Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Oktober 2026 | 20.33 WIB

6 Cara Mempercayai Insting Tanpa Terjebak Berpikir Berlebihan Menurut Psikologi

seseorang yang mempercayai instingnya sendiri. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah kamu sebenarnya sudah tahu apa yang ingin kamu lakukan, tetapi kemudian mulai memikirkan terlalu banyak kemungkinan?


Awalnya sederhana.

Kamu ingin menerima sebuah kesempatan. Lalu muncul pertanyaan: “Bagaimana kalau aku salah?”

Kamu ingin menjauh dari seseorang. Tetapi pikiran mulai berkata: “Jangan-jangan aku terlalu sensitif.”

Kamu ingin mengatakan “tidak”. Namun kemudian muncul rasa bersalah: “Bagaimana kalau mereka kecewa?”

Akhirnya, sesuatu yang semula terasa jelas menjadi semakin membingungkan.

Kita sering menganggap bahwa semakin lama kita berpikir, semakin baik keputusan yang akan kita buat. Padahal, tidak selalu demikian. Dalam situasi tertentu, terlalu banyak menganalisis justru dapat membuat kita kehilangan kontak dengan sinyal internal yang sebenarnya sudah kita miliki.

Inilah yang sering disebut sebagai insting atau gut feeling.

Insting bukan berarti kemampuan mistis untuk mengetahui masa depan. Dalam psikologi, intuisi dapat dipahami sebagai penilaian yang muncul secara cepat berdasarkan pengalaman, pola yang pernah dipelajari, emosi, dan berbagai informasi yang diproses otak tanpa sepenuhnya kita sadari.

Masalahnya, banyak orang sulit membedakan antara intuisi yang tenang dan kecemasan yang berisik.

Karena itu, mempercayai insting bukan berarti mengikuti setiap perasaan yang muncul. Justru sebaliknya: kamu perlu belajar mengenali dari mana perasaan itu berasal.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), jika kamu ingin lebih percaya pada instingmu tanpa terjebak dalam overthinking, berikut enam cara yang bisa kamu latih.

1. Berhenti mencari kepastian 100 persen

Salah satu alasan terbesar kita sulit mempercayai diri sendiri adalah karena kita ingin mendapatkan kepastian sebelum mengambil keputusan.

Kita ingin tahu apakah pilihan kita benar.

Kita ingin tahu apakah seseorang bisa dipercaya.

Kita ingin tahu apakah keputusan hari ini akan membawa hasil yang baik beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan.

Masalahnya, kehidupan hampir tidak pernah memberikan kepastian sebesar itu.

Ketika kamu terus mencari jawaban yang benar-benar pasti, pikiran akan menghasilkan semakin banyak pertanyaan.

“Bagaimana kalau begini?”

“Bagaimana kalau ternyata aku salah?”

“Bagaimana kalau ada pilihan yang lebih baik?”

“Bagaimana kalau aku menyesal?”

Siklus tersebut dapat membuat keputusan sederhana terasa seperti persoalan hidup dan mati.

Dalam pengambilan keputusan, ada kondisi yang memang membutuhkan analisis mendalam. Namun ada pula keputusan yang tidak akan pernah memiliki informasi lengkap. Dalam kondisi seperti itu, menunggu kepastian sempurna justru dapat membuatmu tidak bergerak.

Karena itu, cobalah mengubah pertanyaan.

Daripada bertanya:

“Apakah aku bisa yakin bahwa keputusan ini benar?”

tanyakan:

“Apakah aku memiliki cukup alasan untuk mengambil keputusan ini sekarang?”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.

Kamu tidak lagi menuntut kepastian. Kamu hanya mencari tingkat kejelasan yang cukup untuk bergerak.

Latihan sederhana

Ketika sedang menghadapi keputusan, tuliskan tiga hal:

Apa yang sudah aku ketahui?
Apa yang belum aku ketahui?
Apakah informasi yang belum aku ketahui benar-benar penting untuk keputusan ini?

Pertanyaan ketiga sangat penting.

Kadang-kadang kita mencari informasi bukan karena informasi itu dibutuhkan, tetapi karena kita sedang mencoba meredakan kecemasan.

