Memperingati Hari Batik Nasional, Batik Keris berkolaborasi dengan Perkumpulan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) menggelar perayaan batik bertajuk 'Cinta Batik, Cinta UMKM'.
JawaPos.com – Memperingati Hari Batik Nasional, Batik Keris berkolaborasi dengan Perkumpulan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) menggelar perayaan batik bertajuk 'Cinta Batik, Cinta UMKM'. Enam desainer pun terlibat dengan mengangkat busana high fashion kontemporer.
Mengawinkan panggung runway, pameran, hingga lelang amal (auction for charity), gelaran ini tidak sekadar menjadi ajang melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan pelaku UMKM.
Kolaborasi ini menghadirkan perpaduan busana elegan melalui featuring creations by Ivan Gunawan, Denny Wirawan, Priyo Oktaviano, Danny Satriadi, Ayu Dyah Andari, dan Marini Zumarnis. Enam desainer papan atas Indonesia ini secara khusus mengolah dan mengeksplorasi kain batik dari Batik Keris menjadi busana high fashion kontemporer yang kaya akan karakter gaya masing-masing.
Seluruh mahakarya eksklusif dari para desainer tersebut dilelang dalam sesi Auction for Charity. Ketua Umum PPLIPI Dra. Hj. Indah Suryadharma Ali, MBA menjelaskan, seluruh hasil lelang busana karya para desainer terkemuka ini akan didonasikan sepenuhnya untuk program bantuan permodalan UMKM binaan PPLIPI yang direalisasikan pada November 2026 mendatang.
"Kami sepenuhnya menyerahkan model, gaya, dan kreasi busana kepada para desainer. Namun, kami memberikan pesan utama agar karya yang diciptakan tetap wearable atau nyaman dan praktis untuk dikenakan oleh para pembeli," ujar Indah.
Indah mengungkapkan, akses permodalan masih menjadi tantangan mendasar yang sering menghambat para pelaku usaha mikro, khususnya perempuan pedagang kecil di kawasan pinggiran yang sulit menjangkau akses pinjaman perbankan karena keterbatasan agunan (collateral).
"Bantuan permodalan yang kami salurkan berfokus pada pedagang mikro, seperti ibu-ibu penjual nasi uduk, pisang goreng, hingga gado-gado. Modal stimulan sebesar Rp 300 ribu sehari saja sudah sangat berarti untuk kehidupan dan keberlanjutan usaha mereka. Selama 10 tahun perjalanan PPLIPI, kami telah mendampingi dan membina hampir 10.000 UMKM perempuan," terangnya.
Tidak hanya mengandalkan hasil lelang karya enam desainer papan atas tersebut, Batik Keris juga memberikan kontribusi sosial tambahan. Pihak Batik Keris menyisihkan dan mendonasikan 25 persen dari total penjualan produk kain batik retail mereka selama momentum Hari Batik Nasional untuk menyokong program PPLIPI Peduli UMKM.
Transformasi Batik ke Kancah High Fashion dan Pasar Generasi Muda
Di panggung runway, Batik Keris turut memperagakan koleksi busana terbarunya yang bertajuk Rona Rempah. Koleksi ini mengusung inspirasi dari kekayaan rempah Nusantara seperti cengkeh, kecombrang, kemukus, dan kunyit yang dirangkai ke dalam ragam motif batik bernuansa warna bumi (earth tone).
Penerus Batik Keris Generasi Ketiga, Andy Rusli, menegaskan komitmen Batik Keris untuk terus berinovasi agar kain warisan budaya Nusantara ini tetap relevan melintasi zaman dan terlepas dari citra kuno.
"Visi kami sejak founding father adalah melestarikan batik dari generasi ke generasi. Jika dulu batik hanya digunakan sebagai kain sarung lalu berkembang menjadi kemeja, kini melalui kolaborasi dengan top desainer Indonesia, kami membawa batik melangkah ke kancah high fashion hingga high street," jelas Andy.
Andy menambahkan, untuk merangkul pasar anak muda, Batik Keris secara konsisten menambah personel tim product development dari kalangan anak muda guna menangkap tren dan selera terkini. Produk-produk kasual modern seperti jaket berbahan batik kini menjadi salah satu eksplorasi fokus mereka.
"Selama ini ada pandangan bahwa batik tulis itu mahal dan hanya cocok dipakai ke acara formal seperti resepsi pernikahan. Padahal, proses pembuatan batik tradisional tulis memang membutuhkan ketelitian tinggi, memakan waktu antara 1 hingga 12 bulan karena digambar satu per satu memakai canting berukuran sangat kecil. Hal ini menjadikan tiap helai batiknya sebagai produk yang one unique piece tanpa duplikat," paparnya.
Komisaris Utama Batik Keris Lina Handianto menekankan bahwa keindahan sehelai batik terletak pada kombinasi filosofi motif dan ketekunan para perajin UMKM lokal yang mengerjakannya.
"Masa depan batik terletak pada keseimbangan antara menjaga nilai tradisi dan adaptasi perkembangan zaman. Mengapresiasi dan membeli batik tidak hanya sebatas mengoleksi busana, tetapi juga menjadi fondasi untuk menjaga keberlangsungan hidup para perajin dan pelaku UMKM di seluruh Indonesia," pungkas Lina.