seseorang yang membaca buku yang membuatnya menangis. (Magnific)
JawaPos.com - Pernahkah kamu membaca sebuah buku, lalu tanpa sadar air mata mulai jatuh?
Mungkin bukan karena ceritanya benar-benar terjadi dalam hidupmu. Kamu bahkan mungkin tahu bahwa tokoh-tokohnya hanya fiksi. Namun entah bagaimana, kisah tentang kehilangan, perpisahan, pengorbanan, cinta, keluarga, atau kesempatan kedua bisa terasa begitu nyata.
Kamu menutup buku sejenak. Menarik napas. Mengusap mata. Lalu bertanya kepada diri sendiri:
“Kenapa cerita fiksi bisa membuatku menangis seperti ini?”
Dalam psikologi, menangis karena sebuah cerita bukan sekadar tanda bahwa kamu terlalu sensitif. Respons emosional terhadap karya fiksi dapat berkaitan dengan empati, keterlibatan emosional, kemampuan memahami perspektif orang lain, serta proses kita dalam memahami pengalaman manusia.
Justru karena itulah, sesekali membaca buku yang membuatmu menangis bisa menjadi pengalaman yang menarik secara psikologis.
Bukan berarti semakin sering menangis maka semakin sehat. Dan bukan pula berarti semua buku sedih otomatis memberikan manfaat psikologis. Namun ketika dilakukan dengan sadar dan dalam kondisi emosional yang cukup aman, membaca kisah yang menyentuh dapat menjadi salah satu cara untuk mengenali emosi, memahami orang lain, dan melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), terdapat enam alasan mengapa kamu mungkin perlu lebih sering membaca buku yang mampu membuatmu menangis.
1. Buku yang menyedihkan dapat melatih kemampuanmu memahami perasaan orang lain
Salah satu alasan cerita fiksi begitu kuat adalah karena kita tidak hanya membaca peristiwa.
Kita mencoba mengalami dunia dari sudut pandang tokoh.
Ketika membaca tentang seorang anak yang kehilangan orang tuanya, misalnya, kamu tidak sekadar mengetahui bahwa tokoh tersebut sedang berduka. Narasi yang baik membuatmu membayangkan bagaimana rasanya pulang ke rumah tanpa orang yang biasanya menunggu.
Kamu mulai memahami ketakutan, kesepian, kemarahan, atau kerinduan yang dialami tokoh tersebut.
Proses semacam ini berkaitan dengan perspective-taking, yaitu kemampuan untuk membayangkan keadaan dari sudut pandang orang lain.
Inilah salah satu alasan membaca fiksi sering dibahas dalam penelitian psikologi sosial dan ilmu kognitif dalam kaitannya dengan empati.
Ketika membaca, kita terus-menerus berhadapan dengan pertanyaan:
Apa yang sebenarnya dirasakan tokoh ini?
Mengapa dia mengambil keputusan tersebut?
Bagaimana rasanya jika aku berada dalam situasinya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita berlatih melihat dunia tidak hanya dari perspektif sendiri.
Dan latihan itu penting.
Dalam kehidupan nyata, kita sering melihat perilaku seseorang tanpa mengetahui cerita lengkap di baliknya.
Seseorang yang terlihat dingin mungkin sedang berduka.
Seseorang yang mudah marah mungkin sedang mengalami tekanan.
Seseorang yang memilih pergi mungkin memiliki alasan yang tidak kita ketahui.
Buku yang bagus mengingatkan kita bahwa manusia hampir selalu lebih kompleks daripada perilaku yang terlihat dari luar.
Karena itu, ketika sebuah cerita membuatmu menangis, mungkin yang sebenarnya terjadi bukan hanya kamu merasa sedih.
Kamu sedang berusaha memahami pengalaman seseorang.
Dan semakin sering kamu melakukan proses tersebut melalui cerita, semakin terbiasa pula kamu mempertimbangkan perspektif yang berbeda.
2. Menangis karena buku dapat membantu kita mengenali emosi yang selama ini sulit dijelaskan
Ada perasaan yang mudah diberi nama.
Senang.
Marah.
Sedih.
Takut.
Tetapi ada juga emosi yang jauh lebih rumit.
Misalnya, kamu merasa kosong tetapi tidak tahu mengapa.
Kamu merindukan seseorang tetapi tidak ingin mengakuinya.
Kamu merasa kecewa, tetapi di balik kekecewaan itu ternyata ada rasa kehilangan.
Atau kamu merasa bahagia ketika membaca kisah tertentu, tetapi tiba-tiba menangis.
Mengapa?
Karena emosi manusia jarang bekerja seperti kotak-kotak yang terpisah.
Satu pengalaman dapat memunculkan beberapa emosi sekaligus.
Buku dapat menjadi semacam cermin emosional.
Kamu membaca pengalaman tokoh, lalu menemukan bagian tertentu yang terasa familiar.
Bukan berarti pengalaman tokoh sama persis dengan pengalamanmu.
Namun emosi yang digambarkan mungkin memiliki kemiripan.
Misalnya, tokoh dalam buku kehilangan sahabatnya.
Kamu mungkin tidak pernah mengalami kehilangan yang sama.
Tetapi kamu pernah merasakan perpisahan.
Pernah ditinggalkan.
Pernah merindukan seseorang.
Pernah menyadari bahwa sebuah fase kehidupan sudah berakhir dan tidak mungkin kembali.
Cerita tersebut kemudian menjadi pemicu yang membantu otakmu menghubungkan pengalaman yang sedang dibaca dengan pengalaman emosional yang pernah kamu miliki.
Inilah salah satu hal menarik dari membaca.
Kadang-kadang kita tidak membaca untuk menemukan cerita orang lain.
Kita membaca untuk menemukan bahasa bagi perasaan kita sendiri.
Ada kalanya seseorang selesai membaca satu halaman, lalu berkata:
“Ternyata selama ini aku merasa seperti itu.”
Dan mungkin itulah salah satu fungsi penting cerita.
Ia memberikan bentuk pada sesuatu yang sebelumnya hanya terasa samar.
3. Buku yang membuatmu menangis dapat memberikan pengalaman emosional yang relatif aman
Bayangkan kamu sedang duduk sendirian di kamar.
Di tanganmu ada sebuah buku.
Kamu tahu bahwa karakter di dalamnya tidak benar-benar ada.
Kamu tahu bahwa cerita tersebut adalah fiksi.
Namun selama beberapa halaman, kamu membiarkan dirimu masuk ke dalam dunia mereka.
Kamu ikut takut ketika mereka takut.
Kamu ikut berharap ketika mereka berharap.
Dan ketika sesuatu yang menyakitkan terjadi, kamu mungkin menangis.
Menariknya, kamu mengalami emosi tersebut dalam konteks yang relatif aman.
Inilah salah satu hal yang membuat seni dan cerita begitu menarik secara psikologis.
Kita dapat mengalami emosi yang kuat tanpa harus mengalami peristiwa pemicunya secara langsung.
Kamu bisa merasakan ketegangan tanpa berada dalam bahaya.
Bisa merasakan kehilangan tanpa benar-benar kehilangan seseorang pada saat itu.
Bisa merasakan patah hati tanpa sedang mengakhiri hubungan.
Tentu saja, pengalaman ini berbeda pada setiap orang.
Bagi sebagian orang, cerita tentang trauma, kematian, atau kehilangan justru dapat terasa terlalu berat dan memicu pengalaman emosional yang tidak menyenangkan.
Karena itu, membaca buku sedih bukan kewajiban psikologis.
Namun ketika sebuah cerita berada dalam batas emosional yang nyaman bagimu, pengalaman tersebut dapat menjadi ruang untuk mengalami dan memproses emosi tanpa harus menghadapi peristiwa nyata yang sama.
Dengan kata lain, kamu bisa menangis tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun mengapa kamu menangis.
Dan terkadang itu terasa melegakan.
4. Cerita yang emosional dapat membantu kita memahami bahwa penderitaan manusia memiliki banyak bentuk
Salah satu kelemahan hidup sehari-hari adalah kita sering mengira pengalaman kita adalah pusat dunia.
Ketika sedang menghadapi masalah, rasanya masalah itu memenuhi seluruh ruang dalam pikiran.
Putus cinta terasa seperti akhir dunia.
Kegagalan terasa seperti bukti bahwa hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Kesepian terasa seperti sesuatu yang hanya kita alami.
Kemudian kamu membaca sebuah novel.
Kamu bertemu tokoh yang hidupnya juga berantakan.
Ada seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya.
Ada seseorang yang harus memulai hidup dari nol.
Ada seseorang yang menyesali keputusan masa lalu.
Ada seseorang yang terlihat kuat di depan orang lain, tetapi sebenarnya merasa sangat sendirian.
Dan tiba-tiba kamu menyadari:
manusia memang rapuh.
Bukan hanya kamu.
Bukan hanya keluargamu.
Bukan hanya orang-orang yang kamu kenal.
Kerentanan adalah bagian dari pengalaman manusia.
Literatur memberi kita kesempatan untuk melihat berbagai bentuk penderitaan tanpa harus mengalami semuanya secara langsung.
Kita bisa belajar tentang kehilangan.
Tentang penyesalan.
Tentang pengampunan.
Tentang rasa bersalah.
Tentang cinta yang tidak berbalas.
Tentang orang-orang yang harus hidup dengan konsekuensi keputusan mereka.
Dan semakin banyak kisah manusia yang kita temui, semakin sulit untuk melihat kehidupan secara hitam-putih.
Kita mulai memahami bahwa seseorang dapat melakukan kesalahan sekaligus memiliki alasan.
Seseorang dapat terlihat kuat sekaligus sedang hancur.
Seseorang dapat mencintai seseorang sekaligus menyakitinya.
Seseorang dapat mengambil keputusan buruk tanpa berarti seluruh dirinya buruk.
Cerita yang baik mengajarkan kompleksitas manusia.
Dan kompleksitas tersebut dapat membuat kita menjadi lebih hati-hati dalam menilai kehidupan orang lain.
5. Membaca buku yang emosional dapat membuat kita lebih sadar terhadap kehidupan kita sendiri
Ada alasan mengapa kisah tentang kematian sering membuat manusia berpikir lebih dalam tentang kehidupan.
Kisah tentang perpisahan membuat kita memikirkan orang-orang yang masih kita miliki.
Kisah tentang penyesalan membuat kita bertanya apakah ada sesuatu yang selama ini kita tunda.
Kisah tentang hubungan keluarga membuat kita mengingat percakapan yang belum pernah kita lakukan.
Kisah tentang seseorang yang kehilangan kesempatan dapat membuat kita bertanya:
“Apa yang sebenarnya ingin aku lakukan dengan hidupku?”
Inilah kekuatan cerita.
Cerita tidak hanya membawa kita keluar dari kehidupan.
Terkadang cerita justru membawa kita kembali ke kehidupan dengan perspektif baru.
Kamu membaca tentang seorang karakter yang baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah orang itu pergi.
Kemudian kamu menutup buku.
Tiba-tiba kamu teringat pada orang tuamu.
Temanmu.
Pasanganmu.
Saudaramu.
Seseorang yang sudah lama tidak kamu hubungi.
Dan mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kamu menyadari bahwa hubungan tersebut sebenarnya sangat berarti.
Sebuah cerita bisa menjadi pengingat bahwa hidup tidak berlangsung selamanya.
Bukan untuk membuat kita takut.
Melainkan untuk membuat kita lebih sadar.
Kita sering hidup seolah-olah masih memiliki waktu yang tidak terbatas.
Nanti saja menelepon.
Nanti saja meminta maaf.
Nanti saja mengatakan terima kasih.
Nanti saja membaca buku itu.
Nanti saja mengejar sesuatu yang benar-benar kita inginkan.
Kemudian sebuah cerita tentang kehilangan datang dan mengingatkan kita bahwa kata “nanti” tidak selalu tersedia.
6. Menangis setelah membaca buku dapat menjadi bentuk pelepasan emosi—meskipun jangan menganggapnya sebagai “detoks emosi”
Ada anggapan populer bahwa menangis selalu berarti tubuh sedang “mengeluarkan racun” atau bahwa menangis secara otomatis membuat seseorang menjadi lebih sehat.
Secara ilmiah, klaim semacam itu terlalu sederhana.
Efek menangis terhadap suasana hati sangat bergantung pada konteks, penyebab menangis, kondisi psikologis seseorang, serta apa yang terjadi setelahnya.
Namun pengalaman menangis memang dapat terasa melegakan bagi sebagian orang.
Mengapa?
Karena menangis sering menjadi bagian dari pengalaman emosional yang lebih besar.
Kamu membaca.
Kamu merasa tersentuh.
Kamu menahan emosi.
Kemudian bagian tertentu dari cerita menyentuh sesuatu yang sangat personal.
Air mata keluar.
Setelah itu kamu berhenti membaca.
Menarik napas.
Merenung.
Dan mungkin kamu merasa sedikit lebih ringan.
Yang menarik sebenarnya bukan sekadar air matanya.
Melainkan proses emosional yang terjadi di sekitarnya.
Kamu memberi dirimu izin untuk merasakan sesuatu.
Di kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan kebalikannya.
Sedih, tetapi berpura-pura baik-baik saja.
Kecewa, tetapi mengatakan “tidak apa-apa”.
Rindu, tetapi memilih diam.
Takut, tetapi menyembunyikannya.
Marah, tetapi menekannya.
Buku memberikan ruang yang berbeda.
Tidak ada tuntutan untuk terlihat kuat di depan karakter-karakter fiksi.
Tidak ada orang yang bertanya mengapa kamu menangis.
Tidak ada kebutuhan untuk segera menjelaskan perasaanmu.
Kamu hanya membaca.
Dan merasakan.
Kadang-kadang, itu saja sudah cukup untuk membuat kita lebih sadar bahwa kita memang sedang mengalami sesuatu.
Tetapi, apakah semua orang perlu membaca buku yang membuatnya menangis?
Tidak.
Dan ini penting.
Membaca buku sedih bukan terapi psikologis.
Jika sebuah cerita justru membuatmu sangat tertekan, mengingat pengalaman traumatis, mengganggu tidur, atau memperburuk kondisi emosionalmu, kamu tidak perlu memaksakan diri menyelesaikannya.
Kamu boleh berhenti.
Kamu boleh memilih cerita yang lebih ringan.
Kamu boleh membaca komedi setelah membaca tragedi.
Kamu boleh menutup buku ketika merasa sudah cukup.
Tujuan membaca bukan untuk membuat dirimu menderita.
Tujuannya adalah mengalami sesuatu melalui cerita dan memperoleh pemahaman darinya.
Ada perbedaan besar antara membaca sesuatu yang menyentuh dan sengaja membuat diri sendiri tenggelam dalam kesedihan.
Karena itu, dengarkan respons emosionalmu sendiri.
Jika sebuah buku membuatmu menangis lalu membuatmu berpikir lebih dalam, memahami orang lain, atau menghargai kehidupan dengan cara berbeda, pengalaman tersebut bisa menjadi sesuatu yang bermakna.
Namun jika sebuah buku membuatmu semakin terpuruk, tidak ada kewajiban untuk terus membacanya.
Jadi, mungkin kita memang membutuhkan lebih banyak buku yang membuat kita menangis
Di zaman ketika kita terbiasa mengonsumsi konten dalam hitungan detik, buku memiliki keunikan.
Ia meminta kita berhenti.
Duduk.
Membaca.
Membayangkan.
Dan merasakan.
Kita tidak hanya mendapatkan informasi.
Kita mendapatkan pengalaman manusia.
Sebuah buku yang membuatmu menangis mungkin sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar membuatmu sedih.
Ia mungkin sedang mengajarkanmu bagaimana rasanya kehilangan.
Bagaimana rasanya mencintai.
Bagaimana rasanya menyesal.
Bagaimana rasanya memaafkan.
Bagaimana rasanya menjadi manusia.
Dan mungkin setelah menutup buku tersebut, kamu tidak menjadi orang yang sepenuhnya berbeda.
Tetapi kamu membawa pulang sesuatu.
Sebuah pertanyaan.
Sebuah perasaan.
Sebuah ingatan.
Atau bahkan sebuah kesadaran sederhana:
bahwa hidup manusia jauh lebih rumit, rapuh, dan berharga daripada yang sering kita sadari.
Jadi, lain kali kamu memilih buku untuk dibaca, jangan hanya mencari buku yang membuatmu tertawa.
Sesekali, pilih juga buku yang mungkin membuatmu menangis.
Bukan karena kesedihan selalu baik.
Tetapi karena terkadang, air mata adalah tanda bahwa sebuah cerita berhasil membuat kita benar-benar berhenti dan merasakan sesuatu.***