Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 September 2026 | 19.15 WIB

Ingin Menjalani Hari dengan Hati Ceria seperti Anak Kecil? Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menjalani setiap hari dengan berbunga-bunga. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada masa ketika kita bisa merasa bahagia hanya karena hal-hal sederhana.

Melihat langit yang cerah terasa menyenangkan. Mendengar lagu favorit membuat suasana hati berubah. Makan makanan kesukaan bisa menjadi sesuatu yang begitu dinantikan. Mendapat perhatian kecil dari seseorang membuat hati terasa hangat. Bahkan menemukan sesuatu yang menarik di tengah perjalanan bisa membuat kita berhenti sejenak dan merasa kagum.

Begitulah kira-kira cara seorang anak kecil memandang dunia.

Mereka belum terlalu sibuk memikirkan apakah hidupnya sudah sesuai dengan standar orang lain. Mereka tidak selalu memikirkan masa depan secara berlebihan. Mereka juga belum terlalu terbiasa membawa kekecewaan kemarin ke dalam hari ini.

Bagi mereka, hari baru adalah kesempatan untuk menemukan sesuatu yang menarik.

Sayangnya, ketika bertambah dewasa, cara kita memandang kehidupan sering berubah.

Tanggung jawab bertambah. Masalah datang silih berganti. Kita mulai mengenal kegagalan, penolakan, kehilangan, tekanan pekerjaan, masalah hubungan, persoalan finansial, dan berbagai hal yang membuat hati perlahan menjadi lebih berhati-hati.

Tanpa disadari, kita mungkin masih menjalani hidup, tetapi sudah kehilangan kemampuan untuk benar-benar menikmatinya.

Bangun tidur langsung memikirkan pekerjaan.

Siang hari sibuk mengejar target.

Malam hari tubuh sudah lelah, tetapi pikiran masih berkeliling ke berbagai persoalan.

Besok diulang lagi.

Lama-kelamaan, hidup terasa seperti rutinitas yang harus diselesaikan, bukan perjalanan yang ingin dinikmati.

Namun, menjadi dewasa tidak berarti kita harus kehilangan rasa takjub, rasa ingin tahu, dan kegembiraan sederhana yang dulu pernah kita miliki.

Kita mungkin tidak bisa kembali menjadi anak kecil. Tetapi kita bisa belajar mengambil kembali sebagian cara mereka memandang kehidupan.

Psikologi juga banyak membahas hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan psikologis, perhatian terhadap pengalaman saat ini, rasa syukur, bermain, hubungan sosial, serta kemampuan menemukan makna dalam kehidupan.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), jika kamu ingin menjalani setiap hari dengan hati yang lebih ringan, hangat, dan mudah berbunga-bunga, tujuh kebiasaan berikut bisa menjadi titik awal.

1. Belajar Menikmati Hal-Hal Kecil Tanpa Merasa Harus Menunggu Kebahagiaan Besar

Anak kecil tidak membutuhkan alasan yang rumit untuk merasa senang.

Mereka bisa bahagia karena menemukan mainan, melihat hewan lucu, makan makanan favorit, bermain bersama teman, atau sekadar melihat sesuatu yang menarik.

Orang dewasa sering kehilangan kemampuan ini.

Kita terkadang berpikir:

“Aku akan bahagia kalau sudah punya banyak uang.”

“Aku akan tenang kalau masalah ini selesai.”

“Aku akan menikmati hidup setelah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”

“Aku akan bahagia kalau akhirnya memiliki pasangan.”

“Aku akan santai setelah semua target tercapai.”

Masalahnya, daftar tersebut seolah tidak pernah selesai.

Begitu satu tujuan tercapai, muncul tujuan berikutnya.

Akibatnya, kebahagiaan selalu ditempatkan di masa depan.

Padahal, kemampuan menikmati pengalaman sederhana merupakan salah satu bagian penting dari kesejahteraan sehari-hari.

Cobalah melatih diri untuk benar-benar memperhatikan hal kecil yang menyenangkan.

Ketika minum kopi atau teh, rasakan aromanya.

Ketika berjalan pagi, perhatikan udara dan suasana sekitar.

Ketika mendengarkan lagu, dengarkan tanpa sambil memikirkan pekerjaan.

Ketika seseorang menunjukkan perhatian kepadamu, izinkan dirimu menikmati perasaan dihargai itu.

Bukan berarti kita harus puas dan berhenti mengejar tujuan.

Kita tetap boleh memiliki ambisi.

Tetapi jangan sampai seluruh hidup hanya dihabiskan untuk mengejar sesuatu yang belum terjadi.

Karena terkadang, kehidupan yang kita tunggu-tunggu sebenarnya sedang berlangsung sekarang.

2. Kembalikan Rasa Ingin Tahu dalam Kehidupan Sehari-Hari

Salah satu hal menarik dari anak kecil adalah rasa ingin tahu mereka.

Mereka bertanya tentang banyak hal.

Mengapa langit berwarna biru?

Mengapa hujan turun?

Mengapa kucing bisa mengeong?

Mengapa benda ini bekerja seperti itu?

Mereka belum merasa harus mengetahui semuanya.

Justru ketidaktahuan membuat mereka tertarik.

Ketika dewasa, kita sering kehilangan rasa ingin tahu karena merasa sudah cukup mengetahui dunia.

Padahal, rasa ingin tahu dapat membuat kehidupan terasa lebih hidup.

Kamu bisa mulai dari hal sederhana.

Cobalah membaca buku tentang sesuatu yang belum pernah kamu pelajari.

Pelajari keterampilan baru.

Kunjungi tempat yang belum pernah kamu datangi.

Coba resep makanan yang berbeda.

Dengarkan cerita orang lain tanpa buru-buru memberikan penilaian.

Bahkan dalam rutinitas yang sama, kamu bisa melatih diri melihat sesuatu dari sudut pandang baru.

Alih-alih berkata:

“Aku sudah tahu bagaimana hari ini akan berjalan.”

Cobalah bertanya:

“Apa hal menarik yang mungkin kutemukan hari ini?”

Pertanyaan kecil seperti itu dapat mengubah cara kita menjalani hari.

Hidup tidak harus selalu penuh kejutan besar.

Terkadang, rasa ingin tahu saja sudah cukup untuk membuat hari terasa sedikit lebih berwarna.

3. Berikan Dirimu Izin untuk Bermain dan Bersenang-Senang

Kata “bermain” mungkin terdengar kekanak-kanakan bagi orang dewasa.

Padahal, manusia tidak kehilangan kebutuhan untuk bersenang-senang hanya karena bertambah usia.

Masalahnya, ketika dewasa kita sering menganggap aktivitas hanya berharga jika menghasilkan sesuatu.

Bekerja menghasilkan uang.

Belajar menghasilkan kemampuan.

Berolahraga menghasilkan tubuh yang lebih sehat.

Tetapi bagaimana dengan aktivitas yang dilakukan hanya karena menyenangkan?

Menonton film favorit.

Menggambar.

Memasak.

Bermain musik.

Bermain gim.

Berkebun.

Jalan-jalan tanpa tujuan yang terlalu serius.

Bercanda bersama teman.

Melakukan hobi yang sudah lama ditinggalkan.

Aktivitas semacam ini mungkin tidak selalu menghasilkan sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam CV.

Tetapi bukan berarti tidak memiliki nilai.

Dalam kehidupan yang dipenuhi tuntutan, melakukan sesuatu hanya karena kita menikmatinya dapat menjadi cara untuk memberi ruang bagi diri sendiri.

Jangan merasa bersalah hanya karena ingin bersenang-senang.

Kamu tidak harus selalu produktif.

Kamu adalah manusia, bukan mesin yang harus menghasilkan sesuatu setiap menit.

Sesekali lakukan sesuatu yang membuatmu berkata:

“Ini menyenangkan.”

Tidak harus berguna.

Tidak harus menghasilkan uang.

Tidak harus membuat orang lain terkesan.

Cukup membuatmu merasa hidup.

4. Berhenti Membawa Semua Masalah Kemarin ke Hari Ini

Anak kecil biasanya memiliki kemampuan untuk kembali bermain setelah menangis.

Beberapa menit sebelumnya mungkin mereka marah.

Beberapa menit kemudian mereka sudah tertawa lagi.

Tentu saja manusia dewasa menghadapi masalah yang jauh lebih kompleks. Kita tidak bisa begitu saja melupakan pengalaman menyakitkan.

Namun, ada perbedaan antara belajar dari masa lalu dan terus-menerus hidup di dalamnya.

Kita sering mengulang percakapan lama di kepala.

“Seharusnya waktu itu aku menjawab begini.”

“Kenapa dia melakukan itu?”

“Kalau saja aku mengambil keputusan berbeda.”

“Bagaimana kalau kejadian itu terulang?”

Pikiran seperti ini terkadang muncul secara otomatis.

Tetapi tidak semua pikiran harus kita ikuti.

Ketika menyadari bahwa pikiran mulai kembali ke masa lalu, cobalah bertanya:

“Apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan sekarang?”

Jika ada, lakukan satu langkah kecil.

Jika tidak ada, mungkin yang perlu dilakukan adalah menerima bahwa kejadian tersebut memang sudah berlalu.

Memaafkan masa lalu bukan berarti mengatakan bahwa apa yang terjadi tidak penting.

Melepaskan bukan berarti menyetujui apa yang dilakukan orang lain.

Terkadang, melepaskan berarti mengatakan:

“Aku tidak bisa mengubah kejadian itu, tetapi aku masih bisa menentukan bagaimana aku menjalani hari ini.”

Hari ini tidak harus dihukum karena kesalahan kemarin.

5. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Hidupmu dengan Orang Lain

Anak kecil biasanya tidak memiliki standar kehidupan yang serumit orang dewasa.

Mereka tidak bangun tidur sambil berpikir:

“Apakah hidupku lebih sukses dibandingkan teman sekelasku?”

Namun, ketika dewasa, perbandingan sosial menjadi jauh lebih mudah.

Apalagi dengan media sosial.

Kita bisa melihat orang lain mendapatkan pekerjaan baru.

Menikah.

Membeli rumah.

Berlibur.

Membangun bisnis.

Mendapat penghargaan.

Memiliki tubuh yang terlihat ideal.

Sementara kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka.

Kemudian kita membandingkannya dengan seluruh bagian kehidupan kita—termasuk kegagalan, kecemasan, masalah, dan kekurangan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Tidak mengherankan jika kita merasa tertinggal.

Karena itu, sesekali tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah aku sedang menjalani hidupku, atau sedang mengejar kehidupan orang lain?”

Kamu tidak harus memiliki pencapaian yang sama pada usia yang sama.

Jalan hidup setiap orang memiliki konteks yang berbeda.

Ada orang yang menemukan jalannya lebih cepat.

Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Ada yang harus memulai kembali setelah mengalami kegagalan.

Ada yang memilih kehidupan sederhana.

Dan semuanya tidak perlu memiliki bentuk yang sama.

Daripada terus bertanya, “Mengapa aku belum seperti dia?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang sebenarnya penting bagiku?”

Pertanyaan kedua jauh lebih dekat dengan kehidupan yang ingin kamu jalani.

6. Latih Rasa Syukur, Bukan Karena Hidupmu Sempurna, tetapi Karena Masih Ada yang Bisa Dinikmati

Rasa syukur sering disalahpahami.

Bersyukur bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa semua masalah baik-baik saja.

Kamu masih boleh kecewa.

Masih boleh lelah.

Masih boleh menangis.

Masih boleh menginginkan perubahan.

Namun, di tengah semua itu, kita juga bisa belajar melihat hal-hal yang masih baik.

Mungkin hari ini kamu memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara.

Mungkin kamu masih bisa menikmati makanan favorit.

Mungkin tubuhmu masih membawamu berjalan ke tempat yang ingin kamu datangi.

Mungkin ada pekerjaan yang memberimu penghasilan.

Mungkin ada satu teman yang selalu membuatmu tertawa.

Mungkin pagi ini kamu mendapatkan kesempatan untuk memulai lagi.

Hal-hal tersebut terlihat sederhana.

Tetapi justru kehidupan sehari-hari dibangun dari hal-hal sederhana.

Salah satu latihan yang bisa dicoba adalah menuliskan tiga hal yang kamu hargai setiap malam.

Tidak perlu sesuatu yang luar biasa.

Misalnya:

“Hari ini aku senang karena sempat berjalan sore.”

“Aku bersyukur karena mendapat pesan dari teman.”

“Aku menikmati makan malam bersama keluarga.”

Tujuannya bukan memaksa diri menjadi positif.

Tujuannya adalah melatih perhatian agar tidak hanya tertuju pada masalah.

Karena apa yang sering kita perhatikan akan terasa semakin besar dalam pengalaman kita.

7. Jangan Kehilangan Kemampuan untuk Mengagumi Dunia

Mungkin inilah salah satu hal terpenting.

Anak kecil mudah kagum.

Dunia bagi mereka masih terasa baru.

Bagi orang dewasa, banyak hal terasa biasa karena sudah terlalu sering dilihat.

Matahari terbit?

Biasa.

Hujan?

Biasa.

Langit malam?

Biasa.

Bertemu orang yang kita cintai?

Biasa.

Bangun pagi dan masih mendapatkan kesempatan menjalani hari?

Biasa.

Padahal, “biasa” bukan berarti tidak berharga.

Kita hanya terlalu terbiasa melihatnya.

Sesekali berhentilah.

Lihat langit lebih lama.

Dengarkan suara hujan.

Perhatikan pepohonan ketika berjalan.

Amati wajah orang yang kamu sayangi ketika mereka sedang bercerita.

Nikmati makanan tanpa terburu-buru.

Dengarkan musik yang pernah membuatmu bahagia.

Pergilah ke tempat yang membuatmu merasa kecil di hadapan luasnya dunia.

Kekaguman tidak selalu muncul karena sesuatu yang spektakuler.

Terkadang, kekaguman muncul ketika kita memperhatikan sesuatu yang selama ini kita lewatkan.

Dan mungkin, salah satu alasan hidup terasa hambar bukan karena tidak ada hal indah di sekitar kita.

Melainkan karena kita sudah terlalu sibuk untuk melihatnya.

Menjadi Dewasa Tidak Berarti Harus Menjadi Keras

Ada anggapan bahwa semakin dewasa seseorang, semakin kuat pula ia harus menjadi.

Tidak boleh terlalu sensitif.

Tidak boleh terlalu mudah bahagia.

Tidak boleh terlalu antusias.

Tidak boleh terlihat kekanak-kanakan.

Padahal, kedewasaan bukan berarti kehilangan kelembutan.

Kamu bisa menjadi seseorang yang bertanggung jawab sekaligus tetap mudah kagum.

Kamu bisa serius terhadap pekerjaan sekaligus tetap memiliki hobi.

Kamu bisa memahami kerasnya kehidupan tanpa membiarkan dunia sepenuhnya menghilangkan kegembiraanmu.

Kamu bisa mengetahui bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi tetap memilih menikmati secangkir kopi di pagi hari.

Kamu bisa pernah kecewa pada manusia, tetapi tetap membuka hati untuk hubungan yang sehat.

Kamu bisa mengetahui bahwa masa depan tidak pasti, tetapi tetap menjalani hari ini dengan penuh perhatian.

Itulah mungkin bentuk kedewasaan yang lebih sehat:

bukan menjadi orang yang tidak pernah terluka, tetapi menjadi seseorang yang tetap mampu menemukan keindahan setelah mengalami luka.

Tidak Perlu Mengubah Hidup Secara Besar-Besaran

Jika selama ini kamu merasa hidup terlalu berat, jangan berpikir bahwa kamu harus mengubah semuanya sekaligus.

Mulailah kecil.

Besok pagi, jangan langsung mengambil ponsel setelah bangun.

Tarik napas.

Buka jendela.

Lihat langit.

Minum air.

Kemudian tanyakan kepada dirimu:

“Hal sederhana apa yang ingin kunikmati hari ini?”

Mungkin jawabannya adalah sarapan favorit.

Mungkin berjalan sebentar.

Mungkin menelepon seseorang.

Mungkin menyelesaikan pekerjaan lebih awal agar punya waktu untuk melakukan hobi.

Mungkin hanya ingin menikmati sore tanpa terburu-buru.

Tidak perlu menunggu hidup menjadi sempurna untuk mulai merasa bahagia.

Karena hidup yang sempurna mungkin tidak pernah datang.

Tetapi momen-momen kecil yang menyenangkan selalu bisa ditemukan jika kita memberi perhatian kepadanya.

Pada Akhirnya, Kita Tidak Perlu Kembali Menjadi Anak Kecil

Mungkin tujuan akhirnya bukan menjadi seperti anak kecil sepenuhnya.

Kita tetap membutuhkan kebijaksanaan orang dewasa.

Kita tetap harus bertanggung jawab.

Kita tetap perlu membuat keputusan sulit.

Kita tetap akan mengalami kehilangan, kegagalan, dan hari-hari yang berat.

Tetapi di dalam diri orang dewasa yang semakin memahami dunia, mungkin kita tetap bisa menyimpan sedikit bagian dari diri yang dulu mudah tertawa.

Bagian yang penasaran.

Bagian yang senang mencoba sesuatu yang baru.

Bagian yang bisa menikmati hal sederhana.

Bagian yang mudah kagum.

Bagian yang percaya bahwa besok masih bisa menjadi hari yang menyenangkan.

Jadi, jika akhir-akhir ini hidup terasa terlalu serius, mungkin kamu tidak membutuhkan kehidupan yang sepenuhnya baru.

Mungkin kamu hanya perlu kembali memperhatikan kehidupan yang sudah ada.

Nikmati hal kecil.

Pelihara rasa ingin tahu.

Bermainlah sesekali.

Lepaskan hal-hal yang memang sudah berlalu.

Berhenti membandingkan perjalananmu.

Latih rasa syukur.

Dan jangan kehilangan kemampuan untuk mengagumi dunia.

Sebab terkadang, hati yang kembali berbunga-bunga bukanlah hati yang hidupnya bebas dari masalah.

Melainkan hati yang, di tengah banyaknya masalah, masih mampu berkata:

“Ternyata masih banyak hal kecil yang layak kunikmati hari ini.”***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore