Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 15.56 WIB

7 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Menolak Pasanganmu Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang ditolak pasangannya oleh keluarga. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Menjalani hubungan romantis tidak selalu berarti hanya berhadapan dengan pasangan. Dalam banyak hubungan, ada satu tantangan lain yang tidak kalah berat: bagaimana menghadapi keluarga ketika mereka tidak menyukai, meragukan, atau bahkan terang-terangan menolak pasangan kita.


Situasi seperti ini bisa sangat melelahkan secara emosional. Di satu sisi, kita ingin menghargai keluarga yang sudah menjadi bagian penting dalam hidup. Di sisi lain, kita juga ingin mempertahankan hubungan dengan seseorang yang kita cintai dan percaya.

Ketika dua dunia tersebut bertabrakan, seseorang bisa merasa terjebak. Ada yang akhirnya memilih berbohong kepada keluarga, ada yang memutuskan hubungan karena tekanan, sementara yang lain justru mengambil keputusan secara impulsif dan semakin memperburuk konflik.

Menurut perspektif psikologi, menghadapi penolakan keluarga terhadap pasangan bukan semata-mata soal menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang lebih penting adalah memahami sumber konflik, mengelola emosi, membangun batasan yang sehat, dan menilai hubungan secara objektif.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/9), terdapat tujuh hal yang dapat dilakukan ketika keluarga menolak pasanganmu.

1. Cari Tahu Alasan Sebenarnya di Balik Penolakan

Langkah pertama bukan langsung membela pasangan atau mengikuti keinginan keluarga. Cobalah memahami alasan di balik penolakan tersebut.

Keluarga mungkin memiliki kekhawatiran yang berbeda-beda. Ada yang mempermasalahkan latar belakang pasangan, pekerjaan, kondisi ekonomi, agama, budaya, perbedaan usia, lingkungan pergaulan, atau pengalaman masa lalu. Namun, ada pula situasi ketika penolakan lebih banyak dipengaruhi prasangka, stereotip, atau ketakutan terhadap perubahan.

Karena itu, kalimat seperti "Mereka tidak menyukai pasanganku" masih terlalu umum.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

Apa sebenarnya yang mereka khawatirkan?
Apakah mereka memiliki contoh atau bukti konkret?
Apakah kekhawatiran tersebut berkaitan dengan perilaku pasangan atau hanya dengan latar belakangnya?
Apakah pendapat itu berasal dari pengalaman langsung atau hanya asumsi?
Apakah anggota keluarga lain memiliki kekhawatiran yang sama?
Apakah masalahnya benar-benar tentang pasangan, atau justru tentang perubahan dalam kehidupanmu?

Perbedaan antara kekhawatiran yang berbasis fakta dan ketidaksetujuan yang berbasis prasangka sangat penting.

Misalnya, keluarga mengatakan pasanganmu tidak bertanggung jawab. Cobalah mencari tahu apa yang mereka maksud. Apakah ada perilaku konkret yang mendukung penilaian tersebut? Atau mereka hanya tidak menyukai jenis pekerjaan pasanganmu?

Keduanya merupakan masalah yang berbeda dan sebaiknya tidak diperlakukan dengan cara yang sama.

Jangan langsung bersikap defensif

Ketika orang yang kita cintai dikritik, respons emosional yang muncul biasanya adalah membela. Hal tersebut manusiawi.

Namun, langsung membantah setiap kritik dapat membuat percakapan berubah menjadi pertengkaran.

Daripada berkata:

"Kalian memang tidak pernah menghargai pilihanku!"

cobalah mengatakan:

"Aku ingin memahami kekhawatiran kalian. Bisa jelaskan hal apa yang membuat kalian tidak yakin dengan hubungan ini?"

Kalimat seperti ini tidak berarti kamu menyetujui pendapat keluarga. Kamu hanya membuka ruang untuk memahami persoalannya.

Dan memahami bukan berarti harus menurut.

2. Pisahkan Kekhawatiran Keluarga dari Keputusanmu Sendiri

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap pendapat keluarga sebagai keputusan final.

Padahal, keluarga boleh memiliki pendapat, sementara kamu tetap memiliki tanggung jawab untuk membuat keputusan mengenai kehidupanmu sendiri.

Di sisi lain, kebebasan memilih juga bukan berarti mengabaikan semua nasihat.

Cara yang lebih sehat adalah memperlakukan pendapat keluarga sebagai informasi yang perlu dipertimbangkan, bukan sebagai perintah yang otomatis harus diikuti.

Misalnya, keluarga mengatakan:

"Kami tidak yakin dia bisa menjadi pasangan yang bertanggung jawab."

Daripada langsung menolak pernyataan tersebut, tanyakan kepada diri sendiri:

"Apakah ada sesuatu yang perlu aku periksa dari hubungan ini?"

Kemudian lihat perilaku pasangan secara nyata.

Bagaimana dia memperlakukanmu ketika sedang marah?

Apakah dia menghormati batasanmu?

Apakah dia mampu meminta maaf?

Bagaimana cara dia menyelesaikan konflik?

Apakah dia bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan komitmennya?

Apakah kalian memiliki nilai hidup yang cukup kompatibel?

Apakah kamu merasa aman secara emosional dan fisik dalam hubungan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih berguna daripada sekadar bertanya, "Siapa yang harus aku pilih?"

Kritik tidak selalu berarti keluarga benar

Keluarga bisa saja salah mengenai pasanganmu.

Namun, pasangan juga bisa memiliki kekurangan yang tidak kamu sadari.

Karena itu, jangan menggunakan penolakan keluarga sebagai bukti bahwa pasanganmu pasti buruk. Sebaliknya, jangan pula menganggap bahwa karena kamu mencintai pasangan, semua kekhawatiran keluarga pasti tidak masuk akal.

Cobalah mengevaluasi perilaku berdasarkan fakta.

Hubungan yang sehat tidak membutuhkan seseorang untuk membuktikan cintanya dengan menutup mata terhadap masalah.

3. Bicarakan Masalah dengan Pasangan Secara Terbuka

Ketika keluarga menolak pasangan, jangan membuat pasangan menjadi orang terakhir yang mengetahui masalah tersebut.

Pasangan perlu memahami situasi yang sedang kamu hadapi.

Namun, cara menyampaikannya juga penting.

Ada perbedaan besar antara:

"Keluargaku membencimu."

dan:

"Keluargaku punya beberapa kekhawatiran tentang hubungan kita. Aku ingin kita membicarakannya supaya kita bisa menghadapi situasi ini dengan tenang."

Kalimat kedua lebih memungkinkan munculnya kerja sama.

Pasangan juga berhak mengetahui jika hubungan kalian menghadapi tekanan dari luar.

Namun, berhati-hatilah agar pasangan tidak dipaksa untuk "memenangkan" persetujuan keluarga.

Hubungan bukan kompetisi antara pasangan dan keluarga.

Tujuannya bukan membuat salah satu pihak kalah.

Perhatikan bagaimana pasangan menghadapi konflik

Situasi ini juga bisa menjadi kesempatan untuk melihat kualitas hubungan.

Ketika mengetahui keluargamu menolaknya, apakah pasangan:

menghormati perasaanmu?
memberikan ruang untukmu berbicara dengan keluarga?
mencoba memahami perspektif mereka?
mendorongmu untuk memutus hubungan dengan keluarga?
meminta kamu memilih antara dirinya dan keluargamu?
menggunakan konflik tersebut untuk mengontrolmu?

Respons pasangan terhadap masalah sering kali memberikan informasi penting mengenai dinamika hubungan.

Pasangan tidak harus disukai semua orang. Tetapi dalam hubungan jangka panjang, kemampuan menghadapi tekanan, perbedaan pendapat, dan konflik secara dewasa menjadi hal yang penting.

4. Tetapkan Batasan yang Sehat dengan Keluarga

Menghormati keluarga tidak berarti membiarkan mereka mengatur seluruh kehidupan pribadi.

Begitu pula mempertahankan hubungan tidak berarti kamu harus memutus hubungan dengan keluarga.

Di sinilah batasan menjadi penting.

Batasan atau boundaries membantu menentukan perilaku apa yang dapat kamu terima dan apa yang tidak.

Misalnya, kamu bisa mengatakan:

"Aku menghargai kekhawatiran kalian, tetapi aku tidak nyaman kalau pasangan saya dihina."

Atau:

"Kalian boleh memberikan pendapat, tetapi keputusan mengenai hubungan ini tetap menjadi tanggung jawab saya."

Batasan yang sehat sebaiknya spesifik.

Daripada mengatakan:

"Jangan ikut campur!"

lebih konstruktif mengatakan:

"Aku bersedia mendengarkan kekhawatiran kalian, tetapi aku tidak ingin membicarakan pasangan dengan cara menghina atau merendahkan."

Batasan bukan hukuman

Banyak orang menganggap menetapkan batasan berarti bersikap kasar kepada keluarga.

Padahal, batasan pada dasarnya adalah cara menjelaskan bagaimana kita ingin diperlakukan.

Batasan juga harus disertai konsekuensi yang realistis.

Contohnya:

"Kalau pembicaraan berubah menjadi penghinaan, aku akan mengakhiri percakapan dan kita bisa membicarakannya lagi ketika suasana sudah lebih tenang."

Ini berbeda dengan ancaman:

"Kalau kalian tidak menerima pasangan saya, saya akan memutus hubungan dengan kalian."

Semakin emosional situasinya, semakin penting untuk menghindari ultimatum yang dibuat secara impulsif.

5. Jangan Memaksa Semua Orang Langsung Menyukai Pasanganmu

Salah satu ekspektasi yang sering membuat situasi semakin sulit adalah keinginan agar keluarga dan pasangan langsung akrab.

Padahal, penerimaan biasanya membutuhkan waktu.

Keluarga mungkin membutuhkan kesempatan untuk mengenal pasanganmu lebih jauh. Pasangan juga mungkin membutuhkan waktu untuk memahami karakter keluargamu.

Tidak semua hubungan harus langsung dekat.

Target awal yang lebih realistis bukanlah:

"Keluargaku harus menyukai pasangan."

melainkan:

"Kita semua bisa saling menghormati meskipun belum sepenuhnya setuju."

Ini merupakan perbedaan yang penting.

Seseorang dapat menghormati orang lain tanpa menyukai semua keputusan atau sifatnya.

Hindari menjadi "kurir konflik"

Ketika dua pihak sedang tidak akur, kamu bisa terjebak menjadi pembawa pesan.

Keluarga berkata sesuatu tentang pasangan, lalu kamu menyampaikannya kepada pasangan. Pasangan membalas, lalu kamu menyampaikannya kembali kepada keluarga.

Jika terus dilakukan, kamu bisa menjadi pusat konflik.

Karena itu, pikirkan apakah setiap komentar memang perlu diteruskan.

Tidak semua kalimat yang diucapkan dalam keadaan emosional harus menjadi bahan konflik baru.

Jika ada masalah serius, tentu perlu dibicarakan. Tetapi jika hanya komentar kecil yang tidak produktif, meneruskannya mungkin justru memperbesar masalah.

6. Evaluasi Hubungan Berdasarkan Perilaku, Bukan Hanya Perasaan

Cinta merupakan bagian penting dalam hubungan, tetapi cinta saja tidak cukup untuk menjawab apakah sebuah hubungan sehat.

Ketika keluarga menolak pasangan, kamu justru memiliki alasan tambahan untuk melakukan evaluasi secara objektif.

Cobalah melihat hubungan dari beberapa aspek.

Cara menyelesaikan konflik

Apakah kalian bisa berdiskusi tanpa saling merendahkan?

Rasa aman

Apakah kamu merasa aman menjadi dirimu sendiri dalam hubungan?

Batasan

Apakah pasangan menghormati ketika kamu mengatakan tidak?

Kepercayaan

Apakah ada kejujuran dan konsistensi?

Tanggung jawab

Apakah pasangan bersedia bertanggung jawab atas kesalahannya?

Nilai kehidupan

Apakah kalian memiliki pandangan yang cukup kompatibel tentang hal-hal penting seperti keluarga, keuangan, karier, tempat tinggal, atau komitmen jangka panjang?

Pola kontrol

Apakah salah satu pihak berusaha mengendalikan pertemanan, pakaian, pekerjaan, komunikasi, atau hubungan dengan keluarga?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu menghindari dua ekstrem.

Ekstrem pertama adalah:

"Keluargaku tidak suka, berarti pasangan pasti buruk."

Ekstrem kedua:

"Aku mencintainya, berarti semua masalah pasti bisa diabaikan."

Keduanya sama-sama dapat membuat seseorang kehilangan perspektif.

7. Beri Waktu dan Fokus pada Perilaku yang Konsisten

Tidak semua konflik harus diselesaikan dalam satu percakapan.

Kadang-kadang keluarga membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan bahwa anak mereka sudah membuat pilihan sendiri.

Pada tahap awal, percakapan emosional mungkin tidak menghasilkan banyak perubahan.

Dalam situasi seperti ini, waktu dapat membantu.

Namun, "memberi waktu" bukan berarti hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa.

Yang lebih penting adalah membangun pola interaksi yang konsisten.

Jika pasangan memang memiliki kualitas positif, biarkan hal tersebut terlihat melalui perilaku sehari-hari.

Misalnya, pasangan menunjukkan rasa hormat kepada keluarga tanpa berusaha mengambil hati secara berlebihan. Kamu juga tetap menjaga hubungan dengan keluarga tanpa membiarkan mereka mengontrol hubunganmu.

Seiring waktu, orang dapat memperoleh informasi baru yang mungkin mengubah pandangan mereka.

Tetapi perlu diingat: perubahan penerimaan tidak selalu terjadi.

Ada kemungkinan keluarga tetap tidak menyukai pasanganmu.

Dalam kondisi tersebut, tujuan yang realistis mungkin bukan mendapatkan persetujuan penuh, melainkan menemukan cara agar setiap orang dapat menjalani kehidupan masing-masing dengan batasan yang jelas dan rasa hormat yang cukup.

Bagaimana Jika Keluarga Memberikan Alasan yang Serius?

Ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: terkadang penolakan keluarga memang didasarkan pada masalah yang nyata.

Misalnya, keluarga melihat perilaku pasangan yang tidak kamu sadari atau belum kamu anggap serius.

Jika beberapa orang yang mengenalmu dengan baik menyampaikan kekhawatiran yang sama, tidak ada salahnya berhenti sejenak dan memeriksa kembali situasinya.

Terutama jika ada tanda-tanda seperti:

kekerasan fisik;
ancaman;
penghinaan terus-menerus;
kontrol berlebihan;
isolasi dari teman atau keluarga;
manipulasi finansial;
kebohongan yang berulang;
pelanggaran batasan;
pemaksaan dalam hubungan;
atau perilaku lain yang membuatmu merasa tidak aman.

Dalam situasi seperti itu, fokus utamanya bukan lagi bagaimana membuat keluarga menerima pasangan, melainkan bagaimana memastikan keselamatan dan kesejahteraan dirimu.

Sebaliknya, jika alasan keluarga terutama berkaitan dengan stereotip, status sosial, pekerjaan, suku, penampilan, atau preferensi pribadi tanpa adanya masalah perilaku yang konkret, kamu dapat mempertimbangkan seberapa relevan alasan tersebut terhadap kualitas hubunganmu.

Jangan Terjebak dalam Pertanyaan "Pilih Keluarga atau Pasangan"

Salah satu bentuk tekanan yang paling berat adalah ketika seseorang merasa harus memilih.

"Kalau kamu tetap bersama dia, kamu bukan anak kami."

Atau dari sisi pasangan:

"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu harus meninggalkan keluargamu."

Kedua tuntutan tersebut menempatkan seseorang dalam posisi yang sangat sulit.

Dalam banyak situasi, persoalannya sebenarnya bukan memilih satu pihak dan membuang pihak lainnya.

Ada pilihan ketiga:

mempertahankan hubungan dengan pasangan sekaligus mempertahankan hubungan dengan keluarga, tetapi dengan batasan yang lebih sehat.

Tentu saja, situasi setiap orang berbeda. Jika terdapat kekerasan, ancaman, atau bahaya nyata, prioritasnya akan berbeda.

Namun dalam konflik keluarga biasa, seseorang tidak selalu harus membuat keputusan ekstrem.

Hubungan yang matang memungkinkan adanya perbedaan.

Keluarga boleh tidak setuju.

Pasangan boleh merasa kecewa.

Kamu boleh tetap mendengarkan keduanya.

Dan pada akhirnya, keputusan mengenai kehidupan pribadimu tetap perlu dibuat dengan mempertimbangkan fakta, nilai pribadi, konsekuensi jangka panjang, dan kualitas hubungan yang sebenarnya.

Kesimpulan

Ketika keluarga menolak pasanganmu, reaksi pertama mungkin adalah marah, sedih, atau ingin melawan. Perasaan tersebut wajar.

Namun, keputusan besar sebaiknya tidak dibuat hanya berdasarkan emosi sesaat.

Cobalah mengambil beberapa langkah:

Cari tahu alasan sebenarnya di balik penolakan.
Pisahkan pendapat keluarga dari keputusan pribadimu.
Bicarakan situasi tersebut secara terbuka dengan pasangan.
Tetapkan batasan yang sehat dengan keluarga.
Jangan memaksa semua orang langsung menyukai pasanganmu.
Evaluasi hubungan berdasarkan perilaku dan kualitas hubungan, bukan hanya perasaan.
Berikan waktu dan lihat apakah perubahan dapat terjadi melalui perilaku yang konsisten.

Pada akhirnya, tujuan menghadapi konflik seperti ini bukan sekadar membuat semua orang setuju.

Tujuan yang lebih realistis adalah mencapai hubungan yang memungkinkan kamu membuat keputusan dengan sadar, mempertahankan batasan yang sehat, dan tetap mampu melihat situasi secara objektif.

Kamu tidak harus mengorbankan hubungan dengan keluarga hanya karena memiliki pasangan. Kamu juga tidak harus mengorbankan hubungan romantis hanya karena keluarga belum menerimanya.

Yang paling penting adalah memastikan bahwa keputusanmu tidak dibuat karena tekanan, ketakutan, atau keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain—melainkan karena kamu benar-benar memahami hubungan yang sedang kamu jalani dan konsekuensi dari pilihanmu.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore