Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Oktober 2026 | 22.48 WIB

Menyibak Pesona dan Kesakralan Motif Batik Larangan Keraton Yogyakarta

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengenal istilah Batik Larangan atau Awisan Dalem. (Kraton Jogja) - Image

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengenal istilah Batik Larangan atau Awisan Dalem. (Kraton Jogja)

Jawapos.com– Di balik helai kain batik khas Yogyakarta, tersimpan filosofi mendalam. Bahkan ada batik yang tak bisa sembarangan dikenakan. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengenal istilah Batik Larangan atau Awisan Dalem. 

Bukan tanpa alasan Keraton menetapkan batasan tersebut. Keyakinan akan adanya kekuatan spiritual, nilai religius, serta aura magis yang terpancar dari setiap guratan canting menjadi dasar utamanya. Motif-motif ini dipandang memiliki falsafah tinggi yang merefleksikan kepemimpinan, kepribadian, hingga kosmologi Jawa.

Dalam sejarahnya, penetapan batik larangan sepenuhnya menjadi wewenang Sultan yang bertahta. Motif Parang Rusak mencatatkan diri sebagai pola larangan pertama yang dicanangkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785.

Seiring berjalannya waktu, regulasi ini dipertegas, terutama pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII lewat Rijksblad van Djokjakarta tahun 1927 tentang Pranatan Dalem Bab Jenenge Panganggo Keprabon Ing Keraton Nagari Yogyakarta.

Aturan tersebut merincikan secara mutlak siapa saja yang berhak mengenakan motif tertentu dalam wujud nyamping/bebet (kain bawahan) maupun kampuh/dodot (kain kebesaran).

12 Motif Sakral Keraton Yogyakarta

Sedikitnya terdapat 12 motif batik yang masuk dalam kategori Awisan Dalem:

Motif Batik Parang. (kratonjogja)

  1. Parang Rusak Barong: Motif berukuran besar (lebih dari 10 cm) yang melambangkan kekuasaan, kebesaran, dan kewibawaan raja. Hanya boleh dikenakan oleh Raja dan Putra Mahkota.
  2. Parang Rusak Gendreh: Memiliki ukuran sedang (sekitar 8 cm), ditujukan untuk permaisuri, istri pangeran, dan kerabat istana bertingkat tertentu.
  3. Parang Klithik: Berukuran kecil (4 cm ke bawah) dengan karakter yang lebih halus, diperuntukkan bagi para putri raja, cucu, hingga cicit keraton.
  4. Huk: Terdiri atas perpaduan ornamen kerang, binatang, tumbuhan, cakra, burung, dan garuda. Motif ini melambangkan pemimpin yang berbudi luhur, berwibawa, serta tabah. Hanya boleh dipakai oleh Sultan dan Putra Mahkota.
  5. Kawung: Pola geometris empat elips yang mengelilingi satu pusat (keblat papat lima pancer). Melambangkan kesucian dan kebermanfaatan bagi sesama. Khusus diizinkan untuk para Sentana Dalem (kerabat keraton).

Motif Batik Semen Gedhe Sawat Gurdha. (kratonjogja)

  1. Semen Gedhe Sawat Gurdha: Motif bertema alam dan kesuburan dengan elemen utama burung garuda (sawat). Diperuntukkan bagi cucu Sultan dan pejabat tinggi keraton (Bupati Nayaka).
  2. Semen Gedhe Sawat Lar: Variasi motif semen berunsur sayap garuda (lar) yang dikenakan oleh buyut dan canggah Sultan.
  3. Cemukiran: Berbentuk lidah api atau pancaran sinar yang melambangkan mawateja (keagungan dan keberanian bagai wahyu). Khusus untuk Raja dan Putra Mahkota.
  4. Udan Liris: Pola garis-garis miring diagonal yang menggambarkan hujan rintik-rintik pembawa kesuburan. Merupakan doa dan harapan agar pemakainya selamat, tabah, serta berprakarsa demi kepentingan bangsa.
  5. Rujak Senthe: Motif spesifik yang melambangkan kesiapan dan ketahanan dalam menghadapi tantangan hidup.
  6. Parang-parangan: Berbagai variasi dari ragam hias pola parang yang penggunaannya diatur berdasarkan jenjang hirarki istana.
  7. Batik Huk (Variasi Khusus): Motif gabungan yang secara tegas ditekankan ulang pengunaannya sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Komunikasi Politik dan Pesan Kepemimpinan

Perspektif budaya Jawa memandang bahwa apa yang melekat pada tubuh—termasuk busana—merupakan cerminan langsung dari kapasitas dan spiritualitas seseorang. Oleh karena itu, Batik Larangan tidak sekadar berfungsi sebagai pembeda status sosial atau pelengkap tata busana adat.

Lebih jauh dari itu, aturan ini berfokus sebagai instrumen komunikasi politik. Setiap garis dan corak menyampaikan pesan kepemimpinan tersirat kepada sesama penguasa, rakyat, maupun lawan politik mengenai wibawa dan legitimasi kekuasaan Mataram.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore