dapat melibatkan berbagai faktor, mulai dari kualitas hubungan, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, kesempatan, batasan pribadi, hingga cara seseorang merespons godaan. Bahkan, beberapa kondisi yang tampaknya tidak berhubungan langsung dengan perselingkuhan dapat menciptakan situasi yang membuat seseorang lebih rentan melanggar komitmen.

Penting untuk digarisbawahi bahwa tidak ada satu pun faktor di bawah ini yang otomatis menyebabkan seseorang berselingkuh. Faktor-faktor tersebut lebih tepat dipahami sebagai kondisi yang dalam situasi tertentu dapat meningkatkan kerentanan. Keputusan untuk berselingkuh tetap melibatkan pilihan, nilai pribadi, batasan, dan tanggung jawab individu.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat lima hal yang mungkin tidak banyak disadari tetapi dapat berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan perselingkuhan.

1. Terlalu yakin bahwa hubunganmu tidak akan pernah bermasalah

Salah satu hal yang terdengar positif tetapi justru dapat menjadi jebakan adalah keyakinan bahwa hubungan sudah sangat kuat sehingga tidak perlu lagi dijaga.

Ketika seseorang merasa, "Hubungan kami baik-baik saja. Kami saling percaya," ia mungkin mulai mengendurkan batasan yang sebelumnya dianggap penting.

Misalnya, seseorang yang sebelumnya sangat berhati-hati dalam menjaga kedekatan dengan orang lain mulai merasa tidak masalah jika sering berkirim pesan pribadi dengan rekan kerja. Awalnya mungkin memang tidak ada niat romantis. Namun, kedekatan yang semakin intens dapat menciptakan ikatan emosional yang sebelumnya tidak direncanakan.

Dalam psikologi hubungan, rasa aman memang penting. Namun, rasa aman yang berubah menjadi rasa kebal terhadap risiko dapat membuat seseorang kurang memperhatikan perubahan kecil dalam perilakunya sendiri.

Masalahnya bukan pada kepercayaan itu sendiri.

Masalah muncul ketika kepercayaan dianggap sebagai alasan untuk tidak lagi memiliki batasan.

Hubungan yang sehat bukan berarti pasangan harus saling mencurigai. Sebaliknya, keduanya tetap perlu menyadari bahwa kedekatan dengan orang lain dapat berkembang secara bertahap.

Seseorang mungkin awalnya hanya merasa nyaman berbicara dengan teman baru. Kemudian mulai mencari orang tersebut ketika sedang mengalami masalah. Setelah itu, muncul kebiasaan berbagi cerita pribadi. Lama-kelamaan, hubungan tersebut dapat memiliki tingkat keintiman emosional yang seharusnya lebih banyak diberikan kepada pasangan.

Karena prosesnya berlangsung perlahan, seseorang bahkan mungkin tidak menyadari kapan batas tersebut mulai bergeser.

Pelajarannya

Kepercayaan dalam hubungan bukan berarti tidak membutuhkan batasan. Justru karena hubungan dianggap penting, batasan perlu dibicarakan dan dijaga secara sadar.

Bukan karena pasangan harus dicurigai, tetapi karena manusia dapat membangun kedekatan secara perlahan tanpa menyadari konsekuensinya.

2. Sering mencari validasi dari orang lain

Keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain merupakan sesuatu yang manusiawi.

Kita semua ingin merasa menarik, dihargai, kompeten, disukai, atau dianggap penting.

Namun, masalah dapat muncul ketika harga diri seseorang sangat bergantung pada validasi eksternal.

Misalnya, seseorang merasa sangat senang ketika rekan kerja memuji penampilannya. Ia kemudian mulai menunggu pujian tersebut. Ketika mendapatkan pesan dari orang itu, suasana hatinya membaik. Ketika tidak mendapat perhatian, ia merasa kecewa.

Pada tahap tertentu, perhatian tersebut bukan lagi sekadar pujian biasa. Ia mulai menjadi sumber kepuasan emosional.

Dalam konteks hubungan romantis, kondisi seperti ini dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang lebih rentan terhadap perhatian dari luar hubungan.

Hal yang menarik adalah bahwa seseorang tidak harus merasa tidak dicintai oleh pasangannya untuk mencari validasi dari orang lain.

Ia bisa saja memiliki hubungan yang baik, tetapi tetap membutuhkan pengakuan eksternal untuk merasa berharga.

Media sosial juga dapat memperkuat pola tersebut. Notifikasi, komentar, pesan pribadi, dan respons terhadap foto dapat memberikan penghargaan sosial yang cepat.

Jika seseorang terbiasa mencari perasaan "aku menarik" atau "aku diinginkan" melalui perhatian orang lain, interaksi yang awalnya sederhana dapat terasa semakin menggoda.

Perselingkuhan dalam konteks seperti ini terkadang bukan semata-mata tentang mencari pasangan baru. Bisa juga berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa diinginkan, dikagumi, atau mendapatkan kembali sensasi tertentu tentang diri sendiri.

Pelajarannya

Memiliki harga diri yang cukup stabil dapat membantu seseorang tidak terlalu bergantung pada validasi dari luar.

Pertanyaannya bukan hanya:

"Apakah aku mendapatkan perhatian dari orang lain?"

Tetapi juga:

"Mengapa perhatian itu terasa begitu penting bagiku?"

Semakin seseorang memahami kebutuhan emosionalnya sendiri, semakin mudah baginya mengenali kapan sebuah interaksi mulai melewati batas.

3. Menghabiskan terlalu banyak waktu berdua dengan seseorang yang dianggap "hanya teman"

Kalimat "Kami cuma teman" tidak selalu berarti hubungan tersebut tidak memiliki potensi untuk menjadi rumit.

Kedekatan yang intens dapat menciptakan kesempatan bagi munculnya keintiman emosional, terutama ketika dua orang sering bertemu, bekerja sama, menghadapi masalah bersama, atau saling berbagi pengalaman pribadi.

Hal ini dapat terjadi tanpa adanya rencana untuk berselingkuh.

Bayangkan seseorang memiliki rekan kerja yang setiap hari menemaninya. Mereka makan siang bersama, berdiskusi tentang pekerjaan, saling membantu ketika menghadapi masalah, lalu mulai berbicara tentang kehidupan pribadi.

Lambat laun, rekan tersebut menjadi orang pertama yang dicari ketika ada sesuatu yang menyenangkan atau menyedihkan.

Secara psikologis, pengalaman bersama dapat memperkuat rasa kedekatan.

Semakin sering dua orang berinteraksi dalam konteks yang bermakna, semakin banyak kesempatan bagi mereka untuk membangun pemahaman, rasa nyaman, dan keterikatan.

Di sinilah batas antara persahabatan dan kedekatan emosional yang lebih dalam dapat menjadi kabur.

Hal ini bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki teman dekat dari lawan jenis atau dari jenis kelamin yang membuatnya tertarik. Persahabatan tetap merupakan bagian normal dari kehidupan.

Yang perlu diperhatikan adalah pola interaksinya.

Apakah percakapan mulai dirahasiakan?

Apakah seseorang mulai menyembunyikan intensitas hubungan tersebut dari pasangan?

Apakah teman tersebut menjadi tempat utama untuk mendapatkan dukungan emosional?

Apakah ada perasaan kecewa ketika pasangan mengetahui kedekatan itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih informatif daripada sekadar memberi label "teman" atau "bukan teman".

Pelajarannya

Kedekatan emosional biasanya tidak muncul dalam satu malam. Ia dapat berkembang melalui banyak interaksi kecil.

Karena itu, mengenali perubahan pola hubungan lebih penting daripada hanya memperhatikan niat awal.

4. Menganggap perselingkuhan sebagai sesuatu yang "tidak akan pernah kulakukan"

Ini mungkin terdengar paradoks.

Seseorang yang sangat yakin bahwa dirinya tidak akan pernah berselingkuh bisa saja menjadi kurang waspada terhadap situasi yang berpotensi menguji batasannya.

Keyakinan terhadap nilai diri tentu bukan sesuatu yang buruk. Namun, ada perbedaan antara:

"Perselingkuhan bertentangan dengan nilai-nilaiku, jadi aku akan menjaga batasanku."

dan:

"Aku tidak mungkin berselingkuh, jadi aku tidak perlu memikirkan batasan."

Pernyataan kedua dapat membuat seseorang meremehkan situasi tertentu.

Misalnya, seseorang mulai sering mengobrol secara pribadi dengan mantan kekasih. Ia mungkin merasa aman karena yakin tidak memiliki niat untuk kembali bersama.

Namun, seiring waktu, percakapan tersebut berubah menjadi nostalgia, curhat tentang hubungan saat ini, dan pembicaraan tentang hal-hal yang hanya diketahui oleh mereka berdua.

Keyakinan awal bahwa "aku tidak mungkin melakukan itu" tidak otomatis melindungi seseorang dari perubahan situasi.

Dalam kehidupan nyata, perilaku sering berkembang melalui serangkaian keputusan kecil.

Seseorang tidak selalu bangun pada suatu pagi lalu memutuskan, "Hari ini aku akan berselingkuh."

Sering kali, terdapat serangkaian langkah sebelumnya: membalas pesan, menyembunyikan percakapan, mencari kesempatan bertemu, membangun kedekatan, merasionalisasi perilaku, dan sebagainya.

Karena itu, menjaga komitmen bukan hanya tentang memiliki prinsip. Ini juga tentang mengenali situasi yang dapat menguji prinsip tersebut.

Pelajarannya

Daripada berkata:

"Aku tidak mungkin berselingkuh."

lebih konstruktif jika seseorang bertanya:

"Situasi seperti apa yang berpotensi membuat batasanku menjadi kabur?"

Kesadaran seperti ini bukan tanda bahwa seseorang tidak percaya diri. Justru sebaliknya, itu menunjukkan kemampuan untuk mengenali kelemahan dan mengantisipasinya.

5. Mengalami masa sulit tetapi mendapatkan perhatian intens dari orang lain

Masa-masa penuh tekanan dapat membuat seseorang menjadi lebih rentan terhadap dukungan emosional dari luar hubungan.

Masalah pekerjaan, konflik keluarga, perubahan hidup, kesepian, kegagalan, atau periode ketika seseorang merasa tidak dihargai dapat menciptakan kebutuhan besar akan rasa dimengerti.

Pada saat seperti itu, seseorang mungkin bertemu dengan orang lain yang memberikan perhatian secara konsisten.

Orang tersebut mendengarkan tanpa menghakimi.

Memberikan pujian.

Menanyakan kabar.

Mengingat hal-hal kecil.

Membuat seseorang merasa penting.

Perhatian seperti ini dapat terasa sangat kuat ketika seseorang sedang berada dalam kondisi emosional yang sulit.

Masalahnya bukan karena mendapatkan dukungan dari orang lain selalu buruk. Dukungan sosial justru penting bagi kesehatan psikologis.

Risiko muncul ketika hubungan tersebut secara perlahan berubah menjadi sumber utama kenyamanan emosional dan mulai menggantikan kedekatan dengan pasangan.

Seseorang mungkin mulai berpikir:

"Dia lebih memahami aku daripada pasanganku."

Perbandingan semacam ini dapat memperkuat ketertarikan.

Padahal, ada faktor penting yang sering dilupakan: orang ketiga biasanya terlihat dalam konteks yang berbeda dengan pasangan.

Pasangan mungkin berhadapan dengan tagihan, pekerjaan rumah, konflik, tanggung jawab keluarga, dan masalah sehari-hari. Sementara orang ketiga sering hadir dalam situasi yang lebih terbatas—misalnya ketika seseorang sedang mencari hiburan, berbicara santai, atau membutuhkan tempat untuk mengeluh.

Perbedaan konteks tersebut dapat membuat hubungan dengan orang ketiga terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Jika tidak disadari, dukungan emosional dapat berkembang menjadi keterikatan.

