seseorang yang menangani gangguan dan intimidasi di tempat kerja. (Magnific)
JawaPos.com - Tempat kerja seharusnya menjadi ruang bagi seseorang untuk berkembang, bekerja secara profesional, dan merasa aman secara psikologis. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada orang yang harus berhadapan dengan rekan kerja yang suka merendahkan, atasan yang gemar mengintimidasi, komentar yang melewati batas, tekanan sosial, pengucilan, ancaman terselubung, hingga perilaku yang membuat seseorang merasa tidak berdaya.
Gangguan dan intimidasi di tempat kerja sering kali tidak muncul dalam bentuk yang terang-terangan. Kadang, perilakunya justru sangat halus. Misalnya, seseorang terus-menerus dipermalukan di depan rekan kerja, sengaja tidak diberi informasi penting, dibuat merasa tidak kompeten, atau dipancing agar bereaksi secara emosional.
Masalahnya, semakin sering seseorang mengalami perlakuan seperti itu, semakin besar kemungkinan ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
"Apakah saya terlalu sensitif?"
"Mungkin memang saya yang salah."
"Kalau saya melawan, jangan-jangan pekerjaan saya justru bermasalah."
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), dalam psikologi, kondisi semacam ini perlu ditangani dengan hati-hati. Tujuannya bukan sekadar "melawan" orang yang melakukan intimidasi, melainkan mengembalikan rasa aman, kendali diri, dan kemampuan seseorang untuk merespons situasi secara rasional.
Jika Anda sedang menghadapi gangguan atau intimidasi di tempat kerja, berikut 7 strategi yang dapat membantu.
1. Jangan langsung bereaksi secara emosional
Strategi pertama mungkin terdengar sederhana, tetapi justru merupakan salah satu yang paling sulit dilakukan: jangan memberikan reaksi emosional secara spontan.
Ketika seseorang dipermalukan, direndahkan, diteriaki, atau diprovokasi, tubuh dapat masuk ke dalam respons stres. Detak jantung meningkat, pikiran menjadi lebih cepat, dan keinginan untuk membela diri muncul secara otomatis.
Pada saat seperti itu, seseorang mungkin mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.
Itulah sebabnya, langkah pertama adalah mengambil jeda.
Bukan berarti Anda harus diam selamanya atau membiarkan orang lain memperlakukan Anda seenaknya. Jeda digunakan agar Anda dapat memilih respons, bukan sekadar bereaksi.
Anda bisa menarik napas, menunda percakapan, atau mengatakan:
"Saya ingin membicarakan ini ketika kita sama-sama bisa berdiskusi dengan tenang."
Atau:
"Saya akan mempertimbangkan apa yang Anda sampaikan dan kita bisa membahasnya kembali."
Secara psikologis, kemampuan mengambil jarak beberapa saat membantu mengurangi dominasi respons emosional dan memberikan kesempatan kepada bagian otak yang berhubungan dengan pengambilan keputusan untuk bekerja lebih baik.
Mengapa ini penting?
Orang yang melakukan intimidasi terkadang mendapatkan keuntungan ketika targetnya kehilangan kendali.
Ketika Anda berteriak, menangis, menghina balik, atau melakukan tindakan impulsif, fokus masalah dapat bergeser.
Awalnya masalahnya adalah:
"Mengapa saya diperlakukan seperti ini?"
Kemudian berubah menjadi:
"Mengapa Anda bereaksi seperti itu?"
Karena itu, ketenangan bukan berarti kelemahan.
Justru dalam banyak situasi profesional, kemampuan mengendalikan reaksi adalah bentuk kekuatan.
2. Kenali pola perilakunya, bukan hanya satu kejadian
Tidak semua konflik di tempat kerja merupakan intimidasi.
Perbedaan pendapat, kritik, teguran, atau komunikasi yang kurang menyenangkan belum tentu termasuk perilaku perundungan atau pelecehan.
Karena itu, penting untuk melihat pola.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah perilaku tersebut terjadi berulang kali?
Apakah saya sengaja dipermalukan?
Apakah seseorang terus-menerus meremehkan kemampuan saya?
Apakah saya sengaja dikucilkan dari informasi penting?
Apakah ada ancaman atau tekanan yang tidak wajar?
Apakah seseorang menggunakan posisi atau kekuasaannya untuk membuat saya takut?
Apakah perilaku tersebut membuat saya terus-menerus merasa tidak aman di tempat kerja?
Membedakan konflik biasa dengan pola intimidasi sangat penting.
Misalnya, seorang atasan mengatakan:
"Laporan ini masih memiliki beberapa kesalahan. Tolong perbaiki sebelum pukul 15.00."
Kalimat tersebut mungkin terasa tidak menyenangkan, tetapi masih bisa merupakan bentuk komunikasi profesional.
Berbeda dengan:
"Kamu memang tidak pernah becus. Semua orang di sini tahu kamu tidak kompeten."
Komentar kedua menyerang pribadi, bukan sekadar membahas pekerjaan.
Fokus pada fakta
Ketika mengalami intimidasi, jangan hanya menyimpan kesan:
"Dia selalu membuat saya merasa buruk."
Cobalah mengubahnya menjadi fakta:
"Pada hari Senin, dalam rapat bersama lima orang, dia mengatakan bahwa saya tidak kompeten dan menertawakan hasil pekerjaan saya."
Perubahan ini penting secara psikologis.
Anda tidak lagi hanya memproses pengalaman sebagai emosi, tetapi mulai mengubahnya menjadi informasi yang dapat dievaluasi.
3. Dokumentasikan kejadian secara sistematis
Jika gangguan terjadi berulang kali, dokumentasi dapat menjadi salah satu perlindungan paling penting.
Buat catatan yang objektif mengenai kejadian.
Tuliskan:
tanggal;
waktu;
lokasi;
siapa yang terlibat;
apa yang dikatakan atau dilakukan;
siapa yang menyaksikan;
bagaimana Anda merespons;
apakah ada bukti tertulis atau digital;
dan dampaknya terhadap pekerjaan.
Hindari menulis catatan hanya dengan kalimat:
"Dia sangat jahat kepada saya hari ini."
Lebih baik:
"4 Oktober 2026, pukul 10.15, dalam rapat tim, X mengatakan '...' di hadapan A, B, dan C. Setelah itu saya diminta meninggalkan ruangan."
Dokumentasi seperti ini jauh lebih berguna apabila suatu saat Anda perlu menjelaskan situasi kepada HR, atasan yang lebih tinggi, mediator, atau pihak lain yang berwenang.
Jangan mengubah dokumentasi menjadi obsesi
Ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Mendokumentasikan kejadian bukan berarti Anda harus terus-menerus memikirkan orang tersebut sepanjang hari.
Tujuan dokumentasi adalah membangun catatan, bukan membuat Anda terjebak dalam pengalaman negatif.
Setelah mencatat kejadian, kembalilah pada aktivitas Anda.
Dengan begitu, dokumentasi menjadi alat untuk mendapatkan kembali kendali, bukan sumber stres baru.
4. Gunakan batasan yang jelas dan tegas
Banyak orang mengira bahwa untuk menghadapi intimidasi, mereka harus menjadi agresif.
Padahal, psikologi komunikasi membedakan antara agresif dan asertif.
Agresif berarti berusaha mendominasi orang lain.
Asertif berarti menyampaikan kebutuhan dan batasan dengan jelas tanpa merendahkan pihak lain.
Contohnya:
"Saya bersedia menerima kritik mengenai pekerjaan saya, tetapi saya tidak bersedia menerima penghinaan pribadi."
Atau:
"Jika ada masalah dengan pekerjaan saya, mari kita bahas berdasarkan data dan hasil kerja."
Atau:
"Saya bisa melanjutkan pembicaraan ini jika kita menggunakan bahasa yang profesional."
Kalimat seperti ini tidak menyerang.
Namun, kalimat tersebut juga tidak menunjukkan bahwa Anda bersedia menerima perlakuan apa pun.
Gunakan kalimat pendek
Ketika menghadapi orang yang suka mengintimidasi, terlalu banyak menjelaskan diri sendiri terkadang justru membuat situasi semakin rumit.
Semakin panjang Anda memberikan pembelaan, semakin banyak celah untuk diperdebatkan.
Karena itu, gunakan prinsip:
jelas, singkat, tenang.
Misalnya seseorang berkata:
"Kamu terlalu sensitif."
Anda tidak harus menjelaskan sejarah hidup Anda.
Anda cukup mengatakan:
"Saya sedang membicarakan cara komunikasi yang profesional."
Kemudian kembali ke pokok persoalan.
5. Jangan menghadapi semuanya sendirian
Salah satu dampak psikologis intimidasi adalah membuat korban merasa terisolasi.
Seseorang mungkin berpikir:
"Tidak ada yang akan percaya kepada saya."
"Saya harus menyelesaikannya sendiri."
"Kalau saya bercerita, orang-orang akan menganggap saya lemah."
Padahal, dukungan sosial dapat menjadi faktor penting dalam menghadapi stres.
Carilah orang yang dapat dipercaya.
Bisa berupa:
rekan kerja yang objektif;
mentor;
atasan yang dapat dipercaya;
bagian HR;
perwakilan pekerja atau serikat pekerja, jika tersedia;
keluarga;
teman;
atau profesional kesehatan mental jika tekanan sudah terasa berat.
Namun, pilih orang dengan hati-hati.
Jangan menyebarkan cerita ke semua orang hanya karena sedang marah. Fokuslah pada orang yang mampu menjaga kerahasiaan dan memberikan perspektif yang rasional.
Mengapa dukungan sosial penting?
Karena intimidasi sering membuat seseorang kehilangan perspektif.
Ketika Anda terus-menerus mendengar bahwa Anda tidak kompeten, Anda mungkin perlahan mulai mempercayainya.
Dukungan dari orang yang objektif dapat membantu Anda mengingat:
Perlakuan seseorang terhadap Anda tidak otomatis menentukan nilai diri Anda.
Anda tetap dapat mengevaluasi kesalahan pekerjaan secara objektif tanpa menerima penghinaan sebagai sesuatu yang normal.
6. Gunakan jalur formal jika perilaku terus berlanjut
Ada situasi ketika komunikasi langsung tidak lagi cukup.
Jika intimidasi berlangsung terus-menerus, melibatkan ancaman, pelecehan, diskriminasi, sabotase pekerjaan, atau bentuk pelanggaran serius lainnya, pertimbangkan untuk menggunakan mekanisme formal yang tersedia di organisasi.
Mulailah dengan memahami kebijakan perusahaan.
Periksa:
aturan perilaku di tempat kerja;
prosedur pengaduan;
kebijakan anti-pelecehan;
kebijakan anti-diskriminasi;
mekanisme pelaporan;
dan pihak yang bertanggung jawab menerima keluhan.
Ketika membuat laporan, hindari bahasa yang terlalu emosional.
Gunakan struktur:
Apa yang terjadi → kapan terjadi → siapa yang terlibat → bukti yang tersedia → dampaknya → tindakan yang Anda minta.
Misalnya:
"Saya ingin melaporkan beberapa kejadian yang menurut saya perlu ditinjau karena telah terjadi berulang kali. Saya telah mencatat tanggal, situasi, pihak yang terlibat, dan saksi. Saya berharap masalah ini dapat ditinjau melalui prosedur yang berlaku."
Pendekatan seperti ini membuat laporan lebih mudah dipahami.
Kapan harus segera mencari bantuan?
Jika situasi sudah melibatkan ancaman kekerasan, pemaksaan, pelecehan seksual, tindakan kriminal, atau risiko keselamatan, jangan hanya mengandalkan strategi komunikasi.
Prioritaskan keselamatan dan gunakan jalur bantuan yang sesuai dengan situasi serta hukum yang berlaku.
7. Bangun kembali rasa percaya diri dan kendali psikologis
Strategi terakhir sering kali justru yang paling terlupakan.
Ketika seseorang mengalami intimidasi dalam waktu lama, dampaknya tidak berhenti ketika ia meninggalkan kantor.
Pengalaman tersebut dapat terbawa ke rumah.
Seseorang mungkin mulai berpikir:
"Mungkin saya memang tidak cukup baik."
"Mungkin saya memang tidak disukai."
"Mungkin semua pekerjaan akan seperti ini."
Di sinilah pentingnya memisahkan perilaku orang lain dari identitas diri Anda.
Jika seseorang mempermalukan Anda, itu adalah sebuah perilaku yang dilakukan orang tersebut.
Itu bukan bukti bahwa Anda adalah manusia yang tidak berharga.
Jika pekerjaan Anda memang memiliki kesalahan, Anda dapat memperbaikinya.
Jika Anda memiliki kekurangan profesional, Anda dapat belajar.
Namun, kritik terhadap pekerjaan tidak sama dengan penghinaan terhadap martabat seseorang.
Bangun kembali sumber rasa percaya diri
Jangan biarkan seluruh harga diri Anda bergantung pada lingkungan kerja.
Tetap lakukan aktivitas yang membuat Anda merasa kompeten:
belajar keterampilan baru;
berolahraga;
menghabiskan waktu dengan orang yang mendukung;
mengerjakan proyek pribadi;
menjaga rutinitas tidur;
mencatat pencapaian;
dan mengembangkan jaringan profesional.
Buat daftar sederhana mengenai hal-hal yang telah Anda lakukan dengan baik.
Bukan untuk meyakinkan diri bahwa Anda sempurna, tetapi untuk mengingat bahwa satu lingkungan kerja tidak mewakili seluruh kemampuan dan nilai diri Anda.
Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan
Selain tujuh strategi di atas, ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari ketika menghadapi intimidasi.
1. Jangan membalas dengan intimidasi
Anda mungkin merasa sangat marah.
Namun, membalas dengan ancaman, penghinaan, atau tindakan agresif dapat memperburuk situasi dan berpotensi merugikan Anda sendiri.
2. Jangan menghapus bukti
Jika terdapat komunikasi tertulis yang relevan, simpan sesuai aturan dan kebijakan yang berlaku.
3. Jangan membuat tuduhan tanpa dasar
Tetap berpegang pada fakta.
Semakin objektif Anda menyampaikan masalah, semakin mudah pihak lain mengevaluasinya.
4. Jangan mengisolasi diri
Intimidasi membuat seseorang ingin menarik diri.
Justru karena itu, menjaga hubungan dengan orang-orang yang suportif menjadi penting.
5. Jangan menganggap semua perilaku tidak menyenangkan sebagai intimidasi
Kritik profesional memang terkadang terasa tidak nyaman.
Yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku, konteks, intensitas, dan apakah terdapat penyalahgunaan kekuasaan atau perlakuan yang melanggar batas profesional.
Intimidasi Tidak Harus Mengendalikan Anda
Menghadapi intimidasi di tempat kerja bukan berarti Anda harus menjadi orang yang paling keras di ruangan.
Sering kali, kekuatan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap tenang ketika diprovokasi, memahami situasi secara objektif, menetapkan batasan, mendokumentasikan kejadian, mencari dukungan, dan menggunakan jalur yang tepat ketika diperlukan.
Jika diringkas, tujuh strateginya adalah:
Jangan langsung bereaksi secara emosional.
Kenali pola perilakunya.
Dokumentasikan kejadian secara sistematis.
Tetapkan batasan dengan tegas dan asertif.
Bangun dukungan sosial.
Gunakan jalur formal jika diperlukan.
Bangun kembali rasa percaya diri dan kendali psikologis.
Yang paling penting, jangan menganggap perlakuan buruk sebagai sesuatu yang harus Anda terima hanya karena Anda membutuhkan pekerjaan.
Menjadi profesional bukan berarti membiarkan orang lain melanggar batas Anda.
Dan bersikap tenang bukan berarti Anda lemah.
Justru ketika Anda mampu mengendalikan respons, memahami situasi, menjaga bukti, dan mengambil tindakan yang tepat, Anda sedang mengambil kembali kendali atas diri Anda sendiri.***