seseorang yang melatih otaknya untuk lebih tahan sakit. (Magnific)
Kita ingin hubungan yang baik, pekerjaan yang stabil, keluarga yang harmonis, usaha yang berhasil, dan masa depan yang jelas. Tetapi kehidupan tidak pernah benar-benar memberikan semua itu secara permanen.
Akan ada kehilangan.
Akan ada penolakan.
Akan ada kegagalan.
Akan ada pengkhianatan.
Akan ada hari ketika kamu merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.
Dan yang paling melelahkan bukan selalu masalahnya.
Terkadang, yang paling melelahkan adalah bagaimana pikiran kita terus mengulang rasa sakit tersebut.
Kita mengingat perkataan seseorang berkali-kali. Kita memikirkan kesalahan masa lalu. Kita bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Kita membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terjadi. Bahkan ketika masalahnya sudah selesai, otak kita masih terus membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami:
Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa sakit.
Orang yang kuat tetap bisa sedih. Tetap bisa kecewa. Tetap bisa menangis. Tetap bisa merasa takut.
Perbedaannya adalah mereka belajar bagaimana menghadapi rasa sakit tanpa membiarkan rasa sakit mengendalikan seluruh hidup mereka.
Dalam psikologi, kemampuan untuk beradaptasi terhadap tekanan, menerima kenyataan, mengelola emosi, dan kembali berfungsi setelah mengalami kesulitan sering dikaitkan dengan resiliensi psikologis.
Kabar baiknya, resiliensi bukan sekadar sesuatu yang dimiliki seseorang sejak lahir.
Sebagian dari kemampuan tersebut dapat dilatih.
Otak kita memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi. Cara kita menafsirkan suatu peristiwa, cara kita berbicara kepada diri sendiri, kebiasaan yang kita bangun, dan cara kita menghadapi emosi dapat memengaruhi bagaimana kita merespons tekanan.
Jadi, jika saat ini kamu sedang menghadapi masa yang berat, jangan buru-buru mengatakan kepada dirimu:
“Aku memang lemah.”
Mungkin kamu bukan lemah.
Mungkin kamu hanya belum belajar cara yang lebih sehat untuk menghadapi rasa sakit.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), terdapat tujuh cara yang dapat membantu melatih pikiran agar lebih kuat menghadapi kesulitan.
1. Berhenti Melawan Semua Hal yang Tidak Bisa Kamu Kendalikan
Salah satu sumber penderitaan terbesar manusia adalah keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendalinya.
Kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita.
Kita tidak bisa memaksa seseorang mencintai kita.
Kita tidak bisa mengubah keputusan orang lain.
Kita tidak bisa menghapus masa lalu.
Kita tidak bisa memastikan bahwa semua usaha kita akan menghasilkan sesuatu yang kita inginkan.
Namun, sering kali kita menghabiskan begitu banyak energi untuk mencoba mengubah hal-hal tersebut.
Contohnya sederhana.
Seseorang menolakmu.
Kemudian selama berhari-hari kamu bertanya:
“Kenapa dia memilih orang lain?”
“Apa yang kurang dariku?”
“Seandainya waktu itu aku mengatakan hal yang berbeda.”
“Apa yang harus kulakukan agar dia berubah pikiran?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat seperti usaha mencari solusi.
Tetapi jika kenyataannya keputusan orang tersebut sudah berada di luar kendalimu, terus memikirkannya hanya akan membuat pikiran semakin lelah.
Karena itu, salah satu latihan mental yang penting adalah membedakan:
Apa yang bisa aku kendalikan dan apa yang tidak bisa aku kendalikan?
Kamu tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain.
Tetapi kamu bisa mengendalikan responsmu.
Kamu tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
Tetapi kamu bisa menentukan apa yang akan kamu lakukan setelahnya.
Kamu tidak bisa memastikan hasil.
Tetapi kamu bisa memilih untuk tetap melakukan bagianmu dengan baik.
Ini bukan berarti menyerah.
Justru sebaliknya.
Ini adalah cara menghemat energi psikologis agar energimu digunakan pada sesuatu yang memang bisa kamu pengaruhi.
Ketika menghadapi masalah, tanyakan kepada dirimu:
“Bagian mana dari situasi ini yang masih berada dalam kendaliku?”
Kemudian fokuslah pada bagian tersebut.
Sederhana, tetapi sangat kuat.
Karena terkadang menjadi lebih kuat bukan tentang memaksa keadaan berubah.
Melainkan tentang berhenti membuang energi untuk sesuatu yang memang tidak bisa kita ubah.
2. Jangan Percaya Semua yang Dikatakan Pikiranmu
Pikiran kita sangat cepat membuat kesimpulan.
Satu orang tidak membalas pesan, lalu otak mengatakan:
“Dia membenciku.”
Satu kegagalan terjadi, lalu pikiran berkata:
“Aku memang tidak berbakat.”
Seseorang meninggalkan kita, lalu muncul kesimpulan:
“Aku tidak akan pernah dicintai lagi.”
Masalahnya, pikiran bukan selalu fakta.
Dalam psikologi, kita mengenal berbagai pola berpikir yang dapat membuat seseorang melihat situasi secara tidak akurat, misalnya membayangkan kemungkinan terburuk, menggeneralisasi satu kejadian menjadi kesimpulan tentang seluruh hidup, atau menganggap dirinya mengetahui apa yang dipikirkan orang lain.
Karena itu, ketika pikiran negatif muncul, jangan langsung mempercayainya.
Cobalah berhenti sebentar dan bertanya:
“Apakah ini fakta atau hanya interpretasiku?”
Misalnya kamu gagal dalam sebuah pekerjaan.
Pikiran pertama:
“Aku gagal. Berarti aku tidak mampu.”
Cobalah ubah menjadi:
“Aku gagal dalam situasi ini. Apa yang bisa kupelajari?”
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama menyerang identitas.
Kalimat kedua mengevaluasi pengalaman.
Itulah perbedaan antara:
“Aku adalah kegagalan.”
dan
“Aku mengalami kegagalan.”
Keduanya terdengar mirip, tetapi dampaknya terhadap psikologis sangat berbeda.
Kamu bukan kesalahanmu.
Kamu bukan satu hubungan yang gagal.
Kamu bukan satu pekerjaan yang hilang.
Kamu bukan satu keputusan buruk yang pernah kamu ambil.
Kamu adalah manusia yang sedang belajar melalui pengalaman.
Ketika kamu mulai memisahkan identitasmu dari kegagalanmu, rasa sakit biasanya menjadi lebih mudah dikelola.
3. Belajar Mengizinkan Emosi Hadir Tanpa Langsung Melawannya
Banyak orang berpikir bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh sedih.
Tidak boleh menangis.
Tidak boleh takut.
Tidak boleh kecewa.
Akibatnya, ketika emosi muncul, mereka segera berusaha menekannya.
Mereka bekerja berlebihan.
Mengalihkan perhatian dengan media sosial.
Mencari hiburan tanpa henti.
Mengonsumsi sesuatu agar tidak merasakan kesedihan.
Menghindari kesunyian karena takut berhadapan dengan pikirannya sendiri.
Padahal emosi adalah bagian normal dari kehidupan manusia.
Kesedihan tidak selalu harus dihilangkan secepat mungkin.
Kecemasan tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah dengan dirimu.
Kemarahan juga tidak otomatis membuatmu menjadi orang buruk.
Yang penting adalah bagaimana kamu merespons emosi tersebut.
Cobalah latihan sederhana.
Ketika kamu merasa sedih, jangan langsung mengatakan:
“Aku tidak boleh merasa seperti ini.”
Ganti dengan:
“Aku sedang merasa sedih.”
Ketika merasa takut:
“Aku sedang merasa takut.”
Ketika kecewa:
“Aku sedang mengalami kekecewaan.”
Perhatikan bahwa kamu sedang mengamati emosi, bukan menjadi emosi tersebut.
Kamu bukan kesedihan itu sendiri.
Kamu adalah seseorang yang sedang mengalami kesedihan.
Ini adalah perbedaan yang penting.
Bayangkan emosi seperti gelombang.
Gelombang datang.
Naik.
Mencapai puncak.
Kemudian perlahan turun.
Jika kamu panik dan melawan setiap gelombang, pengalaman tersebut bisa terasa jauh lebih menakutkan.
Tetapi jika kamu belajar mengenali bahwa gelombang itu akan berubah, kamu bisa melewatinya dengan lebih tenang.
Jadi, jangan selalu bertanya:
“Bagaimana caranya agar aku tidak merasa sakit?”
Terkadang pertanyaan yang lebih sehat adalah:
“Bagaimana caranya aku bisa melewati rasa sakit ini tanpa menghancurkan diriku sendiri?”
4. Latih Otak untuk Melihat Kesulitan sebagai Sesuatu yang Bisa Dipelajari
Ada dua cara berbeda melihat sebuah kegagalan.
Cara pertama:
“Aku gagal karena aku memang tidak cukup baik.”
Cara kedua:
“Aku gagal. Apa yang bisa kupelajari dari pengalaman ini?”
Cara kedua tidak membuat kegagalan menjadi menyenangkan.
Tetapi membuat kegagalan menjadi sesuatu yang memiliki makna.
Inilah salah satu prinsip penting dalam membangun pola pikir yang lebih adaptif.
Ketika menghadapi masalah, cobalah mengubah pertanyaan.
Daripada:
“Mengapa ini selalu terjadi kepadaku?”
Coba:
“Apa yang bisa kupelajari dari ini?”
Daripada:
“Mengapa hidupku begitu sulit?”
Coba:
“Keterampilan apa yang sedang dipaksa untuk kupelajari?”
Daripada:
“Bagaimana kalau semuanya gagal?”
Coba:
“Apa langkah paling kecil yang masih bisa kulakukan hari ini?”
Pertanyaan yang berbeda dapat mengarahkan perhatian otak ke arah yang berbeda.
Ini bukan berarti kita harus memaksakan diri berpikir positif sepanjang waktu.
Tidak semua penderitaan memiliki “hikmah” yang langsung terlihat.
Ada pengalaman yang memang menyakitkan.
Ada kehilangan yang memang membutuhkan waktu.
Ada kejadian yang tidak perlu kita romantisasi.
Tetapi kita masih bisa memilih untuk bertanya:
“Setelah semua ini terjadi, aku ingin menjadi orang seperti apa?”
Pertanyaan itu mengembalikan sedikit rasa kendali.
Dan rasa kendali sangat penting ketika seseorang sedang menghadapi situasi sulit.
5. Berhenti Mengulang Masa Lalu sebagai Hukuman untuk Diri Sendiri
Salah satu kebiasaan mental yang sangat melelahkan adalah terus mengulang kejadian masa lalu.
“Aku seharusnya tidak melakukan itu.”
“Seandainya aku lebih berhati-hati.”
“Seandainya aku tidak mempercayainya.”
“Seandainya aku memilih jalan yang berbeda.”
Masalahnya, masa lalu tidak bisa diedit.
Kita bisa belajar darinya.
Tetapi kita tidak bisa kembali ke sana untuk menjalani ulang hari tersebut.
Karena itu, ketika mengingat kesalahan masa lalu, cobalah membedakan antara refleksi dan ruminasi.
Refleksi bertanya:
“Apa yang terjadi?”
“Apa kesalahanku?”
“Apa yang bisa kupelajari?”
“Apa yang bisa kulakukan berbeda di masa depan?”
Setelah mendapatkan pelajaran, refleksi bisa berhenti.
Sementara ruminasi terus berputar:
“Kenapa aku sebodoh itu?”
“Kenapa aku melakukan itu?”
“Bagaimana mungkin aku bisa sebodoh itu?”
Pertanyaan tersebut tidak menghasilkan solusi.
Ia hanya menghukum diri sendiri berkali-kali atas sesuatu yang sudah terjadi.
Jika kamu melakukan kesalahan, bertanggung jawablah.
Perbaiki jika masih bisa diperbaiki.
Minta maaf jika memang perlu.
Belajar.
Kemudian lanjutkan hidup.
Jangan menjadikan satu kesalahan sebagai hukuman seumur hidup.
Kamu membutuhkan masa lalu untuk belajar.
Bukan untuk tinggal di dalamnya.
6. Bangun Rutinitas Kecil Saat Hidup Terasa Berantakan
Ketika seseorang sedang mengalami tekanan emosional, hidup sering terasa kehilangan arah.
Bangun tidur terasa berat.
Pekerjaan terbengkalai.
Makan tidak teratur.
Tidur berantakan.
Tidak ingin bertemu siapa pun.
Kemudian karena semuanya terasa berantakan, kita semakin merasa tidak memiliki kendali.
Pada kondisi seperti ini, jangan selalu mencoba memperbaiki seluruh hidup dalam satu hari.
Mulailah dari hal kecil.
Bangun pada waktu yang relatif konsisten.
Mandi.
Rapikan tempat tidur.
Berjalan kaki sebentar.
Makan dengan cukup.
Menyelesaikan satu pekerjaan penting.
Mengurangi waktu tanpa tujuan di media sosial.
Tidur pada jam yang lebih teratur.
Kedengarannya sederhana.
Tetapi kebiasaan kecil dapat memberikan struktur ketika kehidupan terasa kacau.
Dan jangan meremehkan kekuatan tindakan kecil.
Ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit, target seperti:
“Aku harus kembali bahagia.”
bisa terasa terlalu besar.
Tetapi target seperti:
“Hari ini aku akan berjalan selama 15 menit.”
jauh lebih mudah dilakukan.
Kamu tidak harus langsung memperbaiki seluruh hidup.
Kadang-kadang, tugasmu hanya memastikan bahwa hari ini sedikit lebih baik daripada kemarin.
Kemudian besok ulangi lagi.
Begitu seterusnya.
Kekuatan psikologis sering kali dibangun bukan melalui satu keputusan besar, tetapi melalui ratusan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
7. Bangun Hubungan dengan Diri Sendiri yang Lebih Sehat
Ada satu hubungan yang akan selalu kamu bawa ke mana pun:
Hubunganmu dengan dirimu sendiri.
Kamu bisa kehilangan pekerjaan.
Kehilangan pasangan.
Pindah tempat tinggal.
Bertemu orang baru.
Meninggalkan lingkungan lama.
Tetapi kamu tetap hidup bersama pikiranmu sendiri.
Karena itu, cara kamu berbicara kepada diri sendiri sangat penting.
Bayangkan sahabat terbaikmu sedang mengalami kegagalan.
Dia datang kepadamu dan berkata:
“Aku gagal. Aku merasa sangat bodoh.”
Apakah kamu akan menjawab:
“Memang. Kamu memang bodoh.”
Kemungkinan besar tidak.
Kamu mungkin berkata:
“Tidak apa-apa. Semua orang bisa gagal.”
“Kamu sudah berusaha.”
“Kita cari tahu apa yang bisa diperbaiki.”
“Jangan terlalu keras kepada dirimu sendiri.”
Lalu mengapa ketika kita sendiri gagal, kita berbicara dengan cara yang jauh lebih kejam?
Belajar memperlakukan diri sendiri dengan belas kasih bukan berarti memanjakan diri.
Bukan berarti membenarkan semua kesalahan.
Dan bukan berarti menghindari tanggung jawab.
Self-compassion berarti mampu mengatakan:
“Aku memang melakukan kesalahan, tetapi aku tetap manusia yang layak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.”
Kamu bisa bertanggung jawab tanpa membenci dirimu sendiri.
Kamu bisa mengakui kekurangan tanpa menghancurkan harga dirimu.
Kamu bisa menyesal tanpa terus menghukum diri.
Dan kamu bisa menerima bahwa menjadi manusia berarti tidak selalu sempurna.
Pada Akhirnya, Menjadi Kuat Bukan Berarti Tidak Terluka
Ada kesalahpahaman besar tentang kekuatan mental.
Kita sering membayangkan orang yang kuat sebagai seseorang yang tidak pernah menangis.
Tidak pernah takut.
Tidak pernah membutuhkan bantuan.
Tidak pernah kecewa.
Padahal kekuatan psikologis tidak selalu terlihat seperti itu.
Terkadang kekuatan terlihat seperti seseorang yang menangis malam ini, tetapi tetap bangun keesokan paginya.
Terkadang kekuatan adalah seseorang yang mengakui:
“Aku tidak baik-baik saja.”
Kemudian mencari bantuan.
Terkadang kekuatan adalah meninggalkan sesuatu yang memang sudah tidak sehat.
Terkadang kekuatan adalah menerima bahwa kita tidak bisa mengubah masa lalu.
Dan terkadang kekuatan hanya berupa kemampuan untuk menjalani satu hari lagi ketika semuanya terasa terlalu berat.
Jadi, jangan ukur kekuatanmu dari seberapa sedikit kamu merasakan sakit.
Ukurlah dari bagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri ketika rasa sakit itu datang.
Apakah kamu menghancurkan dirimu?
Atau belajar merawat dirimu?
Apakah kamu terus melawan kenyataan?
Atau mulai menerima apa yang tidak bisa kamu ubah?
Apakah kamu menggunakan kegagalan sebagai bukti bahwa kamu tidak berharga?
Atau menggunakannya sebagai pengalaman untuk bertumbuh?
Karena tujuan dari melatih pikiran bukanlah menjadi manusia yang kebal terhadap rasa sakit.
Itu hampir tidak mungkin.
Tujuannya adalah menjadi manusia yang tidak mudah dihancurkan oleh rasa sakit.
Kamu mungkin tetap terluka.
Tetapi kamu belajar untuk pulih.
Kamu mungkin tetap takut.
Tetapi kamu belajar untuk tetap melangkah.
Kamu mungkin tetap kecewa.
Tetapi kamu tidak membiarkan satu kekecewaan menentukan seluruh masa depanmu.
Dan suatu hari, kamu mungkin melihat kembali masa yang paling sulit dalam hidupmu dan menyadari:
“Ternyata aku mampu melewati itu.”
Bukan karena kamu tidak pernah merasa sakit.
Tetapi karena sedikit demi sedikit, kamu belajar bagaimana membawa rasa sakit itu tanpa kehilangan dirimu sendiri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022