Dan semakin banyak informasi yang kita cari untuk menenangkan kecemasan, semakin banyak pula kemungkinan baru yang muncul.

2. Bedakan intuisi dari kecemasan

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Tidak semua “perasaan di dalam hati” adalah insting.

Kadang-kadang itu adalah ketakutan.

Kadang itu pengalaman buruk dari masa lalu.

Kadang itu adalah kecemasan yang sedang mencari sesuatu untuk dikhawatirkan.

Intuisi biasanya tidak membutuhkan banyak drama.

Ia bisa terasa seperti:

“Ada sesuatu yang tidak cocok di sini.”

atau:

“Aku merasa sebaiknya tidak mengambil kesempatan ini.”

Sementara kecemasan cenderung terus berbicara.

“Bagaimana kalau nanti semuanya berantakan?”

“Bagaimana kalau dia marah?”

“Bagaimana kalau aku membuat keputusan yang salah?”

“Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?”

Perhatikan perbedaannya.

Intuisi bisa memberikan sinyal.

Kecemasan sering memberikan seribu skenario.

Namun, ini bukan aturan mutlak. Karena itu, jangan menilai sebuah perasaan hanya berdasarkan apakah perasaan tersebut terasa kuat.

Cobalah bertanya:

“Apakah perasaan ini memberi informasi, atau hanya memberikan ketakutan?”

Misalnya, kamu bertemu seseorang dan merasa tidak nyaman.

Jangan langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut pasti buruk.

Sebaliknya, periksa perasaan itu.

Apakah ada perilaku tertentu yang membuatmu tidak nyaman?

Apakah dia tidak menghargai batasanmu?

Apakah kata-katanya tidak konsisten dengan tindakannya?

Apakah kamu pernah mengalami pola serupa sebelumnya?

Jika ada pola nyata yang mendukung perasaanmu, kemungkinan perasaan tersebut sedang menangkap informasi yang relevan.

Tetapi jika tidak ada alasan konkret dan pikiranmu langsung melompat ke berbagai skenario buruk, mungkin yang sedang berbicara bukan intuisi, melainkan kecemasan.

3. Beri dirimu ruang sebelum mengambil keputusan

Ironisnya, kita sering mencoba mendengarkan insting ketika pikiran sedang sangat bising.

Padahal, semakin tertekan seseorang, semakin sulit ia membaca sinyal internal secara jernih.

Karena itu, salah satu cara terbaik untuk mengenali intuisi adalah memberi jarak sejenak dari masalah.

Tidak selalu berarti harus pergi selama berhari-hari.

Kadang kamu hanya membutuhkan beberapa menit tanpa ponsel, tanpa pendapat orang lain, dan tanpa terus-menerus mencari informasi.

Duduk.

Tarik napas.

Berjalan sebentar.

Tuliskan pikiranmu.

Atau tidur dan pikirkan kembali keputusan itu keesokan harinya jika memang memungkinkan.

Mengapa ini membantu?

Karena ketika kita terus-menerus memikirkan sebuah masalah, kita dapat masuk ke dalam pola rumination—memikirkan persoalan yang sama berulang kali tanpa benar-benar menghasilkan solusi baru.

Ada perbedaan antara berpikir dan mengulang pikiran.

Berpikir membantu kita memahami.

Mengulang pikiran hanya membuat kita semakin lelah.

Cobalah eksperimen sederhana.

Ketika sebuah keputusan mulai membuatmu berputar-putar, katakan:

“Aku tidak harus menyelesaikan ini dalam lima menit.”

Kemudian ambil jeda.

Setelah beberapa waktu, kembali kepada masalah tersebut.

Tanyakan:

“Apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang, setelah pikiranku sedikit lebih tenang?”

Sering kali jawabannya menjadi jauh lebih sederhana.

4. Belajar mengenali pola dari pengalamanmu sendiri

Insting yang baik tidak muncul dari ruang kosong.

Sering kali intuisi merupakan hasil dari pengalaman yang terakumulasi.

Otak manusia sangat pandai mengenali pola.

Kamu mungkin pernah berbicara dengan seseorang dan langsung merasa ada sesuatu yang aneh, meskipun sulit menjelaskannya.

Mengapa?

Mungkin karena kamu pernah melihat pola yang sama sebelumnya.

Nada bicara.

Bahasa tubuh.

Cara seseorang menghindari pertanyaan.

Ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan.

Atau cara tertentu seseorang memperlakukan orang lain.

Otak dapat menangkap berbagai detail tersebut sebelum kamu menyadarinya secara sadar.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Pengalaman juga bisa menghasilkan bias.

Jika kamu pernah dikhianati, misalnya, kamu mungkin menjadi lebih waspada terhadap perilaku tertentu. Kewaspadaan itu bisa berguna, tetapi juga bisa membuatmu melihat bahaya di tempat yang sebenarnya aman.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apa yang dikatakan instingku?”

Tambahkan:

“Pengalaman apa yang membuatku merasa seperti ini?”

Ini membantu kamu membedakan antara intuisi berbasis pengalaman dan respons otomatis akibat luka masa lalu, prasangka, atau ketakutan.

Cobalah membuat jurnal intuisi

Ketika memiliki firasat kuat tentang sesuatu, tuliskan:

Apa yang kurasakan?
Apa yang membuatku merasakannya?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah firasatku ternyata akurat?
Apa yang bisa kupelajari?

Lakukan berulang kali.

Lama-kelamaan kamu akan mulai mengenali pola dalam dirimu sendiri.

Mungkin kamu akan menemukan bahwa instingmu cukup akurat dalam membaca situasi sosial, tetapi kurang akurat ketika kamu sedang sangat lelah.

Atau mungkin kamu menyadari bahwa intuisi tentang pekerjaan cukup kuat, tetapi keputusan mengenai hubungan sering dipengaruhi ketakutan.

Kesadaran semacam ini jauh lebih berguna daripada sekadar mengatakan, “Aku harus mengikuti kata hati.”

5. Kurangi kebiasaan meminta terlalu banyak pendapat

Meminta nasihat bukan sesuatu yang buruk.

Justru dalam banyak situasi, perspektif orang lain sangat berharga.

Masalahnya muncul ketika kamu meminta pendapat dari terlalu banyak orang karena sebenarnya kamu tidak percaya pada keputusanmu sendiri.

Kamu bertanya kepada satu orang.

Kemudian orang kedua.

Lalu teman lain.

Kemudian mencari video.

Membaca forum.

Mencari pengalaman orang lain.

Dan setelah mendapatkan dua puluh pendapat, kamu justru semakin bingung.

Mengapa?

Karena setiap orang membawa pengalaman, nilai, ketakutan, dan sudut pandang mereka sendiri.

Pada akhirnya, kamu bukan lagi mencoba menemukan apa yang benar untukmu.

Kamu mencoba menemukan jawaban yang akan membuat semua orang setuju.

Padahal, keputusan hidupmu tidak harus masuk akal bagi semua orang.

Sesekali, cobalah mengambil keputusan kecil tanpa meminta validasi eksternal.

Misalnya:

Apa yang ingin kamu lakukan akhir pekan ini?

Apakah kamu ingin menerima undangan tersebut?

Apakah kamu ingin mengatakan tidak?

Apakah kamu ingin mencoba sesuatu yang baru?

Mulailah dari keputusan kecil.

Tujuannya bukan menjadi keras kepala.

Tujuannya adalah membangun kembali hubungan dengan penilaianmu sendiri.

Kamu ingin mengembangkan keyakinan:

“Aku boleh mendengarkan pendapat orang lain, tetapi aku tetap bertanggung jawab atas keputusan yang kuambil.”

Itulah bentuk kepercayaan diri yang lebih sehat.

6. Terima bahwa salah mengambil keputusan bukan berarti kamu tidak bisa mempercayai dirimu

Ini mungkin bagian tersulit.

Banyak orang takut mempercayai insting karena mereka pernah salah.

Mereka berpikir:

“Dulu aku sudah mengikuti perasaanku dan ternyata salah. Jadi sekarang aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri.”

Padahal, keputusan yang salah tidak otomatis berarti instingmu buruk.

Tidak ada manusia yang mampu membuat keputusan sempurna sepanjang hidupnya.

Bahkan orang yang sangat intuitif pun bisa salah.

Informasi yang tersedia bisa tidak lengkap.

Situasi bisa berubah.

Orang lain bisa berubah.

Dan terkadang sesuatu memang tidak dapat diprediksi.

Jika kamu menganggap setiap kesalahan sebagai bukti bahwa kamu tidak boleh mempercayai diri sendiri, kamu akan terus mencari otoritas dari luar.

Kamu akan selalu membutuhkan seseorang untuk mengatakan:

“Ya, itu keputusan yang benar.”

Padahal, kedewasaan bukan berarti selalu membuat keputusan yang tepat.

Kedewasaan adalah mampu berkata:

“Aku mengambil keputusan terbaik berdasarkan informasi yang kumiliki saat itu. Kalau ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, aku akan belajar dan memperbaikinya.”

Cara berpikir seperti ini mengurangi ketakutan terhadap kesalahan.

Dan ketika kamu tidak terlalu takut salah, kamu justru lebih mudah mendengarkan dirimu sendiri.

Jangan salah memahami arti “percaya insting”

Mempercayai insting bukan berarti melakukan apa pun yang kamu rasakan tanpa berpikir.

Bukan berarti mengabaikan fakta.

Bukan berarti menolak nasihat.

Dan bukan berarti setiap firasat pasti benar.

Insting sebaiknya diperlakukan sebagai satu sumber informasi, bukan satu-satunya sumber kebenaran.

Untuk keputusan penting, kamu bisa menggunakan kombinasi:

Fakta + pengalaman + nilai pribadi + intuisi + konsekuensi yang mungkin terjadi.

Misalnya, kamu mendapatkan tawaran pekerjaan.

Intuisimu berkata bahwa ada sesuatu yang tidak cocok.

Jangan langsung menerima atau menolaknya.

Periksa.

Apa yang membuatmu merasa demikian?

Bagaimana budaya kerja perusahaan?

Bagaimana orang-orang di sana memperlakukan karyawan?

Apakah ekspektasi pekerjaannya jelas?

Apakah ada tanda-tanda yang tidak konsisten?

Setelah itu, dengarkan kembali perasaanmu.

Dengan cara ini, intuisi tidak menjadi pengganti logika.

Sebaliknya, intuisi menjadi partner bagi logika.

Pada akhirnya, kepercayaan terhadap diri sendiri dibangun lewat latihan

Kita sering berharap suatu hari nanti akan tiba pada kondisi ketika kita sepenuhnya yakin pada diri sendiri.

Padahal, kepercayaan terhadap diri sendiri biasanya tidak muncul sekaligus.

Ia dibangun melalui pengalaman kecil.

Kamu membuat keputusan.

Kamu mengamati hasilnya.

Kamu belajar.

Kamu memperbaiki kesalahan.

Kamu mencoba lagi.

Sedikit demi sedikit, kamu mulai mengenali dirimu sendiri.

Kamu tahu kapan harus berhenti.

Kamu tahu kapan harus mencoba.

Kamu tahu kapan sebuah ketakutan memang perlu didengarkan.

Dan kamu tahu kapan pikiranmu hanya sedang menciptakan skenario yang belum tentu terjadi.

Pada titik tertentu, kamu tidak lagi membutuhkan kepastian untuk setiap langkah.

Kamu mulai memiliki keyakinan yang lebih sederhana:

“Aku mungkin tidak selalu tahu apa yang akan terjadi. Tetapi aku percaya bahwa aku mampu menghadapi apa pun yang terjadi setelahnya.”

Mungkin itulah bentuk kepercayaan diri yang paling sehat.

Bukan keyakinan bahwa kamu tidak akan pernah salah.

Tetapi keyakinan bahwa kamu tidak akan meninggalkan dirimu sendiri ketika ternyata kamu salah.

Dan ketika kamu memiliki keyakinan tersebut, kamu tidak perlu lagi berpikir berlebihan hanya untuk merasa aman.

Kamu bisa berpikir ketika memang diperlukan.

Kamu bisa mendengarkan orang lain tanpa kehilangan suara sendiri.

Dan ketika saatnya tiba untuk mengambil keputusan, kamu bisa berhenti sejenak, mendengarkan dirimu, mempertimbangkan fakta, lalu berkata:

“Aku mungkin tidak memiliki semua jawabannya. Tetapi aku cukup mengenal diriku untuk mengambil langkah berikutnya.”***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore