seseorang yang mempererat hubungan dengan anak. (Magnific)
Anak yang dulu selalu mencari kita, kini mulai sibuk dengan dunianya sendiri. Ia punya teman-teman yang semakin penting, memiliki pendapat sendiri, mulai menentukan pilihan hidup, bahkan mungkin lebih nyaman bercerita kepada orang lain daripada kepada orang tuanya.
Dulu kita tahu hampir semua hal tentang dirinya.
Sekarang, tidak jarang kita justru harus menunggu sampai ia mau bercerita.
Bagi sebagian orang tua, perubahan ini terasa seperti kehilangan kedekatan. Padahal, sebenarnya anak tidak sedang berhenti menyayangi orang tuanya. Ia sedang memasuki tahap kehidupan baru: belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Di sinilah hubungan antara orang tua dan anak perlu mengalami perubahan.
Ketika anak masih kecil, kedekatan sering dibangun melalui pengasuhan langsung: menemani belajar, mengingatkan makan, mengantar sekolah, mengatur jadwal, dan menentukan banyak hal untuknya.
Namun ketika anak mulai tumbuh dewasa, pola tersebut tidak lagi selalu efektif.
Semakin dewasa seorang anak, semakin besar kebutuhannya untuk dihargai sebagai individu yang mampu berpikir dan mengambil keputusan sendiri.
Menurut prinsip-prinsip psikologi perkembangan, hubungan yang sehat pada fase ini bukan lagi sekadar tentang seberapa sering orang tua memberikan arahan, tetapi tentang seberapa aman anak merasa ketika berkomunikasi dengan orang tuanya.
Dilansir dari Psychology Today (6/10), jika Anda ingin tetap dekat dengan anak ketika ia mulai tumbuh dewasa, berikut tujuh strategi yang dapat dilakukan.
1. Kurangi Keinginan untuk Selalu Memberikan Nasihat
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah menganggap bahwa setiap cerita dari anak merupakan permintaan untuk diberi solusi.
Anak berkata bahwa ia sedang bingung memilih pekerjaan.
Orang tua langsung memberikan saran.
Anak bercerita tentang masalah dengan teman.
Orang tua segera menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan.
Anak mengeluh tentang hubungan percintaan.
Orang tua langsung berkata, "Sudah, tinggalkan saja."
Niatnya sebenarnya baik.
Orang tua ingin membantu.
Namun dari sudut pandang anak yang mulai dewasa, respons seperti itu terkadang membuatnya merasa tidak benar-benar didengarkan.
Padahal, ada kalanya seseorang bercerita bukan karena membutuhkan solusi, tetapi karena ingin merasa dipahami.
Cobalah mengubah kebiasaan.
Sebelum memberikan nasihat, tanyakan:
"Kamu mau Ayah/Ibu dengarkan saja, atau kamu ingin pendapat?"
Kalimat sederhana ini dapat mengubah suasana percakapan.
Anak merasa bahwa pendapat dan kebutuhannya dihargai.
Jika ia hanya ingin didengarkan, berikan ruang.
Anda bisa mengatakan:
"Wajar kalau kamu merasa bingung. Kalau berada di posisi kamu, mungkin Ayah/Ibu juga akan merasakan hal yang sama."
Barulah jika ia meminta pendapat, berikan pandangan tanpa mengambil alih keputusan.
Misalnya:
"Kalau menurut Ayah/Ibu, ada beberapa hal yang mungkin bisa kamu pertimbangkan. Tapi keputusan akhirnya tetap ada di kamu."
Ini penting.
Sebab semakin dewasa anak, semakin penting bagi mereka untuk merasa bahwa orang tua bukanlah pengendali hidupnya, melainkan tempat yang aman untuk berdiskusi.
2. Belajar Menghormati Pilihan Anak, Meski Tidak Selalu Sesuai Keinginan Anda
Ketika anak masih kecil, orang tua terbiasa membuat keputusan untuknya.
Apa yang harus dimakan.
Jam berapa harus tidur.
Sekolah mana yang dipilih.
Kapan harus belajar.
Namun ketika anak tumbuh dewasa, kemampuan mengambil keputusan menjadi bagian penting dari perkembangan dirinya.
Masalahnya, tidak semua keputusan anak akan sesuai dengan harapan orang tua.
Ia mungkin memilih pekerjaan yang berbeda.
Memiliki gaya hidup yang berbeda.
Mempunyai cara mengatur uang yang berbeda.
Memilih pasangan yang tidak sesuai dengan bayangan orang tua.
Atau memiliki pandangan tentang kehidupan yang tidak sama dengan generasi sebelumnya.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti anak tidak menghormati orang tua.
Bisa jadi itu adalah bagian normal dari proses menjadi individu yang mandiri.
Jika setiap perbedaan selalu dibalas dengan kritik, anak lama-lama akan belajar satu hal:
"Kalau aku bercerita kepada orang tua, aku akan dihakimi."
Dan ketika keyakinan itu terbentuk, ia mungkin mulai menyembunyikan banyak hal.
Karena itu, cobalah membedakan antara tidak setuju dan tidak menghormati.
Anda boleh tidak setuju dengan pilihan anak.
Namun Anda tetap bisa menghormatinya sebagai manusia yang sedang belajar menjalani hidupnya sendiri.
Daripada mengatakan:
"Kamu itu selalu salah mengambil keputusan."
Cobalah:
"Ayah/Ibu mungkin melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Tapi Ayah/Ibu ingin memahami alasan kamu memilih ini."
Kalimat seperti itu membuka pintu dialog.
Bukan berarti orang tua harus menerima semua perilaku anak.
Tetap ada batas, nilai, dan prinsip yang perlu dipertahankan.
Namun hubungan yang sehat memungkinkan adanya perbedaan tanpa harus berubah menjadi pertengkaran.
3. Jadilah Tempat yang Aman untuk Anak Bercerita
Salah satu bentuk kedekatan emosional yang paling berharga adalah ketika anak merasa:
"Aku bisa pulang dan menjadi diriku sendiri."
Bukan berarti rumah harus selalu bebas dari aturan.
Bukan pula berarti orang tua harus selalu membenarkan anak.
Yang lebih penting adalah anak tahu bahwa ketika ia sedang mengalami kegagalan, kebingungan, atau kesalahan, ia tidak akan langsung dipermalukan.
Bayangkan seorang anak dewasa kehilangan pekerjaan.
Jika respons pertama orang tua adalah:
"Makanya dari dulu jangan malas."
Kemungkinan besar anak akan semakin menutup diri.
Namun jika respons pertama adalah:
"Kamu pasti sedang berat menghadapi ini. Kalau kamu ingin cerita, Ayah/Ibu siap mendengarkan."
Ada kemungkinan anak merasa lebih aman.
Setelah emosinya lebih stabil, barulah pembicaraan mengenai solusi dapat dilakukan.
Dalam hubungan orang tua dan anak, rasa aman emosional sering kali lebih penting daripada nasihat yang sempurna.
Anak mungkin lupa kalimat apa yang Anda ucapkan bertahun-tahun kemudian.
Tetapi ia bisa mengingat bagaimana perasaannya ketika berada di dekat Anda.
Apakah ia merasa diterima?
Apakah ia merasa dipahami?
Apakah ia merasa harus berpura-pura menjadi orang lain?
Atau apakah ia bisa datang kepada Anda ketika hidup sedang tidak baik-baik saja?
Jika ingin mempererat hubungan, bangunlah pengalaman bahwa rumah dan orang tua adalah tempat yang aman secara emosional.
4. Jangan Hanya Bertanya tentang Prestasi, Pekerjaan, atau Masa Depan
Percakapan orang tua dengan anak dewasa terkadang tanpa sadar berubah menjadi seperti wawancara.
"Kerjamu bagaimana?"
"Gajimu berapa sekarang?"
"Kapan menikah?"
"Kapan punya rumah?"
"Kapan punya anak?"
"Temanmu sudah sukses, kenapa kamu belum?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar biasa.
Namun jika hampir setiap percakapan berisi evaluasi terhadap kehidupan anak, anak dapat merasa bahwa dirinya hanya dihargai berdasarkan pencapaian.
Padahal, anak juga membutuhkan hubungan yang tidak selalu berorientasi pada prestasi.
Cobalah bertanya tentang hal-hal yang lebih sederhana.
"Akhir-akhir ini apa yang membuat kamu senang?"
"Apa yang sedang kamu sukai?"
"Belakangan ini ada hal menarik yang kamu temukan?"
"Kalau sedang punya waktu luang, kamu paling suka melakukan apa?"
Atau bahkan cukup:
"Hari ini bagaimana? Ada cerita?"
Pertanyaan sederhana dapat membuka percakapan yang jauh lebih dalam.
Orang tua tidak selalu harus mengetahui apakah anak sudah mencapai target tertentu.
Kadang-kadang, mengetahui bahwa anak sedang menikmati hidupnya, sedang belajar sesuatu, atau sedang berusaha melewati masa sulit sudah cukup.
Hubungan yang dekat tidak selalu dibangun melalui percakapan besar.
Sering kali justru terbentuk melalui percakapan kecil yang dilakukan berulang kali.
5. Temukan Cara Baru untuk Menghabiskan Waktu Bersama
Ketika anak masih kecil, orang tua tidak perlu mencari alasan untuk menghabiskan waktu bersama.
Namun ketika anak mulai dewasa, kesempatan itu semakin sedikit.
Kesibukan pekerjaan bertambah.
Teman menjadi semakin penting.
Ada pasangan.
Ada aktivitas pribadi.
Ada berbagai tanggung jawab.
Karena itu, orang tua mungkin perlu lebih kreatif dalam menjaga kedekatan.
Tidak harus selalu mengajak anak melakukan sesuatu yang besar.
Anda bisa mengajak makan bersama.
Berjalan santai.
Menonton film.
Memasak.
Berbelanja kebutuhan rumah.
Minum kopi.
Atau sekadar duduk bersama sambil membicarakan hal-hal ringan.
Yang terpenting bukan aktivitasnya.
Melainkan pengalaman emosional yang tercipta selama bersama.
Jangan menjadikan setiap kesempatan berkumpul sebagai forum untuk memberikan ceramah.
Jika setiap kali makan bersama anak selalu mendapat kritik dan nasihat, lama-kelamaan ia mungkin menghindari makan bersama.
Sebaliknya, ciptakan pengalaman bahwa waktu bersama orang tua terasa nyaman.
Bahkan aktivitas sederhana seperti minum kopi selama 30 menit dapat menjadi momen yang sangat berarti jika dilakukan dengan penuh perhatian.
6. Minta Maaf Ketika Anda Memang Salah
Banyak orang tua merasa bahwa meminta maaf kepada anak akan mengurangi kewibawaan.
Padahal, justru sebaliknya.
Kemampuan mengakui kesalahan menunjukkan kematangan emosional.
Orang tua juga manusia.
Bisa salah bicara.
Bisa terlalu keras.
Bisa salah memahami situasi.
Bisa membuat keputusan yang ternyata tidak tepat.
Ketika hal tersebut terjadi, jangan selalu mencari alasan.
Anda dapat mengatakan:
"Kemarin cara Ayah/Ibu bicara kepada kamu terlalu keras. Setelah dipikir-pikir, seharusnya Ayah/Ibu bisa menyampaikannya dengan cara yang lebih baik. Maaf."
Kalimat seperti ini memiliki kekuatan besar.
Anak belajar bahwa hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah terjadi konflik.
Hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu memperbaiki konflik.
Permintaan maaf juga mengajarkan sesuatu yang penting: kasih sayang tidak mengharuskan seseorang selalu benar.
Kadang-kadang, justru kerendahan hati untuk mengatakan "Maaf" membuat hubungan menjadi lebih dekat.
7. Biarkan Anak Menjadi Dewasa Tanpa Membuatnya Merasa Kehilangan Orang Tua
Ini mungkin strategi yang paling penting.
Ketika anak mulai dewasa, tugas orang tua bukan lagi membuat anak selalu membutuhkan dirinya.
Tugasnya adalah membantu anak mampu menjalani hidupnya sendiri sambil tetap mengetahui bahwa ia memiliki tempat untuk kembali.
Ada perbedaan besar antara ketergantungan dan kedekatan.
Ketergantungan berarti anak merasa tidak mampu menjalani hidup tanpa orang tua.
Kedekatan berarti anak mampu berdiri sendiri, tetapi tetap memilih untuk menjaga hubungan dengan orang tuanya.
Inilah bentuk hubungan yang ideal.
Karena itu, jangan merasa tersinggung ketika anak mulai mandiri.
Jangan menganggap kesibukannya sebagai tanda bahwa ia tidak menyayangi Anda.
Jangan pula menggunakan rasa bersalah untuk membuatnya lebih sering menghubungi Anda.
Misalnya:
"Sekarang kamu sudah tidak pernah ingat orang tua."
Kalimat seperti ini mungkin membuat anak merasa bersalah, tetapi belum tentu membuatnya merasa lebih dekat.
Lebih baik katakan:
"Ayah/Ibu senang melihat kamu punya kehidupan sendiri. Kalau kapan-kapan kamu ingin cerita atau butuh bantuan, jangan sungkan menghubungi."
Pesan seperti itu memberikan dua hal sekaligus:
kebebasan dan rasa aman.
Anak tahu bahwa ia boleh menjalani hidupnya.
Tetapi ia juga tahu bahwa orang tuanya tetap ada.
Kedekatan dengan Anak Dewasa Tidak Harus Berarti Selalu Bersama
Ada hal yang perlu dipahami oleh setiap orang tua.
Hubungan antara orang tua dan anak memang berubah seiring waktu.
Dulu anak mungkin membutuhkan Anda hampir setiap saat.
Sekarang ia mungkin hanya menghubungi Anda beberapa kali dalam seminggu.
Dulu ia mungkin menceritakan semua masalahnya.
Sekarang ada sebagian hal yang ia simpan untuk dirinya sendiri.
Itu tidak selalu berarti hubungan Anda memburuk.
Bisa jadi anak sedang belajar menjadi dewasa.
Karena itu, jangan mengukur kasih sayang hanya dari seberapa sering anak menghubungi Anda.
Ukurlah dari kualitas hubungan yang dibangun.
Apakah ketika bertemu Anda bisa berbicara tanpa rasa takut?
Apakah anak masih nyaman meminta pendapat?
Apakah ia merasa dihargai?
Apakah Anda bisa berbeda pendapat tanpa saling merendahkan?
Dan yang paling penting:
Apakah anak tahu bahwa ia tetap dicintai meskipun hidupnya tidak selalu sesuai dengan harapan Anda?
Jika jawabannya iya, kemungkinan besar Anda sedang membangun sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kedekatan.
Anda sedang membangun hubungan yang bertahan hingga anak benar-benar dewasa.
Pada Akhirnya, Anak Dewasa Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua yang Punya Semua Jawaban
Anak yang sudah dewasa tidak selalu membutuhkan orang tua yang tahu bagaimana menyelesaikan semua masalahnya.
Sering kali mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.
Seseorang yang bisa berkata:
"Aku mungkin tidak selalu mengerti pilihanmu, tetapi aku ingin memahaminya."
Seseorang yang mampu mengatakan:
"Kamu boleh menjalani hidupmu sendiri."
Dan seseorang yang tetap memberikan pesan sederhana:
"Apa pun yang terjadi, kamu selalu boleh pulang."
Itulah bentuk cinta yang semakin matang.
Bukan cinta yang menggenggam terlalu erat.
Melainkan cinta yang memberi ruang untuk tumbuh.
Anak yang tumbuh dewasa mungkin tidak lagi membutuhkan Anda untuk mengatur setiap langkahnya.
Namun ia tetap bisa membutuhkan kehadiran Anda.
Bukan sebagai pengendali.
Bukan sebagai hakim.
Bukan sebagai orang yang selalu merasa paling tahu.
Tetapi sebagai rumah emosional yang membuatnya merasa diterima.
Dan mungkin, itulah salah satu hadiah terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak yang sudah mulai dewasa:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Rusia vs Nigeria: Tuan Rumah On Fire, Super Eagles Kehilangan Banyak Pemain
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Skor Belarusia vs Finlandia di UEFA Nations League: Huuhkajat Menang Tipis di Budapest
Alasan Ole Romeny Selebrasi Bawa Jersey Marselino saat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022