Pelajarannya

Ketika sedang berada dalam masa sulit, penting untuk membangun beberapa sumber dukungan, bukan menggantungkan seluruh kebutuhan emosional pada satu orang yang berpotensi menjadi pasangan alternatif.

Memiliki teman, keluarga, komunitas, atau ruang pribadi untuk memproses emosi dapat membantu seseorang menjaga keseimbangan.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Membuat Perselingkuhan Lebih Mungkin Terjadi?

Jika kelima hal tersebut diperhatikan, terdapat pola yang menarik.

Perselingkuhan tidak selalu dimulai dari ketidakpuasan besar terhadap pasangan.

Terkadang, kerentanannya muncul dari kombinasi beberapa kondisi:

kebutuhan validasi yang tinggi,
kesempatan untuk membangun kedekatan dengan orang lain,
batasan yang semakin longgar,
keyakinan bahwa diri sendiri kebal terhadap godaan,
serta kondisi emosional tertentu yang membuat perhatian dari orang lain terasa sangat berarti.

Dengan kata lain, kesempatan dan kedekatan dapat menjadi penting sama seperti ketidakpuasan dalam hubungan.

Namun, faktor-faktor tersebut tetap bukan penyebab otomatis.

Dua orang dapat berada dalam situasi yang sama dan membuat pilihan yang berbeda.

Seseorang mungkin memiliki banyak teman dekat, mendapatkan banyak perhatian, mengalami masalah dalam hubungan, tetapi tetap menjaga komitmennya.

Sebaliknya, seseorang dengan hubungan yang tampak baik dari luar dapat membuat keputusan yang merusak kepercayaan.

Karena itu, memahami psikologi perselingkuhan bukan bertujuan untuk mencari alasan untuk membenarkan perilaku tersebut.

Tujuannya adalah memahami bagaimana batas dapat bergeser sebelum seseorang menyadarinya.

Tanda yang Patut Diperhatikan

Jika seseorang ingin menjaga hubungan tetap sehat, beberapa pertanyaan berikut dapat menjadi bahan refleksi:

Apakah ada hubungan dengan orang lain yang mulai sengaja disembunyikan dari pasangan?

Apakah ada seseorang yang menjadi tempat pertama untuk mencari kenyamanan emosional?

Apakah perhatian dari orang tertentu mulai memengaruhi suasana hati secara berlebihan?

Apakah seseorang mulai membagikan hal-hal yang sangat pribadi kepada orang lain tetapi tidak kepada pasangannya?

Apakah ia mulai merasionalisasi perilaku yang sebelumnya dianggap melewati batas?

Tidak satu pun dari tanda tersebut membuktikan bahwa seseorang sedang berselingkuh.

Namun, tanda-tanda tersebut dapat menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi batasan.

Kesimpulan

Perselingkuhan merupakan fenomena psikologis dan sosial yang kompleks. Ia tidak dapat dijelaskan hanya dengan kalimat "sudah tidak cinta" atau "memang orangnya tidak setia."

Dalam beberapa keadaan, hal-hal yang tampak sepele—seperti kebutuhan akan validasi, kedekatan intens dengan teman, rasa terlalu percaya diri terhadap komitmen, atau perhatian yang datang ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit—dapat menciptakan kondisi yang meningkatkan kerentanan terhadap pelanggaran batas.

Yang paling penting adalah memahami bahwa kerentanan bukanlah takdir.

Munculnya ketertarikan kepada orang lain tidak otomatis berarti seseorang harus mengikutinya. Merasa tertarik, merasa dihargai, atau menikmati perhatian adalah pengalaman manusiawi. Yang menentukan arah hubungan adalah bagaimana seseorang merespons pengalaman tersebut.

Pada akhirnya, menjaga kesetiaan bukan hanya tentang menghindari orang ketiga.

Ini juga tentang mengenali kebutuhan diri sendiri, memahami batasan, berkomunikasi secara terbuka dengan pasangan, dan menyadari bahwa hubungan yang sehat membutuhkan perhatian secara terus-menerus—bahkan ketika semuanya terlihat baik-baik saja.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore