Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02.38 WIB

Menjadi Sukses Setelah Mengalami Masa Kecil yang Sulit, Lakukan 4 Strategi Efektif Menurut Psikologi

seseorang yang sukses setelah mengalami masa kecil yang sulit / foto: Magnific/namii9

 

JawaPos.com - Tidak semua orang memulai hidup dari garis yang sama.

Ada orang yang tumbuh dalam keluarga yang penuh dukungan, mendapatkan pendidikan yang baik, merasa aman secara emosional, dan memiliki orang-orang yang selalu siap membantu ketika menghadapi masalah.

Namun, ada pula yang harus tumbuh dalam keadaan yang jauh lebih sulit.

Mungkin masa kecilnya dipenuhi konflik keluarga, keterbatasan ekonomi, kehilangan orang terdekat, kurang mendapatkan perhatian, sering dibandingkan dengan orang lain, mengalami perundungan, atau harus belajar menjadi mandiri jauh lebih cepat daripada anak-anak seusianya.

Pengalaman seperti itu dapat meninggalkan bekas yang panjang.

Ketika dewasa, seseorang mungkin merasa sulit percaya kepada orang lain, takut gagal, terlalu keras terhadap dirinya sendiri, mudah merasa tidak cukup baik, atau selalu merasa harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa dirinya berharga.

Tetapi masa lalu yang sulit tidak otomatis menentukan masa depan seseorang.

Dalam psikologi, manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi, belajar, membangun pola baru, dan mengembangkan cara yang lebih sehat dalam menghadapi kehidupan. Pengalaman masa kecil memang dapat memengaruhi seseorang, tetapi pengaruh tersebut bukan berarti kehidupan sudah ditentukan sejak awal.

Justru, salah satu langkah penting untuk menjadi lebih sukses setelah mengalami masa kecil yang sulit adalah berhenti melihat masa lalu sebagai vonis dan mulai melihatnya sebagai sesuatu yang perlu dipahami, diproses, dan dijadikan dasar untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Lalu, bagaimana caranya?

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (16/10), terdapat empat strategi efektif menurut psikologi yang dapat membantu seseorang membangun kesuksesan setelah melewati masa kecil yang sulit.

1. Berhenti Menganggap Masa Lalu sebagai Identitas Diri

Salah satu jebakan terbesar setelah mengalami masa kecil yang sulit adalah mengubah pengalaman menjadi identitas.

Misalnya:

"Saya memang orang yang tidak percaya diri."

"Saya selalu gagal."

"Keluarga saya miskin, jadi saya tidak mungkin sukses."

"Saya memang tidak layak mendapatkan kehidupan yang baik."

"Saya seperti ini karena masa kecil saya."

Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

"Saya mengalami masa kecil yang sulit."

dan:

"Saya adalah orang yang rusak karena masa kecil saya."

Kalimat pertama menggambarkan pengalaman.

Kalimat kedua menjadikan pengalaman sebagai identitas.

Dalam psikologi, cara seseorang memandang dirinya memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku dan keputusan yang diambilnya. Jika seseorang terus menganggap dirinya tidak berharga, ia dapat lebih mudah mengambil keputusan yang sesuai dengan keyakinan tersebut.

Sebaliknya, ketika seseorang mulai memisahkan siapa dirinya dari apa yang pernah terjadi kepadanya, ruang untuk berubah menjadi lebih besar.

Masa lalu adalah bagian dari cerita, bukan seluruh cerita

Bayangkan kehidupan seperti sebuah buku.

Bab pertama mungkin buruk.

Bab kedua mungkin penuh kesulitan.

Bab ketiga mungkin berisi kehilangan.

Tetapi selama buku itu belum selesai, tidak masuk akal menyimpulkan bagaimana akhirnya hanya berdasarkan beberapa halaman pertama.

Begitu pula kehidupan manusia.

Masa kecil adalah bagian awal dari perjalanan, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kehidupan ketika dewasa.

Karena itu, cobalah mengganti cara berbicara kepada diri sendiri.

Daripada:

"Saya tidak percaya diri."

ubah menjadi:

"Saya sedang belajar membangun kepercayaan diri."

Daripada:

"Saya selalu gagal."

ubah menjadi:

"Saya pernah mengalami kegagalan dan masih bisa belajar dari pengalaman tersebut."

Daripada:

"Saya tidak punya kesempatan."

ubah menjadi:

"Saya mungkin tidak memiliki kondisi awal yang ideal, tetapi saya masih bisa menentukan langkah berikutnya."

Perubahan bahasa ini mungkin terlihat kecil.

Namun, perubahan cara berpikir sering kali dimulai dari perubahan cara seseorang mendeskripsikan dirinya.

Fokus pada masa depan yang masih bisa dikendalikan

Anda tidak dapat mengubah keluarga tempat Anda dilahirkan.

Anda tidak dapat menghapus kejadian yang sudah berlalu.

Anda juga tidak dapat kembali ke masa lalu dan memberikan apa yang dahulu Anda butuhkan kepada diri sendiri.

Tetapi Anda masih memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang dilakukan hari ini.

Pertanyaan yang lebih produktif bukan:

"Mengapa dulu hidup saya seperti ini?"

melainkan:

"Setelah semua yang terjadi, kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun sekarang?"

Pertanyaan kedua mengembalikan perhatian kepada sesuatu yang masih dapat dikendalikan.

Dan perubahan besar sering kali dimulai dari sana.

2. Bangun Self-Efficacy: Keyakinan bahwa Anda Mampu Mempengaruhi Hidup Sendiri

Orang yang mengalami masa kecil sulit terkadang tumbuh dengan perasaan bahwa hidup berada di luar kendalinya.

Ketika masih kecil, memang banyak hal yang tidak dapat dikendalikan.

Anak tidak dapat memilih orang tua.

Anak tidak dapat memilih kondisi ekonomi keluarga.

Anak tidak selalu dapat meninggalkan lingkungan yang tidak sehat.

Anak juga belum memiliki kemampuan dan sumber daya seperti orang dewasa.

Masalahnya, perasaan tidak berdaya tersebut terkadang terbawa hingga dewasa.

Seseorang kemudian berpikir:

"Percuma saya mencoba."

"Saya memang tidak berbakat."

"Orang seperti saya tidak mungkin berhasil."

"Keadaan tidak akan pernah berubah."

Di sinilah konsep self-efficacy menjadi penting.

Self-efficacy secara sederhana adalah keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan tindakan tertentu dan menghadapi tantangan yang muncul.

Ini bukan berarti seseorang harus yakin bahwa dirinya bisa melakukan segala sesuatu.

Justru self-efficacy yang sehat jauh lebih realistis:

"Saya mungkin belum bisa sekarang, tetapi saya bisa belajar."

Jangan menunggu percaya diri untuk mulai bertindak

Banyak orang mengira mereka harus percaya diri terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

Padahal sering kali prosesnya justru terbalik.

Tindakan → pengalaman → keberhasilan kecil → kepercayaan diri meningkat.

Misalnya seseorang ingin meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum.

Jika ia terus berpikir:

"Saya tidak percaya diri."

maka ia mungkin terus menghindari situasi yang menuntutnya berbicara.

Akibatnya, ia tidak pernah mendapatkan pengalaman bahwa dirinya sebenarnya bisa berkembang.

Sebaliknya, ia dapat memulai dari langkah kecil.

Hari pertama: berbicara selama satu menit.

Minggu berikutnya: menjelaskan sesuatu kepada tiga orang.

Kemudian: memimpin diskusi kecil.

Setelah beberapa pengalaman, otak mendapatkan bukti baru:

"Ternyata saya mampu."

Bukti nyata seperti ini jauh lebih kuat daripada sekadar mengucapkan afirmasi tanpa tindakan.

Gunakan prinsip kemenangan kecil

Jika masa lalu membuat Anda merasa tidak berdaya, jangan langsung mencoba mengubah seluruh kehidupan sekaligus.

Mulailah dengan sesuatu yang dapat Anda kendalikan.

Contohnya:

menyelesaikan satu tugas penting setiap hari;

belajar keterampilan baru selama 30 menit;

berolahraga secara konsisten;

membaca beberapa halaman buku;

mengatur keuangan;

memperbaiki pola tidur;

mengirim satu lamaran pekerjaan;

membangun satu koneksi profesional;

menyelesaikan proyek kecil.

Setiap kali Anda menepati janji kepada diri sendiri, Anda membangun bukti bahwa:

"Saya bisa mengandalkan diri saya."

Dan bagi seseorang yang sejak kecil terbiasa merasa tidak aman atau tidak berdaya, pengalaman tersebut sangat berharga.

3. Ubah Pengalaman Sulit Menjadi Pelajaran, Bukan Beban yang Harus Dibawa Selamanya

Strategi ketiga adalah belajar mengambil makna dari pengalaman tanpa harus menyangkal bahwa pengalaman tersebut menyakitkan.

Ini penting karena ada dua ekstrem yang perlu dihindari.

Ekstrem pertama adalah:

terus hidup sebagai korban masa lalu.

Seseorang mungkin terus mengulang:

"Hidup saya seperti ini karena apa yang terjadi dulu."

Ekstrem kedua adalah:

memaksa diri untuk menganggap semua pengalaman buruk sebagai sesuatu yang positif.

Misalnya:

"Tidak apa-apa saya mengalami semuanya. Itu justru membuat saya lebih kuat."

Tidak selalu demikian.

Pengalaman buruk tetap bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan.

Anda tidak harus menganggap sesuatu yang buruk sebagai hal yang baik agar dapat berkembang darinya.

Bedakan antara menerima dan membenarkan

Menerima kenyataan bukan berarti membenarkan apa yang terjadi.

Jika seseorang pernah diperlakukan buruk ketika kecil, ia tidak perlu mengatakan:

"Berarti mereka benar memperlakukan saya seperti itu."

Tidak.

Menerima berarti mengakui:

"Hal tersebut memang terjadi. Saya tidak dapat mengubahnya. Tetapi saya dapat menentukan apa yang akan saya lakukan terhadap dampaknya sekarang."

Ini adalah bentuk tanggung jawab terhadap masa depan, bukan pembenaran terhadap masa lalu.

Tanyakan tiga hal kepada diri sendiri

Ketika menghadapi pengalaman sulit, cobalah melakukan refleksi dengan tiga pertanyaan:

1. Apa yang sebenarnya terjadi?

Pisahkan fakta dari interpretasi.

2. Apa yang saya pelajari dari pengalaman tersebut?

Misalnya Anda belajar pentingnya batasan pribadi, memilih lingkungan, mengelola uang, atau berkomunikasi dengan lebih sehat.

3. Apa yang ingin saya lakukan secara berbeda sekarang?

Pertanyaan ketiga adalah yang paling penting.

Karena tujuan refleksi bukan hanya memahami masa lalu.

Tujuannya adalah menggunakan pemahaman tersebut untuk membuat keputusan yang lebih baik di masa depan.

Jangan romantisasi penderitaan

Ada narasi populer yang mengatakan bahwa orang yang mengalami masa kecil sulit pasti akan menjadi lebih kuat.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Kesulitan tidak otomatis membuat seseorang menjadi kuat.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memproses pengalaman, mendapatkan dukungan, belajar dari pengalaman tersebut, dan membangun strategi baru.

Dua orang dapat mengalami kesulitan yang serupa dan memiliki hasil yang sangat berbeda.

Karena itu, jangan merasa harus berterima kasih atas semua hal buruk yang pernah terjadi.

Anda cukup mengatakan:

"Saya berharap hal itu tidak pernah terjadi. Tetapi sekarang saya ingin menggunakan pengalaman tersebut untuk membangun kehidupan yang lebih sehat."

Itu sudah cukup.

4. Bangun Lingkungan dan Hubungan yang Mendukung Pertumbuhan

Strategi keempat sering kali diremehkan.

Banyak orang berpikir bahwa kesuksesan sepenuhnya berasal dari kekuatan mental pribadi.

Padahal manusia adalah makhluk sosial.

Lingkungan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, berperilaku, mengambil keputusan, bahkan memandang dirinya sendiri.

Jika seseorang terus berada di lingkungan yang merendahkan, manipulatif, penuh konflik, atau membuatnya merasa tidak aman, proses membangun kehidupan baru akan menjadi jauh lebih sulit.

Sebaliknya, lingkungan yang sehat dapat memberikan dukungan yang membantu seseorang berkembang.

Anda tidak harus membangun semuanya sendirian

Jika masa kecil membuat Anda terbiasa menyelesaikan masalah sendiri, mungkin meminta bantuan terasa tidak nyaman.

Anda mungkin berpikir:

"Saya harus bisa sendiri."

Padahal kemandirian tidak berarti menolak semua bantuan.

Orang yang kuat bukan orang yang tidak pernah membutuhkan siapa pun.

Orang yang kuat juga mampu mengetahui kapan dirinya membutuhkan dukungan.

Dukungan tersebut bisa berasal dari:

teman yang dapat dipercaya;

mentor;

pasangan yang sehat;

komunitas;

guru;

rekan kerja;

kelompok profesional;

atau psikolog dan tenaga profesional lainnya ketika diperlukan.

Memiliki seseorang yang dapat memberikan perspektif berbeda sering kali membantu kita melihat pilihan yang sebelumnya tidak terlihat.

Pilih lingkungan yang memperkuat versi diri yang ingin Anda bangun

Cobalah memperhatikan orang-orang yang paling sering berada di sekitar Anda.

Setelah berinteraksi dengan mereka, apakah Anda merasa:

lebih bersemangat?

lebih percaya diri?

lebih tenang?

terdorong untuk berkembang?

Atau justru:

terus merasa tidak cukup baik?

takut mengambil keputusan?

selalu merasa bersalah?

kehilangan motivasi?

Tidak berarti Anda harus memutus semua hubungan yang tidak sempurna.

Tetapi Anda perlu menyadari bahwa lingkungan memiliki pengaruh.

Jika ingin membangun kehidupan yang berbeda, terkadang Anda juga perlu membangun lingkungan yang berbeda.

Kesuksesan Bukan Sekadar Tentang Uang

Ketika berbicara mengenai "menjadi sukses", kita sering langsung membayangkan uang, jabatan, bisnis, rumah, atau status sosial.

Semua itu bisa menjadi bagian dari kesuksesan.

Namun, bagi seseorang yang tumbuh dalam lingkungan sulit, definisi sukses mungkin jauh lebih mendalam.

Sukses bisa berarti:

memiliki kehidupan yang aman;

mampu memenuhi kebutuhan sendiri;

memiliki hubungan yang sehat;

tidak mengulang pola buruk dari generasi sebelumnya;

mampu mengatakan "tidak";

memiliki pekerjaan yang bermakna;

memiliki kebebasan mengambil keputusan;

dapat mengelola emosi dengan lebih baik;

mampu menikmati hidup tanpa terus merasa bersalah;

atau menciptakan keluarga yang lebih sehat daripada lingkungan yang pernah dialami.

Dengan kata lain, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi Anda naik, tetapi juga tentang seberapa sehat kehidupan yang Anda bangun ketika sampai di sana.

Jangan Jadikan Masa Kecil sebagai Alasan untuk Membenci Diri Sendiri

Ada satu hal penting yang sering terlupakan.

Jika Anda mengalami masa kecil yang sulit, mungkin ada bagian dari diri Anda yang masih membawa luka lama.

Dan ketika pola tertentu muncul—misalnya rasa takut ditolak, terlalu keras terhadap diri sendiri, atau kesulitan mempercayai orang lain—jangan langsung menyimpulkan:

"Ada yang salah dengan saya."

Cobalah menggantinya dengan:

"Ada bagian dari diri saya yang pernah belajar bertahan dengan cara tertentu. Sekarang saya sedang belajar cara yang lebih sehat."

Perubahan seperti ini membutuhkan waktu.

Anda mungkin tidak langsung menjadi percaya diri.

Anda mungkin masih takut.

Anda mungkin masih melakukan kesalahan.

Anda mungkin masih mengalami hari-hari ketika masa lalu terasa sangat dekat.

Itu tidak berarti Anda gagal.

Pertumbuhan psikologis bukan proses yang selalu berjalan lurus.

Ada kemajuan, kemunduran, pembelajaran, dan pengulangan.

Yang penting adalah arah perjalanan secara keseluruhan.

Terapkan 4 Strategi Ini dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar keempat strategi di atas tidak hanya menjadi teori, Anda dapat membuat rutinitas sederhana.

Setiap malam, luangkan waktu sekitar 10 menit dan tuliskan:

1. Apa yang terjadi hari ini?

Tuliskan satu atau dua hal penting.

2. Apa yang saya rasakan?

Berikan nama pada emosi yang muncul.

3. Apa yang berada dalam kendali saya?

Fokus pada tindakan yang dapat Anda lakukan.

4. Apa satu tindakan kecil yang dapat saya lakukan besok?

Jangan memilih sesuatu yang terlalu besar.

Pilih tindakan yang realistis.

Misalnya:

"Besok saya akan belajar selama 30 menit."

atau:

"Besok saya akan menghubungi satu orang untuk membicarakan peluang kerja."

atau:

"Besok saya akan mengatakan tidak terhadap sesuatu yang memang tidak sanggup saya lakukan."

Jika dilakukan secara konsisten, tindakan kecil dapat membentuk pola baru.

Pada Akhirnya, Anda Tidak Harus Menghapus Masa Lalu untuk Memiliki Masa Depan yang Baik

Mungkin Anda tidak dapat mengubah apa yang terjadi ketika masih kecil.

Mungkin ada hal-hal yang akan selalu menjadi bagian dari cerita hidup Anda.

Tetapi memiliki masa lalu yang sulit tidak berarti Anda harus menjalani masa depan dengan cara yang sama.

Anda dapat belajar mengenali pola.

Anda dapat membangun kepercayaan diri.

Anda dapat memilih lingkungan yang lebih sehat.

Anda dapat mempelajari keterampilan baru.

Anda dapat membangun hubungan yang berbeda.

Anda dapat meminta bantuan.

Dan yang paling penting, Anda dapat mulai membuat keputusan yang sesuai dengan kehidupan yang ingin Anda bangun—bukan semata-mata berdasarkan luka yang pernah Anda alami.

Empat strategi yang dapat menjadi titik awal adalah:

1. Pisahkan identitas diri dari masa lalu.

2. Bangun self-efficacy melalui kemenangan-kemenangan kecil.

3. Ambil pelajaran dari pengalaman tanpa meromantisasi penderitaan.

4. Bangun lingkungan dan hubungan yang mendukung pertumbuhan.

Masa kecil mungkin menentukan dari mana Anda memulai.

Tetapi itu tidak harus menentukan ke mana Anda pergi.

Terkadang, kesuksesan terbesar bukanlah membuktikan kepada orang lain bahwa Anda berhasil.

Kesuksesan terbesar adalah ketika Anda akhirnya mampu mengatakan kepada diri sendiri:

"Saya tidak bisa memilih bagaimana hidup saya dimulai. Tetapi sekarang saya bisa ikut menentukan bagaimana saya melanjutkannya."***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore