Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Oktober 2026 | 19.59 WIB

6 Alasan Mengapa Membiarkan Seseorang Menunggu adalah Sifat yang Sangat Buruk Menurut Psikologi

seseorang yang membiarkan orang lain menunggu. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Menunggu adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kita menunggu seseorang datang, menunggu balasan pesan, menunggu keputusan, menunggu kepastian, atau menunggu seseorang menepati janji yang sudah dibuat.


Namun, ada perbedaan besar antara menunggu karena keadaan dan sengaja membiarkan seseorang menunggu.

Ketika seseorang terlambat karena keadaan yang tidak dapat dikendalikan, tentu hal tersebut masih bisa dimaklumi. Tetapi ketika seseorang berulang kali membuat orang lain menunggu tanpa memberikan kabar, tanpa kepastian, bahkan seolah-olah tidak peduli terhadap waktu dan perasaan orang lain, perilaku tersebut dapat menunjukkan persoalan yang lebih dalam dalam cara seseorang memperlakukan hubungan.

Dalam psikologi, waktu bukan hanya sekadar angka pada jam. Waktu juga berkaitan dengan perhatian, harapan, rasa dihargai, dan kepercayaan.

Ketika seseorang berkata, "Tunggu sebentar," tetapi kemudian menghilang selama berjam-jam tanpa penjelasan, yang hilang bukan hanya beberapa menit dari kehidupan orang lain. Ia juga dapat menghabiskan energi mental orang tersebut: membuatnya bertanya-tanya, menunggu kepastian, mengubah rencana, dan terus memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Karena itu, kebiasaan membiarkan seseorang menunggu, terutama jika dilakukan dengan sengaja dan berulang kali, dapat menjadi tanda perilaku yang tidak sehat dalam hubungan.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), terdapat enam alasan mengapa perilaku tersebut dapat dianggap buruk jika dilihat dari sudut pandang psikologi.

1. Membiarkan Orang Menunggu Menunjukkan Kurangnya Empati

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan mempertimbangkan perasaan serta perspektif orang lain.

Ketika seseorang mengetahui bahwa orang lain sedang menunggu dirinya, tetapi tetap tidak memberikan kabar atau kepastian, ia sebenarnya sedang mengabaikan pengalaman psikologis orang tersebut.

Bayangkan seseorang sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan Anda.

Ia mungkin sudah menyelesaikan pekerjaannya lebih awal, bersiap-siap, melakukan perjalanan, bahkan membatalkan aktivitas lain agar bisa bertemu dengan Anda.

Kemudian Anda tidak datang tepat waktu.

Lebih buruk lagi, Anda tidak memberikan kabar.

Dari sudut pandang Anda, mungkin keterlambatan tersebut hanya dianggap sebagai sesuatu yang sederhana.

Namun dari sudut pandang orang yang menunggu, situasinya berbeda.

Ia mungkin mulai berpikir:

"Apakah dia masih datang?"

"Apakah aku salah tempat?"

"Apakah terjadi sesuatu?"

"Kenapa dia tidak memberi kabar?"

"Apakah waktuku tidak penting baginya?"

Inilah mengapa empati sangat penting.

Orang yang memiliki empati tidak hanya berpikir, "Aku sedang sibuk."

Ia juga mampu berpikir:

"Kalau aku membuatnya menunggu, kira-kira bagaimana perasaannya?"

Perbedaan kecil dalam cara berpikir tersebut dapat menentukan kualitas sebuah hubungan.

Orang yang menghargai orang lain biasanya memahami bahwa waktu seseorang memiliki nilai. Karena itu, ketika ia tahu dirinya akan terlambat, ia berusaha memberi informasi.

Bukan karena ia harus selalu sempurna.

Tetapi karena ia memahami bahwa orang lain juga memiliki kehidupan.

2. Menunggu Tanpa Kepastian Dapat Menimbulkan Kecemasan

Salah satu hal yang paling melelahkan secara psikologis bukan selalu menunggu.

Yang lebih melelahkan adalah menunggu tanpa mengetahui kapan penantian itu akan berakhir.

Ketidakpastian dapat membuat pikiran terus bekerja.

Ketika seseorang tidak mendapatkan informasi yang jelas, otak cenderung mencoba mengisi kekosongan tersebut dengan berbagai kemungkinan.

"Kenapa belum datang?"

"Mungkin dia lupa."

"Mungkin dia berubah pikiran."

"Mungkin aku melakukan sesuatu yang salah."

"Mungkin dia sebenarnya tidak ingin bertemu denganku."

Semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin banyak energi mental yang dapat digunakan untuk memikirkan situasi tersebut.

Dalam hubungan interpersonal, hal ini menjadi lebih kuat ketika orang yang menunggu memiliki keterikatan emosional terhadap orang yang ditunggu.

Misalnya, seseorang menunggu balasan pesan dari orang yang ia cintai.

Lima menit mungkin terasa biasa.

Tiga puluh menit masih dapat dianggap normal.

Namun ketika pesan tidak dibalas berjam-jam tanpa penjelasan, pikiran mulai mencari makna di balik keheningan tersebut.

Masalahnya bukan semata-mata karena pesan belum dibalas.

Masalahnya adalah ketidakpastian.

Jika seseorang berkata, "Aku sedang bekerja. Nanti malam aku balas," situasinya berubah.

Orang tersebut tidak lagi berada dalam keadaan tidak tahu.

Ia memiliki informasi.

Karena itu, komunikasi sederhana sering kali mampu mengurangi beban psikologis yang muncul akibat menunggu.

Kalimat seperti:

"Maaf, aku terlambat 30 menit."

"Aku sedang ada urusan mendadak."

"Aku belum bisa datang sekarang."

"Kalau kamu tidak bisa menunggu, kita jadwalkan ulang."

terlihat sederhana.

Tetapi secara psikologis, kalimat tersebut menunjukkan penghargaan terhadap waktu dan kondisi emosional orang lain.

3. Kebiasaan Membiarkan Orang Menunggu Dapat Merusak Kepercayaan

Kepercayaan tidak biasanya hancur dalam satu kejadian besar.

Sering kali, kepercayaan rusak melalui hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.

Seseorang berkata akan datang, tetapi terlambat.

Kemudian ia tidak memberi kabar.

Lain waktu, ia kembali membuat janji tetapi tidak menepatinya.

Kemudian ia meminta orang lain menunggu lagi.

Pada awalnya, orang mungkin masih memaklumi.

"Namanya juga manusia."

"Mungkin dia sedang sibuk."

"Mungkin memang ada masalah."

Tetapi jika pola tersebut terus berulang, orang mulai melihatnya bukan sebagai kecelakaan, melainkan sebagai karakter.

Di sinilah kepercayaan mulai berkurang.

Kepercayaan pada dasarnya dibangun melalui konsistensi.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu dan kemudian melakukan apa yang dikatakannya, kita belajar bahwa perkataannya dapat dipercaya.

Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus mengatakan satu hal tetapi melakukan hal lain, otak mulai belajar bahwa perkataan orang tersebut tidak dapat dijadikan pegangan.

Akibatnya, hubungan menjadi lebih rapuh.

Orang mulai berhenti berharap.

Mulai berhenti membuat rencana.

Mulai menyediakan alternatif.

Dan yang paling menyedihkan, mulai berhenti mempercayai Anda.

Pada tahap tertentu, seseorang mungkin tidak lagi marah ketika Anda terlambat.

Ia hanya tidak peduli.

Dan sering kali, sikap tidak peduli tersebut merupakan tanda bahwa kepercayaan sudah terlalu banyak mengalami kerusakan.

4. Membiarkan Orang Menunggu Dapat Memberikan Pesan Bahwa Waktu Mereka Tidak Penting

Waktu adalah sumber daya yang tidak bisa dikembalikan.

Uang bisa dicari kembali.

Barang bisa dibeli lagi.

Kesempatan tertentu mungkin bisa datang kembali.

Tetapi waktu yang sudah berlalu tidak dapat dikembalikan.

Karena itu, ketika seseorang terus-menerus membuat orang lain menunggu, sebenarnya ia sedang menggunakan sebagian waktu hidup orang tersebut.

Tentu saja tidak semua keterlambatan merupakan bentuk ketidakhormatan.

Kecelakaan, pekerjaan mendadak, masalah kesehatan, kemacetan, atau keadaan darurat adalah hal-hal yang dapat terjadi kepada siapa pun.

Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak memiliki kepedulian terhadap dampak perilakunya.

Misalnya, seseorang sudah tahu bahwa temannya harus pulang pukul 18.00.

Namun ia tetap datang pukul 19.00 tanpa memberi kabar.

Temannya mungkin kehilangan satu jam yang sebenarnya bisa digunakan untuk bekerja, beristirahat, belajar, bertemu keluarga, atau melakukan aktivitas lainnya.

Ketika hal tersebut terus terjadi, pesan yang diterima secara psikologis bisa menjadi:

"Waktuku tidak dianggap penting."

"Dia menganggap aku akan selalu menunggunya."

"Dia merasa waktunya lebih berharga daripada waktuku."

Dan tidak ada hubungan yang sehat jika salah satu pihak terus merasa bahwa dirinya harus selalu menyesuaikan diri.

Menghargai seseorang berarti menghargai sumber daya yang dimilikinya, termasuk waktunya.

5. Membiarkan Seseorang Menunggu Bisa Menjadi Bentuk Kontrol yang Tidak Sehat

Ada situasi yang lebih serius daripada sekadar terlambat.

Dalam beberapa hubungan, membuat seseorang menunggu dapat digunakan sebagai cara untuk mengendalikan dinamika hubungan.

Misalnya, seseorang sengaja tidak membalas pesan agar pasangannya merasa cemas.

Ia sengaja datang terlambat agar orang lain terus menunggu.

Ia sengaja memberikan jawaban yang tidak jelas agar pihak lain terus berharap.

Atau ia sengaja menghilang dan muncul kembali ketika dirinya membutuhkan perhatian.

Jika dilakukan secara sadar sebagai strategi untuk membuat orang lain mengejar, cemas, atau merasa tidak aman, perilaku tersebut menjadi jauh lebih problematis.

Dalam psikologi hubungan, pola seperti ini dapat berkaitan dengan dinamika kontrol, manipulasi, atau perilaku yang memperkuat ketidakpastian dalam hubungan.

Seseorang mungkin berpikir:

"Kalau dia benar-benar peduli, dia pasti akan menunggu."

Padahal itu adalah logika yang berbahaya.

Kepedulian seseorang tidak seharusnya diuji dengan membuatnya menderita.

Cinta bukan kompetisi tentang siapa yang paling lama mampu menunggu.

Perhatian bukan sesuatu yang harus diperoleh dengan membuktikan seberapa besar seseorang mampu bertahan dalam ketidakpastian.

Hubungan yang sehat seharusnya dibangun melalui komunikasi, bukan permainan psikologis.

Jika seseorang memang membutuhkan waktu, katakan.

Jika belum siap menjawab, katakan.

Jika ingin membatalkan pertemuan, katakan.

Kejujuran mungkin mengecewakan dalam jangka pendek, tetapi ketidakjelasan yang terus-menerus dapat jauh lebih melelahkan.

6. Pada Akhirnya, Orang yang Selalu Dibuat Menunggu Bisa Memilih Pergi

Ini adalah konsekuensi yang sering tidak disadari.

Orang yang terus-menerus menunggu pada akhirnya dapat belajar untuk berhenti menunggu.

Awalnya mungkin ia marah.

Kemudian kecewa.

Setelah itu mungkin ia mulai mempertanyakan hubungan tersebut.

Lalu perlahan-lahan ia mulai mengurangi harapan.

Ia tidak lagi menunggu pesan.

Tidak lagi menunggu kepastian.

Tidak lagi menyesuaikan jadwal.

Tidak lagi percaya pada janji.

Dan pada titik tertentu, ia mungkin memilih pergi.

Yang menarik adalah orang yang membuatnya menunggu sering kali baru menyadari nilai orang tersebut setelah orang itu benar-benar berhenti menunggu.

Padahal perubahan tersebut biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba.

Ada proses panjang di belakangnya.

Setiap keterlambatan.

Setiap janji yang tidak ditepati.

Setiap pesan yang diabaikan.

Setiap "sebentar lagi" yang ternyata berjam-jam.

Setiap kali seseorang merasa tidak dihargai.

Semua pengalaman tersebut dapat terakumulasi.

Sampai akhirnya seseorang menyadari:

"Aku tidak ingin diperlakukan seperti ini lagi."

Dan ketika seseorang sudah sampai pada kesimpulan tersebut, meminta mereka untuk kembali seperti dulu tidak selalu mudah.

Karena yang hilang bukan hanya kesabaran.

Yang hilang adalah kepercayaan.

Jangan Membuat Orang Menunggu Hanya Karena Anda Tahu Mereka Akan Tetap Menunggu

Ada perbedaan besar antara seseorang yang bersedia menunggu dan seseorang yang terpaksa menunggu.

Seseorang mungkin bersedia menunggu karena ia peduli.

Tetapi jangan menjadikan kepedulian tersebut sebagai alasan untuk memperlakukannya sesuka hati.

Jangan berpikir:

"Dia pasti menunggu."

"Dia tidak akan pergi."

"Dia terlalu sayang untuk meninggalkan aku."

"Dia pasti memaafkan."

Justru ketika seseorang terus bersedia menunggu, seharusnya hal itu membuat kita semakin menghargainya.

Karena setiap kali seseorang menunggu, sebenarnya ia sedang memberikan sebagian dari waktunya kepada kita.

Dan waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.

Jika terlambat, beri kabar.

Jika tidak bisa datang, katakan.

Jika berubah pikiran, jujurlah.

Jika membutuhkan waktu, komunikasikan.

Jika tidak ingin melanjutkan hubungan, berikan kepastian.

Tidak ada manusia yang sempurna.

Semua orang pernah terlambat.

Semua orang pernah lupa.

Semua orang pernah membuat kesalahan.

Namun yang membedakan seseorang yang menghargai orang lain dengan seseorang yang tidak menghargainya adalah bagaimana ia bertanggung jawab setelah melakukan kesalahan tersebut.

Orang yang peduli akan berkata:

"Maaf sudah membuatmu menunggu."

Orang yang bertanggung jawab akan menjelaskan.

Orang yang menghargai hubungan akan berusaha memperbaiki pola tersebut.

Sedangkan orang yang tidak peduli akan menganggap penantian orang lain sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal tidak.

Membuat seseorang menunggu sesekali mungkin hanya sebuah kesalahan. Tetapi membuat seseorang terus-menerus menunggu tanpa kepastian dapat menjadi sebuah pola perilaku yang merusak hubungan.

Karena pada akhirnya, seseorang tidak hanya lelah menunggu kehadiran kita.

Ia bisa lelah menunggu kita untuk menghargainya.

Dan ketika kesabaran itu akhirnya habis, mungkin yang pergi bukan hanya seseorang yang sedang menunggu.

Yang pergi bisa jadi adalah kepercayaan, rasa hormat, dan kesempatan untuk mempertahankan hubungan tersebut.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore