seseorang yang membangun hubungan yang matang. (Magnific)
JawaPos.com - Hubungan yang matang secara emosional bukan berarti hubungan yang tidak pernah memiliki masalah.
Justru sebaliknya, hubungan yang matang adalah hubungan ketika dua orang mampu menghadapi masalah tanpa selalu merasa harus menang, mampu mengungkapkan kebutuhan tanpa merendahkan, dan mampu mencintai tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Banyak orang mengira kedewasaan dalam hubungan ditandai oleh lamanya hubungan, seberapa sering bersama, atau seberapa kuat rasa cinta yang dimiliki. Padahal, dalam psikologi hubungan, kualitas relasi juga sangat berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola emosi, berkomunikasi, merespons konflik, dan memahami kebutuhan dirinya maupun pasangannya.
Kamu bisa sangat mencintai seseorang, tetapi belum tentu mampu membangun hubungan yang sehat dengannya.
Kamu bisa sangat dekat dengan seseorang, tetapi masih membawa pola komunikasi yang penuh ketakutan, kecurigaan, atau tuntutan.
Dan kamu bisa berada dalam hubungan selama bertahun-tahun, tetapi tetap belum belajar bagaimana menjadi pasangan yang matang secara emosional.
Kabar baiknya, kematangan emosional bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Ia dapat dikembangkan melalui kesadaran dan latihan.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), jika kamu ingin membangun hubungan yang lebih matang secara emosional, berikut enam hal yang bisa mulai kamu lakukan.
1. Belajar Mengungkapkan Perasaan, Bukan Hanya Menyampaikan Kemarahan
Salah satu tanda kematangan emosional adalah kemampuan untuk mengenali apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan.
Ini terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah.
Ketika seseorang berkata:
"Aku kesal karena kamu tidak membalas pesanku."
Belum tentu rasa kesal adalah emosi utama.
Di baliknya mungkin ada rasa takut diabaikan.
Mungkin ada rasa tidak dianggap penting.
Mungkin ada rasa kecewa.
Atau mungkin ada pengalaman masa lalu yang membuat seseorang sangat sensitif terhadap situasi ketika orang yang disayanginya menjadi sulit dihubungi.
Masalahnya, ketika seseorang tidak mampu mengenali emosi yang lebih dalam, emosi tersebut sering keluar dalam bentuk yang berbeda.
Rasa takut bisa berubah menjadi kecemburuan.
Rasa kecewa bisa berubah menjadi kemarahan.
Rasa tidak aman bisa berubah menjadi perilaku mengontrol.
Rasa membutuhkan perhatian bisa berubah menjadi tuntutan.
Karena itu, hubungan yang matang membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
"Sebenarnya aku sedang merasa apa?"
Bukan hanya:
"Apa yang dia lakukan sampai membuatku marah?"
Perbedaan ini sangat penting.
Ketika kamu hanya berfokus pada kesalahan pasangan, percakapan mudah berubah menjadi tuduhan.
Tetapi ketika kamu mampu mengenali emosimu sendiri, kamu memiliki kesempatan untuk mengomunikasikannya dengan lebih sehat.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Kamu memang tidak pernah peduli sama aku."
Kamu bisa mengatakan:
"Ketika kamu tidak memberi kabar dalam waktu lama, aku merasa cemas dan tidak dianggap. Aku ingin kita membicarakan bagaimana cara berkomunikasi yang nyaman untuk kita berdua."
Kalimat kedua tidak berarti kamu harus menekan perasaanmu.
Justru sebaliknya.
Kamu sedang menyampaikan perasaan dengan lebih jujur tanpa menyerang karakter orang lain.
Cobalah latihan sederhana ini
Ketika emosi sedang kuat, jangan langsung bereaksi.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang terjadi?
Apa yang aku rasakan?
Apa yang sebenarnya membuatku terluka?
Apa yang aku butuhkan?
Apakah kebutuhanku sudah pernah aku komunikasikan dengan jelas?
Semakin baik kamu mengenali emosimu sendiri, semakin kecil kemungkinan pasanganmu harus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirimu.
2. Berhenti Menganggap Konflik sebagai Ancaman terhadap Hubungan
Banyak orang menganggap hubungan yang sehat adalah hubungan yang jarang bertengkar.
Padahal, perbedaan pendapat merupakan bagian yang hampir tidak terpisahkan dari hubungan dekat.
Dua orang bisa saling mencintai tetapi memiliki kebutuhan yang berbeda.
Satu orang mungkin membutuhkan lebih banyak waktu bersama.
Yang lain membutuhkan lebih banyak ruang pribadi.
Satu orang ingin membicarakan masalah segera.
Yang lain membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum berbicara.
Perbedaan seperti ini tidak otomatis berarti hubungan tersebut buruk.
Yang menentukan kualitas hubungan sering kali adalah bagaimana konflik tersebut dikelola.
Dalam hubungan yang belum matang secara emosional, konflik sering dipandang sebagai pertandingan.
Siapa yang benar?
Siapa yang salah?
Siapa yang harus meminta maaf?
Siapa yang menang?
Akibatnya, tujuan percakapan bukan lagi memahami masalah, melainkan mempertahankan posisi masing-masing.
Hubungan yang matang mencoba mengubah pertanyaannya menjadi:
"Bagaimana kita bisa memahami masalah ini dan mencari jalan keluar bersama?"
Perubahan perspektif tersebut sangat besar.
Ketika konflik dipandang sebagai ancaman, seseorang cenderung menjadi defensif.
Tetapi ketika konflik dipandang sebagai masalah yang harus dihadapi bersama, pasangan dapat berada di sisi yang sama.
Tentu saja, ini bukan berarti kamu harus selalu mengalah.
Kematangan emosional bukan berarti menjadi orang yang selalu berkata "terserah" demi menghindari konflik.
Kematangan emosional berarti mampu mempertahankan batasan dan pendapat tanpa harus menghancurkan harga diri pasangan.
Kamu boleh tidak setuju.
Kamu boleh kecewa.
Kamu boleh mengatakan bahwa sesuatu menyakitimu.
Tetapi cara menyampaikannya tetap penting.
Cobalah mengganti beberapa kebiasaan
Daripada:
"Kamu selalu begini."
Coba:
"Hal ini beberapa kali membuatku merasa tidak nyaman."
Daripada:
"Kamu memang egois."
Coba:
"Aku merasa kebutuhanku belum didengarkan dalam situasi ini."
Daripada:
"Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti tahu."
Coba:
"Aku ingin kamu memahami bahwa hal ini penting bagiku."
Perubahan kecil dalam bahasa dapat mengubah arah sebuah percakapan.
3. Belajar Mendengarkan Tanpa Langsung Membela Diri
Mendengarkan bukan sekadar diam ketika pasangan berbicara.
Mendengarkan berarti berusaha memahami pengalaman orang lain sebelum mempersiapkan jawaban.
Ini salah satu kemampuan yang sangat penting dalam hubungan.
Sayangnya, ketika merasa dituduh, manusia secara alami dapat menjadi defensif.
Pasangan berkata:
"Aku merasa akhir-akhir ini kamu kurang memperhatikanku."
Respons spontan mungkin:
"Aku kan sibuk kerja."
Atau:
"Kamu juga sama."
Atau:
"Memangnya kamu selalu perhatian?"
Secara logika, mungkin ada bagian yang benar dari respons tersebut.
Namun secara emosional, respons seperti itu dapat membuat pasangan merasa tidak didengarkan.
Cobalah pendekatan yang berbeda.
Misalnya:
"Aku baru sadar kalau kamu merasa kurang diperhatikan. Bisa ceritakan bagian mana yang paling membuatmu merasa seperti itu?"
Perhatikan perbedaannya.
Kamu tidak langsung mengakui bahwa semua tuduhan pasangan benar.
Kamu juga tidak langsung menyalahkan diri sendiri.
Kamu hanya memberikan ruang untuk memahami.
Ini merupakan bentuk kematangan emosional yang penting: mampu mendengar sesuatu yang tidak nyaman tanpa langsung merasa harus mempertahankan diri.
Tentu, mendengarkan juga memiliki batas.
Jika pasangan menyampaikan sesuatu dengan cara yang menghina, mengancam, atau merendahkan, kamu tetap berhak menghentikan percakapan dan menetapkan batas.
Mendengarkan bukan berarti menerima perlakuan yang tidak sehat.
4. Jangan Mengharapkan Pasangan Membaca Pikiranmu
Salah satu sumber konflik dalam hubungan adalah ekspektasi yang tidak pernah diucapkan.
Seseorang mungkin berpikir:
"Kalau dia mencintaiku, seharusnya dia tahu."
Masalahnya, pasangan bukan pembaca pikiran.
Dia mungkin mencintaimu, tetapi belum tentu memahami semua kebutuhanmu secara otomatis.
Kamu mungkin ingin ditemani ketika sedang sedih.
Tetapi pasanganmu mungkin berpikir bahwa kamu membutuhkan ruang.
Kamu mungkin menganggap ulang tahun adalah momen yang sangat penting.
Sementara pasanganmu mungkin tidak memiliki cara yang sama dalam mengekspresikan perhatian.
Perbedaan seperti ini tidak selalu menunjukkan kurangnya cinta.
Kadang-kadang dua orang hanya memiliki cara berbeda dalam memahami kasih sayang.
Karena itu, hubungan yang matang membutuhkan komunikasi kebutuhan secara eksplisit.
Bukan:
"Kamu harusnya tahu."
Tetapi:
"Ketika aku sedang menghadapi masalah, aku biasanya merasa lebih tenang kalau kamu menemaniku."
Bukan:
"Kamu tidak romantis."
Tetapi:
"Aku merasa dihargai ketika kamu sesekali merencanakan sesuatu untuk kita berdua."
Bukan:
"Kamu berubah."
Tetapi:
"Aku merasa akhir-akhir ini kita semakin jarang memiliki waktu berkualitas. Aku ingin kita mencari cara untuk memperbaikinya."
Kebutuhan yang dikomunikasikan dengan jelas memberikan pasangan kesempatan untuk merespons.
Dan jika setelah dikomunikasikan dengan jelas pasangan tetap mengabaikannya, kamu memiliki informasi yang lebih nyata tentang dinamika hubungan tersebut dibandingkan jika kamu hanya berharap dia memahami sendiri.
5. Tetap Memiliki Diri Sendiri di Dalam Hubungan
Kedekatan emosional bukan berarti kehilangan identitas pribadi.
Hubungan yang sehat membutuhkan kedekatan, tetapi juga membutuhkan ruang untuk menjadi individu.
Kamu tetap membutuhkan:
teman,
keluarga,
pekerjaan atau pendidikan,
hobi,
waktu sendirian,
tujuan pribadi,
nilai-nilai yang kamu pegang.
Ketika seluruh kehidupan emosional seseorang bergantung pada satu orang, hubungan dapat menjadi sangat rentan.
Misalnya, ketika pasangan tidak membalas pesan selama beberapa jam, seluruh suasana hati langsung runtuh.
Ketika pasangan ingin menghabiskan waktu sendiri, muncul perasaan ditolak.
Ketika pasangan memiliki kegiatan dengan orang lain, muncul kecemasan.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin semakin berusaha mendekat justru ketika pasangannya membutuhkan ruang.
Hal tersebut dapat menciptakan pola yang melelahkan bagi kedua pihak.
Memiliki kehidupan pribadi bukan berarti mencintai pasangan lebih sedikit.
Justru, kemampuan untuk tetap menjadi individu dapat membuat hubungan lebih seimbang.
Kamu bersama pasangan karena kamu memilih untuk berbagi kehidupan, bukan karena kamu merasa tidak mampu hidup tanpa dirinya.
Ada perbedaan besar antara:
"Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu."
dan
"Aku mencintaimu, tetapi aku juga bertanggung jawab atas hidup dan emosiku sendiri."
Kalimat kedua menggambarkan bentuk kedewasaan yang lebih kuat.
6. Belajar Memperbaiki Hubungan Setelah Terjadi Kesalahan
Tidak ada hubungan yang sempurna.
Akan ada kata-kata yang salah.
Akan ada kesalahpahaman.
Akan ada momen ketika seseorang terlalu emosional.
Akan ada keputusan yang disesali.
Karena itu, salah satu kemampuan paling penting dalam hubungan bukanlah tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan mampu melakukan perbaikan setelah kesalahan terjadi.
Dalam psikologi hubungan, proses memperbaiki keretakan sering kali disebut sebagai repair.
Misalnya:
"Tadi caraku bicara terlalu keras. Aku sedang marah, tetapi itu bukan alasan untuk berbicara seperti itu. Aku minta maaf."
Perhatikan bahwa permintaan maaf tersebut tidak berhenti pada:
"Maaf kalau kamu tersinggung."
Ada pengakuan terhadap perilaku.
Ada tanggung jawab.
Dan ada usaha untuk memperbaiki.
Permintaan maaf yang matang tidak harus selalu panjang.
Yang penting adalah kejujuran dan tanggung jawab.
Begitu juga dengan kemampuan menerima permintaan maaf.
Memaafkan bukan berarti berpura-pura bahwa sesuatu tidak pernah terjadi.
Dan memperbaiki hubungan bukan berarti menghapus konsekuensi dari sebuah tindakan.
Terkadang kepercayaan membutuhkan waktu untuk kembali.
Terkadang seseorang membutuhkan perubahan perilaku yang konsisten sebelum merasa aman kembali.
Karena itu, hubungan yang matang tidak hanya berkata:
"Aku akan berubah."
Tetapi menunjukkan perubahan melalui perilaku yang berulang.
Pada akhirnya, hubungan yang matang bukan tentang menjadi pasangan yang sempurna
Kamu tidak harus selalu tenang.
Kamu tidak harus selalu tahu cara berkomunikasi yang benar.
Kamu tidak harus selalu memahami pasangan.
Dan pasanganmu juga tidak harus selalu melakukan semuanya dengan sempurna.
Kematangan emosional lebih terlihat dari kemampuan untuk menyadari ketika sesuatu tidak berjalan baik, kemudian bersedia belajar dan memperbaikinya.
Enam hal tadi sebenarnya mengarah pada satu kemampuan besar:
kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap bagianmu sendiri dalam sebuah hubungan.
Kamu bertanggung jawab untuk memahami emosimu.
Kamu bertanggung jawab untuk mengomunikasikan kebutuhanmu.
Kamu bertanggung jawab atas cara kamu berbicara.
Kamu bertanggung jawab untuk menetapkan batasan.
Dan ketika kamu melakukan kesalahan, kamu bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
Namun tanggung jawab emosional tidak berarti memikul seluruh hubungan sendirian.
Hubungan tetap membutuhkan dua orang.
Kamu bisa memperbaiki cara berkomunikasimu, tetapi pasangan juga perlu bersedia mendengarkan.
Kamu bisa belajar mengelola emosimu, tetapi pasangan tetap perlu menghormati batasanmu.
Kamu bisa belajar meminta maaf, tetapi hubungan yang sehat juga membutuhkan perubahan perilaku dari kedua pihak.
Jadi, jika kamu ingin memiliki hubungan yang lebih matang, mungkin pertanyaan yang perlu kamu ajukan bukan:
"Apakah dia pasangan yang sempurna untukku?"
Melainkan:
"Apakah kami berdua bersedia belajar memahami, menghormati, dan memperbaiki cara kami menjalani hubungan ini?"
Karena hubungan yang dewasa bukan hubungan tanpa konflik.
Hubungan yang dewasa adalah hubungan ketika dua orang tidak membiarkan konflik menjadi alasan untuk saling menghancurkan.
Mereka belajar berbicara.
Mereka belajar mendengarkan.
Mereka belajar memberi ruang.
Mereka belajar menetapkan batas.
Mereka belajar meminta maaf.
Dan yang paling penting, mereka belajar bahwa mencintai seseorang bukan hanya tentang memiliki perasaan yang kuat, tetapi juga tentang memiliki kemampuan untuk memperlakukan satu sama lain dengan kesadaran dan tanggung jawab emosional.***