seseorang yang menemukan ketenangan hidup. (Magnific)
JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa terlalu ramai. Bukan selalu karena masalah besar.
Kadang justru karena terlalu banyak hal kecil yang terjadi secara bersamaan: pekerjaan yang belum selesai, pesan yang belum dibalas, pikiran tentang masa depan, percakapan yang terus terngiang di kepala, tuntutan orang lain, sampai kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Tubuh mungkin sedang duduk diam, tetapi pikiran seolah tidak pernah berhenti berlari.
Kita kemudian bertanya, “Bagaimana caranya agar hidup terasa tenang lagi?”
Menariknya, ketenangan tidak selalu harus dicari dengan mengubah seluruh kehidupan. Dalam psikologi, banyak pendekatan justru berfokus pada cara kita mengelola perhatian, pikiran, emosi, kebiasaan, dan batasan sehari-hari.
Artinya, kamu tidak harus memiliki hidup yang sempurna terlebih dahulu untuk merasa lebih tenang.
Terkadang, ketenangan dimulai dari beberapa perubahan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), terdapat enam tips yang bisa kamu coba.
1. Berhenti mencoba menyelesaikan semua hal sekaligus
Salah satu sumber kelelahan mental adalah perasaan bahwa kita harus membereskan semuanya sekarang juga.
Pekerjaan harus selesai. Masalah harus segera ditemukan solusinya. Masa depan harus dipikirkan. Hubungan harus diperbaiki. Keuangan harus dibereskan.
Akibatnya, pikiran tidak memiliki ruang untuk beristirahat.
Padahal, kemampuan perhatian manusia terbatas. Ketika terlalu banyak hal menuntut perhatian dalam waktu bersamaan, kita dapat merasa kewalahan dan kesulitan menentukan apa yang sebenarnya perlu dilakukan terlebih dahulu.
Karena itu, cobalah bertanya:
“Apa satu hal yang benar-benar perlu saya lakukan sekarang?”
Bukan lima hal.
Bukan seluruh masalah hidup.
Hanya satu.
Jika pekerjaanmu sedang menumpuk, pilih satu tugas paling penting dan selesaikan terlebih dahulu. Setelah itu, baru beralih ke tugas berikutnya.
Kamu juga bisa menggunakan metode sederhana:
Tulis semua hal yang sedang memenuhi pikiran.
Pisahkan mana yang bisa dilakukan hari ini.
Tandai satu hal yang paling penting.
Kerjakan selama 20–30 menit tanpa berpindah ke hal lain.
Setelah selesai, tentukan langkah berikutnya.
Tujuannya bukan membuat hidup langsung bebas masalah.
Tujuannya adalah mengembalikan rasa bahwa kamu masih memiliki kendali atas langkah yang sedang kamu jalani.
Ketenangan sering kali muncul bukan ketika semua masalah hilang, tetapi ketika kita berhenti memaksa diri untuk menyelesaikan semuanya sekaligus.
2. Jangan percaya begitu saja pada setiap pikiran yang muncul
Tidak semua pikiran adalah fakta.
Ini merupakan salah satu hal penting dalam pendekatan psikologis terhadap kesehatan mental.
Ketika sedang lelah atau cemas, pikiran dapat menghasilkan berbagai kesimpulan secara otomatis.
Misalnya:
“Aku pasti akan gagal.”
“Mereka pasti tidak menyukaiku.”
“Kalau aku melakukan kesalahan ini, semuanya akan berantakan.”
“Aku tidak akan pernah bisa keluar dari keadaan ini.”
Masalahnya, pikiran tersebut sering terasa sangat nyata ketika muncul.
Padahal, merasa yakin terhadap sesuatu tidak otomatis membuat sesuatu itu benar.
Cobalah mengambil sedikit jarak dari pikiranmu.
Alih-alih berkata:
“Aku akan gagal.”
ubah menjadi:
“Aku sedang memiliki pikiran bahwa aku akan gagal.”
Perubahannya terlihat kecil, tetapi cara ini membantu kita melihat pikiran sebagai sesuatu yang sedang terjadi di dalam pikiran, bukan sebagai fakta yang wajib dipercaya.
Kemudian tanyakan:
“Apa bukti bahwa pikiran ini benar?”
“Apakah ada kemungkinan lain?”
“Jika teman saya berada dalam situasi yang sama, apakah saya akan mengatakan hal yang sama kepadanya?”
Pertanyaan seperti ini dapat membantu kita melihat sebuah situasi dengan lebih seimbang.
Misalnya, daripada:
“Aku tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar.”
Kamu bisa mengatakan:
“Aku memang melakukan kesalahan kali ini, tetapi itu tidak berarti semua yang kulakukan selalu salah.”
Ini bukan berarti memaksakan pikiran positif.
Ini adalah upaya untuk membuat cara berpikir menjadi lebih realistis dan proporsional.
3. Kurangi kebisingan yang sebenarnya tidak perlu
Kita hidup di zaman ketika informasi datang hampir tanpa henti.
Notifikasi muncul.
Pesan masuk.
Video pendek terus berganti.
Berita baru muncul.
Orang lain membagikan pencapaian mereka.
Dan tanpa sadar, perhatian kita berpindah dari satu hal ke hal lain sepanjang hari.
Otak akhirnya jarang mendapatkan kesempatan untuk benar-benar diam.
Jika kamu ingin mengembalikan ketenangan, cobalah melakukan detoksifikasi dari kebisingan yang tidak perlu.
Tidak harus ekstrem.
Kamu tidak perlu langsung menghapus semua media sosial.
Mulailah dengan langkah kecil.
Misalnya:
Matikan notifikasi yang tidak penting.
Jangan langsung membuka media sosial setelah bangun tidur.
Sisihkan 30 menit tanpa layar sebelum tidur.
Berhenti mengikuti akun yang membuatmu terus membandingkan diri.
Tentukan waktu tertentu untuk memeriksa pesan.
Berikan beberapa waktu dalam sehari tanpa konsumsi informasi.
Perhatikan apa yang terjadi ketika kamu mulai mengurangi rangsangan.
Mungkin pada awalnya terasa aneh.
Bahkan mungkin terasa membosankan.
Namun justru di situlah kamu mulai memberi kesempatan kepada pikiran untuk beristirahat.
Ketenangan tidak selalu datang dari mendapatkan sesuatu yang baru.
Kadang-kadang ketenangan datang dari mengurangi sesuatu yang terlalu banyak.
4. Belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa harus menjelaskan semuanya
Banyak orang kehilangan ketenangan bukan karena hidup mereka terlalu sulit, tetapi karena mereka terlalu sering mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak.”
Takut mengecewakan orang.
Takut dianggap egois.
Takut hubungan berubah.
Takut dianggap tidak peduli.
Akhirnya, kita menerima terlalu banyak permintaan dan tanggung jawab.
Lama-kelamaan muncul rasa lelah, kesal, bahkan kecewa kepada diri sendiri.
Padahal, memiliki batas bukan berarti tidak peduli kepada orang lain.
Batas membantu kita menentukan apa yang sanggup kita berikan tanpa mengorbankan seluruh energi kita.
Kamu bisa mulai menggunakan kalimat sederhana:
“Maaf, kali ini saya belum bisa membantu.”
Atau:
“Saya belum bisa mengambil tanggung jawab tambahan sekarang.”
Tidak semua penolakan membutuhkan penjelasan panjang.
Kamu tidak selalu harus membuat orang lain memahami keputusanmu agar keputusan tersebut sah.
Tentu, mengatakan “tidak” tidak berarti menolak semua orang.
Tetapi kamu perlu menyadari bahwa waktu, tenaga, dan perhatianmu memiliki batas.
Ketika semua orang memiliki akses tanpa batas terhadap waktumu, pada akhirnya tidak banyak yang tersisa untuk dirimu sendiri.
5. Kembalikan perhatian ke tubuh dan aktivitas sederhana
Ketika pikiran terlalu sibuk, kita sering mencoba menyelesaikan semuanya dengan berpikir lebih keras.
Namun terkadang yang dibutuhkan bukan lebih banyak berpikir.
Yang dibutuhkan adalah kembali ke tubuh.
Berjalan kaki.
Merapikan kamar.
Mandi dengan tenang.
Menyiram tanaman.
Duduk di luar rumah.
Melakukan peregangan.
Bernapas perlahan.
Aktivitas sederhana seperti ini dapat membantu mengalihkan perhatian dari pikiran yang terus berputar menuju pengalaman yang sedang terjadi saat ini.
Kamu juga bisa mencoba latihan sederhana selama beberapa menit.
Duduk dengan nyaman.
Kemudian perhatikan:
Apa yang bisa kulihat?
Apa yang bisa kudengar?
Apa yang bisa kurasakan pada tubuhku?
Bagaimana napasku saat ini?
Tidak perlu memaksa pikiran menjadi kosong.
Jika pikiran muncul, biarkan.
Kemudian kembalikan perhatian kepada napas atau sensasi tubuh.
Latihan seperti mindfulness pada dasarnya bukan tentang membuat pikiran berhenti berpikir.
Pikiran memang akan muncul.
Tujuannya adalah belajar menyadari pikiran tanpa harus langsung mengikuti setiap pikiran yang muncul.
Dan kemampuan untuk kembali ke saat ini dapat menjadi keterampilan yang sangat berguna ketika pikiran terlalu sibuk memikirkan masa lalu atau masa depan.
6. Berhenti menuntut hidup untuk selalu berjalan sesuai rencana
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Kita sering menginginkan ketenangan dengan cara mengendalikan semuanya.
Kita ingin tahu apa yang akan terjadi.
Kita ingin memastikan orang lain memahami kita.
Kita ingin hubungan berjalan sesuai harapan.
Kita ingin pekerjaan berhasil.
Kita ingin masa depan aman.
Masalahnya, banyak bagian kehidupan memang berada di luar kendali kita.
Kita tidak dapat mengontrol apa yang orang lain pikirkan.
Kita tidak dapat memastikan semua usaha menghasilkan sesuai harapan.
Kita tidak dapat mengubah masa lalu.
Dan kita tidak dapat mengetahui seluruh masa depan.
Semakin keras kita mencoba mengendalikan hal-hal yang memang berada di luar kendali, semakin besar kemungkinan kita merasa frustrasi.
Karena itu, cobalah membagi masalah menjadi dua kelompok:
Apa yang bisa saya kendalikan?
dan
Apa yang tidak bisa saya kendalikan?
Misalnya, kamu tidak bisa mengendalikan apakah seseorang menyukaimu.
Tetapi kamu bisa mengendalikan bagaimana kamu memperlakukan orang tersebut.
Kamu tidak bisa mengendalikan hasil akhir sebuah usaha.
Tetapi kamu bisa mengendalikan persiapan dan usaha yang kamu lakukan.
Kamu tidak bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi.
Tetapi kamu bisa menentukan apa yang ingin kamu lakukan setelahnya.
Perubahan sederhana ini membantu kita memindahkan energi dari sesuatu yang tidak bisa kita ubah menuju sesuatu yang memang bisa kita lakukan.
Dan terkadang, ketenangan bukan berasal dari mendapatkan semua yang kita inginkan.
Ketenangan datang ketika kita belajar menerima bahwa tidak semua hal harus berada dalam kendali kita.
Ketenangan Tidak Berarti Hidup Tanpa Masalah
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Hidup tenang bukan berarti tidak pernah merasa sedih, marah, kecewa, takut, atau cemas.
Emosi-emosi tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Orang yang tenang pun tetap bisa mengalami hari yang buruk.
Tetap bisa kecewa.
Tetap bisa menangis.
Tetap bisa merasa takut.
Perbedaannya mungkin terletak pada cara seseorang merespons pengalaman tersebut.
Alih-alih langsung bereaksi terhadap setiap pikiran dan emosi, kita belajar memberi sedikit ruang.
Berhenti sejenak.
Bernapas.
Mengamati.
Kemudian memilih respons.
Itulah sebabnya ketenangan lebih tepat dipandang sebagai keterampilan yang dilatih, bukan keadaan permanen yang harus dicapai.
Hari ini mungkin kamu berhasil menjaga ketenangan selama satu jam.
Besok mungkin hanya beberapa menit.
Tidak apa-apa.
Yang penting adalah terus berlatih.
Mulailah dari Satu Hal Kecil
Kamu tidak perlu melakukan keenam tips ini sekaligus.
Justru jangan.
Pilih satu yang paling mudah dilakukan hari ini.
Jika pikiran terlalu penuh, mulai dengan menuliskan semua yang sedang mengganggu pikiranmu.
Jika terlalu banyak informasi, matikan notifikasi yang tidak penting.
Jika terlalu sering mengikuti keinginan orang lain, coba katakan “tidak” pada satu hal yang memang tidak sanggup kamu lakukan.
Jika pikiran terus berputar, berjalanlah selama beberapa menit tanpa membawa ponsel.
Jika kamu terus mengkhawatirkan masa depan, tanyakan:
“Apa satu hal yang bisa saya lakukan hari ini?”
Kecil tidak berarti tidak berarti.
Sering kali, perubahan besar dalam kehidupan justru dimulai dari kebiasaan yang terlihat sederhana.
Pada akhirnya, ketenangan bukan tentang membuat hidup menjadi sempurna.
Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap hadir di tengah kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Ada hal yang bisa kamu ubah.
Ada hal yang harus kamu lepaskan.
Ada masalah yang membutuhkan tindakan.
Ada pula masalah yang membutuhkan waktu.
Dan mungkin, mulai hari ini, kamu tidak perlu menyelesaikan seluruh hidupmu.
Cukup jalani satu langkah dengan lebih sadar, satu hari pada satu waktu.***