Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 15.48 WIB

7 Alasan Mengapa Menerima Kesalahan Dapat Membuat Kamu Menjadi Lebih “Benar” Menurut Psikologi

seseorang yang menerima kesalahan yang telah diperbuat. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Kesalahan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kita salah mengambil keputusan, salah memahami orang lain, salah memilih kata-kata, atau bahkan salah menilai diri sendiri. Namun, yang menarik, kesalahan itu sendiri tidak selalu menjadi masalah terbesar.


Sering kali, masalah yang lebih besar muncul ketika kita tidak mampu mengakui bahwa kita telah melakukan kesalahan.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan citra dirinya sebagai orang yang baik, pintar, benar, atau kompeten. Ketika sebuah fakta menunjukkan bahwa kita keliru, ego dapat merasa terancam. Akibatnya, kita mencari pembenaran, menyalahkan keadaan, atau mempertahankan pendapat meskipun sebenarnya sudah mengetahui bahwa kita keliru.

Padahal, menerima kesalahan bukan berarti menganggap diri kita sebagai orang buruk. Justru sebaliknya, kemampuan menerima kesalahan merupakan salah satu bentuk kematangan psikologis.

Ada paradoks menarik di sini: terkadang, ketika kamu berani mengatakan “Aku salah,” kamu justru menjadi orang yang lebih benar—bukan karena kamu selalu benar setelah itu, tetapi karena kamu membuka ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan melihat kenyataan dengan lebih jujur.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), terdapat tujuh alasannya.

1. Menerima kesalahan membuat kamu lebih terbuka terhadap kenyataan

Salah satu hambatan terbesar dalam belajar bukanlah kurangnya informasi, melainkan keengganan menerima informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita.

Dalam psikologi, manusia dikenal memiliki berbagai bias kognitif. Salah satunya adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk lebih memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah kita miliki dan mengabaikan atau meremehkan informasi yang bertentangan dengannya.

Misalnya, kamu yakin bahwa seorang teman tidak menyukaimu.

Ketika dia tidak membalas pesan, kamu menganggapnya sebagai bukti bahwa dia memang tidak peduli. Ketika dia tidak mengajakmu pergi, kamu kembali menganggapnya sebagai bukti. Namun ketika dia justru membantu kamu saat sedang kesulitan, kamu mungkin menganggapnya sebagai pengecualian.

Masalahnya bukan hanya pada kesimpulan awal.

Masalahnya adalah kamu sudah memiliki cerita tentang kenyataan, kemudian mencari bukti untuk mempertahankan cerita tersebut.

Menerima kemungkinan bahwa kamu salah akan mengubah cara berpikirmu:

“Mungkin selama ini aku salah memahami situasinya.”

Kalimat sederhana tersebut memiliki dampak besar.

Kamu tidak lagi hanya mencari bukti bahwa dirimu benar. Kamu mulai mencari apa yang sebenarnya terjadi.

Inilah salah satu alasan mengapa mengakui kesalahan dapat membuat seseorang lebih dekat dengan kebenaran. Ketika ego tidak lagi sibuk mempertahankan posisi, pikiran memiliki ruang untuk memeriksa fakta secara lebih objektif.

Dengan kata lain:

Mengakui “aku mungkin salah” bukan kelemahan berpikir. Justru itu adalah pintu masuk menuju pemikiran yang lebih terbuka.

2. Menerima kesalahan mengurangi kebutuhan untuk membela ego

Manusia tidak hanya ingin benar.

Kita juga ingin terlihat benar.

Keduanya berbeda.

Seseorang mungkin menyadari secara pribadi bahwa pendapatnya keliru, tetapi tetap mempertahankannya dalam percakapan karena merasa malu jika harus mengaku salah.

Di sinilah ego berperan.

Ketika kesalahan dianggap sebagai ancaman terhadap identitas, kita dapat mengalami dorongan untuk mempertahankan diri. Kita mulai mencari alasan, membuat pembenaran, atau memindahkan kesalahan kepada orang lain.

Contohnya:

“Aku memang berkata seperti itu, tapi karena dia yang memancing.”

Atau:

“Kalau kamu tidak melakukan itu sebelumnya, aku juga tidak akan melakukan ini.”

Atau:

“Aku sebenarnya benar, hanya saja orang lain tidak memahami maksudku.”

Kadang-kadang alasan tersebut memang memiliki konteks yang valid. Tetapi jika digunakan terus-menerus untuk menghindari tanggung jawab, kita kehilangan kesempatan untuk melihat kontribusi kita sendiri terhadap masalah.

Menerima kesalahan membuat kita bisa mengatakan:

“Situasinya memang rumit, tetapi bagian ini adalah kesalahanku.”

Kalimat seperti itu membutuhkan keberanian karena kita tidak lagi berusaha menyelamatkan citra diri dengan segala cara.

Menariknya, ketika kebutuhan untuk mempertahankan ego berkurang, kemampuan kita untuk memperbaiki masalah justru meningkat.

Kita tidak perlu menghabiskan energi untuk membuktikan bahwa kita tidak bersalah.

Energi tersebut bisa digunakan untuk bertanya:

“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan sekarang?”

3. Kesalahan yang diterima lebih mudah diubah menjadi pembelajaran

Kesalahan hanya menjadi pengalaman jika kita benar-benar belajar darinya.

Bayangkan seseorang melakukan kesalahan yang sama berkali-kali.

Setiap kali terjadi, dia mengatakan:

“Ini bukan salahku.”

Jika keyakinan itu terus dipertahankan, dia mungkin tidak pernah memeriksa pola perilakunya.

Sebaliknya, orang yang mampu berkata:

“Aku melakukan kesalahan. Apa yang menyebabkan ini terjadi?”

telah mengubah kesalahan menjadi bahan evaluasi.

Dalam psikologi pembelajaran, pengalaman tidak otomatis menghasilkan perkembangan. Kita membutuhkan proses refleksi untuk memahami apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan apa yang dapat dilakukan secara berbeda pada kesempatan berikutnya.

Misalnya, seseorang terus terlambat datang ke berbagai pertemuan.

Dia dapat mengatakan:

“Jalanannya memang macet.”

Tetapi jika hal itu terjadi setiap minggu, mungkin ada persoalan lain yang perlu diperiksa.

Mungkin dia selalu berangkat terlalu dekat dengan waktu acara.

Mungkin dia terlalu optimistis memperkirakan waktu perjalanan.

Mungkin dia tidak memberikan ruang untuk kejadian tak terduga.

Ketika dia menerima bahwa cara perencanaannya memang bermasalah, barulah perubahan menjadi mungkin.

Jadi, menerima kesalahan bukan sekadar berkata:

“Aku salah.”

Lebih jauh dari itu, kita mengatakan:

“Aku ingin memahami mengapa aku salah agar aku tidak mengulanginya dengan cara yang sama.”

Itulah yang mengubah kesalahan menjadi pengalaman.

4. Menerima kesalahan dapat meningkatkan kemampuan untuk berempati

Ada hubungan yang menarik antara kemampuan mengakui kesalahan dan kemampuan memahami kesalahan orang lain.

Orang yang sadar bahwa dirinya sendiri tidak sempurna biasanya lebih mudah memahami bahwa manusia lain juga memiliki keterbatasan.

Bayangkan seseorang yang pernah membuat keputusan buruk dan kemudian mengalami konsekuensinya.

Pengalaman tersebut dapat membuatnya lebih memahami orang lain yang sedang berada dalam posisi serupa.

Dia tahu bahwa manusia terkadang membuat keputusan buruk bukan karena mereka jahat, melainkan karena mereka takut, terburu-buru, kurang informasi, terlalu emosional, atau belum mampu melihat dampak jangka panjang.

Kesadaran terhadap ketidaksempurnaan diri dapat mengurangi kecenderungan untuk menilai orang lain secara terlalu sederhana.

Daripada berpikir:

“Bagaimana bisa dia sebodoh itu?”

kita mulai bertanya:

“Apa yang membuat dia mengambil keputusan tersebut?”

Pertanyaan kedua jauh lebih empatik.

Tentu saja, empati bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Seseorang tetap dapat bertanggung jawab atas tindakannya.

Namun, memahami bahwa “aku juga bisa salah” membuat kita lebih berhati-hati ketika menghakimi orang lain.

Dan secara paradoks, orang yang tidak terlalu sibuk merasa dirinya sempurna sering kali memiliki ruang lebih besar untuk memahami manusia lain.

5. Menerima kesalahan membuat hubungan lebih sehat

Dalam hubungan interpersonal, salah satu kemampuan yang sangat penting adalah kemampuan memperbaiki kerusakan setelah konflik.

Tidak ada hubungan yang selalu berjalan sempurna.

Pasangan bisa salah memahami.

Teman bisa mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Orang tua bisa mengambil keputusan yang keliru.

Anak bisa bersikap tidak adil.

Rekan kerja bisa melakukan kesalahan.

Pertanyaannya bukan apakah konflik akan pernah terjadi.

Pertanyaannya adalah:

Apa yang dilakukan setelah kesalahan terjadi?

Orang yang selalu merasa harus menang dalam setiap konflik akan kesulitan memperbaiki hubungan.

Dia mungkin lebih memilih mempertahankan argumen daripada memulihkan kepercayaan.

Sebaliknya, kemampuan mengatakan:

“Aku mengerti sekarang bahwa perkataanku tadi menyakitimu. Aku seharusnya tidak mengatakan itu.”

dapat mengubah arah sebuah konflik.

Permintaan maaf yang tulus bukan sekadar strategi untuk menghentikan pertengkaran. Ia menunjukkan bahwa kita mampu mengakui dampak tindakan kita terhadap orang lain.

Dan ada perbedaan besar antara:

“Maaf kalau kamu tersinggung.”

dengan:

“Maaf. Aku menyadari bahwa perkataanku memang menyakitkan, dan aku bertanggung jawab atas itu.”

Yang kedua menunjukkan pengakuan yang lebih jelas terhadap tindakan dan dampaknya.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa kesalahan.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan.

6. Menerima kesalahan membantu membangun self-compassion

Ada satu kesalahpahaman umum tentang menerima kesalahan.

Sebagian orang berpikir bahwa mengakui kesalahan berarti harus membenci diri sendiri.

Padahal, keduanya sangat berbeda.

Kamu dapat mengatakan:

“Aku melakukan kesalahan.”

tanpa mengatakan:

“Aku adalah manusia yang gagal.”

Ini merupakan perbedaan penting.

Kesalahan adalah sesuatu yang dilakukan seseorang.

Kesalahan tidak otomatis menjadi identitas seseorang.

Dalam konsep self-compassion, seseorang belajar memperlakukan dirinya dengan pemahaman ketika menghadapi kegagalan atau kekurangan. Bukan berarti mengabaikan tanggung jawab, tetapi menghindari sikap menghukum diri secara berlebihan.

Misalnya:

“Aku salah mengambil keputusan.”

berbeda dengan:

“Aku memang selalu bodoh.”

Pernyataan pertama membuka peluang perbaikan.

Pernyataan kedua menyerang identitas diri.

Ketika seseorang dapat menerima kesalahan tanpa menghancurkan harga dirinya, dia lebih mungkin melakukan refleksi secara jujur.

Dia tidak perlu berbohong kepada dirinya sendiri untuk merasa berharga.

Dia dapat berkata:

“Aku melakukan sesuatu yang salah, tetapi aku masih bisa memperbaikinya.”

Inilah bentuk penerimaan diri yang sehat: mengakui kekurangan tanpa menjadikan kekurangan sebagai keseluruhan identitas diri.

7. Menerima kesalahan membuat kamu lebih rendah hati secara intelektual

Alasan terakhir mungkin yang paling penting.

Kita hidup di dunia yang sangat kompleks.

Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban sederhana. Tidak semua informasi tersedia. Tidak semua keputusan dapat diprediksi dengan sempurna.

Karena itu, keyakinan bahwa kita selalu benar justru dapat menjadi penghambat.

Menerima kesalahan mengajarkan sesuatu yang sangat penting:

pengetahuan kita selalu memiliki batas.

Hari ini kita mungkin yakin terhadap suatu hal.

Besok kita menemukan informasi baru.

Kemudian kita mengubah pandangan.

Perubahan tersebut bukan selalu tanda ketidakkonsistenan. Dalam banyak situasi, kemampuan memperbarui keyakinan berdasarkan informasi baru justru merupakan bagian dari penalaran yang sehat.

Orang yang rendah hati secara intelektual dapat mengatakan:

“Berdasarkan informasi yang aku punya saat itu, aku mengambil keputusan tersebut. Tetapi sekarang aku memiliki informasi baru, sehingga aku perlu mengevaluasinya kembali.”

Itu jauh lebih sehat daripada mempertahankan pendapat hanya karena sebelumnya kita sudah mengatakannya dengan percaya diri.

Kerendahan hati intelektual bukan berarti tidak memiliki pendirian.

Justru seseorang dapat memiliki pendirian yang kuat sekaligus tetap terbuka terhadap bukti baru.

Karena tujuan berpikir bukan sekadar menang dalam perdebatan.

Tujuannya adalah mendekati pemahaman yang lebih akurat.

Jadi, Apakah Menerima Kesalahan Berarti Kamu Harus Selalu Mengalah?

Tidak.

Ini bagian yang penting.

Menerima kesalahan bukan berarti menganggap orang lain selalu benar.

Kamu bisa mengakui:

“Bagian ini memang kesalahanku.”

dan pada saat yang sama mengatakan:

“Namun, ada bagian dari tindakanmu yang juga perlu kita bicarakan.”

Menerima kesalahan juga bukan berarti membiarkan orang lain memperlakukanmu dengan buruk.

Bukan berarti kamu harus meminta maaf atas sesuatu yang bukan tanggung jawabmu.

Dan bukan berarti setiap konflik harus berakhir dengan kamu mengalah.

Justru kemampuan membedakan apa yang menjadi tanggung jawab kita dan apa yang bukan merupakan bagian dari kematangan emosional.

Tujuannya bukan menjadi orang yang selalu berkata:

“Aku salah.”

Tujuannya adalah menjadi orang yang cukup jujur untuk mengatakan:

“Kalau aku memang salah, aku mau mengakuinya. Kalau aku belum tahu, aku mau belajar. Dan kalau aku benar, aku tidak perlu merendahkan orang lain untuk membuktikannya.”

Kesimpulan: Menjadi “Lebih Benar” Dimulai dari Keberanian Mengakui Ketika Kita Salah

Ada sebuah paradoks dalam kehidupan.

Orang yang terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya benar dapat kehilangan kesempatan untuk belajar.

Sementara orang yang berani mengakui kesalahannya justru memiliki kesempatan untuk menjadi lebih tepat, lebih matang, dan lebih memahami dirinya sendiri.

Menerima kesalahan membuat kita lebih terbuka terhadap kenyataan. Kita tidak terlalu sibuk mempertahankan ego. Kita dapat mengubah pengalaman buruk menjadi pembelajaran, memahami orang lain dengan lebih baik, memperbaiki hubungan, memperlakukan diri sendiri dengan lebih sehat, dan mempertahankan kerendahan hati dalam berpikir.

Pada akhirnya, menjadi benar bukan selalu tentang memenangkan argumen.

Kadang-kadang, menjadi lebih benar berarti berani berhenti sejenak dan berkata:

“Ternyata aku keliru.”

Lalu melanjutkan dengan pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Sekarang, apa yang bisa aku pelajari dari kesalahan ini?”

Karena orang yang tidak pernah mengakui kesalahan mungkin akan terus merasa dirinya benar.

Tetapi orang yang berani menerima kesalahan memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga:

kesempatan untuk terus berkembang.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore