seseorang yang berusaha memperbaiki hubungan dengan pasangan / foto: Magnific/magnific
Hubungan yang pernah dipenuhi perhatian bisa berubah menjadi penuh kecurigaan. Percakapan sederhana dapat berubah menjadi pertengkaran. Hal kecil terasa seperti bukti bahwa pasangan sudah tidak peduli. Bahkan, ketika sebenarnya masih ada rasa sayang, kedua pihak bisa begitu lelah secara emosional sampai mulai berpikir bahwa berpisah adalah satu-satunya jalan.
Di sinilah kecerdasan emosional menjadi penting.
Dalam psikologi, kecerdasan emosional secara umum berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali, memahami, menggunakan, dan mengelola emosi diri sendiri maupun memahami emosi orang lain. Kemampuan ini tidak berarti seseorang harus selalu tenang, tidak boleh marah, atau selalu mengalah kepada pasangan.
Sebaliknya, kecerdasan emosional berarti mampu mengatakan, "Aku sedang marah, tetapi aku tidak ingin kemarahanku menghancurkan hubungan ini."
Hubungan yang terancam bubar memang tidak selalu dapat diselamatkan. Ada hubungan yang berakhir karena ketidakcocokan, kekerasan, pengkhianatan, atau persoalan mendasar lainnya. Namun, jika kedua orang masih memiliki kemauan untuk memperbaiki hubungan, terdapat beberapa kemampuan emosional yang dapat membantu menciptakan kembali rasa aman dan kedekatan.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), terdapat delapan hal berbasis kecerdasan emosional yang dapat membantu memperbaiki hubungan yang sedang berada di ujung perpisahan.
1. Belajar Mengenali Emosi Sebelum Menyalahkan Pasangan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam konflik hubungan adalah langsung mengarahkan perhatian kepada perilaku pasangan.
"Dia tidak pernah mengerti aku."
"Dia selalu egois."
"Dia memang sudah berubah."
Kalimat-kalimat tersebut mungkin muncul ketika seseorang merasa terluka. Namun, kalimat itu sering kali tidak menjelaskan emosi yang sebenarnya sedang terjadi.
Di balik kemarahan, mungkin terdapat rasa takut ditinggalkan.
Di balik sikap dingin, mungkin terdapat kekecewaan.
Di balik kecemburuan, mungkin terdapat rasa tidak aman.
Di balik keinginan untuk terus bertanya, mungkin terdapat kebutuhan untuk mendapatkan kepastian.
Kecerdasan emosional dimulai dengan kemampuan untuk mengenali apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri sendiri.
Alih-alih hanya mengatakan, "Aku marah karena kamu tidak membalas pesanku," seseorang dapat mencoba memahami emosi yang lebih dalam:
"Aku ternyata merasa tidak dianggap ketika kamu tidak memberi kabar. Aku takut aku tidak lagi penting bagimu."
Perubahan ini sangat penting.
Ketika seseorang hanya menyampaikan kemarahan, pasangan biasanya akan merasa diserang. Akibatnya, ia mungkin membela diri, menyerang balik, atau menarik diri.
Namun, ketika seseorang mampu mengungkapkan emosi dan kebutuhan yang berada di balik kemarahan, percakapan dapat menjadi lebih manusiawi.
Bukan lagi:
"Kamu tidak pernah peduli padaku."
Melainkan:
"Aku sedang merasa jauh darimu dan aku ingin kita kembali merasa dekat."
Dalam hubungan yang sedang terancam bubar, kemampuan seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk menghentikan siklus pertengkaran.
Karena sering kali, dua orang sebenarnya tidak sedang berusaha menghancurkan satu sama lain. Mereka hanya sedang berusaha melindungi diri dari rasa sakit dengan cara yang salah.
2. Mengendalikan Respons Saat Emosi Sedang Memuncak
Kecerdasan emosional bukan berarti tidak memiliki emosi negatif. Marah, kecewa, cemburu, sedih, dan takut merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Masalahnya bukan pada munculnya emosi, tetapi pada apa yang dilakukan seseorang ketika emosi tersebut mengambil alih.
Saat sedang sangat marah, seseorang dapat mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan. Ia bisa mengungkit masa lalu, menghina pasangan, mengancam putus, atau menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata.
Setelah emosi mereda, penyesalan mungkin muncul.
Namun, kata-kata yang sudah terucap tidak selalu mudah dihapus.
Karena itu, salah satu kemampuan emosional yang penting dalam hubungan adalah memberikan jeda sebelum bereaksi.
Jeda bukan berarti menghindari masalah.
Jeda berarti memberi kesempatan kepada sistem emosi untuk kembali lebih stabil sehingga seseorang dapat merespons dengan lebih sadar.
Misalnya, ketika pertengkaran mulai memanas, seseorang dapat mengatakan:
"Aku sedang terlalu emosional untuk membicarakan ini dengan baik. Aku ingin kita berhenti sebentar dan melanjutkannya setelah aku lebih tenang."
Kalimat seperti itu jauh berbeda dari:
"Terserah. Aku malas bicara sama kamu."
Yang pertama menunjukkan regulasi emosi.
Yang kedua dapat terasa seperti penolakan atau hukuman emosional.
Dalam hubungan yang sedang rapuh, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum mengatakan sesuatu yang menyakitkan dapat membuat perbedaan besar.
Terkadang, menyelamatkan sebuah hubungan bukan tentang menemukan kata-kata yang sempurna.
Terkadang, menyelamatkannya dimulai dengan tidak mengucapkan kata-kata yang akan disesali.
3. Berhenti Berusaha Menang dalam Setiap Pertengkaran
Hubungan bukan kompetisi.
Namun, ketika konflik terjadi berulang kali, pasangan dapat mulai memperlakukan pertengkaran seperti pertandingan.
Siapa yang paling benar?
Siapa yang paling banyak berkorban?
Siapa yang memulai masalah?
Siapa yang lebih salah?
Siapa yang harus meminta maaf terlebih dahulu?
Pola seperti ini dapat membuat hubungan semakin jauh.
Dalam kecerdasan emosional, seseorang belajar membedakan antara mempertahankan diri dan mempertahankan hubungan.
Ada kalanya seseorang memang perlu mempertahankan batasan dan prinsip. Tetapi tidak setiap percakapan harus menghasilkan pemenang.
Terkadang tujuan percakapan bukan membuktikan bahwa pasangan salah.
Tujuannya adalah memahami mengapa konflik tersebut begitu menyakitkan bagi kedua pihak.
Misalnya, pasangan berkata:
"Kamu tidak pernah mendengarkan aku."
Respons yang defensif:
"Aku selalu mendengarkan kamu. Kamu saja yang tidak pernah menghargai apa yang aku lakukan."
Respons yang lebih emosional matang:
"Aku ingin memahami kenapa kamu merasa tidak didengarkan. Apa yang membuat kamu merasa begitu?"
Respons kedua tidak berarti mengakui bahwa pasangan sepenuhnya benar.
Respons itu menunjukkan bahwa seseorang bersedia memahami pengalaman emosional pasangannya.
Dalam hubungan yang hampir berakhir, kemampuan untuk mengganti pertanyaan dari "Siapa yang salah?" menjadi "Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kita?" dapat mengubah arah percakapan.
4. Belajar Mendengarkan Tanpa Langsung Membela Diri
Mendengarkan terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat sulit ketika seseorang merasa disalahkan.
Ketika pasangan menyampaikan keluhan, pikiran kita sering kali langsung mencari pembelaan.
"Kan aku sudah berusaha."
"Kamu juga melakukan hal yang sama."
"Itu bukan maksudku."
"Kamu terlalu sensitif."
Masalahnya, meskipun pembelaan tersebut mungkin memiliki dasar, pasangan bisa tetap merasa tidak didengar.
Kecerdasan emosional mendorong seseorang untuk terlebih dahulu memahami emosi yang disampaikan sebelum menjelaskan sudut pandangnya sendiri.
Contohnya:
Pasangan berkata:
"Aku merasa sendirian dalam hubungan ini."
Respons defensif:
"Sendirian bagaimana? Aku kan selalu ada."
Respons yang lebih konstruktif:
"Berarti akhir-akhir ini kamu merasa aku tidak hadir untukmu, ya?"
Kalimat kedua tidak otomatis berarti seseorang mengakui dirinya bersalah.
Ia hanya menunjukkan bahwa pengalaman pasangan sedang didengarkan.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang tidak harus setuju dengan semua perasaan pasangannya. Namun, ia dapat mengakui bahwa perasaan tersebut nyata bagi pasangannya.
Ada perbedaan besar antara:
"Kamu tidak seharusnya merasa seperti itu."
dan
"Aku mungkin melihatnya berbeda, tetapi aku mengerti bahwa kamu benar-benar merasa terluka."
Validasi emosional seperti ini dapat membantu menciptakan kembali rasa aman dalam komunikasi.
Dan ketika rasa aman mulai kembali, pembicaraan tentang solusi menjadi jauh lebih mungkin dilakukan.
5. Mengungkapkan Kebutuhan Tanpa Menggunakan Tuduhan
Salah satu penyebab konflik hubungan adalah cara seseorang menyampaikan kebutuhan.
Kebutuhan yang sebenarnya sederhana dapat berubah menjadi tuduhan.
"Aku ingin lebih diperhatikan" berubah menjadi:
"Kamu memang tidak pernah perhatian."
"Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu" berubah menjadi:
"Kamu lebih mementingkan orang lain daripada aku."
"Aku ingin merasa dihargai" berubah menjadi:
"Kamu sama sekali tidak menghargai aku."
Ketika kebutuhan disampaikan sebagai serangan, pasangan cenderung memusatkan perhatian pada tuduhan tersebut daripada memahami kebutuhan di baliknya.
Karena itu, komunikasi emosional yang lebih sehat dapat menggunakan pola:
situasi → perasaan → kebutuhan → permintaan.
Contohnya:
"Ketika kita jarang menghabiskan waktu berdua, aku merasa semakin jauh darimu. Aku sebenarnya membutuhkan lebih banyak kedekatan. Bisakah kita menyediakan satu waktu khusus setiap minggu untuk benar-benar bersama tanpa sibuk dengan hal lain?"
Perhatikan perbedaannya.
Tidak ada "kamu selalu".
Tidak ada "kamu tidak pernah".
Tidak ada penghinaan.
Yang ada adalah pengalaman pribadi dan permintaan yang jelas.
Cara seperti ini membuat pasangan lebih mudah memahami apa yang sebenarnya diinginkan.
Hubungan sering kali memburuk bukan karena salah satu pihak tidak memiliki kebutuhan, tetapi karena kebutuhan tersebut disampaikan dalam bentuk serangan.
6. Belajar Memahami Perspektif Pasangan, Bahkan Ketika Tidak Setuju
Empati merupakan salah satu bagian penting dari kecerdasan emosional.
Empati tidak berarti membenarkan semua tindakan pasangan.
Empati berarti berusaha memahami dunia dari sudut pandang orang lain.
Misalnya, seseorang mungkin berpikir:
"Aku tidak mengerti kenapa dia begitu marah hanya karena aku lupa mengabarinya."
Daripada berhenti pada penilaian tersebut, ia dapat bertanya:
"Apa arti kejadian ini bagi dia?"
Mungkin lupa mengabari bukan masalah utamanya.
Bisa jadi kejadian tersebut mengingatkan pasangan pada pengalaman sebelumnya ketika ia merasa diabaikan.
Atau mungkin pasangan sudah lama merasa tidak diprioritaskan, sehingga kejadian kecil tersebut menjadi pemicu dari akumulasi kekecewaan.
Empati memungkinkan seseorang melihat bahwa reaksi yang terlihat besar kadang memiliki sejarah emosional yang panjang.
Namun, empati juga harus disertai batasan.
Memahami alasan seseorang marah bukan berarti membenarkan perilaku kasar.
Memahami ketakutan pasangan bukan berarti seseorang harus menerima kontrol berlebihan.
Memahami luka seseorang bukan berarti kita bertanggung jawab memperbaiki seluruh luka tersebut.
Empati yang sehat berbunyi:
"Aku ingin memahami apa yang kamu rasakan, tetapi kita juga perlu mencari cara yang sehat untuk menyelesaikan masalah ini."
Ini penting karena hubungan yang sehat membutuhkan dua hal sekaligus: pemahaman dan batasan.
7. Belajar Meminta Maaf dengan Tulus dan Memperbaiki Perilaku
Dalam hubungan yang hampir berakhir, permintaan maaf dapat menjadi sangat penting.
Namun, tidak semua permintaan maaf memiliki makna yang sama.
Ada permintaan maaf yang sebenarnya merupakan bentuk pembelaan:
"Maaf kalau kamu merasa tersinggung."
Ada pula permintaan maaf yang langsung diikuti pembenaran:
"Maaf aku melakukan itu, tapi kamu juga membuatku marah."
Kalimat seperti ini sering kali membuat luka semakin panjang.
Permintaan maaf yang lebih matang berfokus pada tindakan, dampak, dan perubahan.
Misalnya:
"Aku sadar caraku bicara tadi menyakitimu. Aku tidak seharusnya menggunakan kata-kata seperti itu. Aku minta maaf. Ke depannya, ketika aku mulai marah, aku akan mengambil jeda daripada menyerangmu."
Perbedaan pentingnya adalah adanya tanggung jawab.
Tetapi ada satu hal yang bahkan lebih penting daripada meminta maaf: perubahan perilaku.
Jika seseorang terus melakukan hal yang sama lalu meminta maaf berulang kali, pasangan akhirnya mungkin kehilangan kepercayaan terhadap kata "maaf".
Kepercayaan tidak dibangun oleh satu percakapan emosional.
Kepercayaan dibangun oleh konsistensi.
Satu tindakan kecil yang dilakukan berulang kali dapat lebih kuat daripada seribu janji.
Karena itu, jika sebuah hubungan ingin diperbaiki, pertanyaannya bukan hanya:
"Apa yang harus aku katakan agar dia tidak pergi?"
Tetapi:
"Perilaku apa yang harus benar-benar aku ubah agar hubungan ini menjadi lebih sehat?"
8. Membangun Kembali Hubungan Melalui Kebiasaan Kecil, Bukan Hanya Percakapan Besar
Ketika hubungan berada di ambang perpisahan, pasangan sering kali menunggu satu percakapan besar yang akan mengubah semuanya.
Mereka berharap ada satu malam penuh air mata, pengakuan, permintaan maaf, dan janji yang akhirnya membuat hubungan kembali seperti dahulu.
Percakapan seperti itu memang bisa menjadi titik awal.
Tetapi hubungan biasanya tidak pulih hanya karena satu percakapan.
Hubungan diperbaiki melalui perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten.
Misalnya:
mendengarkan tanpa memainkan ponsel,
mengucapkan terima kasih atas hal-hal sederhana,
menanyakan keadaan pasangan,
memberikan perhatian tanpa harus diminta,
menepati janji kecil,
menyelesaikan konflik tanpa penghinaan,
memberi ruang ketika pasangan membutuhkannya,
meluangkan waktu berkualitas,
menunjukkan kasih sayang,
dan membicarakan masalah sebelum menjadi terlalu besar.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun, hubungan terdiri dari ribuan interaksi kecil.
Seseorang mungkin tidak kehilangan kepercayaan kepada pasangan hanya karena satu kesalahan. Kepercayaan dapat terkikis melalui banyak pengalaman kecil yang membuatnya merasa tidak aman, tidak dihargai, atau tidak didengarkan.
Sebaliknya, kepercayaan juga dapat dibangun kembali melalui banyak pengalaman kecil yang menunjukkan:
"Kali ini kamu benar-benar hadir."
Inilah mengapa memperbaiki hubungan membutuhkan kesabaran.
Jika selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun komunikasi telah dipenuhi konflik, tidak realistis berharap semuanya berubah dalam satu malam.
Yang perlu dicari bukan kesempurnaan.
Yang perlu dicari adalah kemajuan yang konsisten.
Ketika Masih Ada Cinta, tetapi Hubungan Sudah Terlalu Lelah
Salah satu hal paling menyakitkan dalam hubungan adalah menyadari bahwa dua orang mungkin masih saling mencintai, tetapi tidak lagi tahu bagaimana cara memperlakukan satu sama lain dengan sehat.
Cinta saja tidak selalu cukup.
Seseorang dapat mencintai pasangannya tetapi tetap bersikap defensif.
Seseorang dapat takut kehilangan pasangan tetapi justru menjadi terlalu mengontrol.
Seseorang dapat sangat membutuhkan hubungan tersebut tetapi justru mendorong pasangannya semakin jauh karena cara berkomunikasinya.
Karena itu, kecerdasan emosional menjadi penting.
Ia membantu seseorang memahami bahwa emosi tidak harus menjadi musuh.
Marah dapat menjadi informasi bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi.
Sedih dapat menunjukkan bahwa sesuatu yang berharga sedang terancam.
Cemburu dapat menunjukkan rasa tidak aman yang perlu dipahami.
Takut kehilangan dapat menunjukkan betapa pentingnya hubungan tersebut.
Namun, emosi adalah sinyal, bukan selalu perintah.
Merasa marah tidak berarti kita harus menghina.
Merasa takut tidak berarti kita boleh mengontrol.
Merasa kecewa tidak berarti kita boleh menghukum.
Merasa terluka tidak berarti kita berhak melukai balik.
Kematangan emosional muncul ketika seseorang mampu mengatakan:
"Aku merasakan ini, tetapi aku tetap bertanggung jawab atas bagaimana aku memperlakukannya."
Hubungan yang Sehat Tidak Berarti Tidak Pernah Bertengkar
Banyak orang memiliki gambaran bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan tanpa konflik.
Padahal, perbedaan pendapat merupakan bagian yang wajar dari hubungan dua individu yang memiliki pengalaman, kebutuhan, karakter, dan cara berpikir berbeda.
Yang membedakan hubungan yang sehat dengan hubungan yang merusak bukan sekadar ada atau tidak adanya konflik.
Yang penting adalah bagaimana konflik dikelola.
Apakah pasangan saling menghina?
Apakah mereka menggunakan kelemahan satu sama lain sebagai senjata?
Apakah mereka mengancam perpisahan setiap kali bertengkar?
Apakah salah satu pihak selalu takut berbicara?
Atau apakah mereka masih mampu berhenti, mendengarkan, meminta maaf, dan mencari jalan keluar bersama?
Kecerdasan emosional tidak membuat seseorang menjadi pasangan yang sempurna.
Ia membuat seseorang lebih mampu menyadari ketika dirinya sedang bertindak dengan cara yang dapat merusak hubungan.
Dan kesadaran tersebut memberikan kesempatan untuk memilih respons yang berbeda.
Pada Akhirnya, Memperbaiki Hubungan Dimulai dari Dua Orang yang Mau Berubah
Jika sebuah hubungan sedang terancam bubar, mungkin pertanyaan pertama yang muncul adalah:
"Bagaimana caranya membuat dia bertahan?"
Tetapi pertanyaan yang lebih sehat mungkin adalah:
"Apa yang bisa kami lakukan agar hubungan ini kembali menjadi tempat yang aman bagi kami berdua?"
Perbedaannya sangat besar.
Pertanyaan pertama berfokus pada bagaimana mempertahankan seseorang.
Pertanyaan kedua berfokus pada bagaimana memperbaiki hubungan.
Kecerdasan emosional mengajarkan bahwa kita tidak dapat mengendalikan perasaan, pikiran, atau keputusan pasangan. Kita hanya dapat mengendalikan bagaimana kita mengenali emosi sendiri, bagaimana kita merespons konflik, bagaimana kita mendengarkan, bagaimana kita meminta maaf, dan bagaimana kita memperlakukan orang yang kita cintai.
Jika kedua pihak bersedia melakukan hal tersebut, hubungan yang sedang mengalami krisis masih mungkin memiliki ruang untuk diperbaiki.
Namun, penting juga untuk menyadari bahwa memperbaiki hubungan tidak selalu berarti mempertahankannya dengan segala cara.
Jika terdapat kekerasan, ancaman, manipulasi berat, atau pola perilaku yang membahayakan, keselamatan dan kesehatan psikologis harus menjadi prioritas. Dalam kondisi seperti itu, mencari bantuan profesional atau dukungan dari orang tepercaya dapat lebih penting daripada memaksakan hubungan untuk tetap bertahan.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah terluka.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang mampu melihat luka tersebut, membicarakannya dengan jujur, mengambil tanggung jawab, dan berusaha tidak mengulanginya.
Karena terkadang, yang menyelamatkan sebuah hubungan bukanlah cinta yang lebih besar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022