seseorang yang menetapkan batasan kepada pasangannya. (Magnific)
Padahal, justru pada masa awal hubungan, pasangan perlu mulai membangun batasan yang sehat.
Batasan bukan berarti membuat hubungan menjadi kaku. Batasan juga bukan tanda bahwa seseorang kurang mencintai pasangannya. Dalam hubungan yang sehat, batasan berfungsi sebagai cara untuk menjelaskan kebutuhan, harapan, kenyamanan, serta hal-hal yang tidak dapat diterima oleh masing-masing pihak.
Dalam psikologi hubungan, kemampuan menetapkan dan menghormati batasan berkaitan erat dengan komunikasi yang sehat, rasa aman, kepercayaan, serta kemampuan mempertahankan identitas diri di dalam hubungan.
Tanpa batasan yang jelas, hubungan dapat berkembang dengan asumsi yang berbeda. Satu orang menganggap sesuatu sebagai hal biasa, sementara pasangannya menganggapnya sebagai bentuk pelanggaran. Jika perbedaan seperti ini terus dibiarkan, konflik dapat muncul bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena tidak adanya kesepakatan.
Lalu, batasan apa saja yang sebaiknya mulai dibicarakan sejak awal hubungan?
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), terdapat tujuh di antaranya.
1. Batasan dalam komunikasi
Komunikasi adalah salah satu bagian paling penting dalam hubungan romantis. Namun, komunikasi yang sehat bukan berarti pasangan harus selalu tersedia selama 24 jam.
Pada awal hubungan, pasangan sebaiknya mulai membicarakan kebiasaan komunikasi masing-masing.
Misalnya, apakah seseorang nyaman jika harus membalas pesan dengan cepat? Apakah pasangan membutuhkan waktu sendiri setelah bekerja? Apakah menelepon larut malam diperbolehkan? Bagaimana jika salah satu pihak sedang sibuk dan tidak dapat membalas pesan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat mencegah munculnya banyak kesalahpahaman.
Seseorang yang terbiasa membalas pesan setelah beberapa jam belum tentu tidak peduli. Sebaliknya, seseorang yang senang berkomunikasi secara intens juga belum tentu terlalu menuntut. Bisa jadi keduanya hanya memiliki kebutuhan dan kebiasaan komunikasi yang berbeda.
Karena itu, daripada membuat asumsi, pasangan perlu membicarakannya.
Batasan komunikasi juga mencakup cara pasangan berbicara ketika sedang marah.
Misalnya, pasangan dapat menyepakati bahwa pertengkaran tidak boleh berubah menjadi penghinaan, makian, ancaman, atau tindakan yang sengaja bertujuan melukai secara emosional.
Kalimat seperti:
"Kalau kita sedang marah, kita boleh meminta waktu untuk menenangkan diri, tetapi kita tidak boleh saling menghina."
merupakan contoh batasan yang jauh lebih sehat daripada sekadar mengatakan, "Jangan bikin aku marah."
Perbedaannya terletak pada kejelasan. Batasan yang baik menjelaskan perilaku apa yang dapat diterima dan apa yang tidak.
Mengapa batasan komunikasi penting?
Karena konflik dalam hubungan tidak selalu dapat dihindari. Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan mengelola konflik tersebut.
Pasangan yang sehat bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar. Mereka adalah pasangan yang mampu melewati perbedaan tanpa menghancurkan rasa aman dan harga diri satu sama lain.
2. Batasan mengenai privasi dan ruang pribadi
Ketika seseorang menjalin hubungan, bukan berarti seluruh privasinya otomatis menjadi milik pasangan.
Ini merupakan salah satu batasan yang sering terlupakan.
Ada anggapan bahwa pasangan yang benar-benar mencintai harus mengetahui semuanya: kata sandi ponsel, isi percakapan, lokasi setiap saat, isi media sosial, bahkan setiap detail interaksi dengan orang lain.
Padahal, kedekatan emosional tidak sama dengan hilangnya privasi.
Seseorang tetap dapat mencintai pasangannya sekaligus memiliki ruang pribadi.
Karena itu, sejak awal hubungan pasangan sebaiknya membicarakan batasan mengenai privasi.
Contohnya:
Apakah boleh membuka ponsel pasangan tanpa izin?
Apakah pasangan harus selalu mengetahui lokasi satu sama lain?
Apakah akun media sosial harus dibagikan?
Apakah percakapan pribadi dengan teman boleh dibaca pasangan?
Kapan seseorang membutuhkan waktu sendiri?
Pertanyaan seperti ini mungkin terasa tidak romantis ketika hubungan masih baru. Namun, justru percakapan tersebut dapat membantu membangun rasa saling percaya.
Kepercayaan tidak selalu berarti "aku boleh memeriksa semuanya."
Kepercayaan juga dapat berarti:
"Aku percaya kepadamu meskipun aku tidak mengawasi setiap gerakanmu."
Ruang pribadi juga penting bagi kesehatan psikologis seseorang. Setiap individu tetap membutuhkan waktu untuk melakukan aktivitas sendiri, bertemu teman, menjalankan hobi, beristirahat, atau sekadar menikmati kesendirian.
Hubungan yang sehat tidak menghapus identitas individu.
Sebaliknya, hubungan yang sehat memungkinkan dua orang tetap menjadi dirinya sendiri sambil membangun kehidupan bersama.
3. Batasan dengan teman, mantan, dan orang lain
Salah satu sumber konflik dalam hubungan romantis adalah batasan dengan orang di luar hubungan.
Hal ini dapat mencakup teman dekat, rekan kerja, mantan pasangan, atau orang baru yang berpotensi memiliki ketertarikan romantis.
Setiap orang memiliki definisi yang berbeda mengenai perilaku yang dianggap wajar.
Misalnya, bagi seseorang, mengobrol dengan mantan adalah hal biasa. Bagi orang lain, komunikasi intens dengan mantan dapat terasa tidak nyaman.
Begitu pula dengan pertemanan. Seseorang mungkin merasa tidak ada masalah dengan pergi berdua bersama teman yang berbeda jenis kelamin. Pasangannya mungkin memiliki batasan yang berbeda.
Tidak ada satu aturan universal yang dapat diterapkan pada semua pasangan.
Yang penting adalah pasangan membicarakan batasan tersebut secara terbuka.
Misalnya:
"Aku tidak masalah kamu punya teman dekat, tetapi aku merasa tidak nyaman kalau ada komunikasi yang terlalu intim dengan seseorang yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikan kepadamu."
Pernyataan seperti ini berbeda dengan:
"Kamu tidak boleh berteman dengan siapa pun yang aku tidak suka."
Yang pertama mengungkapkan kebutuhan dan batas pribadi. Yang kedua berpotensi berubah menjadi kontrol.
Pasangan juga perlu berhati-hati terhadap batasan yang berkaitan dengan mantan.
Masa lalu seseorang memang bagian dari kehidupannya, tetapi hubungan masa lalu tidak otomatis harus terus mendapatkan akses yang sama setelah hubungan baru dimulai.
Yang perlu dibicarakan adalah konteks, intensitas, transparansi, dan alasan komunikasi tersebut.
Tujuannya bukan mengisolasi pasangan dari dunia sosialnya, melainkan menciptakan batas yang membuat kedua pihak merasa dihormati.
4. Batasan tentang keuangan
Uang mungkin bukan topik paling romantis untuk dibicarakan pada awal hubungan.
Namun, semakin serius hubungan tersebut, semakin penting topik ini dibahas.
Batasan finansial tidak selalu berarti harus langsung membicarakan seluruh jumlah pendapatan. Pada tahap awal, pasangan dapat mulai mendiskusikan cara masing-masing memandang uang.
Misalnya:
Siapa yang membayar ketika berkencan?
Apakah biaya kencan selalu dibagi?
Apakah wajar meminjam uang kepada pasangan?
Berapa batas nominal yang perlu dibicarakan terlebih dahulu?
Apakah pasangan boleh menggunakan rekening atau kartu milik satu sama lain?
Bagaimana jika salah satu memiliki kondisi finansial yang jauh lebih baik?
Masalah keuangan dapat menjadi sangat sensitif karena uang sering berkaitan dengan rasa aman, harga diri, kemandirian, dan kekuasaan dalam hubungan.
Karena itu, penting untuk menghindari pola di mana salah satu pihak secara perlahan menjadi sepenuhnya bergantung kepada pihak lainnya tanpa pernah membicarakan konsekuensinya.
Batasan finansial juga dapat menjadi bentuk perlindungan terhadap hubungan.
Contohnya, pasangan dapat memiliki kesepakatan bahwa utang dalam jumlah tertentu harus dibicarakan terlebih dahulu. Atau, masing-masing tetap memiliki sejumlah uang yang dapat digunakan secara mandiri.
Ketika hubungan semakin serius dan mulai memasuki tahap tinggal bersama atau menikah, pembicaraan mengenai keuangan tentu perlu menjadi lebih mendalam.
Semakin besar keterikatan finansial, semakin penting transparansi dan kesepakatan.
5. Batasan mengenai sentuhan fisik dan seksualitas
Kedekatan fisik adalah bagian penting dalam banyak hubungan romantis. Namun, kedekatan fisik tetap membutuhkan persetujuan dari kedua pihak.
Batasan mengenai sentuhan dan aktivitas seksual sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang otomatis hanya karena seseorang sudah menjadi pasangan.
Status hubungan bukanlah pengganti persetujuan.
Pasangan perlu dapat mengatakan "ya", "tidak", atau "belum sekarang" tanpa takut mendapatkan hukuman emosional.
Batasan ini juga tidak hanya berlaku untuk hubungan seksual.
Sentuhan tertentu, ciuman, pelukan, atau bentuk kedekatan fisik lainnya juga memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda bagi setiap orang.
Karena itu, komunikasi menjadi penting.
Salah satu indikator hubungan yang sehat adalah ketika seseorang dapat mengatakan:
"Aku belum nyaman dengan itu."
dan pasangannya dapat menghormati jawaban tersebut.
Sebaliknya, tekanan, rasa bersalah, ancaman putus, manipulasi, atau kalimat seperti "kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti mau" bukanlah bentuk komunikasi yang sehat.
Kedekatan yang sehat dibangun melalui rasa aman, kepercayaan, dan persetujuan dua arah.
Batasan seksual juga dapat mencakup pembicaraan mengenai kesehatan seksual, kontrasepsi, eksklusivitas, dan pemeriksaan kesehatan yang relevan ketika hubungan telah memasuki tahap tersebut.
Membicarakan hal-hal ini bukan berarti hubungan menjadi kurang romantis.
Justru, komunikasi terbuka dapat membantu pasangan membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab.
6. Batasan tentang keluarga dan kehidupan sosial
Ketika seseorang memiliki pasangan, bukan berarti pasangan otomatis mendapatkan kendali atas hubungan sosial dan keluarganya.
Sebaliknya, pasangan juga tidak seharusnya langsung ditempatkan sebagai orang yang harus selalu mengikuti semua keinginan keluarga.
Inilah alasan batasan dengan keluarga penting dibicarakan, terutama ketika hubungan mulai serius.
Misalnya:
Seberapa sering pasangan bertemu keluarga masing-masing?
Apakah keluarga boleh ikut campur dalam konflik pasangan?
Masalah apa yang boleh diceritakan kepada orang tua?
Apakah pasangan harus hadir dalam semua acara keluarga?
Bagaimana jika keluarga salah satu pihak tidak menyukai pasangannya?
Pertanyaan tersebut mungkin terasa terlalu jauh jika hubungan masih baru. Namun, semakin serius hubungan, semakin relevan pertanyaan tersebut.
Salah satu tantangan besar dalam hubungan jangka panjang adalah menjaga keseimbangan antara kehidupan sebagai pasangan dan hubungan dengan keluarga besar.
Pasangan perlu belajar membuat batas yang sehat.
Misalnya, ketika terjadi konflik, tidak semua masalah harus langsung diceritakan kepada keluarga atau teman. Meminta dukungan memang sehat, tetapi menjadikan keluarga sebagai "hakim" dalam setiap konflik pasangan dapat membuat masalah menjadi semakin rumit.
Pasangan juga perlu memiliki ruang untuk menyelesaikan masalah internal tanpa terlalu banyak intervensi dari pihak luar.
7. Batasan tentang konflik dan cara menyelesaikan masalah
Ini mungkin merupakan salah satu batasan terpenting yang harus dibicarakan sejak awal.
Banyak pasangan berbicara mengenai apa yang mereka sukai dari satu sama lain, tetapi lupa membicarakan bagaimana mereka akan menghadapi konflik.
Padahal, konflik adalah bagian normal dari hubungan.
Yang perlu disepakati adalah aturan main ketika konflik terjadi.
Misalnya:
Tidak menggunakan kekerasan fisik.
Tidak mengancam keselamatan atau mengintimidasi pasangan.
Tidak menggunakan penghinaan sebagai senjata.
Tidak menyebarkan masalah pribadi pasangan untuk mempermalukannya.
Tidak sengaja menghilang berhari-hari untuk menghukum pasangan.
Tidak menggunakan ancaman putus setiap kali terjadi perselisihan.
Jika emosi terlalu tinggi, pasangan boleh mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan.
Namun, ada perbedaan penting antara mengambil jeda dan melakukan silent treatment.
Mengambil jeda berarti seseorang mengatakan:
"Aku sedang terlalu emosional. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Kita lanjutkan pembicaraan malam ini."
Sementara silent treatment yang digunakan untuk menghukum pasangan dapat membuat pihak lain merasa ditolak dan tidak aman.
Jeda yang sehat memiliki tujuan untuk kembali menyelesaikan masalah.
Bukan untuk menghindari masalah.
Pasangan juga dapat membuat kesepakatan bahwa masalah tidak selalu harus diselesaikan dalam satu percakapan.
Terkadang seseorang membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum dapat menjelaskan perasaannya dengan baik.
Yang terpenting adalah adanya komitmen untuk kembali membicarakannya.
Mengapa Batasan Perlu Dibicarakan Sejak Awal?
Banyak orang baru membicarakan batasan setelah terjadi masalah.
Misalnya, seseorang baru mengatakan bahwa ia tidak suka pasangannya terlalu dekat dengan mantan setelah menemukan percakapan tertentu.
Seseorang baru mengatakan bahwa ia tidak nyaman jika pasangannya memeriksa ponsel setelah pertengkaran terjadi.
Atau, seseorang baru membicarakan masalah keuangan ketika sudah muncul utang.
Pola seperti ini membuat batasan terasa seperti hukuman, bukan kesepakatan.
Padahal, akan lebih sehat jika pasangan membicarakannya sebelum konflik terjadi.
Batasan dapat berfungsi sebagai semacam "peta" dalam hubungan.
Keduanya menjadi lebih memahami:
Apa yang membuat saya nyaman?
Apa yang membuat saya tidak nyaman?
Apa yang saya butuhkan dari pasangan?
Apa yang tidak dapat saya terima?
Bagaimana kita akan menyelesaikan perbedaan?
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu pasangan membangun ekspektasi yang lebih realistis.
Batasan Bukan Berarti Mengontrol Pasangan
Ini adalah hal yang sangat penting.
Tidak semua aturan yang dibuat dalam hubungan dapat disebut batasan yang sehat.
Ada perbedaan antara batasan pribadi dan kontrol terhadap pasangan.
Contohnya:
Batasan:
"Aku tidak nyaman berada dalam hubungan yang melibatkan kebohongan. Kalau kebohongan terus berulang, aku akan mempertimbangkan kembali hubungan ini."
Kontrol:
"Kamu tidak boleh berbicara dengan orang itu karena aku tidak suka."
Batasan berfokus pada apa yang dapat seseorang terima dan bagaimana ia akan merespons.
Kontrol berfokus pada bagaimana seseorang harus mengatur kehidupan pasangannya.
Perbedaan ini penting.
Seseorang memiliki hak untuk menentukan batas bagi dirinya sendiri, tetapi tidak otomatis memiliki hak untuk mengendalikan seluruh pilihan pasangannya.
Batasan Juga Bisa Berubah
Batasan dalam hubungan bukan kontrak yang tidak boleh berubah.
Kebutuhan seseorang dapat berubah seiring waktu.
Begitu pula dengan kondisi hubungan.
Batasan ketika hubungan baru dimulai mungkin berbeda ketika pasangan sudah menikah, tinggal bersama, memiliki anak, atau menghadapi perubahan besar dalam kehidupan.
Karena itu, pasangan perlu mengevaluasi batasan secara berkala.
Pertanyaan sederhana yang dapat digunakan misalnya:
"Apakah ada sesuatu dalam hubungan kita yang belakangan membuatmu merasa tidak nyaman?"
atau:
"Apakah ada batasan yang menurutmu perlu kita bicarakan kembali?"
Percakapan seperti ini dapat membantu pasangan menyesuaikan hubungan tanpa harus menunggu masalah menjadi besar.
Tanda-Tanda Batasan dalam Hubungan Tidak Dihormati
Menetapkan batasan hanya merupakan langkah pertama.
Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan merespons batasan tersebut.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Batasan selalu dianggap sebagai bentuk penolakan
Misalnya, ketika seseorang mengatakan membutuhkan waktu sendiri, pasangannya langsung menganggap bahwa ia sudah tidak mencintainya.
2. Batasan selalu dinegosiasikan sampai seseorang menyerah
Jika setiap kali seseorang mengatakan "tidak" pasangannya terus membujuk hingga akhirnya ia menyerah karena lelah, itu bukan bentuk komunikasi yang sehat.
3. Batasan digunakan sebagai alat ancaman
Contohnya:
"Kalau kamu melakukan itu lagi, aku akan menghancurkan hidupmu."
Ini bukan batasan yang sehat.
4. Seseorang merasa takut mengatakan kebutuhannya
Hubungan yang sehat seharusnya menyediakan ruang untuk mengungkapkan ketidaknyamanan.
Jika seseorang terus-menerus takut berbicara karena khawatir pasangan akan marah, mengancam, atau menghukumnya, ada masalah yang lebih serius daripada sekadar perbedaan pendapat.
5. Ada kekerasan atau intimidasi
Batasan tidak dimaksudkan untuk mengatasi kekerasan dalam hubungan. Jika terdapat kekerasan fisik, ancaman, pemaksaan seksual, atau intimidasi serius, prioritas utama adalah keselamatan, bukan sekadar mencari cara berkomunikasi yang lebih baik.
Cara Membicarakan Batasan Tanpa Membuat Pasangan Merasa Diserang
Membicarakan batasan memang tidak selalu mudah.
Cara penyampaiannya dapat menentukan apakah percakapan berubah menjadi diskusi sehat atau justru pertengkaran.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah berbicara dari sudut pandang diri sendiri.
Daripada mengatakan:
"Kamu selalu terlalu dekat dengan orang lain."
cobalah mengatakan:
"Aku merasa tidak nyaman ketika melihat interaksi yang terlalu intim dengan orang lain. Aku ingin kita membicarakan batasan yang menurut kita sama-sama nyaman."
Perbedaannya sederhana, tetapi penting.
Kalimat pertama menyerang karakter pasangan.
Kalimat kedua menjelaskan pengalaman dan kebutuhan pribadi.
Pasangan juga sebaiknya tidak hanya membicarakan apa yang dilarang.
Bicarakan pula apa yang diinginkan.
Misalnya:
"Aku ingin kita tetap punya waktu masing-masing, tetapi aku juga ingin kita punya satu waktu khusus setiap minggu untuk benar-benar fokus satu sama lain."
Dengan begitu, batasan tidak hanya berisi larangan.
Batasan juga menjadi cara untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat.
Kesimpulan
Hubungan yang sehat tidak dibangun hanya dari rasa cinta.
Cinta memang penting, tetapi hubungan jangka panjang juga membutuhkan komunikasi, rasa hormat, kepercayaan, tanggung jawab, dan kemampuan menghormati batas pribadi.
Karena itu, sejak awal hubungan, pasangan sebaiknya mulai membicarakan setidaknya tujuh hal:
Batasan dalam komunikasi.
Batasan mengenai privasi dan ruang pribadi.
Batasan dengan teman, mantan, dan orang lain.
Batasan mengenai keuangan.
Batasan tentang sentuhan fisik dan seksualitas.
Batasan dengan keluarga dan kehidupan sosial.
Batasan mengenai konflik dan cara menyelesaikan masalah.
Tujuan dari batasan bukan untuk membatasi cinta.
Justru sebaliknya.
Batasan yang sehat membantu dua orang memahami bagaimana cara mencintai satu sama lain tanpa kehilangan diri sendiri.
Pada akhirnya, hubungan yang matang bukan hubungan di mana dua orang harus mengetahui dan mengendalikan segala sesuatu tentang satu sama lain.
Hubungan yang matang adalah hubungan di mana dua orang dapat berkata:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Catatan Buruk Los Che Bisa Berlanjut di El Sardinero
Prediksi Skor Atalanta vs Venezia: La Dea Diburu Krisis, Tim Tamu Lebih Mengenaskan
Prediksi Skor Troyes vs Marseille: Les Phoceens Bidik Pesta Gol, Misi Keluar dari Zona Degradasi!
Prediksi Skor Real Betis vs Osasuna: Rekor Pertemuan Berpihak kepada Los Verdiblancos
Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Real Sociedad vs Deportivo La Coruna: Tuan Rumah Bidik Kemenangan di La Liga
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Freiburg vs Schalke 04 di Bundesliga: Tim Tamu Punya Misi Memutus Tren Buruk

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022